Egg Surprise

Egg Surprise

Sejak sebulan lebih lalu, Vay hobi sekali mengakses YouTube. Nontonnya pun seriuuuus banget, gak mau berpaling sedikitpun.

Saya tanya nonton apa. Katanya ini egg surprise. Egg surprise? Apa itu? Saya intip sedikit saja, tapi lalu tidak tertarik.

Nah tak berapa lama, sebelum dia sakit itu, dia pulang sekolah bawa satu telur plastik warna biru. Katanya dia dikasih temannya di sekolah, dan dia pengen beli lagi. Katanya telur itu ada di Alfa or Indomart katanya. Malam hari ketika saya bawa Vay ke dokter dekat rumah – untuk periksa panasnya – kita melipir dulu ke Alfa, tetap penasaran dengan egg surprise yang dibilangnya. Ternyata ada! 3 butir. Langsung diambil semua, hahah.

Selama Vay sakit, beberapa kali saya menemani dia di rumah dan saya melihat dia terus saja menonton egg surprise itu. Saya kali ini benar-benar penasaran. Saya ikut menonton, dan ternyata, memang menarik sih! Pantas saja anak-anak betah nontonnya, jadi setiap kali kita membuka bungkus sebuah telur, di dalamnya ada mainan.

Browsinglah saya, mencari di mana toko online yang jualan egg surprise. Vay minta yang Hello Kitty, gak mau Frozen atau princess-princessan. Ketemu, tapi di eBay. Ya sudah, langsung saya beli saja, kasihan Vay sudah kepengen banget. Proses pengiriman katanya dua minggu, akan tiba sekitar awal Desember, begitu isi email dari eBay.

Memang ini rejekinya Vay ya. Waktu kemarin ke Barcelona, dan transit di Doha, saya liht ada Kinder Surprise! Langsung saya beli, takut nanti pas pulangnya gak nemu. Lalu waktu di Barcelona, saat ke mall dekat hotel untuk beli bekal sarapan buat anak-anak sebelum mereka ketemu Lionel Messi, saya lihat ada Kinder Surprise Egg yang besar! Wooowww…!! Besoknya saya kembali ke mall dan langsung beli tiga. Nah, pas pulang, di airport Madrid, ternyata ada lagi Kinder Surprise. Kali ini di dalam kemasan berbentuk telur pakai topi, harganya sekitar 16 EURO. Langsung saya beli lagi. Jadi oleh-oleh spesial buat Vay ya egg surprise itu.

Lalu dua hari lalu datanglah Hello Kitty egg surprise-nya. Sedikit peyot – karena memang lapisan luarnya itu kan coklat ya. Tapi tak apa, Vay tetap excited.

Dari kemarin dia sudah cicil-cicil tuh membuka egg surprisenya, tapi baru hari ini dia boleh buka semua. Saya bilang, saya mau rekam dia seperti di YouTube, dan lebih enak kalau hari Sabtu, jadi gak buru-buru.

Well, ini dia. Ternyata memang seru ya, mengetahui apa isi egg surprise. Yang lucu sih Kinder Surprise, isinya macam-macam dan bagus-bagus. Kalau yang Hello Kitty, ternyata dari 10 butir telur, empat isinya key chain dan sisanya figur gitu, ada yang sama pula.

SAM_0034

SAM_5225

IMG_6184

IMG_6186

 

Di dalam video ini, saat Vay buka boneka telur dan bilang ada giant egg, sebenarnya itu bukan isi sebenarnya ya. Isi sebenarnya ya yang di gambar atas itu, cuma kemarin dia memindahkan giant egg ke dalam situ, biar cocok katanya.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner
ada yang penasaran pengen nyetir

Kompetisi Video Berhadiah Daihatsu Ayla

Dua minggu lalu, kita buat video baru lagi. Masih dengan brand Indosat, video kali ini dibintangi oleh duo kocak, Danang Darto, penyiar Prambors, yang juga host dari The Comment. Berbeda dengan TVC-TVC IM3 yang kalian lihat wara-wiri di televisi – iklan-iklan paling kocak yang saya lihat, asli lucu deh terutama yang versi ustad lagi kultum itu – video kali ini dibuat dalam rangka kompetisi Tayangan Heboh Ramadan di www.indosat.com/im3play24jam.

Shooting yang seru. Pagi-pagi sekali sudah kumpul di daerah Sriwijaya untuk take storyline pertama yang berjudul “Tersesat”. Cuaca panas terik dan siang hari mendadak hujan deras. Sampai harus menghabiskan waktu dua jam, lho, hanya untuk mencapai gedung kantor untuk shooting storyline berikutnya “Menunggu Waktu Berbuka Puasa”. Dua jam! Padahal normalnya paling lama dua puluh menit. Saya tetap ajak Vay seperti biasa. Dari masih semangat di pagi hari dan main dengan adik-adik kecil sampai kemudian mulai rewel dan gak sabaran ingin segera pindah dari lokasi karena panasnya itu.

ada yang penasaran pengen nyetir

Ingin dapat Daihatsu Ayla? Ikutan kompetisinya ya. Juga siapkan SIM A-mu. Jangan tiru anak kecil ini ya.

Shooting di kantor lebih lucu karena di sini duo Danang Darto ini berperan full. Nah, udah gitu, semua kru kan puasa. Dan tiba-tiba, eng ing eng, semua penasaran karena mencium bau Mekdi berseliweran. “Siapa nih yang makan Mekdi?” Sampai keliling mencari tersangkanya. Dan, terungkaplah pelakunya. Vay sedang makan McD bersama mbaknya yang kebetulan juga sedang berhalangan puasa (sama, saya juga). LOL.

Danang Darto ini kocak deh. Saya aja kelepasan ketawa saat take, dan akhirnya harus take ulang (duh maaf). Terus saat sudah take kesekian, eh mendadak terdengar suara Vay mendekat dengan suara terengah-engah karena habis main di lobby sama mbaknya, hahah…. take ulang lagiiii! Shooting baru selesai menjelang buka puasa, dan kita pun buka puasa bareng di lantai lobby bersama Danang (kalau Darto sudah duluan pulang). Ala kadarnya saja, dengan es buah dan gorengan. Yang penting kan kebersamaan, toh.

salah satu scene

salah satu scene

Ingin tahu seperti apa sih video atau film pendek yang harus dibuat agar bisa dikompetisikan di sini? Bisa lihat contoh videonya ini ya. Ada dua video pendek dari Danang Darto yang kocak banget.

Simpel aja sih. Kalau kalian bisa buat video lebih bagus, lebih kocak, lebih lucu and kreatif tentu saja, Indosat akan kasih 1 unit Daihatsu Ayla! Keren? Yoi. Mantap? Iyalah…!!

Jangan lupa untuk baca syarat dan ketentuannya di www.indosat.com/im3play24jam. Oh iya, di sana juga ada kompetisi lain yang bisa diikuti. Bila ada yang kurang jelas, bisa hubungi admin Twitter @indosatmania, atau bisa tanya saya langsung (ke Twitter @zizydmk) juga boleh.

Ayo siapkan videomu!

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner
Selamat ya Sayang, sudah mau kelas 1 SD sebentar lagi.

Graduation Oh Graduation

Sabtu kemarin, adalah graduation day-nya Kinderfield. Sejak pagi kita sudah berkumpul di ICC Kemayoran untuk acara tersebut. Sekolah sekarang ya, tamat TK saja pakai acara graduation, padahal dulu kita saat tamat kuliah baru ada wisuda.

Acaranya sendiri diisi dengan festival tari dari anak-anak Kinderfield – all cabang – baru terakhir acara wisudaan.

Festival tari dimulai dari tari Brazilian, Mexico, Jepang, Indonesia, hingga terakhir adalah tarian asal Srilanka. Vay ada di tarian terakhir ini.

Seperti biasa, saya berbunga-bunga melihatnya dance di atas panggung, minimal kali ini dia terpilih bisa ikut dance. Sudah latihan sejak sebulan terakhir, dan Vay semangat sekali dan tak sabar menunggu hari H ini tiba, untuk bisa menari Srilanka.

Ketika tiba tarian Srilanka, tepuk tangan membahana. Sepertinya suporternya lebih banyak nih. Dan ketika tarian dimulai, aduh ternyata tariannya memang bagus, sama seperti tarian India sebelumnya yang juga dibawakan oleh Kinderfield Duren Sawit. Bedanya tarian India sebelumnya kostumnya kurang kece, anak-anak perempuannya pakai baju kayak piyama gitu, sama kayak boys. Kalau dance Srilanka ini, kostumnya bagus.

Srilanka Dance Perfomance Kinderfield Duren Sawit

Srilanka Dance Perfomance (Kinderfield Duren Sawit)

Vay, ternyata memang susah ya untuk senyum di atas panggung. Dancenya serius, hehe.. tapi yang penting sih dia tidak lupa tarian dan posisinya. Soalnya hari Selasa lalu dia tidak datang untuk gladi resik di tempat acara, sempat khawatir juga apakah dia akan bingung dengan lokasi baru, ternyata tidak.

Saya berbunga-bunga dan senyum-senyum sendiri saat merekamnya. Saat kembali ke kursi, ayahnya juga lagi senyum-senyum. Memang begitulah ya, orang tua kalau melihat anaknya perform, bangga dan senang.

Ini dia videonya, jangan lupa di-set ke quality HD agar enak nontonnya :).

Nah. Selesai cerita tentang tari.

Sekarang sampai di cerita gak enaknya. Rasa senang yang tadi memenuhi dada ternyata begitu cepat berganti kecewa.

Jadi, setelah acara festival tari selesai, langsung disambung dengan wisuda anak-anak, mulai dari primary dulu hingga kindergarten. Kinderfield Duren Sawit kebagian paling belakang, dan KG B Yellow – kelas Vay – paling belakang dipanggil. Kami semua menunggu dengan tak sabar, ingin melihat dan mendengar nama anak kami disebut di atas panggung.

Nah, saat mulai tiba Kinderfield Duren Sawit, saya langsung ke belakang, naik ke tempat untuk foto. Mau merekam tentunya. Ketika kelas Vay tiba, anak-anak masuk dan berbaris sesuai urutan. Di layar juga sudah keluar nama-nama mereka. Saat Principle mulai berjalan mendekati anak, di situlah seorang Miss mulai menyebutkan nama anak, dari yang pertama dan seterusnya.

Dan, ketika dua boys sebelum Vay selesai dipanggil dan Principle tiba di depan Vay, tiba-tiba ada jeda beberapa detik. Dan si Miss  itu melewati nama Vay! Dia tidak menyebutkan nama Vay, malah langsung ke nama Mai, teman Vay yang ada di sebelahnya, padahal saat itu Principle ada di depan Vay. Saya menangkap nada ragu di suaranya, suara bahwa dia sadar dia telah melakukan kesalahan. Dan kesalnya, dia tidak mengulangi tapi meneruskan saja. Saya melihat wajah Vay – dari kamera saya – terlihat bingung dan langsung berubah mau nangis. Dia bicara ke temannya Mai – saya tahu dia pasti bilang kenapa namanya tidak dipanggil. Saya menghentikan rekaman, saya kesal! Marah! Saking emosinya sampai tercekat di leher. Saya turun dan kembali ke tempat. Saya lihat wajah ayah Vay dan mbaknya juga heran, kenapa nama Vay tidak disebut. Saya kesal, lalu saya ajak mbaknya, saya bilang, tolong panggilkan Miss-nya, saya mau komplen.

Sambil berjalan ke depan, saya kirim SMS ke Miss kelas KG B (bukan Miss yang di depan tadi). Saya katakan kekecewaan saya. Dan saya menunggu di samping panggung, ingin ketemu Miss yang tadi itu. Sebelum pulang, anak-anak masih bernyanyi dulu di depan, jadi saya harus sabar menunggu selesai. Tapi saya sudah tidak senang lagi untuk foto-foto di keramaian itu. Saya kesal, saya kecewa.

Mungkin sebagian orang menganggap, ah cuma wisuda anak-anak kok. Memang iya, ini hanya wisuda ecek-eceklah istilahnya, tapi ini kan part of moment yang tak akan bisa diulang lagi. Kalau orang yang belum punya anak mungkin belum bisa merasakan kekecewaan saya ini. Tapi saya tak peduli, saya harus ungkapkan rasa kesal saya.

Saat anak-anak berbaris mau keluar, mbaknya Vay menunjuk Miss Lina, yang tadi di atas bertugas memanggil anak-anak tersebut. Saya menarik napas panjang – dan sudah menghabiskan segelas aqua untuk mereda emosi – dan mencoleknya.

Dia menoleh, dan terlihat agak terkejut melihat saya.

“Miss, kenapa tadi nama Vay tidak disebut?” Suara saya sampai bergetar saking nahan emosinya.

“Iya, Mi. Maaf, saya tadi memang ter-skip nama Vaya.”

“Iya, kenapa Miss? Apakah susah membaca nama Vaya?” Ini adalah dugaan saya. Miss yang satu itu tahu sosok Vaya tapi dia tidak tahu nama panjang Vay, jadi saya yakin dia bingung bagaimana membaca nama Vay dengan benar.

Sementara Vay yang saya gandeng bertanya heran, kenapa Mi, kenapa? Dia tak tahu kalau si Miss inilah yang tak menyebut namanya tadi.

“Gak sih, Mi. Tadi saya baru lihat wajah Vaya jadi saya baru sadar saya skip namanya.”

“Iya, tapi kenapa tidak diulang saja? Kan harusnya tidak masalah. Miss gak tahu kan, bagaimana roman Vay di panggung tadi. Saya juga kecewa berat, lho!”

“Iya, Mi. Maaf, yaa…” Dia mengulurkan tangan.

Saya menggeleng. “Ah, enggak deh! Saya kecewa!” Dan saya berlalu. Minta maaf pula. Kau kira lebaran, minta maaf melulu. Kebanyakan basa-basi. Dalam hatinya juga belum tentu dia peduli, karena bukan dia yang merasakan ini.

Foto Vay saat graduation gak banyak yang bagus, nih, karena fotonya saat dia jalan keluar, jadinya goyang. Yang di panggung ada, tapi karena ada nama anak-anak lain, saya memilih tidak memajangnya di sini.

Selamat ya Sayang, sudah mau kelas 1 SD sebentar lagi.

Selamat ya Sayang, sudah mau kelas 1 SD sebentar lagi.

Sorenya, baru masuk balasan dari Miss kelasnya Vay. Intinya ia minta maaf atas kesalahan yang panitia lakukan. Lalu saya mereply. Saya katakan, sebaiknya lain kali pastikan yang di depan itu familiar dengan nama anak-anak, jadi tidak kagok saat di depan. Toh permintaan maaf itu juga gak ada gunanya, anak-anak gak akan mengerti gunanya apalagi, karena “maaf” itu tak akan bisa mengembalikan momen yang sudah lewat itu.

Terserahlah orang mau bilang apa. Orang Indonesia ini kan kebanyakan basa-basi, berharap dengan minta maaf, masalah selesai. Yang dikecewakan pun suka gak enakan, langsung bilang ya sudahlah dia juga sudah minta maaf. Sama saya gak ada gak enakan. Saya jengkel, saya marah, mereka harus tahu. Uluran tangan dan kata-kata maaf, simpan saja buat kalian. Saya gak butuh. Yang penting kalian sadar apa akibat dari ketidakprofesionalitas kalian itu. Cuuii…. kalau semua bisa diselesaikan dengan maaf, gak akan ada konflik di dunia ini.

Saya kecewa, masih bisa diatasilah, tapi ketika saya lihat wajah anak yang berubah di atas panggung, itu adalah kekecewaan dia yang tak mungkin bisa saya ganti dengan apapun.

Malamnya – sampai tadi pagi – Vay masih mengingat-ingat soal namanya gak disebut. Dia bilang, dia sudah mau nangis kemarin, saat tahu namanya dilewati dan langsung ke nama Mai. Dan dia langsung tanya ke Mai kenapa namanya gak disebut, lalu Mai dengan lembut bilang, kenapa, kecepetan yaa….

Saya mengelus-elus kepalanya dan berusaha tersenyum – soalnya jadi emosi lagi hati ini, hahah… – lalu bilang, nanti kita beli mainan ya, biar Vay gak sedih lagi.

Tadi sudah dibelikan crayon dan buku Hello Kitty sih, meski dia masih kecewa, minimal itu bisa menghiburnya sedikitlah.

Happy graduation ya, Vay. Soon, sudah akan jadi siswa primary.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner
kota tua

[Video] Indosat BlackBerry Z3

Bicara soal video yang kemarin dibuat di Kota Tua, ini dia hasilnya. Video ini dibintangi oleh para Duta IM3.

Di dalam video ini, kalian bisa melihat offering apa saja yang ditawarkan oleh BlackBerry Z3 bundling Indosat., seperti free akses SuperWiFi di mana saja. Eh, sudah pada update dong tentang BlackBerry keluaran terbaru ini? BlackBerry Z3 ini fiturnya canggih, punya kamera depan — buat kalian yang suka selfie — dan harganya pun terjangkau. Rp 2 jutaan saja!

Well, silakan simak langsung videonya.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner
The Cafe Cartel

A Good Time at The Cafe Cartel

Belakangan ini rasanya waktu luang bersama anak menjadi hal yang mahal bagi saya. Waktu habis di kantor, dan di jalan. Kedengaran basi ya untuk orang Jakarta, macet dan habis waktu di jalan itu sudah biasa. Tapi memang sebulan setengah ini kayaknya lebih dari separuh orang Jakarta mengeluhkan traffic yang parah minta ampun. Sejak banjir bolak-balik datang, ditambah banyak ruas jalan yang rusak, sudahlah, pasrah saja kalau harus keluar rumah. Dan pekerjaan juga seperti tak habis-habisnya. Tapi ya tetap tak boleh mengeluh, harus bersyukur masih punya pekerjaan yang memberi penghasilan.

Beberapa hari terakhir ini saya pulang malam terus karena beberapa janji di luar jam kantor yang harus dipenuhi. Kepikiran sama Vay yang menunggu di rumah hanya dengan mbaknya (karena ayahnya pun sedang dinas keluar), tapi tak bisa pergi duluan begitu saja. Udah gitu, ya, si Vay malah tetap menunggu dengan setia, gak mau tidur duluan. Dia tunggu sampai maminya pulang, demi bisa main sebentar, baru akhirnya naik ke kasur. Apalagi ketika di malam berikutnya saya kembali harus pulang telat, dan di tengah jalan sambil ngebut saya telepon Vay, belum lagi ngomong, dia sudah bilang, “Mami, Vaya maunya Mami sudah di Pasar Gembrong..” Pasar Gembrong itu patokan dia, berarti sudah dekat rumah.

Pepatah bijak mengatakan, menghabiskan waktu untuk bersama anak adalah yang terbaik ketimbang menghabiskan uang untuk anak.

Maka hari ini saya berusaha memberikan dia keleluasaan. Pagi kita main di rumah, kemudian siang saat mau ke KoKas, Vay sudah bilang nanti di KoKas tidak mau nge-gym demi bisa ikut mami ke mana saja (ikut maminya nongkrong gitu), saya oke-kan. Begitu tiba di KoKas, Vay minta main cat-cat-an. OK.

SAM_2267

Jadilah setelah saya menemaninya setengah jam di tempat cat, saya pun melipir ke salah satu kafe di dekat situ, ingin cari makanan sekalian kopi. Karena sedikit lagi setelah Vay selesai dengan gambar yang diwarnai, dia tinggal menyusul kan.

The Cafe Cartel. Saya baru pertama kali nih, ke sini. Padahal sudah setiap hari lewat, tapi tidak pernah tertarik untuk mampir. Tapi kali ini, demi dekat dengan tempat cat-cat-an itu, tak apalah. Sebelum masuk, tanya dulu, ada kopi gak? Ada. Oke, deh.

Saya memesan Latte dan Zuppa Soup. Kombinasi yang kurang pas sih dengan perut yang kurang enak. Yang satu bikin perut adem, yang satu lagi bikin kembung, hehe…

Zuppa Soup-nya lumayan, meskipun penampilannya beda dengan gambar di menu. Latte-nya juga not bad, meski masih kalah ketimbang Illy.

The Cafe Cartel

The Cafe Cartel

Tak berapa lama Vay datang. Bolak-balik menu dan dia minta chicken wings. Sebenarnya dia itu hanya tertarik sama crispy-nya saja itu, suka makan kerupuknya. Saat pesanan datang, kita semua bengong. Ternyata itu chicken wings beneran. Alias sayap ayam yang besar. Kirain tadi versi kecil standarnya menu chicken wings. Dan saat dimakan, ternyata tidak sesuai ekspektasi. Vay juga kecewa, ini gak enak, Mamiii…. katanya, dan dia pun batal memakannya. Padahal itu Chef’s Recommended. Ah, mungkin hanya beda selera ya. Berarti next time menu itu tak perlu dipesan.

Saya buat video amatir nih, untuk kunjungan hari ini. 🙂

Kalau melihat menu-menunya, banyak snacks yang menarik, seperti nachos, pastel, pisang goreng. Main course juga banyak. Yeah, buat saya not badlah untuk tempat nongkrong sore-sore. Yang penting dekat dengan tempat nongkrongnya anak juga.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner
SAMSUNG CSC

Singing & Choir for Vay

Acara tahunan Kinderfield School datang lagi. Kinderfield Championship 2014. Di event tahunan ini, setiap sekolah mengirimkan perwakilan untuk masing-masing lomba, seperti singing, drawing, reading, story telling, logical thinking, dan fun race untuk berkompetisi lagi mencari the bestnya.

Lomba di sekolah masing-masing sudah start sejak sebulan lalu. Nah, waktu itu saya tanya Vay, dia mau ikut apa saja? Dia bilang ingin ikut fun race, juga semua. Halah masa semua? Nah kalau tahun lalu kan, Miss-nya akan kasih tahu si anak ini jagonya di bidang ini dan itu, jadi mommynya tinggal daftar sesuai minat dan bakat, tahun ini saya gak dapat info itu. Mbaknya Vay juga gak dapat info. Jadilah kami sepakat agar Vay ikut lomba singing, fun race, dan reading. Tadinya mau saya coba di story telling, tapi saya tahu Vay jarang sekali mau disuruh gantian bercerita kalau sama saya. Maunya dengar maminya saja yang cerita. Soalnya maminya kalau cerita suka bikin ekspresi aneh-aneh hahah..

Nah, untuk kategori singing, lagu yang dilombakan ada dua: “I am a Pizza” dan “Becak”. Cari di YouTube-lah, dan Vay pun mengikuti gaya menyanyi yang ada di yutub.

Nah, dari ketiga lomba itu, tak disangka-sangka Vay dapat nomor. Dia menang di lomba Singing! 1st winner pulaaa. Hah!! Kok bisa? Kita semua gak percaya, hehe. Soalnya Vay tak pernah juara individu selama ini, dan dia juga kemarin cerita kalau dia salah lirik sedikit di lagu “Becak”. Di dua lomba lainnya, tidak dapat nomor. Dan kemudian, mbaknya baru cerita kalau Miss-nya baru sadar kenapa Vay gak diikutkan Drawing, padahal kata Miss-nya Vay kalau menggambar bagus sekali. Ihhh Miss sih gak bilang, Vay di rumah jarang-jarang gambar soalnya.

Dan karena dia juara 1, maka dialah yang jadi perwakilan Kinderfield Duren Sawit ke Kinderfield Championship 2014. Para Miss mewanti-wanti, Vay jangan sampai sakit untuk final di tanggal 15 Februari. Wanti-wanti lainnya adalah: “Harus tersenyum.” Soalnya selama bernyanyi, Vay gak senyum.

Lagu “I am a Pizza” itu agak susah buat Vay. Susahnya karena Vay terbiasa mengambil nada awal cukup tinggi, sehingga saat tiba di chorus yang nadanya tinggi, dia sering kepeleset. Di minggu terakhir ini barulah dia bisa mencari nada yang lebih rendah sedikit.

Dan, selain lomba Singing, Vay juga kembali bergabung di grup choir sekolah. Dan baru di dua minggu terakhir ini intens latihan. Kali ini dia kebagian solo lagi.

Dan tibalah harinya. Sabtu kemarin. Pagi-pagi sekali kami sudah meluncur ke Depok. Tujuannya agar mendapatkan nomor lebih awal. Dan Vay pun dapat giliran kedua untuk Singing.

Lomba-lomba kategori individu (singing, reading, drawing) dimulai bersamaan di beberapa ruang kuliah yang dialihfungsikan, sementara Choir dan Dancing diadakan di auditorium. Jadi, saat kami sudah di dalam ruangan Singing, kompetisi Choir ternyata sudah mulai juga. Tapi Kinderfield Duren Sawit gilirannya diundur, karena tunggu Vay selesai lomba Singing.

singingcomp2

Vay nervous. Dia bilang, dia gugup, dan katanya tahun depan dia tak mau lagi ikut Singing. Saya bilang, tak apa-apa, dia bisa ikut mana yang dia maulah. Soalnya Vay kayak terbebani gitu harus jadi juara. Dia tanya terus, “Mi, harus menang?” “Enggak Nak, bukan harus menang. Yang penting adalah, menyanyilah sebagus mungkin. Urusan menang atau kalah, itu belakangan.”

Nomor pertama tampil. Dari cabang lain. Lalu tiba giliran Vay. Kami bergandengan ke depan karena saya akan mengambil videonya dari samping juri. Dia grogi dan kelihatan ingin buru-buru menyelesaikan tugas ini. Alhasil saat saya mau merekam, kepotong sedikit deh, di awal.

Dan, saat nyanyi lagu “I am a Pizza” suara Vay sedikit kepeleset, sepertinya kecapekan latihan terus di rumah. Di lagu Becak, sudah lumayan. Kalau tadinya grogi, di sini sudah agak santai. Ah tapi kok suara distorsi Vay itu tetap merdu ya di telinga emaknya, hahah.

Ini dia videonya:

Setelah dari Singing, Vay pun langsung ke auditorium, bersiap-siap choir. Mbaknya Vay sudah duduk duluan di dalam, jaga tempat duduk, hehe. Udah ramai banget karena kompetisi choir sudah mulai sejak pagi. Saya duduk santai, karena tadi katanya Duren Sawit dapat giliran terakhir. Eh, ternyata setelah penampilan kelima dan keenam, tahu-tahu MC bilang berikutnya adalah Kinderfield Duren Sawit. Langsung buru-buru nyalakan kamera, takut telat.

Peserta choir tetap sama, gabungan anak-anak KG B dan KG A. Jadi yang ikut adalah Vay dan teman-temannya yang tahun lalu sudah ikut choir juga, kemudian sisanya adalah anak-anak baru dari KG A, termasuk dirijen juga dari KG A.

Dirijennya celingak-celinguk, lupa memberi aba-aba, sampai diingatkan sama temannya. LOL. Mereka pun mulai menyanyi. Suara, OK, alias nada pas dan nyanyinya sudah enak didengar telinga. Tapi kekompakan dan kerapihan di atas panggung, kurang, hehe. Kalau tahun lalu kan smooth ya, kurangnya di suara solonya (si Vay) yang sempat gak keluar, sehingga (kata Miss-nya) mereka hanya dapat juara 3.

Ini video kemarin. **Saat nonton ini Vay pun protes, gara-gara temannya yang solo sehabis dia memakai nada miliknya padahal harusnya bukan yang itu nadanya. LOL. Okelah, Nak.

 

Dan ini video tahun lalu:

Setelah itu, kami menunggu hasil pengumuman Singing. Dan, ternyata….. Vay tidak dapat nomor. It’s OK ya Vay, yang penting sudah melakukan yang terbaik. Kami pulang dan lanjut ke KoKas dong, Vay nge-gym dulu. Dia kelihatan lega karena semua sudah lewat, dan juga tidak sedih tuh meski tidak juara. Soalnya sudah juara satu juga di sekolahnya. Sudah dapat pialanya sendiri. Langsung dipajangnya di rak dengan piala choir tahun lalu dan medalinya juga. 🙂

SAM_2199

Menjelang sore, salah satu Miss memberi kabar bahwa untuk choir juga mereka tidak dapat nomor. Nilainya kurang di kekompakan grup itu tadi, walaupun nilai juri untuk voicenya bagus. Yaahh… kecewa nih dengarnya, soalnya tahun lalu kan lumayanlah choir-nya. Tapi ya sudahlah. Kompetisinya kan begitu ya, harus ada yang menang dan ada yang kalah. Lalu Missnya juga info, kalau juri-juri di Singing Competition sama di Choir pada suka dengar suara Vay, sepakat kalau suara Vay itu bagus sekali saat lomba individu tadi, tapi kekurangannya adalah: tidak ada senyum saat menyanyi. Ah, bisa aja nih Miss-nya menghibur :). **kirim bolu meranti.

Mendengar itu, saya bilang ke Vay, “It’s okay Sayang, yang namanya rocker, memang gak perlu sering-sering senyum.” Hehee…. Soalnya suara Vay itu kan ada serak-seraknya ya, jadi mami dan ayahnya suka bilang kalau dia cocoknya jadi rocker. ^^)

Good job, Vay!

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

Kecil-Kecil Punya SIM

Kesampaian juga saya bawa Vay ke Kidzania. Ih padahal Kidzania itu bukan mainan baru anak Jakarta, masa Vay baru dibawa maminya sekarang? Iya, maap. Waktu dan kondisinya baru pas sekarang. Umur sudah cukup banget, ada temannya, dan perginya bukan pas weekend or peak.

Jadi ceritanya, waktu kemarin ke Kidzania bareng field trip sekolah, Vay itu gak puas banget. Ternyata, selama di sana itu, dia – dan beberapa teman segrupnya – hanya sempat mencoba empat permainan saja. Soalnya Kidzania full, selain field trip dari Kinderfield, ada juga dari sekolah-sekolah lain. Jadi ya sudah pastilah mainnya gak kebagian semua. Kasihan amat, ya, saya pikir.

Makanya, mumpung lagi libur term, saya penuhi keinginannya ke Kidzania. Barengan dengan teman kantor yang dulu juga barengan ke Singapore, Vay dan Raisa pun jadi playdate deh ke Kidzania hari Jumat kemarin. Kita ambil yang sesi pagi, dari jam 9 s/d jam 2 siang, dengan harga tiket masuk sebesar Rp130,000 untuk anak dan Rp90,000 untuk dewasa.

Terakhir ke sini dua tahun lalu, dan kali ini ke sini pun saya masih tetap terkagum-kagum dengan Kidzania. Tidak salah memang disebut sebagai pusat rekreasi dengan konsep edutainment. Jadi di dalamnya dibangun menyerupai replika city yang sesungguhnya, namun dibuat dalam ukuran anak-anak. Jadi ada jalan raya, bangunan-bangunan, kendaraan-kendaraan seperti taxi dan bus, pom bensin. Keren banget pokoknya. Gak heran deh, anak-anak suka sekali bermain di sana, dan selalu ingin datang kembali. Vay itu, selama di sana, sumringah terus. Kayaknya dia bahagiaaaaa banget. Maklumlah, setelah sebelumnya gagal ke sini karena tidak kebagian tiket, akhirnya kesampaian juga. Belajar dari kejadian sebelumnya, mami pun sudah beli tiket sehari sebelumnya.
Hampir semua permainan di dalam dijajal Vay, namun memang belum semua sih. Jadi memang gak cukup sih ke sini hanya sekali. Minimal dua kali baru bisa puas cobain semua. Saya ikutin saja, Vay mau masuk ke mana. Biar dia tahulah, dia sukanya yang mana, gak sukanya yang mana. Ke library dia juga suka, diminta main piano sama petugasnya, dia OK saja. Dimainkanlah lagu pendek yang baru diajari di semester dua Yamaha ini. Dia juga masuk ke diskotik juga dicoba, nge-dance di dalam.

Ini dia foto-fotonya.

SAM_1054

SAM_1089

SAM_1102

SAM_1108
SAM_1112
SAM_1094

Dan ini sebagian short video yang di-shoot. Video lainnya bisa dicek di YouTube.

Pulang dari sini bawa oleh-oleh hasil kerjanya. Ada mie instan, bedak, wafer, buku tulis, juga handuk. Belum lagi kita sampai di rumah, dia bilang besok ingin ke sini lagi.

Aseekkk... jemur teruss....

Bye Bye Pelampung

Lama juga ya gak update blog. Keasyikan dengan Instagram dan juga kesibukan lainnya, agak mengalihkan perhatian saya dari blog.

Saya lagi happy. Kemarin ini, saya melalui sebuah momen berharga. Ya, memang menurut saya itu sangat berharga karena untuk seorang ibu yang bekerja, bisa dikatakan banyak momen perkembangan anak yang tidak bisa saya lihat di saat-saat pertamanya. Jadi saat mendapati momen ini tepat ketika saya ada di situ, rasanya bahagia sekali. Bangga. Sesuatu bangetlah pokoknya.

Jadi nih ya, Vay itu kan sudah bisa berenang sesedikit. Seperti yang dulu pernah saya ceritakan, saat umur tiga jalan empat tahun, Vay sempat setahunanlah trauma dekat kolam. Tidak mau kena air kolam, dan selalu menjerit kalau kita bujuk untuk mendekati kolam. Maka itu, ketika dia akhirnya berani dan atas keinginannya sendiri mendekati kolam untuk sekadar mencelupkan kaki, bagi saya itu kemajuan yang sangat berarti. Setelah itu tak lama kemudian dia kami ikutkan les renang di sekolah. Dan kemudian, akhirnya dia pun bisa juga berenang, pakai pelampung tentu saja. Bolak-balik dari ujung ke ujung sudah kuat.

Aseekkk... jemur teruss....

Aseekkk… jemur teruss….

Vay itu, bukan anak yang suka dibujuk-bujuk atau dipaksa. Bila ingin mengenalkan atau memintanya melakukan sesuatu, harus perlahan dan sabar menunggu hingga dia mau sendiri. Saya sih tidak masalah, karena pendekatan ke anak itu prosesnya beda-beda kan. Daripada memaksa dan malah membuatnya tidak suka, lebih baik dicari cara lain yang lebih smooth. Makanya saya tidak mau memaksanya menyelam atau membuka pelampung meski saya yakin dia pasti bisa. Selama beberapa bulan dia terus berenang mengapung dengan pelampung di lengan, dan bahkan tidak ingin mencelupkan kepalanya ke dalam air. Meskipun sudah diajarkan oleh gurunya di sekolah, dia tetap menolak untuk menyelam. Nah, sebulan terakhir ini, setelah masuk sekolah dan lanjut les lagi, kayaknya sih pelajaran menyelam itu menjadi lebih intens (mau gak mau kan ya, kan harus ada peningkatan) maka dia pun sudah bisa menyelam satu dua detik.

Minggu kemarin, sehabis pulang dari les electone, sorenya saya suruh dia berenang. Tujuannya sih biar dia capek, dan malamnya bisa cepat tidur. Setengah jam berenang, rencananya Vay mau udahan. Tapi karena masih pengen latihan menyelam, dia masuk lagi, kali ini tanpa pelampung lengan. Jadi dengan berpegangan pada pinggiran kolam, dia pelan-pelan masuk ke kolam, lalu muncul lagi. Melihat kondisi dia sudah tanpa pelampung, saya langsung memanas-manasinya, bilang kalau dia pasti bisa berenang tanpa pelampung.

“Gak mauuu! Nanti aja kalau Vaya udah besar,” dia mulai ngeles. Tapi terus saja saya coba bujuk. Saya bilang, meskipun tanpa pelampung dia tak akan tenggelam, selama kaki dan tangannya mengayuh. Coba dulu menyelam dan langsung kayuh kakinya, pasti bisa, kata saya lagi sok jadi guru renang.

Dan, akhirnya dia berani jugaaaa… Pelan-pelan dia menyelam lalu mengayuh. Dan, berhasil! Alhamdulillah. Buat saya, ini adalah momen yang sangat luar biasa buat saya karena momen first time-nya Vay ini bisa saya saksikan langsung. “Wah, hebaat…. udah kayak ikan, lho, Nak, berenangnya!” Dibilang kayak ikan, Vay makin semangaaat. Sampai batal naik ke atas! Udah gitu langsung nyelam dalam dan duduk di dasar kolam. Soknyaaa…. LOL.

Ini dia videonya. Ini si Vay sudah ngos-ngosan capek.


So proud of you, my sweetheart!

Ice Cappucino

Finally Punya! Si Cantik Samsung NX2000

Nah, bicara soal rezeki, akhirnya, sesuatu yang baru-baru ini sedang saya impi-impikan terkabulkan juga. Apa itu? Apalagi kalau bukan kamera yang keren dan stylish itu? Samsung NX2000. Asyiiikkk…..!!

Bisa dibilang ini adalah hadiah yang tak terduga dari ayahnya Vay. Sepertinya doi baca dua postingan sebelumnya, di sini dan di sini — yang saya bilang sekarang malas bawa kamera besar, lalu pengen kamera yang ringan dan simpel, akhirnya hatinya melunak juga. Tahu-tahu akhir bulan lalu datang aja gitu paket kiriman, dan saat dilihat tanda terimanya, eh? Apa ini? Ah, thanks ya!

Setelah saya test drive seminggu lebih, ternyata kamera ini memang keren banget. Fitur-fiturnya yang ada benar-benar memudahkan. Pertama, bodynya yang sangat handy dan juga ringan. Kemudian selain pilihan scene mode yang akan memudahkan kita mengabadikan objek foto, fitur-fitur utama yang sangat membantu sekali adalah seperti yang akan saya tulis di bawah ini.

Samsung Smart Camera App, ini adalah aplikasi smartphone yang bisa kita download dari Play Store atau AppStore. Dengan aplikasi ini, begitu kita menghidupkan Samsung Smart Camera kita, maka aplikasi akan otomatis terhubung ke smartphone kita.

Ok. Nah setelah menginstal Samsung Smart Camera App, barulah kita bisa melakukan beberapa fitur andalan berikut ini:

1. AutoShare. Fitur ini memungkinkan kamera secara instan membackup foto-foto hasil jepretan langsung ke smartphone atau tablet kita. Saat selesai menginstall Samsung Smart Camera App, langsung masuk ke menu, dan set AutoShare ke “ON”. Saat kita meng-capture objek, maka hasil jepretan akan disimpan di kamera dan langsung otomatis ditransfer ke smartphone kita.

2. MobileLink. Ini adalah fitur/aplikasi untuk mengakses atau menyalin file yang sudah diambil oleh kamera ke smartphone. Jadi kalau misalnya sudah tidak sabar ingin memotret objek tapi belum sempat menghidupkan Samsung Smart Camera App di smartphone sehingga tidak bisa auto share, tidak perlu khawatir. Sesudahnya bisa pakai fitur ini, kok. Pilih “Select Files from Camera” untuk mentransfer foto-foto ke smartphone.

3. Remote ViewFinder. Sesuai namanya, ini fitur/aplikasi untuk untuk mengontrol kamera via smartphone. Pasti sering kan, mengalami kejadian saat sedang kumpul bareng keluarga atau teman-teman dan ingin foto ramai-ramai, tapi kesulitan untuk berfoto lengkap karena salah satu kebagian tugas memotret. Nah dengan fitur Remote ViewFinder ini, kita bisa berfoto lengkap. Pasang kamera di tripod atau di meja atau di manalah, lalu tinggal intip dari smartphone, apakah semua peserta posisinya sudah pas atau belum. Kasih aba-aba, dan langsung “Jeprettt!” dari smartphone. Tidak perlu ada yang memegang kamera. Asyik banget. Saya sudah coba dengan teman-teman di kantor waktu itu.

Nah. Itu adalah fitur-fitur canggih yang bisa diakses dari aplikasi Samsung Smart Camera App. Oh ya, saya juga bikin video unboxingnya. Sekali-sekali bikin video sendiri gpp dong, ya. Semoga videonya berguna buat yang tertarik ingin pakai Samsung NX2000.

Ini dia hasil-hasil foto yang saya jepret pakai Samsung NX2000, termasuk juga yang saya ambil pakai fitur Remote ViewFinder. Ada yang diambil saat Vay akan ujian kenaikan kelas Yamaha. Dan sebagian besar adalah foto-foto saat mudik lebaran ke Medan kemarin. Anyway beberapa foto ini sudah saya sharing juga di Instagram saya @zizydmk. Mudah-mudahan belum bosan ya! 🙂

Pakai mode Beauty Face

Pakai mode Beauty Face

SAM_0275_Lelah

SAM_0315_Lebaran Day 1 (remove viewfinder)

SAM_0331_Kiddos

SAM_0339_Asyik NgeGame

SAM_0380_@PlayGround Cambridge

SAM_0389_@PlayGround Cambridge

SAM_0280

SAM_0437_Love Sign Sandal

SAM_0480_Rahmat Gallery

SAM_0485_Rahmat Gallery

Sekarang, kalau kemana-mana pasti deh saya bawa Samsung NX2000 ini. 🙂

IMG_20130804_230303

Momen Mudik 2013

Bagi yang merantau ke Jakarta atau kota besar lainnya, mudik atau pulang kampung adalah hal yang dinanti. Selalu ada momen-momen yang hanya bisa didapatkan kalau kita mudik. That’s whyyy kenapa kita rindu untuk mudik. Ada yang tidak suka mudik? Ya barangkali ada, mungkin saja ada yang punya pengalaman gak enak jadi malas mudik, ya gak? Bebaslah. Hati masing-masing ini.

Nah, kemarin pagi, dengan menumpang pesawat Garuda, kami tiba di bandara baru yaitu Bandara Internasional Kuala Namu. Jadi ya, Bandara Polonia yang terkenal itu sudah resmi tidak beroperasi untuk penerbangan komersial lagi. Pertanggal 25 Juli 2013 kemarin, semua penerbangan komersial langsung dialihkan ke Bandara Kuala Namu ini. Kuala Namu ini sendiri terletak di Kabupaten Deli Serdang, sekitar 40km dari kota Medan.

Seperti apa sih Bandara Kuala Namu ini?

Yeahh… keren sih. Keluar dari pesawat pakai garbarata (kalau dulu di Polonia turun menjejak baru naik bus). Ruang tunggu di dalam juga mirip dengan ruang tunggu di Changi. Tapi, kalau dilihat-lihat lagi, bandara baru ini bisa dibilang baru 75% jadi dan sudah ‘dipaksa’ untuk beroperasi. Toiletnya saja belum ada sign board, mana toilet pria mana toilet wanita, dan meski toiletnya bagus, tapi di dalam becek. Petugas yang jaga hanya satu orang untuk keduanya, petugas laki-laki. Porlep tidak ada — which is ini bagus menurut saya karena kalau di Polonia dulu, porlep menguasai semua troley sehingga penumpang tidak kebagian.

Keluar dari bagian bagasi, ada dua petugas perempuan yang stand by untuk penumpang yang ingin bertanya. Bila kita membutuhkan informasi apa pun, mereka akan membantu, terutama informasi transportasi. Sudah pasti ya, namanya bandara baru, jauh dari Medan, transportasi tentu jadi pertanyaan pertama bagi yang baru tiba.

Nah untuk ke Medan, ada taxi, bus, dan kereta api bandara. Kalau naik KA Bandara, biayanya Rp80.000 dan turun di Stasiun Besar Medan. Kemarin sih kita dijemput sama Opungnya Vay, dan perjalanan dari bandara ke rumah — lewat jalan tol — sekitar 30-40 menit.

Bandara internasional ini secara umum masih berantakan. Kalau pesawat mah gak ada masalah ya, yang penting kan bisa mendarat dengan aman. Tapi untuk penumpang, pengantar, suasananya masih belum kondusif. Baru mau keluar parkir saja sudah ada tukang parkir liar. Driver kita tanya, “Bukannya nanti bayar pas keluar?” lalu dijawabnya begini, “Oh iya, itu lain. Ini sih kebijaksanaan saja.” Kebijaksanaan apa pulaaaak kawan ini? Kita berlalu saja, tanpa memberi tentu saja.

Yah. Bandara ini keren memang, dari luar. Tapi sebaiknya sih, ya, mumpung ini dibangun dari nol, tunggu benar-benar rampung deh baru beroperasi. Kan enak kalau menerapkan peraturan dan tata tertib saat sudah ready. Sayang nih kalau judulnya saja internasional tapi hal-hal remeh temehnya tidak internasional. Kalau kata ayahnya Vay, font yang dipakai untuk sign board juga tidak standar internasional, beda dengan bandara-bandara internasional lainnya.

Bandara International Kuala Namu

Bandara International Kuala Namu

Bandara International Kuala Namu

Main Kembang Api

Nah. Momen mudik yang berkesan setiap kali pulang kampung adalah, Vay bisa main petasan dengan saudara-saudaranya. Di Jakarta dia gak mau lho disuruh pegang kembang api. Tapi di sini dia berani. Dan kemarin malam, dia main terus gak berhenti-henti. Kayak gak ingin kehabisan waktu main dengan sepupunya hehe…

Yang lucunya, mbak-mbak yang kerja di rumah pengen banget foto-foto dan ngerekam si Vay. Gemes gitu mereka. 🙂 Belum tahu aja dia bagaimana Vay kalau udah keluar ‘singa’nya, bakal berubah pikiran kali ya, hahaha…

 

Akhir kata, saya dan keluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434H. Mohon maaf lahir dan bathin apabila ada salah-salah kata dan perbuatan selama ini.

DESPICABLEME2

Ba ba ba ba banana…

Sudah nonton Despicable Me 2? Saya belum. Tapi Vay sudah. Gaya banget ya dia. Dia nonton pertengahan bulan lalu dari sekolah, part of Summer Class activity-nya. Sayangnya parents tidak bisa ikut atau lihat-lihat, jadi saya tidak punya dokumentasi dan juga tidak bisa cerita dia ngapain aja saat summer class kemarin. Gak seru yah.

Nah. Vay jadi suka sekali sama minions. Juga lagunya, Banana Song itu. Sejak pulang dari bioskop, dia nyanyi-nyanyi gak jelas gitu meniru video despicable dari YouTube.

Wiken kemarin, saat sedang nonton lagi di YouTube, Vay nyanyi-nyayi lagi. Dan dia gak sadar kalau diam-diam direkam sama ayahnya. Kocak deh.

Ini videonya. Jangan dilupa set quality ke yang tertinggi. 🙂

terry3

Chelsea FC Part 2 : Player Escort

Kamis 25 Juli 2013

Keberuntungan Vay memang masih berlanjut. Setelah di hari Rabu dia memperoleh kesempatan couching clinic bersama Chelsea FC, maka pada hari H, laga pertandingan Chelsea FC vs BNI Indonesia All Stars, Vay pun menjadi player escort.

Pukul. 17.00 WIB

Kami pun tiba di GBK. Suasana GBK sudah sangat ramai, dan sudah mulai kelihatan susah cari parkir. Akhirnya kita parkir paralel saja, lapis dua di dekat west gate, karena nanti kita akan masuk dari situ juga.

Sampai dalam GBK, kami langsung menuju pintu XII, pintu masuk tiket VVIP. Tenda escort ada di dalam area situ. Selesai melakukan registrasi, pendamping langsung diberikan ID Pas agar bisa keluar masuk, termasuk juga mbaknya Vay yang kita ajak serta. Mbaknya ini ikut karena saya tidak sempat balik ke rumah untuk menjemput Vay, makanya dia dan Vay saja yang menyusul ke kantor naik taxi, baru kita bareng-bareng ke GBK. **Itu dia makanya jadi gak ada yang fotoin saat Vay tampil di TV, deh… *curcol

Beberapa anak dan orang tuanya terlihat sudah duduk manis di dalam tenda. Untuk kali ini, dibagikan kaos dan celana putih Adidas untuk semua escort, baik Chelsea FC escort maupun BNI All Stars.

player escort

Seperti yang pernah saya bilang dulu, kalau anak yang mau tampil, pasti deh orang tuanya yang nervous. Dan saya tidak bisa tenang menunggu jam pertandingan. Takut aja gitu tiba-tiba batal atau gimana. Untunglah sikap Vay yang happy terus sedikit mengademkan hati saya. Dia aktif sekali, seperti kelebihan energi, lari sana lari sini, joget sana joget sini. Belum apa-apa, celana putihnya sudah kotor. Banyak yang senyum-senyum lihat tingkah si Vay, sampai ada bisik-bisik terdengar oleh beberapa mbak panitia BNI. Berkata, “Yang ini cocok banget jadi escort.”

Menjelang jam enam sore, anak-anak player escort lainnya tiba. Ada yang kecil ada yang gede. Sebagian besar saya lihat sih anak-anak pejabat, kelihatan dari gaya orangtua dan keluarganya yang menemani. Dan herannya, salah satu yang katanya pejabat itu, berkata pada panitia kalau anaknya tidak punya sepatu Adidas, jadi terpaksa pakai Nike ke situ. Hellooowww… bisa gitu, alasannya? Vay juga tidak punya sepatu Adidas, tapi kita beli semua lengkap demi menghargai BNI yang sudah mengundang kita. Ada juga seorang anak laki-laki montok yang kelihatan seumuran dengan Vay, bermain bersama abangnya, mereka berdua jadi player escort, dan mereka ternyata datang dari Medan!

Dan sepertinya separuh dari anak-anak player escort itu saling kenal, deh, semua pada heboh berfoto ramai-ramai sebelum briefing. Saya lihat Vay mengamuk saat mbaknya memaksa dia ikut berfoto dengan anak-anak yang lain. Saya bilang ya biarkan sajalah, jangan dipaksa nanti moodnya jadi jelek.

Pukul. 19.20 WIB

Kita sudah dikasih tahu bahwa jam setengah delapan anak-anak harus berkumpul untuk technical meeting. Aduh saya makin deg-degan, soalnya Vay kan kemarin tidak ikut gladi resik. Bagaimana nanti kalau dia salah di lapangan?

Saat jam menunjukkan pukul tujuh tiga puluh, semua anak diarahkan ke ruang pers di lantai bawah. Nah, tadinya nih, info yang kita dapat, parents akan diberikan ruang tunggu di sisi dalam, jadi ceritanya akan dekat sekali dengan akses keluar masuk pemain yang ingin ke kamar kecil misalnya. Jadi kita bisa saja minta foto dengan mereka. Sudah berharap, dong pastinya.

Absen anak-anak pun dilakukan. Dimulai dengan escort untuk Chelsea FC. Saat diabsen, jantung saya berdebar-debar, kok nama Vay gak dipanggil-panggil? Apakah batal? Ternyata ada, namanya ada di nomor urut sebelas. Menyeliplah Vay di belakang anak lain yang badannya lebih tinggi dari dia. Waduh paling belakang pula itu, batin saya.

Nah, menjadi player escort berarti harus menerima apa yang diberikan. Kita tidak bisa memilih dengan siapa nanti masuknya. Jadi parents ya hanya bisa berharap dan berangan-angan saja semoga anak kita dapatnya dengan pemain favorit. Tapi saya boleh dong berharap. Sengaja pula bisik-bisik ke ayah si Vay, minta bilangin ke panitia, Vay boleh gak nanti dapatnya Ramires? Soalnya kalau mengkhayal dapatnya John Terry, kok ketinggian ya? Hahah…. Tapi ayah Vay bilang, kita memang tidak bisa milih. Titik.

Tapi saya yakin banget bahwa anak-anak pasti akan diurutkan lagi berdasarkan tinggi badan. Dan benar saja, kakak pendamping dari BNI mengumumkan bahwa adik-adik harus membuat barisan di mana yang paling tinggi harus paling belakang. Mbak-mbak pegawai BNI yang dari kemarin gemes sama Vay, langsung menggiring Vay ke baris depan. Hore! “Vaya di sini, di sini,” katanya. Tapi memang benar sih, Vay itu paling kecil, jadi sudah pastilah dia paling depan. Saya pun makin berdebar. Aih, kalau Vay paling depan, berarti? Ya! Berarti, kemungkinan besar dia akan mendampingi kapten kesebelasan! Seorang bapak yang anaknya dapat urutan kedelapan langsung tersenyum pada saya, “Wah, Bu! Bisa dapat KK berarti Bu!” Saya senyum saja. Optimis tapi tidak mau over pede.

Pukul. 19.45 WIB

Kakak pendamping BNI kemudian melakukan briefing ulang. Ternyata, sudah ada sebagian anak yang melakukan gladi resik Rabu kemarin, yaitu mereka yang memang tidak ikut couching clinic. Saya langsung minta Vay mendengarkan instruksi dengan baik. Kakak pendamping mengingatkan anak-anak bahwa mereka harus selalu tersenyum. Dan yang terpenting adalah: “Saat di lapangan, jangan ada yang cari mama atau papa, ya?” Riuh rendah suara pun terdengar. Para orangtua pasti deg-degan dong, takut aja tiba-tiba anaknya ngambek di tengah lapangan.

20130725_194341

Anak-anak diminta menghapal dirinya nomor berapa. Tujuannya agar dia tahu saat nanti diberi aba-aba di dalam. Jadi saat dipanggil nomornya, mereka langsung bergerak maju. “Vay, ingat ya. Vaya nomor satu.” Saya ingatkan lagi dia. Saya juga minta Vay mengingat siapa teman di belakangnya, maksudnya agar dia tahu dia ada di barisan mana nanti. Soalnya semua player escort memakai baju yang sama, jadi bisa terbalik-balik nanti, yang mana escort Chelsea FC, mana yang BNI All Star. Tugas player escort adalah ikut masuk bersama pemain sampai ke lapangan, dan setelah seremoni selesai, mereka kembali ke ruangan. Begitu saja.

Seorang ibu yang berdiri di depan saya cemberut. Sepertinya dia tidak puas dengan pengurutan anak, soalnya anak laki-lakinya kan tinggi, jadi dapatnya agak di belakang. Anaknya kelihatan menangis, kemudian dibujuk oleh bapaknya, orang bule. Ya mau bagaimana lagi, kan tidak bisa milih bo’. Mau artis atau pejabat, di dalam sini tidak berlaku. Peraturannya memang begitu, harus yang terkecil di depan.

Setelah briefing selesai, anak-anak pun langsung masuk ke ruang pers, dan kami para orang tua diminta dismiss. Totally dismiss. Ternyata benar-benar harus clear area, hanya player escort dan kakak pendamping yang boleh masuk. Jadi, harapan akan bisa memotret pemain jelas tidak mungkin (apalagi berharap bisa foto dengan Jose Mourinho!). Tapi ya iya jugalah, kalau ada orang biasa di dalam malah mengganggu pemain dong pastinya.

Nah. Lalu, bagaimana saya bisa melihat anak saya nanti dengan siapa? Masalahnya di ruang bawah itu tidak ada LCD sama sekali. Jadi? Jadi? ‘Buta’ dong. Waduh. Bapak-bapak yang anaknya dapat nomor delapan tadi bilang ke saya kalau di lantai tiga ada layar besar untuk menonton, kita bisa ke sana. Saya dan suami memang dikasih tiket juga sama panitia kalau ingin menonton juga, meskipun itu bukan kelas VVIP. Kalau VVIP sih enak ya, bisa langsung melihat ke arah pemain di depan.

Mbak BNI yang sejak sore membantu kami muncul. Katanya ke saya, “Kalau Ibu mau, saya kasih tiket khusus buat Ibu. Posisi ini ada di samping jembatan tempat anak-anak menunggu sebelum masuk, jadi pasti bisa memotret, walaupun dari samping.” Beberapa orang tua lain yang tidak punya tiket VVIP mengerubung dan bertanya ada berapa tiket. Ya siapa sih yang tidak ingin melihat langsung penampilan anaknya? Ah, tapi memang saya dan suami beruntung, juga bapak yang tadi. Karena pihak BNI memang hanya menyediakan beberapa tiket khusus itu untuk kami, saya dan si bapak tadi.

Saya dan ayah si Vay langsung keluar dan lari agar tidak ketinggalan. Soalnya takut kelewatan, dan kita juga tidak tahu ini akses tiket ini sejauh apa. Mbaknya Vay tinggal, untuk menjaga Vay bila tiba-tiba ingin pipis atau gimana.

Masuk dari pintu II, ternyata sudah full, pastinya. Lokasi yang tadi dikatakan oleh si mbak BNI itu ada di sudut sana, dan ya, sebelahan dengan jembatan. Tapi ya gak mungkin kosonglah, udah jam delapan gitu lho. Saya dan suami pun akhirnya berdiri saja di tangga, karena tujuan kami hanya ingin memotret Vay, setelah itu keluar. Suasana GBK luar biasa hebohnya, dan ya, ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di stadion ini. Melihat langsung lapangan yang selama ini hanya dilihat saja dari layar televisi. Bapak-bapak di sisi kiri saya sempat protes halus karena pandangannya terhalang, jadi ya kita say sorry dululah. Lalu saya katakan bahwa saya hanya ingin memotret anak saya yang jadi escort, makanya numpang berdiri sebentar saja di tangga.

Pukul. 20.10 WIB

Gemuruh suara penonton terdengar setiap kali announcer menyebutkan nama-nama pemain. Tak berapa lama, anak-anak terlihat masuk dan berbaris di jembatan. Saya lihat seorang pria kulit putih berkaos putih berbicara sambil menggelengkan kepala dan menggerakkan tangan pada mbak-mbak dari BNI yang tadi ikut masuk mengantar anak-anak. Sekali lagi, harus clear. Yang boleh ada di sana hanya kakak pendamping yang membawa masing-masing tim escortnya.

Vaya ada di urutan terdepan, dan….. astaga! Si Vay itu masih saja joget-joget. Dia kelihatan mengobrol dengan anak laki-laki montok yang dari Medan itu. Tak lama, kakak pendamping datang dan mengajak Vay kembali lagi ke barisan. Lalu begitu lagi. Sudah baris rapi, eh dia main lagi, keluar dari barisan lagi, dan kakak pendamping datang lagi merapikannya. Duh, Vay…. kok gak bisa diam sebentar sih? Kayaknya kok santai banget dia menghadapi situasi itu, gak pengertian gitu sama maminya yang sudah mau pingsan melihat dia dari jauh. LOL.

20130725_202016

Saya semakin deg-degan saat pemain-pemain terlihat lalu lalang dan tos-tosan dengan semua anak. Dan, semakin deg-degan lagi saat saya lihat dua maskot Chelsea sedang melenggang di atas jembatan. Mati kita! Bagaimana kalau Vay tiba-tiba shock begitu sadar ada ‘badut’?

20130725_201936

Menit-menit menjelang pemain masuk adalah menit-menit kami jantungan. Dan kemudian, bismillah. Pertandingan sudah dimulai. Suara ayah si Vay mengangetkan saya. “Itu si Vaya sudah keluar! Gile, beneran, dia dapatnya John Terry! Itu dia, yang bawa bola merah itu.”

20130725_202750_2

20130725_202817

20130725_202851

Saya melihat Terry melangkah masuk dengan santai, tangan kirinya memeluk bola merah, dan tangan kanannya menggandeng anak perempuan kecil berkuncir. Anak kecil itu terlihat melangkah cepat berusaha mengimbangi langkah lebar Terry. Hati mami Vay pun serasa mau meledak. Anakku, si lincah yang mungil itu, digandeng oleh John Terry, kaptennya Chelsea FC! Betapa beruntungnya dia! Sementara kami hanya bisa melihat Terry dari kejauhan, si Vay malah gandengan dengan Terry! Vay kelihatan celingak-celinguk, kayaknya dia penasaran ingin lihat wajah-wajah para pemain dengan jelas.

Dan karena Vay memang menempel pada Terry, sementara pusat perhatian semua mengarah ke Chelsea FC, maka wajah Vay lama sekali muncul di layar (begitulah yang dikatakan oleh suami saya, juga Omanya yang menonton di Medan). Tapi saya tidak bisa berpaling melihat layar, karena berusaha merekam detik-detik bersejarah itu di tengah kepungan para penonton lain yang juga berdiri ingin melihat.

Bapak-bapak yang tadi protes bertanya, “Bagaimana? Dapat?” “Dapat, Pak! Itu yang tadi digandeng Terry, itu anak saya, Pak!” Dan mulut si bapak itu langsung membulat dan matanya membesar.

Ini dia videonya (jangan lupa untuk set quality ke yang tertinggi). Rekaman pertama adalah ketika anak-anak masuk, terlihat Terry mengarahkan Vay ke depannya sedikit, karena Vay salah baris sepertinya. Dan rekaman kedua adalah ketika para pemain bersalam-salaman, dan anak-anak bingung harus ikut atau balik. Pada tarik-tarikan. Ah, entah apakah itu karena ada instruksi yang kurang jelas dari kakak pendamping atau bagaimana, tapi pemandangan itu lucu sekali. Anak-anak akhirnya bergandengan kembali masuk ke arah jembatan.

Maafkan kenorakan saya ini, tapi kemarin malam, saya merasa jadi ibu yang paling beruntung dan paling bahagia di dunia. Meski saya tak bisa foto bareng Terry (seperti suami saya) atau melihat dari dekat (seperti Vay yang sudah digandeng pula!) tapi saya bangga dan senang karena minimal saya ada di sana untuk mengabadikannya. Meskipun sulit sekali karena terdorong sana sini, sehingga hasil foto dan video juga ada yang blur. Mudah-mudahaaaan nanti dikirim foto bagusnya sama BNI.

Kami menonton jalannya pertandingan selama beberapa saat, sebelum kemudian bergegas kembali ke ruang pers. Menjemput Vay. Eh! Kosong? Ternyata dia sudah keluar sama mbaknya dan lagi main ke VVIP di atas dengan panitia BNI tadi. Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun permisi pulang. Memang tidak ingin menonton di GBK. Kenapa? Pertama, karena Vay pasti sudah lelah sekali. Kedua, saya dan suami sama-sama tak bisa menerima kenyataan bila ternyata tim BNI All Stars dibantai oleh Chelsea FC. Jelas dong kami cinta tim Indonesia juga. Jadi lebih baik tunggu berita saja deh, daripada sakit hati nontonnya. Huhu…. dan teryatata memang dibantai 8-1.

Saya tak tahu apakah ada dari teman-teman yang kemarin malam menonton pertandingan Chelsea FC dan BNI All Stars di MNC TV dan sempat melihat Vay. Tapi saya penasaran sekali, karena saya tidak melihat dari dekat, jadi tidak tahu ekspresi Vay seperti apa. Kalau kata mami saya di Medan sih, dia kelihatan baik-baik saja, tidak grogi. Tadi, saya pulang agak malam dan baru ngeh kalau ada siaran ulangnya di MNC Sports2. Lihatnya di tengah-tengah pula. Tapi hari Minggu besok 28 Juli, jam 14.30 ada lagi siaran tundanya. Mudah-mudahan terkejar saya bisa nontonnya.

* * *

Akhir kata dari postingan yang sangat panjang ini, kami jelas sangat bersyukur, berterima kasih pada BNI, karena anak kami Vay beruntung mendapatkan kesempatan yang belum tentu didapatkan oleh orang lain, dan juga belum tentu datang dua kali. Ini memang sudah rezekinya Vay. What a beautiful moment. Tak perlu bayar, tak perlu minta katabelece, tak perlu punya jalur khusus, kalau memang sudah rezeki, maka tidak akan kemana. Alhamdulillah.

**update terbaru 27 Juli 2013 13.00 : kesampaian juga saya nonton siaran tundanya di TV, dan berhasil juga difoto. 🙂

Samsung NX2000

Naksir Sama Samsung NX2000

Bicara soal tidak ingin kehilangan momen foto-foto saat traveling atau saat berkumpul bersama keluarga, saya jadi kepengen punya kamera baru. Ingin cari kamera yang simpel dan nyaman dibawa-bawa, yang secara bobot lebih ringan dibanding dslr tapi secara kualitas juga oke. Yang gak bikin ribet sih pokoknya. Makanya saat browsing cari info kamera terbaru, saya kok jatuh hati ya sama kamera mirrorless seri terbaru Samsung Camera, yang namanya Samsung NX2000. Jadi pengen, hiks.

Bagi yang belum tahu tentang apa itu kamera mirrorless, kamera mirrorless adalah kamera yang pada dasarnya sama seperti kamera dslr. Hanya saja tidak pakai kaca atau cermin yang biasa ada di kamera DSLR. Prioritas konsep mirrorless ini pada ukuran dan berat yang lebih kecil dan ringan, namun kualitas foto yang dihasilkan setara dengan yang dihasilkan hampir sebagian besar kamera dslr. Termasuk pula bisa gonta-ganti lensa. Canggih, kan? Pastinya.

Nah, Samsung NX2000 yang mengusung teknologi smart camera ini, dilengkapi dengan resolusi 20.3MP, jadi secara kualitas dapat menghasilkan gambar yang tajam dan detail. Katanya pula memiliki 14 scene mode. Jadi pengguna bisa memilih modus kategori sesuai kebutuhannya. Suka foto-foto makanan? Ada pilihannya untuk itu. Foto pemandangan alias landscape, juga ada pilihannya. Mode untuk action freeze, ada. Yang suka foto micro, juga ada. Lalu layar sentuhnya juga lumayan luas dimensinya, jadi memudahkan saat mengakses beragam fitur. Rentang ISO-nya juga lumayan tinggi. Lihat deh videonya di bawah ini.

Samsung NX2000

Tapi yang paling menarik dari kamera ini adalah bisa langsung auto share dengan “Samsung Smart Camera Apps”. Jadi seperti yang pernah saya tulis di postingan sebelumnya, kalau punya momen special dan bisa segera upload, kenapa harus menunggu? Keburu basi.

Jadi ya, kegiatan baru saya di sela-sela waktu luang di kantor itu, googling tentang Samsung NX2000 ini. Penasaran dan kepengen. Sudah terbayang mau motret apa saja nanti kalau pakai kamera itu.

Bagaimana? Beli tidak ya?