Uangku Bukan Uangmu – part 2

Masih ingat postingan “Uangku Bukan Uangmu.”? Nah kali ini saya mau buat postingan lanjutannya. Kalau dulu membahas tentang “So what? I can do everything I want with my money..” sekarang bahasannya tentang,”Urusan masing-masing ya bayar masing-masing.” Hehehee…

Pernah gak saat diajak kencan sama seseorang, kita mikir, nanti siapa yang bayar ya? Dia yang bayar atau bayar sendiri-sendiri? Anda tidak perlu khawatir mikir siapa yang bayarin siapa kalau kencannya di sejenis warung kopi modern kayak Starbucks, karena siapapun yang datang duluan so pasti akan pesan minum duluan dan yang datang belakangan cukup tahu diri untuk mengerti bahwa dia harus mengantri dan membayar minumannya sendiri. Beberapa kali saya janji ketemu orang di Jco juga bayar masing-masing, tak peduli siapa yang mengajak.

Tapi kalau kencannya di restoran bagaimana? Berdasarkan pengalaman saya,  biasanya yang membayar adalah yang mengajak kencan. Walaupun ada sebagian perempuan yang tidak sudi keluar sepeserpun bila pergi bersama pria, tapi masih ada sebagian perempuan lain yang gengsi kalau harus selalu dibayari. **Yoi dong, emang kita cewek apaan semua-muanya musti dibayarin?!

Lalu kalau makan bareng-bareng saat kumpul sama teman-teman gimana?  Ya bayar sendiri-sendiri dong. Lain cerita kalau ada yang berniat mau mentraktir :).  Eh tapi orang Jakarta rada beda lho dengan orang Medan urusan bayar membayar. Ini base on pengalaman saya.

Ceritanya dua tahun yang lalu, hari pertama saya masuk kantor di SarJa ini, saya diajak teman-teman kantor makan di warteg belakang kantor. Itulah pertama kalinya saya makan di warteg, karena selama di Medan saya hampir selalu makan fastfood, dan kalaupun gak makan fast food, makannya pasti ke mall. Waktu itu saya perhatikan bagaimana cara orang-orang memesan. Ada yang duduk dan memesan menu khusus (seperti pecel lele, ayam goreng atau sop-sop an), tapi sebagian besar mengantri sendiri di depan steling dan menyendok langsung makanan yang mereka inginkan.

Dalam hati saya bertanya-tanya, bagaimana caranya nanti si pemilik warung menghitung harga makanan dengan model sendok sendiri begitu? Apakah yang mengambil lauk banyak harganya sama dengan yang mengambil lauk sedikit? Soalnya bayarnya belakangan, setelah nasi di piring tandas. Lalu kami berlima – waktu itu kami ada lima orang yang makan – bayar-bayarnya gimana ya? Kalau di Medan—saat makan ramai-ramai dengan menu khusus – biasanya dihitung total pesanan permeja saja, lalu nanti kami masing-masing akan membayar ke beberapa teman yang menalangi duluan.  Nah sampai disini ini nih, sering kejadian kadang si teman jadi segan untuk menagih teman-temannya (dan berharap saat makan berikutnya gantian teman lain yang membayar), atau sebaliknya ada juga teman yang pura-pura lupa bayar. Ini dia nih malasnya. Makan tapi gak mau bayar. Alasannya macam-macam, mulai dari bawa jabatan suami, sampai masalah naik mobil baru. Apa coba hubungannya mobil baru dengan harus bayarin makan siang – secara grade juga sama?

Nah, ternyata di Jakarta beda. Biarpun kami satu meja pesan sekaligus menu ini itu dan banyak pula, saat akan membayar, kami tinggal menyebutkan tadi makan pakai apa saja, dan si pemilik warung akan menyebutkan si A kena berapa, si B kena berapa, si C kena berapa. Dan saya salut dengan pemilik warteg di Jakarta ini, uang kecilnya banyak! Coba di Medan, selalu kekurangan uang kembalian.

Besok dan besoknya lagi, saya mulai coba pesan makanan model prasmanan. Jadi main ambil sendiri lalu selesai makan ya bayar. Wah menyenangkan juga ternyata makan dan bayar dengan model begitu, karena uang kita jelas keluarnya kemana. Hmm memang pas julukan yang diberikan pada orang Jakarta. Lu lu, gue gue.

Memang sih, kesannya kok pelit dan perhitungan ya. Tapi sebenarnya wajar aja sih. Prinsipnya, kita kan sama-sama orang kerja, sama-sama punya gaji sendiri, berarti kalau makan ya bayar sendiri-sendiri dong.

And then, setahun lalu pindahlah dua orang teman saya dari Medan. Yang satu  si A berbisik ke saya, “Kau sebaiknya sedia uang pas aja di dompet. Kalo makan sama si B, susah itu keluar uangnya. Nanti suka pura-pura lupa bayar.” Yang dimaksud dengan “dia” adalah teman yang satu lagi. Saya bilang, “Jangan khawatir, disini model makannya beda. Langsung hitung masing-masing, jadi mau gak mau doi harus bayar sendiri makanannya.”

Suatu saat saya dan B pergi makan dengan beberapa teman sedivisi saya ke Natrabu di Sabang. Di sini so pasti kan bayarnya harus sekalian, karena hitung-hitungnya kan permeja. Saat berdiri di depan kasir si B terlihat kurang tenang. Masalahnya dia tadi keburu mengeluarkan uang duluan jadi dia yang harus menalangi separuh dari separuh total harga. Dugaan saya dia tidak tenang karena segan kalau harus menagih ke teman-teman yang baru dia kenal. Wajarlah ya, namanya juga baru kenal.

“Tenang aja say. Teman-temanku disini kalau makan pasti dibayar kok. Biasanya kalau kami makan keluar, pulangnya langsung kami hitung semua detilnya. Sisanya nanti langsung kami transfer ke rekeningmu.” Wajahnya sedikit terkejut. Masa makan siang yang gak mungkin lebih dari Rp.40rb saja ditransfer?? Hahahaa… Tapi itu benar. Jangankan Rp.40rb. Rp.13rb saja kami main transfer kok pakai internet banking. Apalagi kalau makan di restoran yang otomatis kena pph 10% dan service tax 5%. Semuanya dihitung hingga angka-angka ganjilnya dan ditransfer. Gile perhitungan banged ya?! Hihihihi.. But it is.

Jadi sekarang teman-teman saya itu juga sudah terbiasa dengan gaya bayar-bayaran di Jakarta ini. Kemana-kemana selalu bawa uang pas biar kalau mau bayar gampang. Kalaupun makan di mall, salah satu menalangi duluan dan yang lain tinggal transfer berapa hutang makannya. Pokoknya “Urusan masing-masing ya bayar masing-masing,” even hanya sebungkus kerupuk seharga seribu perak.

Jadi jangan kaget ya kalau tiba-tiba bos Anda mengundang Anda meeting Sabtu pagi di kafe mana gitu. Bukan berarti karena dia bos trus dia mo bayarin lho. Teuutepp…. “Urusan masing-masing ya bayar masing-masing.”

Related Post

Tali Asih “Buku Berjendela” Terkejut. Itulah yang saya rasakan saat Jumat sore kemarin sampai di rumah, dan menemukan benda berukuran besar bersampul coklat. Eh, apa ini? Paket dari siapa? Saat saya membaca tulisan di potongan kertas putih di depan paket, refleks bibir ini ters...
Nikmatnya Makan Burger Siapa di sini yang suka makan burger? Kalau saya, saya suka makan burger. Tapi tidak semua burger bisa pas di lidah dan hati. Halah, makan burger aja bawa-bawa hati ya. Eh tapi ini bener. Kalau kita sudah cinta sama satu makanan, rasanya tak akan per...
Peltok & Kasir Pengen cerita dikit soal tadi siang. Habis facial di Estetika di kawasan Mall of Indonesia , saya memutuskan untuk jalan-jalan sedikit di MoI. Sambil menunggu waktu juga, karena nungguin mami saya yang sedang antri di dokter. Sempat nyasar juga sa...
Sendawa Siang tadi, sepulang dari Grand Indonesia, di dalam lift gedung SarJa, saya berdua dengan seorang ibu yang saya perkirakan usianya di atas 40 tahun. Rapi seperti layaknya pegawai kantoran. Kami sama-sama masuk dari B1, dia memencet tombol angka 1, da...
Kisah si Supir Taxi Seminggu terakhir ini rasanya saya minum banyak sekali kopi. Seperti sedang butuh banyak kafein untuk membuat tubuh dan pikiran terjaga dan bisa aktif mikir. Berdasarkan hasil studi, kopi memiliki banyak manfaat untuk wanita. Seperti, minum 2 samp...

by

About Zizy Damanik | A Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

135 thoughts on “Uangku Bukan Uangmu – part 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *