Bonus Untukku

Tiba-tiba saya merasa menjadi semakin pelit. Haha.. Pikiran ini muncul karena saya baru sadar bahwa sudah beberapa bulan ini saya tidak lagi berbelanja baju baru ke mall. Kalau tahun lalu, hampir tiap bulan saya masih bisa membeli sepotong baju bermerk di mall, tapi sudah hampir enam bulan terakhir ini tidak lagi.

Tapi sebenarnya sih bukan pelit juga kalau dipikir-pikir, cuma sekarang saya mulai mengetatkan ikat pinggang dan kembali disiplin mengatur keuangan. Pada dasarnya bila sudah terbiasa dengan aturan yang dibuat sendiri, maka kebolongan-kebolongan akan bisa dikurangi. Sebenarnya saya termasuk orang yang sangat teratur dan sistematis dengan perencanaan keuangan pribadi, jadi biarpun jaman lajang dulu gaji juga gak gede-gede amat, tapi masih bisa menabung dengan cukup, membeli gadget terbaru, dan clubbing dua minggu sekali. Kehidupan lajang yang sudah cukup saya nikmati, dan saya tidak tertarik mengulangnya. I’m happy with my life now.

Masih ingat tentu dengan postingan lama saya tentang “uangku bukan uangmu”. Postingan tentang kebebasan seseorang membelanjakan uang miliknya, dan orang lain dilarang sirik :p.

Nah sekarang mungkin saya tidak akan bisa lagi sering-sering mengatakan slogan seperti itu ke diri saya hehe.. Sekarang saya sudah jelas menyatakan bahwa uang saya adalah juga uang anak saya. *semua orang tua yang sudah punya anak mungkin mikir gitu juga ya..

Sekarang saya tidak bisa bebas lagi membelanjakan uang saya. Pos-pos pembelanjaan yang dulu memakan cash cukup banyak seperti salon, baju, sepatu, sekarang dipangkas. Tidak stop sama sekali sih, hanya dikurangi. Semua masuk ke pos kebutuhan anak. Dan ternyata setelah dipindahkan, baru terasa lho bahwa cash yang selama ini kita pakai untuk foya-foya (ya lebih kurang begitulah hehe…) itu besar sekali artinya saat kita masukkan ke pos untuk keperluan yang lebih penting. Bayangkan bila misalnya setiap bulan kita menghabiskan satu juta rupiah untuk ke salon, dan sekarang kita pangkas jadi setengah. Kita ambil saja lima ratus ribu dari jatah salon itu untuk tabungan anak misalnya.  Kalau tidak berani menabung dalam bentuk uang – karena uang cash itu memang menggoda untuk ditarik tunai – bisa dimasukkan ke dalam bentuk asuransi pendidikan, atau misalnya ditabung dulu selama beberapa bulan baru kemudian dibelikan logam mulia. Biarpun mungkin cuma dapat emas batangan yang kecil, tapi bentuknya kelihatan dan rasanya puas sekali. Begitulah yang saya rasakan saat melihat tabungan yang tanpa terasa sudah mulai membukit.

Hey..! It's a bonus..! (Gbr pinjam dari Visualphotos)

Agak takjub juga lho waktu membandingkan persentase “money for me” dengan kebutuhan lain yang lebih penting. Mencengangkan saudara-saudara! Saya saja kaget saat melihat angka moderat yang saya buat sebagai jatah bulanan saya.  Ini namanya kejam, kata hati saya waktu itu. Tapi sisi batin yang satu lagi seakan mengejek saya, masa iya segitu kejam. Itu sudah moderat kok. Ayo dicoba saja dulu, kalau tidak bisa kan tinggal dinaikkan.

Dan ternyata setelah dijalani sebulan, ah.. terasa fine-fine saja kok. Bulan kedua juga lewat. Begitu pula di bulan ketiga. Haha.. Ternyata saya sanggup juga hidup dengan jatah seketat itu. Tidak mudah memang, tapi segala hal pada dasarnya kan bisa disiasati, jadi rutinitas ini itu masih tetap bisa dinikmati, walaupun mungkin kuantitasnya dikurangi.

Dan kemudian sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri yang telah berhasil melewati aturan keuangan yang ketat, di tahun ini saya pun membuat pos baru yang saya sebut sebagai pos bonus. Sedikit penyisihan dana untuk bersenang-senang di akhir bulan, entah makan enak di restoran or membeli sepotong baju buat Vay, apa sajalah. Tapi memang lebih banyak untuk anak sih. Ya bagaimana lagi, dialah permata hati emaknya hehe..

Walaupun sebenarnya sih kalau dana itu dimasukkan ke pos bulanan saya kan berarti jatah saya jadi besar toh, tapi saya tetap memisahkannya. Tahu gak, rasanya lebih menyenangkan bila menyebutnya sebagai bonus. Bonus kan tidak setiap hari dapat, jadi semakin ditunggu harinya hingga akhir bulan, semakin terasa nikmatnya bersyukur. Bersyukur karena di akhir bulan masih bisa makan enak dengan bonus yang kita dapat, bersyukur karena di akhir bulan masih bisa bawa anak main ke mall dengan bonus yang kita dapat. Meskipun bonus itu dari kantong sendiri. 🙂

Bagaimana dengan mu? Tentu punya pengalaman yang berbeda dalam hal memberi apresiasi pada diri sendiri.

by

About Zizy Damanik | A Passionate Traveler and Photographer | Coffee Lovers | Beach Addicted |

73 thoughts on “Bonus Untukku

  1. Aku selalu bilang, besok saya mulai jadi pelit, tapi tidak bisa, seperti punya satu bolong di tangan……belanja teruuusssss (penyakit mungkin).
    Salam kenal

  2. Oya Mba, maap yah dah ampir sebulan kaga mampir dimari. Ni juga baru turun gunung. Hehehe, setelah melewati 12 minggu penuh mual-letih-lesu, alhamdulillah sekarang dedeknya Zahia mulai calm down di dalam perut emaknya 🙂

    Ka Vay sehat? Mau dunks sekali2 Zaia diajak naek kudaa bareng *udah muter2 nyari kuda setelah baca postingan Mba mengenai berkuda untuk Vay, teteup ga nemu2*

    • Zizy

      Hai San,
      Masa di sana tak ada kuda? Untung deh di Jakarta lumayan bertebaran walo hanya di beberapa daerah saja :).
      Wah, mudah2an sehat terus ya San, kehamilannya..

  3. kalo kami sejak punya Zahia ajdi lbih ketat Mba, apalagi bentar lagi Insya Allah mo ada dedeknya. Dan kalo dulu kan pemasukkan ada 2 kantong, sekarang cuma 1 kantong ajah. So kudu hemat2 lah.

    Gw kalo untuk blanja2 baju anak, suami, dan gw sendiri, palingan dilakuin setaun sekali pas lagi mudik (borong-time hehehe). Secara di M’sia ini baju mahal2 banget. Tapi kalo kebetulan nemu yang ok dan harga lagi diskon ya beli juga 🙂

  4. pertama kali menjejakkan langkah….salam kenal mbak..
    tidak mudah untuk berdisiplin seperti yang diuraikan di atas. Reward yang diberikan kepada diri sendiri…biasa nya sih beli barang dalam rangka hobi…yang belum kesampaian mau beli sepatu boling nih….tapi belum kesampaian….

  5. sky

    tiap hari sy mengapresiasi diri sendiri dalam berbagai cara dan sudut pandang yang berbeda.

    kalau bukan kita sendiri yg mengapresiasi…siapa lagi yg mungkin? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.