Karena Hatiku Tertinggal di Papua

Hanya karena kau berambut lurus dan berkulit kuning, bukan berarti kau lebih baik dari dia. Saya tersinggung tadi sore. Saat ke Kota Kasablanka Mall, dan singgah ke eventnya Kompas, Jejak Ekspedisi Sabang-Merauke. Di event itu, ada dua orang Papua – satu tua satu muda – berpakaian khas suku Asmat, sedang memahat patung khas Papua. Di … Read More

Saya Suka Kopi (juga Bir)

Saya addicted sama kopi. Sekarang. Dulu tidak begitu. Makanya saya suka posting foto-foto minuman kopi, baik di Path ataupun di Instagram. Emang penting, ya? Mungkin ada yang bilang begitu. Oh iya, penting buat saya. Saya suka, dan saya senang memostingnya. Pertama kali kenal kopi enak itu sekitar sepuluh tahunan lalu deh, waktu Starbucks baru buka … Read More

Seperti Bubble

“Pesankan latte dan dua oatmeal, ya.” Saya berkata pada mbaknya Vay sambil memberikan uang. Sore itu kami sedang ada di depan pintu masuk sebuah gerai kopi di KoKas, Vay baru kelar nge-gym, dan sebelum pulang mau beli sedikit cemilan dulu untuk dimakan di mobil. Karena saya malas mengantri maka saya meminta tolong pada si mbak, … Read More

Seperti Pasir

Secangkir teh susu : Menerangkan sesuatu pada anak tidaklah selalu mudah. Dan bila terus melakukan kekeliruan pun terasa tak nyaman. Seperti menginjak butiran pasir, meski kecil dan halus, namun menggelitik dan terasa tak tenak bila terus-menerus dilakukan. Minggu kemarin, saat saya dan anak saya sedang bergandengan tangan di lantai dasar sebuah mall, kami berpapasan dengan … Read More

Giginya sudah keluar...

Vay Cabut Gigi Susu

Gigi depan Vay yang sudah goyang sejak sebulan lalu, tidak kunjung copot juga. Padahal gigi barunya sudah tumbuh dan semakin naik ke atas. Nah, sehari sebelum berangkat ke Singapore, saya bawalah Vay ke dokter gigi di dekat rumah. Maksudnya agar gigi itu dibereskan sebelum berangkat. Vay juga bilang dia pengen ke dokter gigi. Ini kemajuan sih, karena Vay memang belum pernah ke dokter gigi, dan setiap diajak bicara mengenai dokter gigi dia sudah takut duluan.

Pertama tiba di klinik tersebut, terdengar suara jeritan anak kecil di dalam. Aihmak, kekmana ini, saya agak khawatir juga, lalu melirik Vay yang keningnya berkerut mendengar suara tangisan itu. Syukurlah saat tiba gilirannya, dia tidak ketakutan saat ibu dokter memintanya membuka mulut untuk diperiksa. Nah, sama bu dokter dibilang agar kita tunggu saja dulu sampai giginya copot sendiri, karena kemarin itu masih sedikit keras juga, takutnya si anak trauma karena harus ‘dipaksa’.

Ya sudah, kita tunggulah kalau begitu. Tunggu seminggu lebih, eh kok gak copot-copot juga ya. Padahal sudah raji