Itik Penjaga or Angsa Pemilih

Awalnya dari sebuah situasi.

Ada beberapa teman pria di kantor yang menganggap saya adalah “angsa pemilih”. Hmm sebenarnya saya tidak tahu apa istilah yang tepat, jadi saya putuskan pakai istilah “angsa pemilih” saja. Well, saya tidak tahu apakah selain mereka ada orang-orang lain lagi, tapi yang jelas beberapa orang ini memang terang-terangan mengungkapkan rasa penasaran mereka tentang diri saya, yang kadang berharap akan saya jawab, tapi lebih sering ya cuma dapat lengosan saja. Toh tidak semuanya harus dibagi kan?

Yang dimaksud dengan pemilih di sini adalah memilih hal-hal yang seharusnya wajar untuk saya. Bukan pilih-pilih teman, tapi pilih barang, pilih makanan, dan semuanya.

Saya sendiri tidak tahu kenapa mereka beranggapan begitu. Tapi saya rasa mereka hanya suka menduga-duga saja, menilai-nilai, seperti halnya saya menilai Cowok Burger King itu :D.

angsa pemilih

Contoh. Pernah suatu saat ternyata saya tinggal sendirian di ruangan karena semua sudah turun makan. Lalu saya pun bilang pada cowok-cowok itu, kalau mau makan ke bawah, ajak ya. Lalu mereka pun berdengung tak percaya. Katanya, aah yang bener? Dan kalaupun akhirnya kami jadi juga beramai-ramai pergi makan ke samping kantor, maka mereka akan langsung menentukan warung makanan yang akan kami masuki, sambil berkata dengan ragu: wah, gue bingung nih kalau yang ngajak makan si Zizy, takutnya gak ada yang masuk levelnya di sini. Saya cuma senyum saja, sedikit kesal juga karena ungkapan itu justru menunjukkan posisi saya sebagai “itik liar yang bergabung dengan bebek” di antara kami. Kejadian seperti ini kerap terjadi, kejadian dimana orang menilai saya sebagai orang yang pemilih dan mereka harus menyesuaikan diri dengan saya. Oh, come on! Saya heran. Kenapa? Kenapa tidak membiarkan saja semuanya berjalan natural? Saya bukan orang sakit yang makannya harus khusus, dan saya juga tidak dilahirkan dengan sendok perak di mulut (sampai sekarang pun saya hanya makan dengan sendok aluminium saja). Saya malah lahir dengan kesederhanaan alat, dan hanya pohon-pohon pisang sebagai saksi alamnya. Iyalah, saya kan lahirnya di Digul, Merauke sana. 🙂

Di kemudian waktu, saya mulai mengganti kebiasaan makan ke warteg dengan selalu membawa bekal makanan dari rumah. Kembali beberapa teman penasaran dengan menu saya. Mereka ingin tahu saya hari ini makan dengan apa, besok menunya apa, penasaran apakah menunya mewah atau tidak. Dan saya sepertinya membuat mereka kecewa ketika mereka melihat kotak bekal saya berisi makanan sederhana : ikan goreng sambel, tumis kangkung, dan telur rebus. Dan mereka akan bertanya lagi, kok kamu menunya itu-itu melulu sih? Gak bosen? Dan saya selalu menjawabnya dengan alasan singkat : aku orangnya gak terlalu milih kok. Tapi alasan sebenarnya apa? Alasan sebenarnya karena saya tidak begitu suka dengan menu di warteg atau rumkan padang dekat kantor yang penuh dengan santan dan bumbu-bumbu. Saya adalah penggemar fast food (kentang dan ayam goreng), tapi menu itu kan tidak mudah didapat di sekitar kantor saya. Dan semakin tua saya, lidah pun mulai ganti selera. Saya tidak begitu ngebet lagi dengan fast food, ssekarang lebih suka makan makanan rumahan untuk makan siang, karena itu lebih sehat. Dan kemudian seminggu sekali saya akan memanjakan lidah ini dengan makanan tingkat tinggi, mungkin bakwan malang, kwetiau, cheese burger atau wagyu. Itulah rekreasi lidah dan perut saya.

Lalu ada juga seorang teman yang usilnya minta ampun. Kalau menjelang-jelang mudik atau liburan, selalu saja ingin tahu. Naik pesawat apa, Zy? Lalu kalau dijawab Garuda, dia tanya lagi sekarang tiketnya berapaan Zy? Naik yang business class ya? Pertanyaan usil yang sangat mengganggu. Di suatu kejadian, saat kami sedang workshop di Batam, beberapa teman heboh berkumpul untuk menukarkan Rupiah ke SingDol — karena besoknya kami mau menyeberang ke Spore pakai fery — lalu saya datang, dan saya tanya berapa kursnya kalau saya ingin menukarkan US Dollar ke SingDol? Dan teman yang usil tadi ada di situ, lalu dia bilang, wah beda kasta nih. Buset deeeeh… kenapa ya, saya merasa itu bukanlah pujian tapi sebuah pelecehan. Sejujurnya saya paling benci orang yang sok tahu dengan diri saya.

Saat Blackberry baru keluar, mereka seperti mewajibkan saya membeli seri termahal. Ya jelaslah saya gak mungkin beli yang high end, masa mau saingan sama suami? Buat saya suami tetap harus menduduki level tertinggi dalam hal apapun, jadi biarlah dia pakai yang high end, saya yang di bawahnya saja. Ketika saya beli Notebook keluaran China, mereka mengernyitkan kening. Dalam pandangan mereka, saya seharusnya pakai BB dan notebook highest price, catat ya, highest. Jadi bukan base on fungsi, tapi price. Saat saya bilang saya mengganti BB Curve saya yang hancur dengan BB Gemini, suara melengos — sedikit mengejek — itu terdengar. Yeeaakk..Gemini…! Alasan saya pilih Gemini simpel. Ada anak kecil di rumah yang hebohnya minta ampun, yang tidak bisa ditebak tindakannya. Dia bisa diam-diam mengambil ponsel lalu dibanting. Sayang kan kalau udah beli yang mahal terus dibanting? Menyembunyikan hape? Mana bisaaa! Secara sudah lengket di tangan itu BB. 😀

Saya sih tenang-tenang saja mereka pada kasak kusuk. Saya suka bilang, kalau lo pake notebook mahal, tapi gak ada earning yang lo dapat untuk bisa bikin lo balik modal, untuk apa? Pada akhirnya toh harga notebook dan ponsel akan terjun bebas. Beda kalau beli tas atau dompet bermerk, lo gak akan rugi karena modelnya akan selalu ada dan harganya juga cenderung naik karena mengikuti kurs dollar.

Ini semua hanya masalah prioritas, dan prioritas saya sekarang jelas tidak sama seperti dulu lagi. Sekarang saya bukan gadget mania lagi, masa-masa pamer gadget sudah lewat bagi saya. Kalau dulu saya pakai Smartphone paling mahal, sekarang saya memilih pakai BB dengan seri terendah. Bukan karena suami melarang saya, toh uang saya ya uang saya sendiri. Saya bisa beli kalau saya mau (pakai cicilan 0% selama 6 bulan, hehee..). Tapi kok rasanya sayang, ya. Saya ingin bisa kaya sekarang dan juga kaya saat tua. Amin, amin, amin.

Kembali ke masalah usil tadi, akhirnya saya menyerah. Ya sudahlah, biarkan saja mereka dengan pikirannya. Seluruh alam ini sudah paham benar tentang sifat manusia. Salah satu sifat manusia adalah suka bergunjing dan usil dengan urusan orang lain. Ketika rasa penasaran tidak terjawab, maka hati dan pikiran mulai mencuatkan jawaban-jawaban praduga, yang kemudian menjurus pada isu-isu dan kemudian jadi gossip. Saya juga suka bergunjing sesekali, tapi saya tidak pernah mengusili orang. Hanya sekedar memuaskan rasa ingin berbincang saja. Sesama wanita memang suka sharing, dan sharing itu melegakan, itu saja.

Teman-teman saya itu, ah sudahlah. Saya tahu mereka tidak kenal saya karena saya orang baru di sini, jadi rasa penasaran itu membuat mereka bermain-main sendiri dengan pikirannya. Mereka tidak tahu bahwa saya orang yang sederhana dan down to earth. Saya orang yang bisa menyesuaikan diri dengan tempat. Biarpun saya juga suka barang-barang mahal, tapi saya pun suka hunting baju-baju murah. Saya bisa pergi ke kafe or resto terkenal untuk makan steak mahal, tapi di rumah saya hanya sarapan pagi dengan nasi plus telur dadar campur kecap. Biarpun kalau nongkrong di kafe minumnya Corona, saya juga penggemar berat teh. Walaupun kalau ke Foodlouver makannya kentang goreng, tapi saya juga suka sekali singkong goreng. Ya tergantung mood dan situasi saja. Ini bukan soal menjaga gengsi dan martabat di depan orang banyak — lagian urusan apa martabat dengan selera perut? Hihihi — tapi menciptakan kebiasaan untuk setiap suasana yang berbeda adalah penting bagi saya. Kecuali kalau emang lagi gak ada duit ya makannya gado-gado, gak ayam goreng, hahahaa….

Dan siapa bilang saya tidak bisa jadi backpacker? Gini-gini saya lebih sering jadi backpacker lho ketika masih single dulu. Tamat SMA saya pergi liburan ke Jogja hanya berdua dengan teman dengan uang saku 400 ribu dari papi saya. Kami berdua naik KA ke Solo, singgah ke rumah teman dulu baru lanjut ke Jogja. Belum ada transfer-transferan uang waktu itu (apalagi ATM), jadi uang di kantong memang harus dihemat. Pulang ke Jakarta pun sisa uang di kantong hanya 20 ribu, untuk jaga-jaga beli makanan kalau bus berhenti. Saya berlibur ke Parapat juga menyetir mobil sendiri dari Medan bersama 3 orang teman. Saat ke Kuala Lumpur dengan teman-teman, saya yang duluan maju ketika harus berhadapan dengan preman teler di sebuah plaza jelek di sana. *thx to deniya karena sudah menjerumuskan kami, hahahaa! Nah, saya lebih sering jadi itik penjaga daripada angsa pemilih kan?

Sekarang kalau ada yang usil dengan urusan saya, saya pasti akan balik manas-manasin hihihi. Misalnya ada yang ngejek-ngejek, yaahh payah, pake BB kok yang murahan punya? Saya akan jawab, biarlah BB gue paling murah, toh masih lebih banyakan duit gue dari elo semua. Kalau dikomentarin lagi, makanan lo gak keren amat, ikan mulu. Maka saya akan jawab, tapi lo lihat kan siapa yang paling sehat waktu medical check up? Hahahahaa… Pokoknya menghadapi orang usil begitu ya harus begitu, biar langsung pada mingkem. Uangku kan bukan uangmu. 🙂

So, baik menjadi “Itik Penjaga” atau “Angsa pemilih”, menurut saya semua itu adalah proses beradaptasi dan bertahan hidup yang dilalui setiap orang. Sejauh mana kau bisa bertahan dengan semua cobaan dan sejauh mana kau bisa berjuang, maka begitulah karaktermu dibentuk. Jadi saya bisa jadi Itik Penjaga, dan saya juga bisa menjadi Angsa Pemilih. 🙂

63 Comments

  1. elz

    Kak..payah kali cari kawan di kota besar ini ya..eh maksudku sahabat…he3. Mereka penuh dgn judgement.. Apalagi klo dah tanya aku tinggal dimana…klo aku jawab cipaganti..bola mata pasti berubah..trus nanya..rumah sendiri or mertua…emang itu smua penting bgt ya? Hiks.. Aku semakin merindukan kalian kak….

  2. zee, mungkin karena kamu tuh terlihat keren, mirip artis! (ini sanjungan dariku lho..bukan pelecehan). soalnya dari fotomu aku lihat di blog, kelihatan begitu. jadi mereka menduga mungkin segala produk yang dikau gunakan semuanya high-end, termasuk apa yg dikau makan/minum. mungkin mereka men-cap dari penampakan fisikmu. biarin aja, biar mereka menilai sendiri, terserah aja. yg pentingkan dikau enjoy dg kehidupan sehari2.

    • Zizy

      waduh yen… kamu ini ada-2 aja. artis apanya. klo temenku baca ini, pasti pada ketawa.
      di kantorku mah justru aku standard banged, konvensional saja. ga heboh2 gaya ikutin tren kayak kebanyakan ce. bajuku itu2 mulu sampai kawanku hapal :)). foto blog ku biasa2 saja yen, mgkn agak keren krn kan hrs tarok yg keren utk di blog hahaha…

  3. ih, temen loe usil banget siy. gemes gue bacanya…sabar amat loe ngadepinnya :p hehehhe

  4. widi

    Makasih yah kak selama ini dah jadi itik penjaga kami, kami tahu kok Kak Si bukan angsa pemilih wakakakak

  5. “Kalau dikomentarin lagi, makanan lo gak keren amat, ikan mulu. Maka saya akan jawab, tapi lo lihat kan siapa yang paling sehat waktu medical check up? Hahahahaa…”

    sumpah ngakak berat gara-gara ini. hahahaha. tapi soal manusia, yah memang perilaku judgement dan labelling ga bakal bisa surut. trend nya selalu ada. ga akan pernah basi kayag rok mini atau model fashion. 😀

  6. Senangnya membaca tulisan semacam ini. Jadi bisa lebih bercermin dan berintropeksi diri untuk tidak sombong dengan apa yang kita punya

  7. bisa jadi semuanya.. keren.. kalau saya entah yang mana, biarlah orang lain yang menilai 🙂

  8. karena banyak orang yang mendahulukan gengsi Zy… mungkin jika orang2 yang ada di sekeliling Zy berada pada posisi Zy, mereka akan bergaya/tampil dengan ‘wah’, termasuk selera makan dan notebook..jadi ketika Zy tampil ‘sederhana’ mereka malah bengong…”loh..kok..cuma itu ? dsb..dsb..”

    balik lagi pada pribadi masing-masing ketika membuat parameter untuk menghargai atau menghormati orang lain.. sebagian besar justru menetapkan parameter itu dari apa yang dia pakai, dari apa yang dia makan, atau dari merk gadjet yg dipakai… 🙂

  9. Capek juga saya bacanya, banyak banget 😀

    Kalo ditempatku bisanya disebut soang…

  10. hamidah

    standar yang salah kaprah memang. ke-esklusifan seseorang selalu dilihat dr apa yang dipakai dan apa yang dimakan. terkadang orang yang berduit malu kalo makan di warteg pinggir jalan, atau pemilik warteg tiba2 memahalkan makanannya karena yang makan bermobil mercy.

    Biasanya sih org yang usil itu kebanyakn suka memaksakan diri agar memiliki barang yang dianggap tren pada saat itu. Terus dia merasa bangga yang berlebihan dan mengejek orang lain yang dianggapnya tdk mampu membeli barang tsb.

  11. suasana pergaulan semacam itu nggak melulu d lingkaran cewek, di lingkaran cowok nggak kalah cerewetnya. pernah saking sebelnya saya bilang gini : apa setiap sy mau beli sesuatu harus diumumkan dulu ke kalian dulu?

    • Zizy

      jangan2 pria itu lebih usil ya Gus dari perempuan? 😀

  12. Itiknya cantik kayak gini sih, yg lain pasti keder donk say
    salam hangat dari Andhok

  13. Sama dengan saya Zy walau levelnya beda ( Zy level 9 saya level dibawah Zy)
    Orang kampung menganggap saya ” orang berada” ha ha ha ha.
    Mereka mengukurnya hanya dari sawah, jumlah piring di rak, dan lain-lainnya.
    Alhmdulillah juga sih.

    • Zizy

      Kayak main game aja pakde, pake level heheee… Alhamdulillah sih pakde, dgn apa yang sudah dimiliki memang harus selalu disyukuri..

  14. Mungkin dimata dan hati mereka Zy emang termasuk klas atas ( karena kantornya tingkat 12 dan rumahnya pun tingkatnya lebih dari 5-kayak pensil kalee ya nduk)

    Yaaa..jelaskan saja dengan tindakan bukan dengan ucapan. Sekali-kali bawa makanan berupa tahu-tempe dan lalapan nduk.

    Pede saja jika emang Zy baik pasti akan tampak baik.
    Salam hangat dari Plesiran

  15. Ketawa lepas aku waktu mbaca “Kalo diambil diam diam terus dibanting gimana?” LOL, kurang kerjaan bener si kecil, kayaknya memang tujuannya mau ngerusak xD

    Masalah harga, aku nggak pernah pake patokan harga buat membeli suatu barang sih. Aku lebih memilih yang most favorited (gadget lho) 🙂

  16. itu tanda orang2 yang sirik zee.. mereka sebenernya pengen jadi kaya elo.. orang2 kaya gitu sih bener ga usah ditanggapin, dan juga jangan terlalu deket sama mereka, bisa2 jadi kebawa negatif!

  17. Aaah .. Bneran tuh ?? keren deh ..
    kunjungan awal .. Mw tukeran link gak ?? salam kenal. Keep share with me yah ..

  18. yang jelas itik bodyguard yang ini pasti cantik..

    hehhe memang begitulah orang-orang ya Zee, kita beli sesuatu dengan duit sendiri, yang make juga juga kita sendiri.. tapi mereka yang ribut soal pantas atau tidaknya.

    salut! zee bisa keluar dari lingkaran itu..!

    • Zizy

      iya bundo, ini sama dengan postingan terdahulu yang pernah saya tulis, uangku bukan uangmu hehee…

  19. Ria

    love this post!!!
    kadang aku juga ngalamin ini mbak, cuman ya kalau temen2ku udah bertingkah begitu aku cuekin aja 😛 bahkan aku baru beli notebook baru ada loh yg berkomentar gini “sejak kapan suka sama notebook merk keluaran china?” idich nyebelin banget 🙁

    what people say lah mbak…yg penting kita bisa jadi orang yg bisa di sutuasi apapun biar gak ngerepotin orang…iya gak 😉

    • Zizy

      bener banged, prinsipiku juga sama denganmu ri, yang penting kita gak ngerepotin orang lain. 🙂

  20. DV

    Ah tulisan yang bisa melukiskan seperti apa posisimu saat ini….

    Satu kesan yang muncul di benakku adalah, ketika kita berada di posisi yang sudah sangat menyenangkan, kita justru bisa menjungkirbalikkan pandangan yang setengah mati dipertahankan mereka, para social climber itu 🙂

    Contohnya ya kamu dengan BBmu itu..
    Mereka setengah mati ngejar ‘Curve’, tapi kamu dengan mudah ‘menjatuhkan diri’ ke ‘Gemini’ dan dari situ kamu malah ngejek yang ‘Curve’.

    Bersyukurlah hehehe

    • Zizy

      Kekekekee….
      Selalu ada comment yang segar dari elo ya Don. Cool..!!

  21. dulu saia memang suka peka gt kyk mbak zee…
    tapi, lama2 ya udah terbiasa dg penilaian org ke kita…
    bodo amat deh…hehehe
    mau jd angsa pemilih atau itik penjaga selama kita nyaman dg diri kita sendiri siyh bagi saia gak masalah… 😀

  22. makin lama makin tau deh skr mbak zee seperti apa. aku juga type cuek masalah2 seperti itu.

  23. Hahahaha, memang kita ga bisa menyetir apa yang orang pikirkan tentang kita yah Mba. Ya sutralah, biarlah mereka dengan dugaannya masing2.

    Tapi gw juga pernah ngerasain perasaan yang sama kaya Mba Zee, apalagi setelah kami migrasi ke Malay. Jadi, pas pulang Lebaran, orang2 pada menghina dina karena mereka ngeliat henpon gw itu Nokia tipe 1100. Itu loh yang ada senternya, masih item putih, dan ga ada high tech2nya. Mereka bilang “laki lo ga bisa apa beliin yang agak kerenan dikit?”. Gw mah cuek ajah, malah gw bilang kalo gw hepi banget dengan si 1100 ini. Senternya itu bo berguna banget, secara dulu kan kami stay di camp, yang mana listrik cuma ampe jam 11 pm idupnya. So, berkat senter di henpon inilah kalo gw bisa jalan ke kamar mandi kalo mo pipis malem2 misalnya, ato nyari sesuatu yang Zahia butuhin.

    Kiss buat Ka Vaya dari Zahia yah. Mmmuuaaaccchh

    • Zizy

      Hahahaa… gue juga punya tuh Nokia senter itu. Tahan banting malah, mo dipencet2 gimanapun juga gak bakal hang :D. *Tosss!

  24. Ah ribet. kalo banyak duit dan pengen beli barang mewah dikit sesuai jumlah duit yg kita punya, dibilangnya sombong, pamer, dan konsumtif.

    Kalo beli yg murah2 dibilangnya pelit sama diri sendiri. (pdhl kalo aku, ya aku emang sanggupnya beli yang murah XDDD)

    Jadi mesti gimana donk? Mau ngelakuin apa aja, orang lain bawaannya udah pengen nge-judge melulu. *kasih lakban ke mbak zee buat nutup mulut mereka*

    • Zizy

      Memang begitu kan, Le. Manusia emang suka iri. Ya biarkan saja, biar mereka stress sendiri hihihi..

  25. mungkin karena ekspektasi mereka yang terlalu tinggi jadinya begitu. padahal mbak Zizy kan manusia biasa juga.

  26. suka sebel ya ma orang yang suka usil gitu..palagi kalo dah ngomong “elo kan nggak level kalo yang begini”..maksudnya apa coba? muji atau ngeledek?
    trus semua diperhatiin, dikomentarin…gak ada kerjaan kali ya senangnya ngurusin orang..
    sekali waktu karena udah sebel banget aku bilang aja “Kenapa? Gak sukak?” keluar de premannya…wkwkwkwkkw…

  27. Ah sama org2 seperti itu emang ga bisa menang.. ntar mbak Zee pake yg mahalan dibilang sok.. pake yg murah diejek jg.. Lose either way… org ky gitu mah kynya sirik aja ama usil. Suruh cari hobby deh Mbak, biar ga usil2 banget huaahahhaha.

    • Zizy

      Hehehee…. sebenarnya mereka gak pernah menganggap aku sok, cuma mungkin mereka senang aja gitu kalo dugaannya benar. Kalo ada yang sirik, aku makin buat aja dia sirik, biar pusing pusing deh situ kekekeke..

  28. Kalau saya menduga apa yg Bu Zee alami ini terjadi karena hidup di kota besar. Yah, karena disana masih ada sifat gengsi terutama pembeda strata ekonomi sebagai akibat dari kesenjangan sosial.

    Kalau saya sih ndak tahan, makanya saya pindah ke Jogja. Dimana disini saya bisa hidup tenang, membumi dengan kesederhanaan.

    • Zizy

      Saya juga maunya pas udah tua *aduh sekarang ini masih muda lho.. hahha…* juga bisa tinggal di daerah yang tenang dan sederhana saja… lebih nyaman.

  29. Salam Takzim
    Angsa putihmu bersih, pilihanmu tentu yang terbaik, lewat angsa ini perkenankan saya memperkenalkan diri
    Salam Takzim Batavusqu

  30. ya begitulah manusia heheh
    ya pokokna apapaun yang terjadi positif thinking ajalah
    nice postt
    😀

  31. wow…
    mungkin temen zee cuman liat sekilas dari tampilan luar aja kali ya..
    padahal kan zee juga sama dengan mereka, manusia gitu lhooo.. mungkin mereka terlalu punya ekspetasi tinggi ke kamu. kalo zee harus perfect, harus yang serba istimewa.. tapi mereka lupa, kalo zee sebenernya sama halnya dengan temen2 yg lain…

    paling tidak aku juga learn something dari postingan zee..

    • Zizy

      nah itu, aku kan jauh dr kesan perfect sebenarnya, tp memang tuh orang hobinya want to know aja hehee…

  32. Baca tulisanmu, aku bener2 paham your situation krn aku pernah ngalamin juga. Pas SD hy krn tetangga2ku bule2, bbrp teman di sekolah manggil aku “borju.” Pas Univ, aku masuk Univ negeri, aku gga bisa bebas makan di warung pinggir jalan sb perutku ini emang perut kertas dan jg udah bbrp kali kena typhoid jd aku beneran kudu ati2 kalau makan diluar, mrk nganggap aku kelas tinggi. Pake jeans beli di Cihampelas aja mrk kira aku beli di LA hy krn pas liburan aku pernah ke States. Di Amrik sini, waktu kerja bbrp bule pernah koment aku lahir dengan cilver spoon in my mouth. Tau juga deh apa pendapat bbrp org Indo disini. Terserah deh apa orang blg, I am who I am, I am not gonna pretend to be very sweet and down to earth just to please them, it’s a free country anyway. I will do my way as long as I am not taking advantages of others.

    • Zizy

      Menurutku, memang ada beberapa orang yang terlahir dengan tampang “silver spoon”. Mungkin kamu begitu, Sil jadi banyak yang menduga2, hehee.. Kalau aku, jelas tampangku tampang sendok plastik hahaha..

  33. saya kira akan berbicara mengenai whhite swan dan black swan, ternyatah…..*unpredict cover*

  34. Saya sebelum baca tulisan ini juga menilai mbak Zy berada di “tingkat tinggi” hihihi… maaf ya.. mungkin karena sering membaca perjalanan mbak Zy bertamasya ke luar negeri dan daerah eksotik di Indonesia. Sedangkan saya? ke Bali aja cuman sekali… itupun bukan mau pelesir tapi kerja! hahahhaha.. (itu sih sirik namanya ya?? ngarep pengen bisa kayak mbak Zy jalan2 xixixixixi…)

    • Gpp mb Nita, kan baru lahiran, jadi blom bisa jalan-jalan hehee..

  35. Dalam hal tertentu.. kayak beli barang2 elektonik,, gw termasuk yg angsa pemilih Zee. Misalnya kalau beli tipi, kulkas, blender, dst… sukanya yg merek Sharp. walaupun milihnya yg harga2 murah… tp maunya ya itu, Sharp. Trus kalo beli laptop, gw gak mau pake yg Acer.. kalo gak yg Hp yaa.. Toshiba. hehe….biar kesannya gak kalah ama Lo aja hehe.

    tp kalo urusan yg laen.. kayak mobil, rumah, vila, dll… blm kepikiran milih2 yg gmana. Secara,, masih miskin hahahaa…

    • Zizy

      Wakakaka… bisa aja lu Mod. Gw baru dibelikan Acer sama suami gw lho, yang harganya murah itu. Dia bilang, kalau gw mau Mac, boleh saja tar dia belikan. Tapi gue pilih Acer ajalah, karena bosenan. Biar bisa ganti setahun sekali… 🙂

      • hahaa… tp kl gonta ganti laptop, capek mindahin data2nya kaan, ribet. kl Mac, hmm keren desainnya seh, tp gw gak familiar ama software bawaannya. jd gw akalin, beli toshiba warna putih, kan mirip2 Mac hahhaa

        • Zizy

          nah, sama lah. gw jg ga familiar ama softwarenya, malas ribetlah. toshiba putih? keren juga. 😀

  36. Selamat pagi dan saya ucapkan salam-salam kepada saudaraku disana. Mohon dengan kedamaian hati, saya persembahkan KB-nya D3pd untuk semua teman-teman blogger. Terima kasih, salam D3pd 😀 (diambil ya)…

  37. Waduh orang orang usil kek gitu enaknya sih di ignore aja ya mba 🙂
    dan mereka bisa capek sendiri tuh he..he….

  38. kalo kata orang Jawa hidup itu sawang sinawang, melihat orang lain punya sesuatu yang membuat kita iri tanpa sadar bahwa kita juga mungkin punya sesuatu yang membuat orang lain iri.

    lha kalo sudah main iri-irian gitu repot, kadang ujung-ujungnya seperti yang sampeyan alami. hehe

  39. (maaf) izin mengamankan KEEMPAT dulu. Boleh kan?!
    penilaian orang terkadang aneh dan gak sesuai yang kita harapkan

  40. Saya sendiri termasuk orang yang pilih-pilih walau jarang menolak pilihan yang diberikan oleh teman-teman saya 😀

  41. biasanya orang2 itu suka ngejudge karena ngeliat penampilan. yah kayak yang dulu pernah gua tulis juga, banyak yang bilang gua punya ‘tampang lulusan luar negeri’. jadi banyak juga yang ngejudge gua rada lebih tinggi dari mereka. ya mirip2 kayak elu lah. heran eman, dan lucu, sekaligus miris karena ternyata gua gak ‘lebih tinggi’ sama sekali. hahaha.

    tapi ya juga ada pengaruh dari kitanya juga. kalo kitanya lebih sering menyendiri, orang jadi ngeliatnya kita berasa gak level ama mereka. atau sombong, atau beda kasta itu. padahal mungkin kita gak bermaksud begitu. yah kitanya kudu yang lebih pinter2 mendekatkan diri ke semua orang, lebih merakyat, supaya akhirnya mereka gak memandang beda lagi… 🙂

    • Zizy

      bener man, walaupun sebenarnya kan ada aja orang yang gak begitu suka rame2 kan, jadi kesannya penyendiri.

  42. ahahahaaak…semua manusia pasti sama…suka pengen tau ama nge “jugde” duluan…

    persis kejadian di ktr, salah satu temen gue selalu bilang ma gue, kamu mah pasti take home pay nya paling tinggi, krn udah lama..grade nya jg udah tinggi…*cuiiih padahal dah 4 taun ga naek grade*

    dan ternyataaa…ketauan pas dibagi SPT kemaren, ketauan penghasilan dia lebih gede dari gue…ahakhakhak langsung ngakak…makanya jangan suka menyimpulkan sendiri…sana dah ama pikiran lo…heran ya zee…kok suka pada nyusah nyusahin diri mikirin ama urusin orang…hihiiii…

    kepanjangan….kok jadi curhat… 😉

    • Zizy

      Mbak, kadang biarpun orang itu penghasilannya lebih tinggi dari kita, masih aja bawaannya iri. Kayak takut gitu gajinya terkejar sama kita hahahaa…
      **sama nih mbak, udah bertahun-2 ga naik grade… hiks 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.