Dua minggu lalu, saya akhirnya berkesempatan juga cobain naik Whoosh ke Bandung. Sesuatu yang sejak kapan tahu ingin saya coba sebab kereta cepat yang satu ini selalu jadi perbincangan. Apakah benar rasanya nyaman, apakah benar bisa memangkas waktu perjalanan yang panjang. Saya memang bukan tipe orang yang selalu FOMO, ya disesuaikan saja sama kondisi.
Berawal dari undangan grand launching laundry di Bandung, saya awalnya bimbang. Datang tidak datang tidak datang tidak. Karena saya pikir kalau ke Bandung naik KA biasa dari Gambir, waktunya harus pagi sekali, dan lumayan juga waktunya, 3 jam. Nyetir sendiri? Ah kok kurang kerjaan kali ya, nanti sampai Bandung lebih repot cari jalannya, belum lagi kalau macet.
Nah, cabang laundry yang ini adalah cabang kedua dimana saya jadi salah satu co-owner, dan saat launching cabang pertama saya tidak datang. So saya pikir ya baiknya kali ini saya datang deh, biar saya juga tahu seperti apa bentuk laundry express kami ini.
Akhirnya saya putuskan naik Whoosh ke Bandung
Sedikit informasi tentang Whoosh. Whoosh yang dikenal sebagai kereta cepat Jakarta–Bandung, adalah layanan transportasi modern pertama di Indonesia yang menjanjikan perjalanan cepat dengan kecepatan hingga 350 km/jam. Dari pengalaman orang lain yang saya baca sih, waktu tempuh dari Jakarta ke Bandung bisa sedekat 36 menit saja, jauh lebih singkat dibanding kereta konvensional atau jalan tol yang biasanya memakan waktu 2–3 jam.
Ada juga yang bilang saking cepatnya jadi sedikit pusing. Ini bikin saya agak-agak gimana gitu, kok bisa pusing? Kalau pusing berarti cepatnya seperti apa? Tapi semua cerita itu hanya bisa dibuktikan setelah kita coba sendiri, ya gak?
Proses Sebelum Berangkat: Tiket, Boarding, & Stasiun
Sekarang saatnya mencari tiket. Karena saya tidak mau menginap, maka saya akan beli tiket PP. Di mana bisa beli tiket Whoosh? Selain langsung dari website KCIC bisa juga beli tiket Whoosh di partner seperti Traveloka atau tiket.com. Dan juga bisa beli offline langsung di stasiun, paling lama 15 menit sebelum keberangkatan.
Survey lokasi sebelum keberangkatan
Jadi, sehari sebelum rencana berangkat, saya survey dulu ke Stasiun Halim. Karena ini baru pertama kali, maka saya harus tahu persis lokasi parkir, lokasi stasiun, sampai tempat check-in.
Dari rumah ke St Whoosh Halim ternyata hanya 16-18 menit. Berada di samping jalan DI Panjaitan, masuk ke area komplek militer, 1 km kemudian saya menemukan stasiun yang sangat megah. Keren! Mewah!
Setelah masuk, saya belok ke area Parkir B (karena Parkir A penuh). Dapat tempat parkir paling ujung karena cuma itu yang kosong. Catat ya! Di sini kalau kita sudah masuk ke Parkir A dan full, kita tidak bisa pindah ke Parkir B. Harus tap tiket keluar dulu, lalu masuk kembali, dan belok ke kiri ke Parkir B. Secara posisi, Parkir A memang yang terdekat dengan pintu masuk, tak heran kalau cepat full. Kalau dari Parkir B terjauh, jalan ke gedung stasiun kurang lebih 200 meter.
Yang menarik dari stasiun ini adalah tenant-tenantnya. Semua tenant ternama, yang berarti kita tidak perlu khawatir karena ada banyak pilihan menu terbaik sesuai selera. Saya langsung naik ke Lt 2, di tempat check in. Mengawasi (kayak intel) situasi, lalu turun lagi ke bawah.
Naik Whoosh ke Bandung, turunnya di stasiun apa?
Ini adalah pertanyaan besar dan penting, karena Whoosh dari Jakarta ke Bandung memiliki dua stasiun tujuan: Padalarang dan Tegalluar (ini stasiun akhir). Saat memilih lokasi tujuan, harus disesuaikan dengan kita nanti mau ke daerah mana di Bandung. Jadi, naik whoosh ke bandung turun di padalarang atau tegalluar?
Saya, akan berkegiatan di daerah Reog Buah Batu. Jadi saya browsing dulu di Google Maps, menentukan jarak terdekat dari stasiun. Ternyata kalau saya naik Grabcar, lebih dekat kalau dari Tegalluar. Tapi, kalau turun di Padalarang, kita akan dapat free shuttle kereta sampai ke Stasiun Bandung. Kalau dari St Bandung ke Reog, kurang lebih sama juga. Bedanya, karena di kota, macet.
Petugas KCIC yang ada di lokasi menyarankan saya mengambil tujuan Padalarang saja, karena nanti dari situ ada free shuttle kereta, jadi dari kota saya mudah untuk ke mana-mana. Itu yang saya tangkap dari dia. Ya udah okelah!
Sekarang saatnya beli tiket. Saya beli tiket Whoosh langsung di webnya, karena menurut saya lebih mudah untuk saya untuk melihat jam keberangkatan, harga, karena big screen (laptop).
Pilihan kelas di Whoosh ada First Class, lalu Business Class , dan Premium Economy Class. Saran saya tentu saja pilih kelas Premium Ekonomi, karena ternyata tempatnya juga sangat nyaman. Karena kita juga tidak akan terlalu lama di kereta, kelas Premium Ekonomo sudah sangat cukup. Saya dapat harga Rp275.000 untuk pergi, dan Rp300.000 untuk pulang.
Tiket Whoosh yang kita beli akan dikirim langsung ke email. Jadi bisa langsung discan di gerbang tiket di hari H. Tidak perlu diprint lagi, kecuali ada perubahan (seperti saya).
Hari H, Jumat 9 Jan, Saatnya Cusss Naik Whoosh ke Bandung

Kereta Whoosh saya jadwalnya jam 11.25, jadi saya berangkat dari rumah jam 9.15. Tiba di lokasi, saya coba belok ke kanan, ke Parkir A. Masih pagi tapi sudah penuh, tapi syukurlah dibantu dicarikan tempat kosong sama petugas, dan dikasih satu tempat yang dekat tangga turun masuk ke gedung (best spot!). Saya merasa sangat terbantu, jadi saya berikan dia tip biar bisa beli sarapan.
Sebelum check in, saya ke counter. Ingin tukar lokasi stasiun tujuan. Inilah kan, gara-gara pengaruh mbaknya, saya pesan turun di Padalarang, tapi ketika saya cerita ke teman saya Iren di Bandung (karena mau ketemuan gitu maksudnya) katanya itu jauh banget ke Reog. Bahkan kalau saya ke kota lagi naik shuttle, ke Reog cukup macet.
Karena harga tiket sudah berubah jadi Rp300.000 maka saya harus membayar dulu pesanan tiket baru, lalu pihak Whoosh merefund Rp275.000 saya yang kemarin. Saya mendapatkan tiket pengganti (printed), yang harus dimasukkan ke gerbang check in. Jadi tiket lama yang ada di email tidak bisa discan lagi.
Naik Whoosh ke Bandung Enak Duduk Di Mana?

Menurut saya, Whoosh ini sangat sistematis. Kita tidak bisa boarding sebelum waktunya, sebab jadwal kereta sangat berdekatan. Kalau di papan keberangkatan sudah ada tulisan, “Pemeriksaan Tiket” di samping nomor kereta kita, kita baru bisa masuk. Tadinya saya sempat ikut antri sama jadwal pertama, karena saya pikir sudah giliran kereta saya. Ternyata, begitu masukin tiket, tiketnya keluar lagi. Lalu datanglah mbak security, yang bilang kalau untuk kereta saya belum bisa check in. Ok saya mundur.
Akhirnya bisa masuk juga, dan saya langsung mencari gerbong 6. Ahhh…. Saya langsung duduk di nomor kursi saya, 9 F. Ok, jadi kalau ada yang tanya “naik whoosh ke bandung duduk dimana?” ini ada tips yang saya dapat dari pada pendahulu yang sudah naik Whoosh duluan.
Tujuan Jakarta Bandung, pilih nomor ganjil, 7,9,11,13 dan F tentu saja, karena akan mendapatkan ruang jendela lebih lebar dengan pemandangan alam seperti sawah. Dan sebaliknya kalau pulang, dari Bandung ke Jakarta, kita pilih nomor ganjil, 6,8,10.
Bagaimana rasanya naik Whoosh?
Ini pendapat saya ya. Dari kursi penumpang, yang kita lihat itu, interior yang bersih, mewah, tempat duduk ergonomis, dan jendela lebar yang memberi ruang ekstra untuk menikmati pemandangan. (Pastikan tadi jangan salah pilih kursi).
Dan, meski kecepatannya tinggi, suasana di dalam Whoosh terasa tenang. Tidak ada getaran berlebihan, suara mesin tidak mengganggu, dan kursi empuk seakan mendukung semua bagian tubuh untuk bersantai. Tidak pusing sih.
Selama perjalanan, saya terus mengingat bahwa ini bukan sekadar “cara cepat ke Bandung” tapi ini sebuah pengalaman perjalanan modern pertama di Indonesia yang benar-benar saya rasakan secara langsung.
So like I said, kenapa kelas Ekonomi Premium saja cukup, karena sampai Padalarang tu gak sampai 40 menit, lalu ke Tegalluar juga tidak sampai 50 menit. Ibaratnya, belum lagi buka buku, udah sampai.
Tiba di Tegalluar, Stasiunnya Ok juga Meski tidak terlalu besar

Begitu sampai di Tegalluar, saya lihat stasiunnya kelihatan seperti terminal luar kota. Saya pesan Grabcar, lalu meluncur ke lokasi tempat saya akan berkegiatan. Sebenarnya bisa saja naik shuttle bus juga sampai ke Sumarecon Mall, tapi masih harus menunggu lagi. Jadi lebih baik naik taksol.
So, singkat cerita saya akhirnya bertemu teman saya dulu, di Halla Cafe di Reog Buah Batu, karena laundry kami pas ada di depannya. Kita ngobrol sambil makan siang, bercerita tentang kondisi masing-masing, karena sudah belasan tahun tidak ketemu.
Saatnya pulang ke Jakarta, kali ini berangkat dari Stasiun KCIC di Padalarang
Setelah menyelesaikan urusan laundry, sekitar jam 6 sore, saya pesan Grabcar lagi untuk membawa saya ke Stasiun Bandung, karena tiket pulang saya berangkatnya dari Padalarang. Jadi dari Stasiun Bandung saya akan naik shuttle, 15 menit untuk ke Padalarang.
Di kereta shuttle, ada tempat duduk, tadinya mau tidur tapi susah karena kan dekat. Tiba di Padalarang, langsung di lantai 2, akses ke gerbang check in.
Saya turun lagi ke lantai 1. Again, mau reschedule, hahah. Kereta saya sebenarnya paling terakhir jamnya, jam 21.25, tapi saya pikir ah kalau sudah selesai ya sudah pulang aja deh. Kalau mau istirahat ngopi, nanti bisa di Stasiun Halim saja.
Kembali, harga berubah, dan saya bayar tambahan 25rb. Lalu langsung naik ke lantai 2, dan masih ada sisa waktu untuk sholat maghrib dulu, baru check in. Ketika saatnya check ini, saya masuk dan menunggu kereta, bersama penumpang lainnya yang sebagian besar adalah para profesional.
Penutup
Perjalanan pulang itu membuat saya sadar bahwa pengalaman naik Whoosh ke Bandung terasa worth it bukan hanya karena cepat dan nyaman, tapi karena semuanya berjalan efisien tanpa kehilangan rasa. Saya bisa berangkat pagi, menyelesaikan urusan, bertemu teman lama, lalu pulang di hari yang sama tanpa kelelahan berlebihan.
Pengalaman ini mengingatkan saya pada perjalanan-perjalanan lain yang pernah saya jalani, traveling santai bersama remaja, menyusuri Jogja dengan ritme pelan, hingga pengalaman pertama menjelajah Vietnam—semuanya punya tempo dan ceritanya sendiri. Dari situ saya belajar bahwa memilih cara bepergian yang tepat bisa membuat kita lebih hadir di perjalanan.
Apakah saya akan naik Whoosh lagi? Kemungkinan besar iya, terutama untuk perjalanan singkat yang ingin tetap terasa ringan dan bermakna.
