gaya hidup slow living

Belajar Melepaskan: Catatan Refleksi Diri di Akhir Hari

Jakarta, 14 Februari 2026 — pukul 22.27 WIB

Catatan refleksi diri. Hari ini saya pulang dengan perasaan yang lebih ringan. Bukan karena masalah hilang, bukan juga karena semua tiba-tiba terasa jelas. Tapi ada rasa syukur yang tenang—yang muncul setelah seharian duduk, mendengarkan, dan benar-benar hadir bersama orang lain.

Saya baru saja kembali dari pertemuan dengan teman-teman di klub sharing yang belakangan ini saya ikuti. Kita sering mendengar kalimat klise: berkumpullah dengan orang-orang positif, yang bisa memberi insight dan energi baik. Jujur, dulu saya mengangguk saja setiap mendengarnya. Hari ini, saya mengerti maknanya dengan cara yang lebih pelan dan personal.

Bukan karena mereka memberi solusi

Jelas tidak. Tidak ada sesi “menggurui” atau saling membenarkan. Yang ada justru ruang untuk bercerita—dan lebih penting lagi, ruang untuk mendengarkan. Tanpa menyela. Tanpa menilai. Tanpa buru-buru menyimpulkan. Sebagian dari mereka masih jauh lebih muda dari saya, dan itulah yang membuat klub ini unik dan positif. Kami semua berasal dari latar belakang yang beragam: beda usia, beda struggle, dll.

Dan ternyata, ketika saya benar-benar membuka diri untuk mendengarkan cerita orang lain tanpa judging, ada sesuatu yang melunak di dalam diri saya. Hati yang sebelumnya terasa tegang dan penuh desakan pelan-pelan mengendur. Pikiran yang beberapa waktu terakhir terasa sumpek dan susah untuk berpikir jernih hari ini terasa lebih segar. Seolah ada udara baru yang masuk.

Saya merasa diterima. Kata itu sederhana, tapi maknanya besar. Padahal kalau dipikir-pikir, sejak beberapa minggu lalu mereka sudah mengajak saya untuk lanjut berkumpul—pindah tempat, duduk lebih lama, ngobrol lebih dalam.

Tapi entah kenapa, saya selalu menolak dengan halus. Ada jarak yang sengaja saya jaga. Mungkin karena lelah. Mungkin karena ada hati yang belum siap. Dan mungkin juga karena saya introvert, saya takut membuka diri.

Hari ini saya akhirnya mengiyakan

Dan baru saya sadari, memang ada bagian diri yang perlu diobati. Hati yang sempat penuh dengan rasa terburu-buru, kecewa, dan ekspektasi yang tidak selalu bertemu kenyataan.

Di titik itu, saya menyadari sesuatu. Di usia sekarang, saya mulai belajar untuk tidak lagi memaksakan diri. Saya mencoba melepaskan keinginan untuk mengontrol segalanya. Jika sesuatu memang ditakdirkan untuk saya, ia tidak akan melewatkan jalannya.

Saya juga perlahan belajar melepaskan orang-orang yang tidak pantas menerima perasaan saya yang begitu dalam. Melepaskan rasa pahit, melepaskan dendam, melepaskan kebiasaan menyenangkan semua orang, dan melepaskan tuntutan untuk selalu menjadi sempurna. Tidak dengan marah—tapi dengan tenang. Bismillah.

Saya tadi siang datang tanpa agenda apa pun. Seperti biasa, kami akan berbagi pendapat tentang sebuah topik, bergiliran bercerita dan mendengar. Tapi dalam setengah hari ini, saya seperti disuguhi begitu banyak potongan hidup—tentang kegagalan, keberanian, ketakutan, dan harapan yang tetap dijaga diam-diam.

Dan yang lebih seru adalah ketika kami pindah tempat. Hanya sebagian saja yang memang kami merasa cukup klik dari beberapa pertemuan. Saya mendengarkan pendapat mereka tentang geng lain yang begini begono. Jujur, karena saya si introvert, saya cepat merasa penuh. Tapi tak masalah, karena di situ semua yang datang juga sendiri. Saya adalah a solitary person by choice.

Ada satu momen ketika saya tersenyum sendiri dan berpikir, “Oh please, kembalikan saya yang dulu.” Saya pernah berada di fase itu—penuh rasa ingin tahu, berani mencoba, dan tidak terlalu sibuk mengkhawatirkan hasil.

Dan lucunya, mendengarkan cerita mereka membuat saya sadar: saya masih orang yang sama. Versi yang sama. Hanya saja sekarang membawa lebih banyak pengalaman, lebih banyak luka yang sudah sembuh (atau mendadak luka lagi dan ingin segera disembuhkan), dan—syukurnya—lebih banyak kebijaksanaan.

Malam ini saya menulis ini bukan untuk menyimpulkan apa-apa. Hanya ingin mencatat satu hal: terkadang, yang kita butuhkan bukan jawaban, melainkan kehadiran. Duduk bersama orang lain. Mendengar. Dan membiarkan diri kita diingatkan bahwa kita tidak sendiri dalam perjalanan ini.


Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.