Taman Arca di Museum Nasional Indonesia

Minggu Pagi di Museum Nasional Indonesia: Jalan Sendiri, Menemukan Banyak Cerita

Hari Minggu, pas awal bulan Maret kemarin, saya pergi ke Museum Nasional Indonesia. Sebuah niat yang sudah pengen sejak tahun lalu, tapi belum juga sempat pergi karena satu dan lain hal. Saya pergi sendiri saja karena Vay sedang sibuk dengan persiapan TO dan lagi dalam periode ujian SA.

Saya lupa kapan terakhir saya ke Museum Nasional. Yang pasti dengan konsep baru yang sangat modern ini, baru kemarin. Maka berangkatlah saya dari rumah sekitar jam 9 pagi, hari Minggu. 

Tiba di lokasi, saya langsung masuk dan parkir di basement. Mungkin karena sekarang bukan musim liburan, parkiran juga masih kosong. Biasanya kalau full, pengunjung diarahkan untuk parkir di IRTI Monas, which is malas. Menyeberangnya kan lumayan pe-er karena panas.

Beli tiket Museum Nasional langsung on the spot

Naik ke lantai dasar, belok kanan, dan ketemu dengan kedai kopi dan kantin kecil. Juga ada ruang anak. Masuk ke dalam, lalu di sisi kanan ada bagian ticketing.

Kalau mau repot, sebenarnya lebih baik beli online. Eh gak kebalik? Hahah. Enggak, kalau buat saya lebih gampang beli on the spot. Karena kalau beli on the spot, berarti saya menghemat waktu 20-30 menit dari kegiatan scrolling hape, ketik ini, ketik itu, berhenti dan terpapar konten lain, atau tidak berhenti, lalu lanjut bayar, lalu lanjut cek email. Yes, bisa 30 menit.

Kalau on the spot, just let them do it for you. Tapi di situ juga ada mesin tiket, memudahkan di kala lagi peak.

Tapi kalau mau kebagian yang immersive, mungkin bisa beli tiket online biar kebagian. Saya tidak masuk ke immersive kemarin, jadi skip.

Berapa harga tiket masuk Museum Nasional?

Sejak 1 Januari 2026, harga tiket dewasa yang tadinya Rp25 ribu naik menjadi Rp50 ribu untuk wisatawan domestik. WAH NAIK DUA KALI LIPAT! Itulah. Makanya, harusnya dari tahun lalu saya berkunjung, karena ditunda-tunda, jadinya dapat harga baru. Oh ya untuk wisatawan asing, HTM Rp150 ribu.

Terbayang kalau 1 keluarga datang: 2 orang tua, 2 anak kecil. Berarti mereka harus merogoh kocek minimal Rp160 ribu untuk masuk, di luar harga tiket immersive experience.

Lantai 1: Sejarah Awal, Taman Arca, ImersifA, dan Negeri Elok

Pada dasarnya, isinya masih sama dengan sebelumnya. Urutannya juga kurang lebih sama. Di lantai 1 ini, kita akan ketemu dulu dengan ruangan eksibisi Sejarah Awal, berisi patung-patung dan fosil dari daerah-daerah di Indonesia.

Sejarah Awal di Museum Nasional Indonesia

Di pameran tersebut sudah ada papan informasi mengenai statue atau fosil tersebut yang bisa dibaca oleh pengunjung. Dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Seperti fosil gajah dengan tinggi 3 meter, yang kalau dilihat tulang-tulangnya kelihatan tidak terlalu tinggi, tapi kalau dengan badan utuh mungkin cukup tinggi. Bila dibandingkan dengan gajah Sumatra sekarang, juga banyak yang gagah dan tinggi.

Pameran Sejarah Awal di Museum Nasional Indonesia

Dari Sejarah Awal, keluar ke kiri, kita baru ketemu dengan Taman Arca.

museum nasional indonesia

Sesuai namanya, Taman Arca ini berisi banyak arca yang berhasil ditemukan dan dikumpulkan dari daerah di Indonesia. Yang paling populer adalah  Arca  Ganesha, statue berkepala gajah dengan badan manusia berperut buncit. Di beberapa statue juga tersedia barcode untuk penjelasan dengan audio.

Taman Arca di Museum Nasional

Keluar dari sisi kiri lantai 1, di sisi seberangnya ada eksibisi lain yaitu Semai. Ini adalah pameran yang fokus pada edukasi perjalanan pangan mulai dari tanah sampai ke atas meja makan, juga memperkenalkan akar tradisi dan praktik pertanian terhadap pangan itu. Ada sekitar 160-an benda budaya yang merupakan koleksi museum dan juga koleksi Fadli Zon.

Eksibisi Semai di Museum Nasional

Ubi, singkong, ketela, jagung, terpajang di situ. Kelihatannya asli, tapi dikasih pengawet ada di situ. Bagus sih, untuk edukasi anak-anak yang mungkin belum pernah melihat bentuk asli dari pangan sampai rempah-rempah.

Di Semai ini cukup banyak pengunjung, atau mungkin jamnya pas? Ada beberapa turis asing, dan juga turis lokal. Anak-anak tidak terlalu banyak. Remaja ada.

Keluar dari lantai 1, saya naik lift dengan rencana naik ke lantai 2, tapi ternyata lift tidak berhenti di lantai 2. Jadi saya langsung ke lantai 3.

Lantai 3: Pameran Tetap “Melawan Tanpa Gentar”

Melawan Tanpa Gentar

Pameran ini menyajikan kisah perjuangan bangsa menuju kemerdekaan, lengkap dari awal mulai kolonial sampai terakhir, termasuk semua koleksi dari jaman perjuangan. Di sini kita disajikan narasi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ternyata dulu setiap daerah punya mata uang sendiri. Dan dulu ketika Indonesia baru merdeka, uang kompeni yang selama ini dipakai diberi peraturan khusus penggunaannya. Uang itu digunting 2, sisi kiri bisa dipakai sebagai alat pembayaran dengan nilai setengah dari besar nominal. Sementara sisi kanan tidak bisa dipakai sebagai alat bayar, tapi ditukar sebagai obligasi dengan nilai setengah dari besaran nominal uang itu.

ORI. Oeang Republik Indonesia adalah nama mata uang dulu. Jadi ini mungkin ya asal-usulnya sebelum sekarang ORI dipakai jadi singkatan untuk Obligasi Negara Ritel.

Uang lama Indonesia

Pameran di sini secara pribadi paling saya suka. Saat kita sekolah dulu, kita sering baca di buku sejarah mengenai cerita masa perjuangan, termasuk film-film lama, khususnya untuk generasi yang lahir di 70-80-an. Tapi di sini, membaca kembali summary kisah kolonial sampai melihat peninggalan lamanya, itu beda.

Rasanya memang seperti kembali ke masa dulu. Jadi, tahu dulu itu seperti apa, termasuk uang-uang lama. Juga ada wayang, sampai koleksi puisi Chairil Anwar. Ingin saya sentuh pakai tangan langsung (padahal ya ga bisa karena dibingkai), serasa kayak pakai mesin waktu.

Lembaran Puisi Chairil Anwar

Dua pajangan replika Koran Kedaulatan Rakjat adalah yang menarik perhatian saya. Terlihat seperti selembar kertas fotokopi tapi kuno.

Replika Koran Kedaulatan Rakjat

Di lantai ini juga ada beberapa pot kecil dengan pemutar film lama di tv ukuran sekitar 10-12 inci. Kreatif sekali arsiteknya ini. Jadi tidak membuang banyak space tapi juga tidak terlalu rapat, orang sembari menyusuri gang bisa nyelip sekejap ke balik tembok untuk menonton film (foto ada di paling bawah).

Oke, setelah puas di lantai 3, saya istirahat sebentar duduk di kursi panjang di situ, lalu turun dengan eskalator ke lantai 2.

Lantai 2: Misykat, Kebudayaan Islam di Indonesia

Lantai ini diisi dengan segala hal yang berkaitan dengan kebudayaan Islam di Indonesia. Kerajaan atau kesultanan Islam yang menjadi basis penerapan agama Islam secara masif di masyarakat. Seperti Kerajaan Pasai yang merupakan kerajaan tertua berdasarkan bukti yang ditemukan.

Di sini juga ada banyak mushaf, termasuk yang ditulis oleh Soekarno dan Hatta. Hanya huruf awal dan huruf terakhir saja.

Misykat
Mushaf Pusaka

Setelah itu, saya berkeliling sekali lagi. Memastikan tidak ada yang terlewat, meskipun memang ada yang sengaja saya lewatkan. Seperti wahana AI face recognition dan Immersive yang kalau mau dinikmati maka harus membayar lagi. Alasannya kenapa bayar lagi karena keduanya adalah wahana eksibisi, bukan pameran tetap seperti yang lain.

Tapi sebenarnya ada satu lagi yang masih saya cari, yaitu pameran emas-emas kuno yang dulu ada. Dan ternyata, kalau tidak salah itu nanti akan ada di lantai 4, yang saat ini sedang dalam proses renovasi. Hmm.

Baca cerita lama saya dulu saat berkunjung ke Museum Nasional versi sebelum renovasi.

All good!

Saya di sana kurang lebih 3 jam, baru kemudian saya balik. Puas bisa memanjakan mata dan menyegarkan ilmu dengan melihat koleksi-koleksi kuno di museum.

Mau balik lagi nanti kalau lantai 4 nya udah jadi!


Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.