Blitz Megaplex @Grand Indonesia + NasGor Kambing

Kemarin malam sekitar jam 7-an, saya dan hubby pergi nonton ke Blitzmegaplex, yang ada di Grand Indonesia. Sebagai pehobi berat nonton di bioskop, rasanya tidak pas kalau belum mencoba semua Cineplex bagus yang ada di Jakarta. So, kini saatnya mencoba BM.

Setelah parkir di P8 — akses langsung ke megaplex kami masuk dan ikut mengantri bersama calon penonton lainnya. Dengan 12 studio yang dia miliki, BM memberi banyak pilihan film bagus untuk para penontonnya. Apalagi ada tawaran khusus dari kartu kredit HSBC, Senin-Kamis harga nomat alias Rp.25rb. Sementara kalau harga normal Rp.40rb. Yang ngantri mo nonton rame banged, gak tahu sih apa karena harga nomat mereka milih kesitu atau jangan-jangan karena tiket parkir masih free? :p~

Beberapa judul film baru yang masuk dalam daftar Now Showing, ada Shooter (kita nonton ini..), The Wicker Man, Tornado, 28 Weeks Later, Spiderman 3 (menurut saya sih, ini udah tergolong film lama), dan banyak film-film festival lainnya yang tidak sempat saya catat judulnya.

Konsep BM termasuk keren. Selain live music, ada small kafe yang nyaman untuk menunggu waktu tayang. Makanan bisa dibeli di situ, atau beli di snackbar (Psst..!! Rasanya gak enak. Masih lebih enak makanan di 21). Mungkin bermaksud menciptakan imej funky, simple (or elegance?), semua pegawai bm, mulai dari pelayan snackbar, sampai penjaga tiketnya anak-anak muda dengan busana casual saja (kaos, jeans dan sniker). Sedikit kontras dengan venue yang resik & mewah. Toilet wanita yang marmernya serba hitam, diset dengan lampu redup — sebenarnya keren banged untuk ukuran toilet bioskop. Sayang sekali, model wastafelnya kurang mendukung, sehingga rada becek di lantai. Iih…… :-s

Dan yang agak nge-betein adalah : terlalu banyak iklan sebelum film tayang. Ada 15 menit waktu diborong untuk iklan mobil, pesawat, provider telekom, sampe iklan biskuit juga (halaqhh…!). lounge untuk satinSetelah iklan lokal selesai, baru diputar beberapa trailer. Bangkunya juga agak keras, tidak seempuk di 21. Tapi ini khusus untuk studio biasa, beda kalau di nonton di Satin. Kayak di pesawat, ada tempat kakinya.

Satu lagi. Menurut saya, pihak Grand Indonesia kurang tanggap saat awal akan dibukanya Blitzmegaplex di situ. Memang bagus, akses parkir bisa langsung ke bioskop. Tapi, ketika pengunjung mau turun ke bawah untuk belanja atau makan? Di sini masalahnya. Lift penumpang-nya cuma ada tiga (dengan kondisi kemarin itu 1 lift rusak) untuk ukuran mall sebesar itu. Setiap pintu lift terbuka, semua full. Tanya ke satpam, ada jalan lain gak? Katanya cuma lift atau eskalator. Eskalator? Terlalu capek kalau pakai eskalator, soalnya jarak lantai antara BM dan Seibu atau tempat makanan sangat jauh. Ya iyalah, restoran dan kafe ada di UG, sementara kita di P8. Gile aje kalo pakai eskalator!

 

Dan ternyata bukan cuma kami yang mengeluh, karena hampir semua pengunjung juga protes. Ada beberapa penjaga berpakaian safari (serasa FBI mereka… :p), dari lt. 8, 7, dan 6, saling kontek lewat HT. Kami sampai mencoba mencari lift barang, dan ketika kami temukan, tertulis out off service (**apa mksdnya nih? mo menjebak?). Beberapa pengunjung kecewa dan balik lagi ke depan, ke lift penumpang. Tapi saya memaksa menunggu, saya yakin lift nya ini bekerja, karena sayup-sayup saya dengar suara tingg tongg!! Kekekek…. 😀

Dan benar perkiraan saya. Tak lama kemudian pintu lift barang terbuka. Dan isinya juga tidak jauh beda, hampir penuh! Bergegas saya dan hubby masuk, adu cepat dengan yang lainnya (yeah, kalo gak gitu bisa nunggu lagi nunggu lagi).

Begitu juga ketika kami akan naik kembali ke P8. Nunggunya sampai capek, baru ada lift yang (agak) kosong.

Hmm.. selama kondisi nya masih begitu, mungkin perlu berpikir beberapa kali lagi deh untuk main ke Grand Indonesia. Toh toko-toko juga belum banyak yang buka, masih Seibu dan beberapa resto dan kafe.

………

After that, kita makan Nasi Goreng Kambing di Kuningan, di jl.pedurenan (ato pedurian?) kalo ga salah……! Agak lama sih nunggu, karena banyak juga yang beli beberapa bungkus. Tukang masaknya cerita (gak taulah bener pa kagak..) kalo dia punya bumbu racikan sendiri yang ditawar sama orang Surabaya, tapi gak mau dia lepas kecuali dia bayar 25jt. Warung disini termasuk yang jarang habis kalau kita datang tengah malam, gak kayak di Tebet, jam 10 aja dah habis. Bener-bener gak niat tu si Mas.

Nasi goreng kambing plus telor mata sapi?? Hmm…sedapp……. 🙂

 

 

3 Comments

  1. Zizy

    belum saatnya utk elz tahu itu kekeke…

  2. elz

    nasi goreng kambing??? hehehe… ada cerita after mid night nya ngga? hahaha…ditunggu yah…

  3. uam

    gag ada potonya??
    kan keren klo kak Si jepret security yang pake safari ala FBI ntu, ekekeeekek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *