Sebenarnya saya termasuk orang yang selalu harus memaksimalkan waktu saat traveling. Dulu, setiap kali saya bepergian baik dengan anak atau sendirian, pasti saya sudah siapkan itinerary padat. Seperti bangun pagi, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan pulang ke hotel dengan kaki pegal serta kepala penuh. Tapi belakangan setelah saya mulai suka jalan sendiri, saya sadar bahwa yang melelahkan itu bukan traveling ya, tapi cara menyusun itinerary santai untuk solo traveler itu tak harus terlalu ambisius.
Dari pengalaman solo traveling ke Bali, dan sampai beberapa kota di Indonesia, saya belajar satu hal penting: itinerary santai justru membuat perjalanan lebih berkesan, terutama untuk solo traveler. Bukan berarti tanpa rencana sama sekali, tapi memberi ruang untuk bernapas, berubah pikiran, dan menikmati momen.
Artikel ini saya tulis bukan sebagai panduan kaku, melainkan sebagai refleksi pribadi tentang cara menyusun itinerary santai untuk solo traveler. Bisa dikatakan sebagai cara yang lebih fleksibel, manusiawi, fleksibel, dan ramah untuk energi mental.
Kenapa Solo Traveler Butuh Itinerary yang Santai?
Sebagai solo traveler, semua keputusan ada di tangan sendiri. Itu kebebasan, tapi juga tanggung jawab. Kalau terlalu padat, tidak ada teman untuk saling mengingatkan agar istirahat. Kalau terlalu kosong, bisa muncul rasa bingung atau bahkan kesepian.
Saya pernah mengalami keduanya. Di satu perjalanan, itinerary saya terlalu penuh sampai akhirnya saya sempat drop dan tidak menikmati perjananan. Sementara itu, di perjalanan lain, malah saya terlalu “mengalir” sampai merasa hari-hari lewat begitu saja tanpa arah. Dari situ saya belajar bahwa itinerary santai bukan berarti asal lho, tapi terstruktur dengan baik, selow.
Menyusun itinerary solo traveling itu harus memberi rasa aman, arah yang jelas, sekaligus ruang spontan.
Cara Saya Memulai Menyusun Itinerary Santai
Setiap kali akan bepergian sendiri, saya selalu memulai dari satu pertanyaan sederhana: “Apa yang ingin saya rasakan dari perjalanan ini?” Bukan “tempat apa saja yang ingin dikunjungi”, tapi perasaan apa yang ingin dibawa pulang.
Ada perjalanan yang saya niatkan untuk istirahat, ada yang untuk refleksi, ada juga yang memang ingin eksplorasi ringan. Jawaban dari pertanyaan ini akan sangat menentukan ritme itinerary saya.
Kalau tujuannya menenangkan diri, saya tahu saya tidak perlu bangun pagi setiap hari. Kalau tujuannya eksplorasi budaya, saya akan sisipkan aktivitas yang memberi ruang observasi, bukan sekadar foto.
Prinsip Itinerary Santai untuk Solo Traveler
1. Batasi Aktivitas Utama, Maksimal 1–2 per Hari
Dulu itu saya rada-rada kemaruk, pengennya mengisi satu hari dengan terlalu banyak agenda. Tapi sekarang, saya membatasi diri hanya satu aktivitas utama per hari, maksimal dua jika jaraknya dekat dan energinya ringan.
Misalnya saat di Bali, satu hari saya dedikasikan hanya untuk berjalan di Ubud dan duduk lama di kafe. Keesokan harinya baru saya rencanakan kunjungan ke pantai. Dengan cara ini, saya tidak merasa dikejar waktu dan punya ruang untuk menikmati hal-hal kecil yang tidak direncanakan.
2. Memasukkan Waktu Kosong (sebagai bagian dari itinerary)
Dulu, waktu kosong terasa seperti “pemborosan”. Sekarang, justru saya anggap sebagai bagian penting dari itinerary santai. Saya sengaja menyisakan waktu tanpa rencana, entah untuk duduk, membaca, menulis, atau hanya mengamati sekitar. Tapi paling sering saya pakai juga untuk ketemu dan mengobrol dengan orang baru on the spot.
Sebagai solo traveler, waktu kosong ini sering menjadi momen paling reflektif. Sebab kita jadi merasa benar-benar hadir sebagai diri sendiri, tanpa tekanan harus ke mana-mana.
3. Pilih Lokasi Menginap yang Mendukung Ritme Santai
Itinerary santai tidak akan berhasil kalau penginapan tidak mendukung. Saya selalu memilih lokasi yang memungkinkan saya berjalan kaki, dekat tempat makan, atau setidaknya tidak terlalu ramai. Saya pribadi lebih suka hotel bintang 2 or 3, sebab saya termasuk introvert yang kadang kurang nyaman banyak interaksi di pagi hari, semisal saya memilih penginapan.
Ada hari-hari di mana saya justru menikmati pagi di kamar, minum kopi perlahan, lalu baru keluar siang hari, dan itu gak masalah.
4. Riset Seperlunya Saja, Jangan Terlalu Banyak
Saya tetap melakukan riset, tapi dengan batasan. Terlalu banyak informasi justru membuat kepala penuh dan ekspektasi tinggi. Biasanya saya hanya menandai beberapa tempat yang menarik, bukan wajib.
Dengan begitu, saya tidak kecewa kalau tidak sempat datang ke semuanya. Saya memberi ruang pada intuisi, bukan sekadar checklist.
5. Dengarkan Energi Tubuh dan Emosi
Ini mungkin terdengar klise, tapi sangat krusial. Harus belajar mendengarkan sinyal tubuh. Kalau lelah, ya berhent. Kalau bosan, saya ganti rencana.
Itinerary santai memberi saya izin untuk berubah pikiran tanpa rasa bersalah. Dan justru di situlah perjalanan terasa lebih jujur.
Contoh Itinerary Santai ala Saya (Gambaran Umum)
Biasanya itinerary saya terlihat sederhana, bahkan mungkin “terlalu kosong” bagi sebagian orang. Tapi gpp dong, karena sebenarnya kesederhanaan ini yang membuat saya menikmati perjalanan.
Hari pertama biasanya saya dedikasikan untuk adaptasi: tiba, check-in, jalan ringan di sekitar hotel, ngopi di kafe terdekat pas malam, lalu tidur lebih awal. Tidak ada agenda besar, karena saya tahu tubuh butuh waktu menyesuaikan diri.
Hari-hari berikutnya saya susun dengan ritme bergantian antara eksplorasi dan istirahat. Satu hari aktif, satu hari ringan. Pola ini sangat membantu menjaga energi, terutama untuk perjalanan lebih dari tiga hari.
Hari terakhir biasanya saya biarkan paling fleksibel. Entah untuk membeli oleh-oleh, kembali ke tempat yang saya sukai, atau hanya duduk dan merangkum pengalaman.
Itinerary Santai dan Hubungannya dengan Kesehatan Mental
Bagi saya pribadi, menyusun itinerary santai bukan hanya soal kenyamanan fisik, tapi juga kesehatan mental. Solo traveling sering menjadi ruang refleksi, dan itinerary yang terlalu padat bisa mengganggu proses itu.
Dengan ritme yang lebih lambat, saya punya waktu untuk berpikir, menulis, dan memproses perasaan. Perjalanan tidak lagi terasa seperti lomba, tapi seperti dialog pelan dengan diri sendiri.
Di antara jeda dan rencana yang saya longgarkan
Dari semua perjalanan yang saya jalani, satu hal yang paling saya pelajari adalah ini: itinerary seharusnya membantu, bukan mengontrol. Terutama untuk solo traveler, itinerary santai memberi ruang untuk tumbuh, berubah, dan menikmati perjalanan apa adanya.
Kalau ada satu hal yang ingin saya sampaikan, itu adalah: tidak apa-apa kalau perjalananmu terlihat “biasa saja” di atas kertas. Selama kamu pulang dengan perasaan lebih utuh, itinerary itu sudah berhasil.
