Sabtu kemarin adalah hari terakhir Vay sekolah sebelum libur lebaran. Sekolahnya mulai libur Jumat depan, pas sekali dengan rencana kami mudik ke Medan pada hari itu.
Mungkin ada yang akan bertanya, kenapa Vay masih kecil begitu (belum juga 18bulan) sudah sekolah? Memang banyak perdebatan seputar anak-anak yang terlalu dini dimasukkan playgroup. Karena ditakutkan nantinya anak akan bosan sekolah.
Tapi alasan utama saya memasukkan Vay ke playgroup (masuk sekali seminggu) saat dia baru berusia 14 bulan sebenarnya semata-mata agar dia bisa bergaul dengan teman-teman sebayanya. Di rumah kan dia bergaulnya dengan orang dewasa (suster dan bedinde) dan tidak pernah keluar rumah. Rumah kami memang letaknya tidak persis di dalam kompleks yang punya tetangga kanan kiri, jadi untuk jalan-jalan sore di depan saja tidak mungkin. Selalu ada kendaraan yang lalu lalang. Yang ada malah makan debu kalau mau keluar rumah.
Alasan lainnya biar dia cepat belajar bicara dan cepat jalan. Vay memang termasuk terlambat berjalan dan berbicara untuk anak seusianya. Dulu sih tidak begitu ya, dia termasuk normal untuk perkembangannya, mulai dari tengkurep dan bolak balik badan. Saya sih curiganya sejak dia dirawat di RS hampir 10hari karena panas yang tidak kunjung turun, saat itu dia sempat dikasih antibiotik yang tidak tepat sasaran (yang menyebabkan kami pindah RS karena tidak ada kemajuan apa-apa). Sejak sakit itu perkembangannya boleh dibilang agak terlambat. Tapi itu kan dugaan saja ya, saya tidak mau terlalu takabur bilang itu karena salah RS.
Dulu saat Vay usia setahun, saya bawa dia ke dokter tumbuh kembang. Ceritanya konsultasi, apakah anak saya ini anak spesial. Saat itu dia selalu kelihatan “sangat excited” untuk segala hal baru. Kalau kegirangan, dia akan menjerit dan bergerak-gerak terus. Kalau lagi marah dia juga akan membanting kepala ke kasur berkali-kali. Lalu juga suka memukul. Waktu itu dokter belum bisa menentukan apakah anak kami memang “spesial” atau tidak, tapi dia menyarankan agar kami membimbingnya dengan benar, yaitu dengan mengurangi pemicu-2 yang bisa membuatnya excited.
Contohnya tidak boleh mandi pakai shower, lalu anak juga harus diajarkan untuk bersabar. Tapi sebelum kami pulang, dokter bilang, kalau dia lihat cara Vay bereaksi dan tingkah laku Vay saat konsul itu, Vay termasuk anak yang cerdas. Hmm… amin, mudah-mudahan saja memang begitu.
Di kesempatan berikutnya, saat konsul gizi ke dokter alerginya Vay, saya coba menanyakan pendapat si dokter. Dokter bilang, ciri-ciri yang ada pada Vay memang ciri umum pada anak sensitif (anak alergi). Anak-anak yang hipersensitif memang lumrah mengalami keterlambatan motorik juga terlambat berbicara. Kalau berjalan suka jinjit, lalu punya kebiasaan membanting kepala, smackdown, memukul, mata sering melihat ke atas (waktu bayi), itu sedikit dari ciri anak & bayi sensitif. Memang semua ciri itu ada pada Vay. Dari dia umur sehari juga sudah ketahuan sih kalau dia alergi. Belum dikasih minum asi dan apapun, tahu-tahu pipinya sudah ruam merah sebesar jempol. Katanya kemungkinan reaksi karena pengaruh obat bius saat caesar.
Waktu itu si doker menyarankan beli sendal Crocs agar Vay bisa jalan dengan nyaman. **hmm, mahal banged ya Dok beli sendal doang hahahaa…… Di ujung pembicaraan, dokter bilang, menurutnya Vay belum bisa dikategorikan hiperaktif, tapi mungkin sekali dia agak overaktif. Sekali lagi, itu lumrah menimpa anak sensitif.
Yang bisa dilakukan adalah kembali mengatur makanannya, kembali ke menu diet alerginya. Hmm saya ini nih yang gak sabaran, habis bosen juga masa anak dikasih makan itu terus. Pengen juga dikasih variasi macam-macam. Tapi ya begitulah, kalau saya sudah mulai heboh kasih menu macam-macam (dengan kata lain menu yang akan memicu gejala alerginya), pasti si Vay mulai bab 3x sehari dan bb nya tidak naik. Hehehee.. dokternya sih tahu kalau ibu udah balik lagi dengan anaknya dengan keluhan bb tidak naik atau badan bintilan, pasti itu karena si ibu yang melanggar aturan menu yang sudah diberikan. Hmm.
Usaha lainnya biar dia bisa segera mengejar ketinggalannya, ya itu saya sekolahkan dia, dengan harapan dia jadi termotivasi juga melihat teman-teman lain. Ternyata memang ngefek. Dua minggu sekolah, dia sudah berani melepas tangan maminya dan belajar melangkah sendiri biarpun baru beberapa langkah langsung tersungkur hehee…
Syukurlah sejak sakit yang terakhir kali itu, Vay jarang sekali sakit. Batuk pilek juga jarang. Semakin tambah umurnya semakin kuat badannya, dan makin aktif juga. Dia tidak pernah takut mencoba sesuatu yang baru. Rasa ingin tahunya juga semakin besar. Walau kadang mengkhawatirkan juga nih, karena kadang-kadang dia suka usil juga dengan temannya. Bulan lalu ada anak cowok baru di kelasnya, didatangi terus tahu-tahu di-pok sama Vay. Waduh! Gawat benar. Lalu pernah juga temannya mau dia colok-colokin matanya, mungkin penasaran lihat biji mata ya? Waktu kopdar terakhir kali juga begitu, anak-anak lain dikejar-kejar. Mungkin pengen ajak main, tapi beberapa anak itu sampai ketakutan.
Alhasil sekarang kalau Vay sudah mulai mendekati temannya, saya ekstra waspada. Jangan sampai terjadi yang tidak diinginkan.
Nah kembali ke hari Sabtu kemarin. Sabtu kemarin Vay lagi-lagi nangis begitu sampai di sekolah. Ini sudah keempat kalinya dia begini. Kayaknya sudah hampir sebulan deh, dia kelihatan tidak betah di kelasnya. Begitu masuk ke kelas dia akan menangis meraung-raung, dan tidak mau turun dari gendongan. Dan jangan coba-coba dipegang sama orang lain. Dia akan membanting-banting badannya ke belakang dan ngamuk berat. Saya heran juga sih, soalnya setahu saya tidak ada masalah sebelumnya. Aunty dan uncle nya baik-baik, tapi memang Vay pada dasarnya tidak suka disuruh-suruh harus begini begitu. Begitu dia lihat salah satu dari gurunya mendekat, dia akan menyuarakan rasa tidak nyamannya dengan merengek dan lari ke arah maminya.
Padahal dulu-dulu tidak begitu lho. Alhasil sudah beberapa minggu ini, Vay main sendiri saja di kelas. Tidak mau gabung dengan yang lain. Guru-gurunya juga terpaksa pada nyuekin dia, tidak dipaksa berpartisipasi. Vay seperti anak hilang yang main sendiri keliling kelas, sementara anak-anak lain duduk di pangkuan ibunya mengikuti instruksi guru. Saya ada di situ juga, cuma duduk di ujung aja, memperhatikan Vay main sendiri.
Jadi misalnya ketika permainan selesai dan guru-guru menyuruh anak-anak mengumpulkan bola mereka, saya diam saja tidak mengantar Vay ke depan. Vay akan melihat, mengamati, dan jalan sendiri mengembalikan bolanya. Lihat nih foto Vay waktu permainan parasut, dia dengan pedenya jalan sendiri ke tengah-tengah parasut yang kami kembang kempiskan dari ujung. Asyik sendiri di situ.

Pokoknya selama tidak ada orang dewasa yang mengganggunya, dia akan merasa nyaman. Tapi kalau dia lihat di situ ada salah satu guru menunggu, dia tidak akan mau main di situ. Dia juga tidak mau lagi saya ajak menaiki balok-balok bermain itu. Dia lebih sibuk dengan bolanya. Memang ada satu lagi teman Vay yang saya lihat juga udah mulai kayak Vay. Udah gak mau lagi main naik turun balok, tapi sibuk jalan kesana kemari dengan bola di tangan. Persis kayak Vay. Anak itu sama masuknya dengan Vay, udah hampir 4bulan sekolahnya.
Dugaan saya sih, mungkin dia merasa tertekan karena kalau sekolah harus begini harus begitu. Biasanya dia mau main kalau dia penasaran dengan mainannya, tapi Vay kelihatan bosan melihat semua balok permainan itu.
Tapi cepat sekali ya bosannya. Baru juga mau 4 bulan. Saya jadi mempertimbangkan untuk cuti sekolah dulu nih beberapa bulan. Daripada nanti dia tambah stress di sekolah kan kasihan. Dan kalaupun dia tetap sekolah, solusinya ya seperti yang sekarang ini, biarkan saja dia bermain sendiri dan mengeksplorasi ruangan itu seperti keinginannya. Bila dia sudah nyaman baru diajak gabung dengan yang lain. Mudah-mudahan sih habis lebaran nanti moodnya baik lagi ya biar bisa enjoy di kelasnya.
Kalo masih gak mood juga berarti memang harus cuti sekolah dulu. Mungkin benar juga, buat beberapa anak, masuk sekolah terlalu cepat bukanlah pilihan yang tepat.

pengalaman yang sama mba, seperti bunga anak pertama saya pernah tiba-tiba pengen sekolah akhirnya ma istri dimasukin ke Playgroup tp tak bertahan lama cuman sekitar 3 bulan dan alasannya libur atau dia bilang ga betah…
walau sekarang usianya dah 4 tahun tapi saya ga mau memaksa anak buat masuk sekolah, kalau emang dia sekarang senang main maka saya biarin dia menikmati masa mainnya
dan kalau memang dia mau sekolah maka saya ikutin.
Saya masih memegang prinsip sekolah yang baik buat usia Bunga adalah rumah dimana orang tuanya berada, dan Alhamdulillah walau dalam beberapa hal saya dan istri terkadang terkesan pelit atau terlalu cerewt dan mengatur justru membuat bunga lebih bisa membedakan mana yang boleh dan tidak boleh.
ke usia bunga di 4 tahun ini, saya ma istri lebih menekannkan bukan cara dia membaca atau bernyanyi tapi lebih kepada budi pekerti dan nasihat-nasihat, hal ini saya jadiin sebagai modal dasar dia sebelum masuk ke sekolah yang notabene bakal beragam pergaulan yang dia dapatkan.
Semoga vay jadi anak yang sayang ma ortunya
salam
ya ampyun sekaran9 neeh bayi ajah da sekulah ya zee.. 😀
hadooh..hebat hebat.. 🙂
btul mbak dulu anak saya belum waktunya sekolah saya paksa sekolah…akhirnya DO 3 kali dari sekolah playgrupnya he..he gara-gara bosaan sekolah, alhamdulillah sekarang udah TK dan lancar..
betul mba, kayakna lebih baik cuti saja dulu mbak..
gkgkgkg, lucu liat si vanya pegang bola..
Tak selamanya mata memanÂdang dengan ramah, hati menilai dengan jernih, dan mulut biÂcara dengan santun. selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir batin.
semoga vay jd anak yg pinter kyk mamanya… 🙂
wah, 14 bulan uda sekolah ya? menurut saya sih ga masalah selama tidak ada unsur paksaannya ke si anak. lagi pula di palygroup bisa melajar motorik dan sosialisasi.
Sebaiknya konsultasi kepada psikolog khusus anak, apakah sudah waktunya anak dibawah 2 thn masuk PG.
Pengalaman dengan anak saya, waktu mau masuk PG, gurunya malah yang menolak, dgn alasan, nati setelah beberapa tahun kemudian, dampaknya akan timbul. Akhirnya saya tidak jadi menyekolahkan dibawah umur.
Btw, soal alergi, ada dua pendapat yang berbeda. Ada dokter bilang kalo alergi terhadap makanan tertentu, maka jangan sampai makanan itu masuk kedalam mulutnya. Tapi ada dokter lain yang bilang, kalau alergi terhadap suatu makanan, maka pada saat tertentu harus dicoba makanan itu dengan takaran kecil, supaya lama kelamaan si anak terbiasa.
Anak saya waktu balita, banyak sekali alerginya, pusing juga merawatnya, jadi dua pendapat yang bebeda itu saya coba-coba juga. Ya pontang-panting, hampir sekali dua minggu ke dokter, sampai umur sekitar 7 tahun. Investasinya di dokter anak sudah sangat besar. Setelah umur 7-8 thn sudah jarang ke dokter.
Yang tidak baiknya adalah karena terlalu banyak alerginya waktu kecil, sekarang sangat sulit makannya, tidak mau ini, tidak mau itu. Makan daging atau ikan hanya secuil kecil, itupun harus diingatkan. Kalau tidak dia cuma makan nasi putih dan kuah sayur.
Wah komen saya kepanjangan nih.
hehehee….. gpp mas. makasih ya utk sharingnya.
Hehe, Dira juga pas masih di Jakarta aku masukin sekolah pas usia 2 thn kurang. So far hingga kelulusan yg lalu dia tidak ada masalah. Agak overaktif juga, tp sukurnya kok malah dapat penghargaan siswa teladan di kelasnya. Wkwkwk… aneh!
Tapi memang setiap anak bawaannya beda sih. Santai aja.
Kl mang perlu cuti sekolah, cuti aja. Drpd anak stress.
Di Paiton ini aku mlh bingung mau masukin PG mana. Soalnya jauh2 lokasi dan blm py kendaraan pribadi 🙁
Sama dengan Briga cucu saya, masuk TK terlalu kecil waktu bapaknya dinas di Batu. Sekarang mengulang lagi di kelas yang sama di Mojokerto ha..ha..ha
Salam hangat dari Surabaya
Bu, sorry out of topic, please let me know your contact email ya. Aku juga dah contact by Facebook 🙂 Thank u
salam kenal..
Wah berarti vay pinter dong, kecil-kecil udah sekulah
hhmm, banyak sekali gambaran tentang proses tumbuh kembangnya anak kecil disini. dan memang susah kalo anak mengalmai hipersensitif. orang tua pasti akan cemas apabila kondisi itu terjadi dalam waktu yang lama.
kalo saya, masih seirng batuk pilek. kalah deh sama vay he2…
memang, harus dipantau terus perkembangan dia di PGnya bu, jangan sampe dia mengalami kejenuhan apalagi stress
Tuh kan dibilang juga apa…anak kecil aja udah sadar kalo “SCHOOL SUCK” hahahaha…
Hey Vay…you’re rock… girl… yeaahhh… \m/
*kaburrrrtakutdidamparatibunyaVay*
wakakaa…. nah ga bener nih om yg satu ini.
Mungkin secara kecerdasan bisa ngikuti tapi secara sosial dan emosi sangat dipaksakan.
engga kecepetan ah zee…waktu itu azka umur 12 bulan pas…aku masukin skul yg sama ama vaya itu…dan tujuanku juga sama..biar dia gaul, ga cuma ama pengasuhnya aja…trus biar cepet jalan juga…dan sama juga kaya vaya…akhirnya azka bisa cepet jalan, baru skul 2 bulan…akhirnya bisa jalan…
btw…penasaran…kenapa yang disaranin sang dokter crocs ya zee…?? hmm…apa kelebihan si sepatu sendal beken bin muahaaall ituh..? 😉
Yup. Emg pas sih masuk sekolahnya kmarin pas 14bln, krn nunggu dia kuat berdiri dulu. Tp moodnya udah 1bln ini gak bener.
Hmm.. kt dokternya, bagian dalam Crocs itu bagus utk telapak kaki, shg nyaman utk jalan. Krn ktnya klo anak alergi biasanya gampang geli klo pijak lantai, itu sebabnya banyak anak sk jalan jinjit.
aku punya teman, anaknya di diagnosa hiperaktif alhasil harus disekolahkan di sekolah khusus dan mbak, biaya sekolah per semester lebih mahal dari biaya semesteran adikku yg kuliah di trisakti…huhehehehe…
tapi ada manfaatnya dengan umur 2 tahun anak itu bisa bernyanyi, bisa bernterkasi dengan baik dan ternyata di diagnosa sifat hiperaktifnya berkurang.
terlalu dini tetapi sangat bermanfaat
we hehehe lucu bgt anaknya…,
kenapa jadi dilema,emang di sekolahkannya bukan di play group ya…,
Iya sekolahnya di PG.
hihihi Vay nya lucu banget kaya mamanya gak yah hehehe
iyah Vay sekolah drumah aja sama mama terlebih dahulu, toh mama kan gak kalah pintar sama guru di sekolah;)
Hehehe… maunya sih di rumah aja ya, tp biar dia belajar bergaul juga makanya disekolahkan.
paparannya cocok sekali dengan study kasus “play group terlalu dini, sisi postif dan negatifnya”
sebaiknya memang “libu” dulu sementara, sampai menunggu mood vay utk sekolah datang lagi.
eniwei, …mmmm senang rasanya bisa mengajakmu “ekspress your mood!”
bisa buat referensi buat my son..
uraian yg inspiring Zee… thanks yap
di kampung saya tidak ada yang seperti ini.. anak masih blm cukup umur untuk masuk TK ya.. masih di gendong kemana-mana ama ibunya 🙂
prinsip saya:semakin cepat belajar, semakin baik. Jadi agaknya gak usah dibingungin dengan kontroversi tentang pendidikan usia dini itu mbak. Toh tiap jenjang pendidikan selalu menyesuaikan psikologi anak. Yang penting itu kan, tidak ada pemaksaan dan dunia anak adalah dunia bermain. Bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain, why not..?
Betul Mas, sebenarnya tujuannya kan utk bermain sambil belajar. Mudah2an sih moodnya cepat bagus lagi.
bukankah,lbh cepat lebih baik?
sy sependapat dg kalimat penutupnya.
sy jg kurang setuju bila anak disekolahkan terlalu dini krn biar bagaimanapun di sekolah psti ada aturan2 yg diterapkan pd anak yg mgkn blm saatnya bagi anak utk menerima semua instruksi2 tsb (tp itu hy pendapat sy lho…) 😀
saya gak ngerti deh, kalo udah namanya anak2…
soalnya anak2 tiap ngeliat saya,, pasti takut, ada yg nangis, ada yg kabur…
jarang banget sukses dekat ma anak2…
pa karna rambut gondrong ya? hehehe
hmm kayaknya sih begitu. seremmm kt mereka kekekek…
Anyak terakhirku 3,9 tahun bu, karena di rumah diajarin membaca dengan buku “Anak Islam Suka Membaca” mulai jilid 1 – 5, akhirnya udah bisa membaca koran, namun bejitu dia minta sekolah Teka, mentalnya misih penakut bu.
Lok tempatku,minimal 4 taon baru bs masuk play grop
cepat banget ya sekolahnya, emang beda anak kota ama anak ndeso, hiks…
‘wah….
jadi tahu dech ‘ntar klo dah pnya anak gmn..
hehehe..
Smoga dpt buat kputusan yg baik buat vay ‘y sizt’
untung sy blom punya anak… 😀
jadi tau dah kalo punya anak berbeda, ini pelajaran buat saya. jadi memang setiap anak ada polanya masing-masing kalo 14 bulan sudah disekolahin bisa jadi malah bisa lebih cerdas dari yang diperkirakan
@evelynpy
Idem sama bu guru tk yang ini deh…
saya juga dolo kecepatan masuk sekolah
masuk sd kelas 1 umur 4 tahun
lulus sma umur 16 taun
diantara teman seangkatan kuliah 2005, saya paling muda dan berwajah imut
sekarang bisa merasakan keuntungannya
temen2 makin tua wajahnya, saya terlihat awet muda.
serasa anak kuliah angkatan 2008
hehehe
bagus juga mbak
jadi sekalian menumbuh kembangkan kemampuan anak
baik mental…
fisiknya juga kali yah
langkah yang tepat
Saya mengucapkan, mohon maaf lahir dan bathin, selamat hari raya idul fitri 1430 Hijriah, 2 minggu saya mudik ke kampung halaman tercinta, ^_^…V terima kasih sobat miss you
Jaman aku dulu, blum ada tuh playgroup :p
Tapi tetap aja disorong buat masuk TK lebih dini (sebelum berumur 4-thn). Emang sih ada manfaatnya, ketemu banyak teman (ketimbang di rumah) – soalnya ortu kan kerja tiap hari.
iya zee kayanya masih terlalu kecil untuk sekolah deh , jadinya seperti itu.. anak gw aja baru masuk sekolah sesudah umur 3 thn dulu.. sebelum 3 thn sama sekali gak pernah sekolah.
sepertinya mengurus anak itu susah2 senang ya mbak zee. semoga nanti cepet ada solusinya. eh sekolah bawa diapers ga? hehe
sebagai guru TK saya rasa itu sudah waktu yang tepat buat masukin anak ke preschool…semakin lama masukin anak ke sekolah perkembangan anak semakin lambat…
memang sie yang diajarkan di preschool sepele tapi itu bermanfaat banget pas ntar di tk nya..
jadi saya mendukung adanya kelas toddler di sekolah internasional
wah namanya juga anak kecil, moodnya selalu berubah-ubah. suka asik sama dunianya sendiri..
wah, aku nggak ngerti soal usia tepat untuk menyekolahkan anak. seingatku, aku masuk playgroup saat usia 3 tahun. ada senangnya, tapi ada sebalnya juga. bekal saya (biasanya chocolate chocochip cookies yang gede2 1 kotak)suka dicuri sama beberapa teman saya, gambar saya suka dicoret oleh anak yang sama. di kelas saya pokoknya ada geng 3 cewek yang senang mengganggu saya. sisanya sih baik. tapi kan bikin sebel jg.
di lingkungan anak balita sekalipun, ada aja mbak, anak2 yang kayak suneo dan giant di doraemon XD
seringkali kita sebagai orang tua mendapatkan posisi dilema seperti itu..
mudah2an apa yang kita pilih untuk anak kita dapat membuahkan hal yang positif..
menyediakan BB atau akun twitter buat vaya patut dipertimbangkan.. demi memupuk personal brand sejak kecil :D… eh mksdna biar gaulnya lebih luas
__vay dapetsalam dari ka bri…teh zee lucunya adik kecil vay 😉 __
__boleh gk cabi cubit pipinya vay..gemeZZ__
Sekolahnya selalu ditungguin kan yah?
Jadi kecil kemungkinan digalakin gurunya yah kak?
Emang bener, bosen kali tuh yah..
Vay… ntar abis kena semilir Danau Toba moga moodnya balik yah 😉
HHHmmm …
Saya bukan ahlinya …
namun logika terbatas saya mengatakan bahwa …
Gak papa sih sekolah … or say bermain bersama-sama … sedini mungkin …
selama anaknya enjoy-enjoy aja …
yang tidak pada tempatnya adalah … jika justru orangtuanya yang maksa-maksa … tetapi anaknya ndak enjoy …
Karena pada hakikatnya Sekolah itu … apapun tingkatannya adalah sekedar tempat berhimpun … untuk belajar segala macam hal … baik dari guru maupun dari teman-teman
Once again ini logika terbatas saya …
setuju. sesuaikan ama kemampuan anak ya..
kasian juga anak2 yang masih kecil dipaksa sekolah..kata org masa kecilnya jd ilang.
tapi ya klo anaknya yg mau sih sah2 aja..
ternyata mengasuh anak gak mudah ya, mbak. perlu kesabaran ekstra untuk anak spt Vay. pelan2 aja, mbak. saya yakin, suatu hari nanti dia pasti mau bersosialisasi. mungkin, dia kaget dg lingkungan barunya. apalagi usianya juga masih keci banget utk sekolah.
Adit hampir umur 3 sampai sekarang belum saya sekolahkan. Pertimbangannya? ketika dia ditanya apa mau sekolah, jawabannya: nggak :D. Tapi kalau memang sudah cukup umur (kayaknya umur 5 pas deh), insyaAllah disekolahkan.
solusi yang bagus mbak membiarkan vay bermain tanpa ada yg menyuruh. anak biasanya memang akan suka permainan itu jika dia penasaran. mungkin ibu gurunya bisa menggunkan metode penasaran itu agar para muridnya tidak mudah bosan seperti vay 🙂
Hay Zeeeee..lama dehhh gak main kesini 🙂
aku pikir keputusanmu tepat, kalau Vay memang butuh cuti, ya ambil cuti saja 🙂
Perkembangan anak beda-beda…Tangguh aja udah mau 2 tahun giginya belum tumbuh semua..heheheh 🙂
salam cium buat Vay ya 🙂
anak pertama saya, saya ikutkan playgroup karena anaknya sedikit introvert, dan so pasti cenderung pendiam, cuma namanya anak – anak ya angin – anginan gitu… ada masanya bosen sekolah, ada kalanya semangat…
apalagi kondisi fisiknya agak lemah, sering batuk pilek yang kemudian ujung – ujungnya sesak nafas dan perlu nebulizer.
Alhamdulillah sekarang sudah kelas 1 SD dan jarang sakit.
Mudah – mudahan Vay tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas ya mbak…
Amin
aku setuju kak, kita harus bisa sesuaikan kemampuan anak dengan apa yg ingin diperoleh, ngapain anak disekolahkan cepat2 klo toh otaknya masih blm mampu dan sanggup menerima lingkungan sekolah…
Sebelumnya gak gitu ya, Z ? Cepat juga ya jenuhnya baru 4 bln….
Cobain sekolah laen lagi ntar, kalo msh gitu juga, break dulu sekolahnya sampe umur yg ditentukan buat sekolah.
berkunjung ke blog sahabat…
wah vay dah sekolah, hebat euyyy…
ditempatkan juga banyak anak2 yang tergolong super dan hyper aktif. tapi mereka ikut terapi di sekolah milik perusahaan. alhamdulillah banyak diantara mereka justru menjadi anak cerdas loh… mungkin dasarnya mereka memang cerdas.
have a nice holiday vaya….
Awalnya aku merasa iri dengan anak2 jaman sekarang karena baru juga dua tahun, kok ya udah cas-cis-cus pake English.. eh taunya mereka sudah sekolah (aku dulu masuk TK umur 4. tahun).
Tapi belakangan, setelah kusadari untung ruginya (ditambah mbaca artikel ini) aku bersyukur, keputusan untuk menyekolahkan tidak terlalu dini adalah keputusan yang tepat dan aku bisa bebas ‘bersekolah’ dengan sekolah terbaikku yaitu ‘rumah’ 🙂
Aku dukung Zee kalau kamu mau cutiin sekolah anakmu. All the best untuk keluargamu!
waduh…sekecil itu udah sekolah ya mba? hm.. ya beda sih ama jaman sayah kecil dulu, sayah baru mulai dimasukin ke playgroup umur 3 taun dan kerjaannya emang cuma main2 ajah, tapi lupa juga dulu main bareng2 yang lain atau asik main sendiri, secara ga ada temen playgroup yang saya inget *ya iyalah udah lama banget* 😛
well, kayanya sarannya arman bagus tuh. coba sekolah lain, mungkin ajah lebih tepat metodenya 🙂
salam untuk vaya ya
iya gak perlu dipaksa ya.. kalo bosen ya coba brenti dulu atau coba sekolah yang lain.. mungkin metodenya gak pas ama vaya…
btw vaya lucu banget ya… 🙂
kyaa, lucunya Vay … mungkin memang dia butuh break kali ya 🙂
Anak2ku baru masuk sekolah usia 5 th, masuk PreK. Banyak orang sini yg gga demen sekolahin anak di usia dini krn merasa sekolah itu sebagian besar adalah indokrinasi dan belajar disiplin. Jake pernah sih masuk day-care itu jg krn aku py Matt, so Matt yg dititip di mertua and Jake aku masukan daycare. Untuk sosialisasi, disini banyak sekali acara2 spt story-telling di perpustakaan umum, di toko2 buku spt Barnes and Nobles, atau just playing di public parks.
Hmmm, diperhatikan ndak Bu bagaimana interaksi Vaya dengan anak-anak sebayanya di lingkungan rumah? Kalau cuma untuk melatih interaksi menurut saya dengan anak-anak sebayanya di lingkungan rumah lebih efisien karena anak-anak biasanya lebih familiar dengan lingkungan tempat tinggalnya.
ponakanku udah sekolah, tapi gak betah, hahahaha … yaiyalah, masih 3 bulan :p *penitipan itu namanya* hihihihi
ha… 14 bulan sudah masuk playgroup?
ya tapi nggak papa khan untuk sosialisasi dan lebih memberikan banyak pengalaman dan kesempatan bermain
… jd sebenernya yg dilema itu mamahnya ato vay nya iia…?!?!?! hueheheheheh…
mbak zee selamat berjuang deh,,itu potonya anaknya mbak zee yah,,kawaii fotonya
Cuma seorang ibu yang paling mengenal anaknya. Selamat berjuang, mbak.. 🙂
iya mb…Vay merasa disekolah dinikan kali..
kasi cuti dulu aja..ntar baru de cekoya yagi…
eniwe..potonya yucu…gemessss…. salam buat Vay ya mb.. 🙂