Kemarin sore Jakarta gempa. Dan dalam hitungan menit saja, jaringan langsung busy, semua orang sibuk menelepon kesana-kemari, jangan lupakan pula mereka yang langsung mengupdate statusnya di facebook.
Saat gempa terjadi, saya sedang di kantor, duduk santai bersila di atas kursi. Lagi blogwalking. Tiba-tiba kok rasanya kursi saya jadi kursi goyang nih, gujlak gujluk gujlak gujluk. Saya berhenti mengetik, lalu memandang teman di depan saya. “Gempa nih,†kata teman saya. “Iya.†Saya mengiyakan. “Enggak ah,†kali ini teman yang lain nyambung. Mungkin karena dia sedang berdiri dan barusan ngobrol dengan temannya jadi tidak merasakan.
“Coba kita lihat botol airnya, Mbak.†Saya berdiri dan kami berdua ke mejanya. Botol air itu bergoyang-goyang.
Lalu entah siapa yang berteriak, â€Gempa woi gempaaaa….!! Masih terasaaaa…!!†Si bule yang tadi sedang melangkah masuk melalui pintu depan langsung putar badan. Dia konsultan kami. Dia langsung kabur secepat mungkin. Kepanikannya membuat semua orang ikutan panik. Berebutan keluar.
Saya segera kembali ke meja saya. Menyambar tas di meja, melemparkan hp ke dalamnya. Tak lupa ganti sandal dengan wedges saya. Lalu ikut yang lain jalan keluar. Eh?! Ini tas yang salah! Goblok. Yang saya ambil itu tas berisi laptop dan another stuff. Balik lagi ke meja, dan menyambar tas sandang saya di bawah. Buru-buru tekan Win-L di keyboard, tapi missed karena tangan yang gemetaran. Ah sudahlah.
Lewat depan lift. Ngitt..! Ngitt..! Ngitt..! Bunyi kabel lift bergoyang-goyang. Tangga darurat sudah padat. Dan sepertinya yang di bawah berjalan pelan sekali, jadi mirip jalan di terowongan padat. Seandainya gempa susulan yang kuat terjadi, bisa sangat berbahaya karena semua orang berkumpul di situ. Saya lihat dinding-dinding ada yang hancur dan kepingannya jatuh ke lantai. Wahhh serem jugaa..!! Kirain tadi gempa ecek-ecek. Saya coba telepon supir saya, failed. Saya sms saja, “Gempa. Bawa mobil ke atas. Cepat.†Yoi… kalau masih sempat mengevakuasi mobil, kan ga ada salahnya.
Teringat gempa, saya jadi ingat gempa-gempa yang terdahulu. Waktu tinggal di Biak, keluarga kami sudah biasa mengalami gempa. Jangankan gempa, angin puyuh pun sering. Daerah yang dekat pantai memang rentan terhadapa bencana gempa.
Setelah di Medan, pertama kali merasakan gempa besar itu tahun 2002. Waktu itu kantor kami masih sewa space di gedung BII, lantai 10 pula, lantai teratas. Saat itu gempanya kuat sekali, sampai saya lihat tiang besar di depan saya bergoyang kesana kesini. Teman-temanpun panik, semua lari. Saya ikut ke depan dan saya lihat teman-teman di customer service tetap duduk di tempatnya meskipun wajah mereka pucat pasi. Mau ikutan lari, tapi masih ada customer yang dilayani. Si customer juga bingung, mau lari gak ya.
Lalu saya ketemu seorang driver. “Pak, kok gak turun?†tanya saya. “Untuk apa mbak. Kalau kita tetap disini, misalnya gedung rubuh, mayat kita pasti ditemukan paling atas.†Hmmm… benar juga, pikir saya. Saya pun balik ke meja, nanti sajalah turun belakangan. Yang saya pikirkan waktu itu, bagaimana nasib mobil Atoz saya di B2, hahahaaa….
Alhasil memang cuma saya dan dua customer service yang gak turun. Kekekeke…. Sepuluh menit kemudian, semua orang kembali ke ruangan, dan mereka memarahi saya. “Kok gak turun? Gila inilah, masa yang dipikirkannya mobilnya, bukan dirinya.â€
Gempa besar berikutnya Desember 2004, pas tsunami. Itu saya ingat betul karena saya lagi tidur-tiduran karena gak enak badan. Kami lari keluar, tapi tidak merasa khawatir sih. Kami pikir itu hanya gempa biasa, karena sepertinya gempanya tidak terlalu kuat. Ternyata malah tsunami. Innalillaahi….
Lalu Maret 2005, gempa lagi saat malam hari. Saat itu saya sudah tidur pulas. Terbangun karena suara berisik. “krrrr………. krrrrrrrrr…†dan “sreeekkkkkk… srekkkkkkkkkk..†Itu suara kipas angin yang bergeser kesana kemari dan bingkai foto yang bergeser-geser di dinding. Itulah gempa terkuat yang saya alami. Saya keluar kamar dan mendapati papi saya sedang menggendong Harvey, cucunya yang baru berumur seminggu. Kami semua berbondong-bondong keluar. Duduk di beton depan rumah, sambil melihat rumah yang bergoyang-goyang. Eh ada yang ketinggalan. Mbak Nur bedinde kami, gak keluar-keluar. Langsung dijemput ke dalam sama sepupu saya. Ternyata dia malah duduk di dapur, karena panik.
Di depan kami, dua perempuan berpakain seragam biru – entah darimana & kok malam-malam berseragam? – berlari-lari, dan akhirnya terjatuh karena pijakan yang oleng. “Duduk. Duduk. Jangan lari.†Begitu kata papi saya. Sepuluh menit kemudian kami masuk ke rumah. Gempa susulan masih terjadi, tapi karena saya ngantuk berat, saya langsung terlelap.
Saat gempa terjadi, kami sekeluarga cemas sekali. Ya ampun, apa Aceh akan tsunami lagi? Ini gempa yang lebih kuat, apa lagi yang akan terjadi. Ternyata gempa itu di Nias. Ratusan rumah hancur. Innalillaahi….
Berikutnya gempa terjadi lagi di beberapa daerah di Indonesia. Di Jogja juga parah. Hmm….. bencana silih berganti menimpa negeri ini. Semogaaaaaa teguran-teguran dari Yang Di Atas ini bisa menyadarkan umat manusia untuk segera bertobat.
Saat di lantai 4 (saya turun dari lantai 6), saya mulai jengkel. Ada yang mendorong-dorong saya dari belakang. Ih, plis deh…. lu mo dorong-dorong kemana? Yang ada gw bakal jatuh menimpa yang di depan. Saya menoleh dan mendapati bosnya teman saya di belakang. Dia memasang ranselnya di depan. Setiap dia melangkah ranselnya itu mendorong saya.
“Mas, jangan dorong-dorong donggg…! Ntar jatuh…†saya ngomel. “Iya jangan dorong-dorong yaa…. nanti kita bisa jatuh semua ke bawah.†Bos lain yang ada di depan saya menyahut. Dia langsung memindahkan ranselnya ke belakang. Eh ternyata sama saja. Ranselnya udah pindah, tapi dia tetap nempel. Grrrrrrrr…… plis deh pak, kalau gw bisa lari ya gw lari. Ini kan emang tersendat. Saya menoleh dan memelototinya. “Mas, jangan dorong-dorong ya..!” **untung kemarin saya lagi gak puasa, jadi boleh deh sedikit emosi :â€>
Dia diam saja tak berkomentar, tapi memang kelihatan sih dia panik dengan gempa ini. Well, semua orang juga takut, tapi harus teratur dong. Saya juga panik takut anak di rumah kenapa-kenapa. Saya telepon ke rumah, katanya air kolam langsung ada ombaknya, dan lampu kristal bergoyang hebat. Langsung saya suruh semua orang tunggu di halaman, bersama si bos kecil, Vaya.
Kembali ke si laki-laki yang dorong-dorong saya itu. Habis itu dia masih berusaha juga potong antrian.. Huh. Gedek deh lihatnya. Sampai di luar saya bilang ke teman saya, “Eh bos lu tuh ye, ngedorong-dorong gw mulu dari tadi. Buat gw emosi aja.†“Hah? Masa.†“Iyee….. yang ada gw hampir jatuh ke depan. Jadi gw omelin deh.â€
Sebenarnya cara kami kemarin itu termasuk tidak tepat. Menurut petunjuk keselamatan gempa di gedung bertingkat, saat gempa terjadi, semua harus berlindung di bawah meja. Ini untuk menghindari apabila gempa yang terjadi sangat kuat dan berlangsung lama. Setelah lima menit, ketika gempa sudah reda, baru kita turun melalu tangga daraurat. Ini waktu yang pas untuk memperhitungkan gempa susulan. Kalau beramai-ramai turun saat gempa, justru berbahaya. Well, salah satu bos kami sudah mempraktekkan itu. Dia berlindung di bawah mejanya selama beberapa saat. Dan ketika gempa mulai reda, dia bisa turun lewat tangga darurat tanpa kena macet atau didorong-dorong kayak saya.

di jember sempat juga kerasa lho mbak kebetulan kantor lantai dua, tak ceritain ke temen yang lantai bawah.. eeh gak percaya dia bilang malah… ada truk besar lewat katnya…
saya krasa gempanya ko kursi sm meja goyang…ya. stlh saya bilang woi gempa… baru temen..tmn sadar kl ada gempa….di jawa barat…
ini Teguran dari Allah kalau manusia banyak salah dan dosa…
surabaya masih aman gempa.
kenceng bgt yah..
Huhu.. kalo udah keadaan tegang & kalap gitu, sifat manusia yg ‘sebenarnya’ jadi keliatan lho 😀
di Malang juga gempa lho
senin kemaren jam 12 malam
gempa yang kemaren juga nyampe jogja lho.. tapi efeknya gak kenceng banget sih…
hm… emang syerem banget kalo gempa… kemaren ajah sayah udah panik, untung cuma di lt. 3.
hahahaha
teriak-teriak gitu..
awas mbak,
semua memang merasakan gempa ya……asal hati juga gak ikut2an kena gempa ..:) semoga para korban diberikan yang terbaik
Jadi teringat waktu masih kecil di Aceh pernah ada gempa besar saat hendak pentas tari TK. Anak2 disuruh tiarap semua sama bu guru. Setelah kelar tyt banyak bangunan rusah dan ada aspal retak. Cm saat itu masih TK jadi blm ngerti bahayanya dan malah merasa excited
Waa… pas gempa kemaren lari2 di tangga darurat
untung cma di lantai 2
awalnya cma jalan sampe tangga darurat, tapi karena yang laen lari ikutan lari juga deh 😀
serem juga, tembok sampe ada yang retak 😆
Kasian yah, banyak korban gempanya….
Huh, cobaan datang silih berganti di negeri ini…..
Kemerin di Jayapura juga gempa mbak, tapi kecil…
Saya aja gak rasa, karena keasikan ngenet, wkwkwkwkw…
yang kali ini gak seserem gempa mei 2006 di jogja dulu…tapi lumayan panik juga…mudah0mudahan gak lagi-lagi dech…btw salam kenal..blognya bagusssss
mbalik kesini lagi.. mo ngecek apa ada gempa lagi gak?? hehhheee
wakss.. gempa, moga diberi ketabahan!
dah lama gak berkunjung ke blog ini, marhaban yaa ramadhan
Yang jadi pertanyaan saya :
1. Pas gempa kok ya org2 sempet2nya update facebook.. 🙁
2. Di kantor kok Zee bisa blogwalking? tak bilangin bos loh.. ato bos blog walking/fb-an/lg posting juga? hehehe..
Wah sudah panik masih didorong-dorong ditangga. jadinya ya tambah panik dan bingung.
itu sebuah pengalaman.
Saya ikut prihati dengan kejadian itu, tapi kemaren pas gempa saya tidak ikut merasakan getarannya, padahal saya cuma di jawa tengah. dan temen2 saya juga tidak, apa memang jawa tengan tidak terasa ya?
Iklan Gratis
Pertama kali tau berita ini waktu online lwat facebook. saya kan jauh di kota seberang. jadi gak terasa….
serem juga yow
Memang gempa bikin panik dan trauma. Namun, di balik semua itu, kita bisa introspeksi bahwa gempa adalah salah satu tanda kebesaran Allah SWT.
pas pulang kerja kaget banget denger jakarta gempa dengan kekuatan yang amat dasyat pas sampe rumah langsung kepikiran gimana nasib para blogger yang ada di jakarta untunglah most of them selamat ^^
ah saya kaget banget mbak, untung saja saya langsung buru-buru keluar rumah.
Saya jadi ingat waktu gempa Jogja, 27 Mei 2006. Tapi waktu itu saya ndak lari keluar. Selain karena malah membahayakan diri sendiri, juga karena saya masih mengantuk berat karena begadang menggarap tugas kuliah.
Akhirnya saya jalan pelan-pelan saja keluar kos sambil melindungi kepala dengan bantal. Takut kalau ada bagian dari bangunan kos yang rontok karena gempa.
waktu kejadian, aku lagi di lt.5 RS PIK. aku bilang ke papaku yg memang gak bisa bangun dari tempat tidur, jangan panik dan takut, jakarta bukan epicentrum (*sok tau aja*) gempa di jakarta biasanya kena imbas dari daerah garut, sukabumi atau sekitarnya. ada oom yg sekamar sama bokap,udah tua bangget, diabetes dan jantungan, udah nyabutin salah satu alat deteksi di badannya. tapi di lengannya masih ada infus dan kabel2/alat2 deteksi lain. dia cuman berdiri bengong dan gak tau mesti gimana nyabut segitu banyaknya. kebetulan anak2nya belum pada besuk. jadi sama kayak aku bilangi ke papaku juga, jakarta kena imbas doang. suster2nya bukannya nengokin atau nenangi pasien, malah ngerubungi ruang perawat dan heboh sendiri. ada lagi pasien thypus dan anemia, infus di lengan kiri dan kanan. kakaknya pegang infus yg kanan, mamanya pegang infus yg kiri. langsung lari lewat tangga. gak tau yah, aku waktu itu sama sekali gak panik dan gak takut, main yakin aja gak kenapa-napa. mungkin lebih condong ke pasrah aja. kalo memang gempa gede di jakarta, gak bakal sempat lari (kalo posisi di lantai 5), justru malah bahaya kalo di tangga. kalo di china, anak2 sejak kecil sudah diajarin kalo ada gempa dan gak sempat lari, langsung ke toilet yg spacenya sempit, reruntuhan langit2 gak akan terlalu parah dibanding di ruangan luas.
sekedar sharing, aku pas gempa itu lagi di proyek perpustakaan ui yang baru. Pertama saat baru gempa saya di direksi kit, saya merasakan getaran yang cukup besar, saya kira itu pengaruh tower crane yang sedang mengangkat beban, tapi semakin lama – semakin membesar getarannya. Saya dan beberapa teman keluar dari kantor dan menuju zona evakuasi. saat keluar ke zona evakuasi gempa masih besar – besarnya. dari tempat evakuasi itu saya melihat dgn mata kepala saya sendiri bangunan perpus yang baru dibangun baru sampai lantai 5 itu, ujungnya seperti digoyang – goyang, subhanallah itu mengerikan, mana teman-teman pelaksana dan ratusan tukang ada diatas, mungkin hanya ada beberapa pekerja yang bisa turun. Mana kolom – kolomnya masih barusan di cor. Kalau saja durasi gempat itu beberapa detik lama entah apa yang terjadi!!!!!!
karena waktu latihan dulu kan pada langsung turun tangga darurat, jadi gak ad yg ngumpet di bawah meja deh
Alhamdullilah ngga pernah ngerasaian gempa 🙂
kalau saya menilainya… sejak tsunami aceh, orang sudah kurang mandiri lagi..
sedikit2 minta bantuan. kalau dulu setau saya gak ada yg minta bantuan.. mengandalkan kerja keras sendiri.
tapi yah.. walau gimanapun.. mereka dalam bencana..
bisa dibilang wajar, bisa dibilang gak..
tergantung orang menilai..
__zee terasa bgt ia kepanikan wkt ituh?..jgn lagi udah cukup tuhaan.__
___selamatberpuasa yang ke 15 daribri___
waktu gempa saya lagi di magelang, nggak terasa karena lg di mobil .
saya gak ngerasain gempanya waktu itu,
moga2 aja sodara kita yang jd korban diberi ketabahn..
Pengalamannya banyak ya Zee..Kayaknya dimana ada Zee, slalu ada gempa… heheee.
Wektu itu aku ada di Mampang Prapatan, di lt. 2. Sempet bingung.. apakah ini gempa ato karena kepalaku yg lg puyeng. Waaa… ternyata gempa.. n kepalaku jadi puyeng. Lariiiii…. sambil pegangan anak tangga, takut jatuh. Setelah sampe luar gedung… kulihat antena gedung sebelah goyang goyang cukup lama.. Ooo gempa beneran neh!!
Banyak juga yang menggunakannya sbg bahan postingan, hehe.
Saya nggak bisa membayangkan kepanikan yang terjadi saat itu…
Memang betul mbak, ada beberapa tip yang bisa dilakukan bila terjadi gempa seperti salah satunya berlindung dibawah meja.Goodlah
meski terjadi di tasik malaya, guncangan gempa itu terasa juga di kendal, mbak zee. saat itu saya lagi tidur, kok seperti ada orang yang menggoyang2 tubuh saya. semoga para korban diberikan kelapangan jalan menuju ke haribaan-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran.
kita yg kena getarannya aja gemetaran ya…apalagi sodara2 kita yg dekat pusat gempa…hiiii ngeri..
weee.., bener2 gempa tempo hari membuat dengkul saya gemetaran jantung saya jg dak dik dug dibuatnya..
Gempa kemarin memang lebih besar dari gempa2 sebelumnya yah. Saya aja yg di lantai 3 pusing apalagi yg lebih tinggi.
ya inilah risiko orang Indonesia yang hidup di atas tanah dalam cincin api (pacific ring of fire) mbak. Eniwei, apa pengalaman segudang ngrasain gempa itu masuk CV ya hahhaha…
Semoga para korban gempa senantiasa tabah menghadapi bencana ini, termasuk bagi yang di tinggalkan oleh keluarganya….
Hahahaha, waktu gempa saya lagi tidur. Kirain lagi di atas ayunan, ternyata Gempa…
wahaha.. cerita yang panjang.. tapi aku malah penasaran baca semuanya.. hahahaha
ya itulah bumi.. bahkan sampe di prediksi klo bakal ada gempa susulan lebih gede.. tapi moga aja malah mengurangi..amiinn..
aga sedikit anteng pas gempa..
bru rebet setelah gempa selse..
*lemot iah*
hihihihihi..
yo`i saya udh liat d tipi.da yg tertimbun ..de el el………
alhamdulillah d bjm ,tdk ngefek…
turut berduka …
sama jeng, kemarin saya juga sempat didorong2 meskipun nggak keras, tapi berasa aja yang di belakang nggak sabaran. lha, seperti nggak lihat aja di depan masih banyak orang. repot juga kalo ketemu orang punya bawaan panik begitu..
yang denger aja ikut was-was apalagi yang ngrasain ya…
untung ambon gak gempa… semoga tetep aman..
saya ndak ngerasain apa-apa mba,. tapi temen2 saya banyak sms dan ngasi tau kalo mereka ngerasain gempa..
woooow mba zee ngrasain gempa juga ya. hihihi, heboh ya kantor kemaren, … tapi alhamdulillah baik2 aja ya n ga ada yang jadi korban. Hiiiii serem ya 🙁
wah ngeri amat yah gempanya saya liat ditv mbak
pas gempa kemarin saya lg di kantor (2 lantai).. proses evakuasi lancar.. yg saya lihat banyak karyawan keluar kantor pada menyelamatkan laptopnya dulu he…he..
untung di daerah saya gempanya kecil hampir ga kerasa…wah gempa kemaren ternyata merenggut korban nyawa. turut berduka cita buat para korban…
iya…itu beritanya sampe masuk tv di melbourne sini…meskipun ga sampe semenit..hehhehe…tp lucunya presenternya bilang yg meninggal 15 orang (wah amit2 jangan sampe), nah itu footage nya pake punya metro tv, tulisanya di situ cuman 1 yg tewas…wah wah wah…
wah, berarti mbak zee udah pengalaman banget ya sama soal gempa-menggempa ini…
saya sih masih awam, jadi kemarin sempat panik juga. gak terpikir sama prosedur standar berlindung di bawah meja… 😀
Semoga ini merupakan sarana buat kita bermuhasabah
Yang lucu yang di BII cs ama customer bingung.. wahahahah… mau udahan or gimana yaaa. Diusir ga mungkin. Kekekekek…
duh ngakak deh
iihh..serem, bs kebayang gimana paniknya elo zee, untung aja gempanya ga terlalu kuat banget ya? 🙂
sampe di hutan nusa tenggara sini juga kerasa banget bu. disini kan tambang, yang tiap hari ada blasting, kita mengiranya blasting seperti biasa. tapi kok lama, liat schedule blasting ternyata udah, eh gempa!!!
musti lebih waspada apalagi gempa sedasyat itu
dulu waktu masih kerja di jakarta gw juga pernah kejebak gempa di lantai 19…muka langsung pucet, panik dan berlarian ke tangga darurat…untungnya waktu itu gempanya cuma sebentar dan gak terlalu gede..
Gak nyangka jg ternyata di jawa gempanya parah buk. Soalnya di Bali gak gt krasa sih.
hmmm…sepertinya mental kita sedang diuji, tatkala kita menghadapi bencana, nyawa siapa yang akan kita selamatkan terlebih dahulu. Diri kita atau orang lain?
Hmm..
Kayaknya perlua ada..
Pengajaran secara nasional..
Tentang apa yg kudu dilakukan saat gempa..
Bagi yg bekerja di gedung2 bertingkat..
Begitu kan ce.. 😀
hmm.. smoga gak ada gempa susulan,
dan smoga bisa mengambil hikmah dari peristiwa itu 🙂
iya sih, saya juga panik langsung turun tangga deh, bener2 penuh dan ngantri.. tapi kalo gak gitu saya takut kalo gedung ini akan roboh 🙁
siapa cepat dia selamat tuh mba. “p
yah kalo udah panik cara tepat gak tepat udah gak kepikir ya… yang penting pengen cepet2 keluar dari gedung.. hehehe
semoga kagak terjadi gempa lagi… kemarin juga terasa di ponorogo
simple nya senantiasa menghindari bangunan yang tinggi2 atau yang berpeluang roboh. syukurlah zee selamat.
Mari kita bantu dengan doa semoga mereka yang kena musibah bisa tegar dan sabar menghadapi musibah ini.
Syukur sekeluarga gak apa2 kan mbak?
sebenere ada trik0trik ketika akan, saat, dan setelah gempa supaya tidak terkena reruntuhan bangunan, nanti saya posting dech 🙂
Yup…yang benar adalah berlindung di bawah meja dulu, sambil lihat situasi. Kalau sedang tidur tutup kepala dengan bantal. Kalau sedang nyetir hentikan mobil matikan mesin buka kaca. Kalau di luar jangan berlindung di pagar, karena pagar ada kemungkinan ambruk. Macem-macem deh hihihi, semua ada di manual pemerintah jepang.
Teman saya yang kerja di KBRI malah menyiapkan helm di samping meja kerjanya 🙂
EM
pas kejadian saya lagi di perjalanan, jadi malah gak ngeh kalo ada gempa,
tau-tau orang2 pada di luar semua,
jalanan macet deh
turut berduka atas terjadinya gempa yang membuat ratusan orang kehilangan tempat tinggal
saya kira pusat gempa di dekat jogja
karena cukup terasa disini
Gak pernah nonton TV, tapi pagi tadi sempat baca headline Jawa Pos yang isinya jumlah korban tewas berjumlah 42. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun…!!
harusnya ga dibawah meja mbak..tapi di sisi meja jadi saat reruntuhan nimpa meja, kita berada di ruang yg disebut segitiga kehidupan.. duh pusing ngejelasinnya… pokoke jangan di bawah meja aja.
permasalahannya, orang-orang pada umumnya baru sadar sedang terjadi gempa setelah digoncang-goncang setelah beberapa detik yah..
wih, tapi gimana rasanya tuh berdesak-desakan di tangga turun dari lt 6 ? 😀
kalau berlindung di bawah meja trus ditimpa reruntuhan gimana dunk?
hmmm, tapi gak pa2 kan mbak ?? iya tuh traffic twitter sama facebook isinya gempa jam segitu
Oooh baru tahu kalau ternyata sebaiknya berlindung dulu 5 menit di kolong meja.
Weleeh ngeri deh kmrn gempanya…
lumayan pusing pula dibuatnya.
Ini kali pertama beneran ngerasain gempa.
Dulu2, pasa ada gempa gue malah gak terasa (dasar kulitnya badak nih)
hahahaha
Anw, turut berduka untuk semua korban, tadi baca udh 44 yg meninggal…
Ah…sedih.
iya…ngeri juga ya kmrin, untung kantorku ngga bertingkat, jadi begitu lari udah sampai teras depan hehehe….smoga kita semua selalu diberi kesalamatan yaa…amiin
iyaa…ngeri juga ya kemren, untung kantorku gak bertingkat, jadi mau lari lgsung sampe depan….mdh2an kita semua selalu diberi keselamatan yaa…amiin
Saya yang di Jogja juga merasakan kepanikan yang sama dengan teman-teman di kantor. Ingat gempat tahun 2006.
Semoga kita diberi yang terbaik ya. Gempa ini kayak sentilan dari Tuhan.
Fiuh…
gempa terdahsyat sayang pernah saya alami tuh gempa 10 April 2005. di Padang.
dahsyat goyangannya.

waktu itu saya lagi latihan basket di GOR. tiba-tiba waktu latihan footwalk, saya oleng.
sekali…
beberapa menit kemudian “gradak-gruduk” lagi. masih santai..
pas yang ketiga kalinya, saya langsung kabur pulang.
kemudian selama seminggu gempa terus.
saia hanya isa berdoa dan turut berbela sungkawa, selama ini masih belum isa berbuat lebih
ternyata veteran gempa
Zee …
senasib zee …
tapi alhamdulillah kami tidak sampai dorong-dorongan …
karena tangganya agak lebar … dan SOP nya … yang mau lambat itu merapat ke pegangan tangga … sehingga yang mau nggeblas bisa lewat …
Yang jelas semoga semua baik-baik aja ya Zee
Salam saya
Gempa membuatku kangen Indonesia!
Kesannya gimana ya, tapi ini beneran, semua karena pengalaman gempa Mei 2006 di Jogja dulu..
Semoga semua selamat, sehat dan tetap bisa melanjutkan puasa ya!
sayah malah ngga ngerasa apa-apa, baru ngeh pas ada sms masuk, mungkin karena lagi dimobil dengan jalan yang berbatu, jadi gempa ngga gempa tetep goyaang
Alhamdulilah gak ada tsunami. Turut berduka cita kepada beberapa korban yang meninggal di berbagai kota.
Alhamdulillah semua baik2 aja.. untung ruangan kerja ada di lt 1, jadi nggak jauh2 sampe keluar gedung. Dinding disini banyak yg retak lho.. kaca juga ada yg pecah..
Alhamdulillah mbak Zee nggak kenapa-napa 😀
Btw…kata-kata Alhamdulillah atau syukur dalam tulisan diatas ada nggak ya??? ah mungkin saya terlewat…
Hanya sekedar mengingatkan mbak selagi dalam ramadhan 😀
emang gempa kemaren serem zee…ga kebayang yang ruangannya di lantai-lantai atas kaya kamu….aku yg di lantai dasar aja berasa banget, file-file di atas lemari di ruanganku pada jatuh…jalan ke luar sambil berusaha memantapkan langkah…goyang banget…
yang kasiyan tapi pleus lucu waktu gempa di rumah semua keluar, pas udah di luar baru nyadar arfa si bontot ketinggalan di lantai atas, lagi pules bobo siang….hehehe…
Hmm.,gempa kmarin buat qta smua jd panik,tetapi alhamdu smua dh brakhr n baik2 aza