Kemarin siang di Hoka Hoka Bento Grandi. Dua orang perempuan mengantri di belakang saya. Menilik dari pakaiannya yang paduan blazer – celana panjang berwarna sama, mereka pastilah orang kantoran. Kantoran resmi, begitu istilah saya. Soalnya kalau dibandingkan dengan gaya saya yang pakai jeans coklat dan blus rajutan, saya memangรย lebih mirip orangรย รย yang mau jalan ke mall daripada pergi ngantor.
Karena antrian masih lama, mau tak mau saya jadi mendengarkan repetan salah satu perempuan itu. Ya mau gimana lagi, saya sendirian, tidak punya kawan mengobrol dan mereka hanya selisih tigapuluh senti saja di belakang saya. Suara repetan berintonasi tinggi รขโฌโ kelihatan tidak peduli bisa terdengar oleh orang lain รขโฌโ mendominasi suara temannya yang pelan.
รขโฌลSaya sebenarnya dari awal sudah bilang sama dia, bla bla bla…รขโฌย kata yang suaranya tinggi. รขโฌลTapi si A itu susah benar ya dikasih tahu.รขโฌย
Ehmm. Saya mendehem sedikit.
รขโฌลYang malasnya,รขโฌย lanjut si perepet itu lagi. รขโฌลPulangnya selalu paling cepat. Padahal yang lain aja belum pada pulang.รขโฌย
Ehmm. Saya mendehem lagi. Jadi penasaran, memangnya secepat apa siรย “A” itu pulang kantor.
รขโฌลJam setengah tujuh coba, udah pulangg….?!” si perepet lagi.
รขโฌลTapi kayaknya gak sampe setengah tujuh juga dia udah pulang, deh.รขโฌย Nah, kali ini temannya menimpali. Manas-manasin nih ceritanya.
Ehmm. Saya mendehem lagi. Duh, butuh lemonade nih.
Mendengar repetan mereka itu, saya mencoba mereka-reka apa yang terjadi. Seorang karyawati (karena tadi namanya saya dengar nama perempuan) di kantor mereka saat ini sedang jadi orang yang tidak disukai. Entah karena kinerja kerjanya kurang bagus, atau karena dia selalu pulang cepat dibanding yang lain (entah apakah dia memang berhak pulang cepat karena memang jamnya pas, atau karena dia mangkir, saya tidak tahu). Tapi kalau melihat dari pakaian kantor resmi yang dipakai kedua perempuan itu, dugaan saya kantor mereka cukup ketat untuk urusan indisipliner. Artinya mereka punya jam kedatangan dan jam pulang yang jelas, jadi karyawan harus masuk kantor tepat waktu dan sudah boleh pulang ketika waktunya tiba, kecuali jika masih ada pekerjaan yang pending. Memang, meskipun jam kantor umumnya adalah 8 to 5, or 9 to 6, tetap saja masih banyak perusahaan yang memeras karyawannya dengan meminta mereka kerja lebih lama dari jam kerja (biarpun karyawan memang mendapat kompensasi lembur).
Tapi ada juga perusahaan yang menerapkan waktu kerja yang lebih menyamankan karyawan, dengan maksud agar karyawan tidak ada alasan terlambat. Kayak di kantor saya, ada 4 paket jam kerja. Jam 7.00-16.00, jam 7.30-16.30, jam 8.00-17.00, 8.30-17.30. Jadi yang tidak bisa datang pagi tidak apa-apa karena masih ada paket terakhir yaitu paket jam 8.30.
รย
Dan ada juga perusahaan (yang bergerak di bidang media atau penerbitan) yang memang jam kerjanya tidak bisa sama dengan perusahaan biasa. Mungkin mereka masuknya jam 10 tapi pulangnya juga jam 8 malam. Fair enough lah…
Saya sedikit tersentil mendengar para perempuan itu merepet. Bukan tersentil karena merasa bersalah, tapi tersentil karena saya kan selalu pulang jam 4 pas. Saya tiba di kantor jam 6.30, dan pulang pas jam 4. Actually masih takjub juga karena sebenarnya dulu saya selalu ambil paket terakhir, yang jam pulangnya jam 5.30 sore. Tapi situasi berubah setelah ada anak, sekarang saya selalu datang pagi dan juga pulang cepat. Well, tidak ada yang bisa bilang bahwa jam kerja saya tidak efektif, karena pada kenyataannya saya tidak pernah ada pending job saat saya meninggalkan kantor. See? Sebenarnya urusan pekerjaan tidak ada hubungannya sama jam datang atau jam pulang. Semua tergantung bagaimana kita mengatur waktu.
Another case. Beberapa hari yang lalu saya dengar kisah ini dari seorang teman. Jadi ceritanya kantor teman saya ini mau meng-hire seorang pegawai baru, perempuan, sebut saja D. Nah karena kebetulan si D ini dulunya kerja di perusahaan B yang big boss-nya berteman dengan big boss teman saya, bos teman saya lalu mencari-cari informasi tentang D pada temannya di perusahaan B.
Well, yang didapat ternyata informasi yang kurang baik. Saya tidak akan membeberkan keburukan kerja si D — yang di-describe detil oleh mantan bosnya รขโฌโ disini, tapi ada yang mengganjal di hati saya mendengar satu pernyataan si bos lamanya itu tentang D.
Katanya :รย รขโฌลUdah gitu tuh orang hobinya pulang cepat, pake alasan anak lagi!รขโฌย
Uhuk uhuk! Kali ini saya tidak mendehem, tapi terbatuk. Tersentil lagi. Yup. Soalnya saya selalu ceklok absen tepat jam 4 sore demi bisa pulang cepat menemui anak di rumah.
รย
Well, saya sedikit kecewa dan tersinggung mendengar pernyataan itu. Dalam pikiran saya, adalah hal yang wajar bila seorang ibu mendahulukan anaknya dari pekerjannya. Seluruh dunia juga tahu kalau perempuan pasti mendahulukan keluarga, sementara laki-laki lebih mengutamakan karirnya. Kalau seorang working mom lebih mendahulukan pekerjaannya daripada anaknya, pasti dia bakal dihajar sama suaminya. รขโฌลHabis ngantor cepat pulang ya, jangan kemana-mana lagi.รขโฌย Noh, begitulah ilustrasi suami yang hobi merepet :D.
Dalam hati saya bersyukur, untuuuung bos gue perempuan juga (dan syukur juga dia bukan tipe tukang repet kayak perempuan di HokBen itu), jadi saya yakin dia tidak mungkin punya pikiran picik tentang saya yang selalu pulang tepat waktu.
Saya sendiri cukup tahu diri untuk tidak cheating pada kantor saya. Kalau memang anak saya sakit dan saya harus tidak masuk kantor dari pagi, maka saya akan ambil cuti. Di kantor kami memang tidak ada namanya รขโฌลizin karena anak sakit.รขโฌย Jadi kami pada working mom di kantor ini, memang harus pintar-pintar menghitung sisa cuti karena waktu cuti kami sangatlah berharga. Cuti kami bukan untuk liburan, cuti kami bukan untuk leha-leha shopping sampai kaki patah, tapi cuti kami adalah tabungan untuk berjaga-jaga bila tiba-tiba anak kami atau anggota keluarga kami sakit. Bila masih ada sisa cuti untuk dipakai berlibur, itu adalah bonus buat kami.
Jadi plis jangan terlalu picik menyudutkan perempuan dengan tuduhan,รขโฌลselalu pakai alasan anak.รขโฌย Saya yakin tidak ada perempuan yang pura-pura dan tega menjadikan anaknya jadi bamper agar bisa cheating pada kantor. Kalau dia harus pulang tepat waktu agar bisa mengurus anaknya, itu memang tugasnya. Kalau dia harus permisi pulang cepat karena anak mendadak sakit, ya memang benar begitu adanya. Kalau dia terpaksa harus cuti karena harus mengantar anaknya masuk sekolah baru, itu juga benar.
Tapi tentu saja setiap ibu bekerja juga punya tanggung jawab pada perusahaan. Selama kita masih menginginkan gaji yang dibayarkan setiap bulan, sudah sewajibnya kita bekerja dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Dosa kalau kerjanya tidak ikhlas. Intinya kalau kerja beres, bos juga gak bakal merepet.
Berbahagialah buat para ibu yang dapat kesempatan bisa bekerja sambil mengurus anaknya. Tidak perlu pusing kayak working mom lainnya yang mungkin kerepotan mengatur waktu.

(Gambar diambil di sini dan sini.)
Well, it is just my thought. Semua sudah punya kodrat masing-masing, jadi sudah sepantasnya sebagai sesama makhluk hidup bisa saling menghargai bagaimana seseorang berusaha menjalankan kodratnya.
Ehmm. Kapan ya saya bisa bekerja sambil mengurus anak?

makasih gan infonya dan semoga bermanfaat
saya juga gak setuju dg pulang malam dari kantor itu lbih baik kerjanya daripada yg tenggo. krn saya juga slalu tenggo wkt mash kerja dulu, tapi kerjaan saya beres.
kalo lembur tapi kerjanya main2 terus kan sebenarnya gak efektif juga.tapi boss kdg2 ngeliat yg lembur ya. huh..sebel deh kalo dah gitu. biarpun blm married, kan lebih enak pulang cepet. gak takut kemalaman dan kesulitan transportasinya.
i love my mom’s
hehehe curahan hati seorang working mom ๐
bekerja sambil ngurus anak?? bisaa… bikin kerjaan ndiri dong hehehehe
mengunjungi bundo nih………
Zee.. lama banget gak update..
gak biasanya neh lo ngambek kayak gini..
semangaat yaa..
salut untuk semua ibu-ibu yang mampu mengimbangi urusan kerjaan dan urusan rumah tangga. terutama hal yang berhubungan dengan anak. memang berat, untuk menjalani kedua2nya, tp ya itulah tuntutan kehidupan.
kalo di tempat saya, anak atau keluarga sakit, bisa ijin. walaupun lagi sibuk banget. lah, cewek haid aja dapat cuti tiap bulannya ๐
*postingan sebelumnya, kok closed comment yah* he2
yg jadi ibu2… semoga anaknya bs nurut,
tetangga sy ko anaknya kena virus game..
alhasil kemren dpt peringatan
klo g berubah mo di out dr sekolahannya.
Dulu bgt pas magang di bumn, suka diomongin ibu2 di ktr gara2 pulang tenggo, katanya “kayak pegawai pabrik aja”. Giliran setelah lulus kerja di perusahaan asing, kebanyakan orang2nya pulang tenggo semua tuh hahah. Yg penting kualitas kerjanya, bukan kuantitas jam kerja kan. Kebanyakan bos di sana juga punya prinsip keluarga no. 1. Justru klo pulang malem terus merugikan perusahaan, kebanyakan uang lembur… jam kerja dipake fesbukan, jam pulang malah dipake kerja heheh.
hahahaa… biasa itu ibu2 kan sirik aja liat yg muda2 cepet pulang.
bener kata donny, klo sama orang bule kerjanya jamnya jelas. mgkn krn pas jam kerja jg diisi dengan etos kerja yg baik, bukan main-2 :D..
aku kerjanya 8 to 5, tp pada kenyataanya selalu pulang di atas jam 7. but i love my job ^_^ pengennya kalo udah nikah, aku kerja freelance aja dari rumah.
ada enaknya dan ga enaknya juga sih klo punya ibu yang bekerja ke kantor setiap hari *dari sudut pandang seorang anak XD*
well zee,aku ju9a termasuk yan9 ontime untuk pulan9,jam.5 ten9 lan9sun9 9o..
bermasalah??nda kok, as lon9 as kita kerja sesuai d9 rule why not..
kan eman9 da jamna pulan9 ๐
suka dan tidak suka memang selalu berdampingan ya.
saya juga sering denger keluhan orang tentang orang yang gak disukai. pake alasan ini dan itu. sama sekali gak terlalu tertarik buat nimbrung dan ikut ngejelek-jelekin… ikut manggut-manggut aja.
*takutdosazee!hhhee…
Jadi ingat dulu gue kerja di perusahaan US keren banget, masuk jam 8-5 (on hand)
kenyataannya ketika jam 6 udh pulang, di cerca abis2an. Rata2 pulangnya jam 7 atau 8 disitu. Haduuuuh….
Kalo udh punya anak, ya pastinya pengen cepet2 maen sama anak lah ๐
semangatin kk Zee buat update :p *halah tuteeeeeh*
susah senangnya jadi working mom ya mbak zee..
Jadi inget ibu saya dulu waktu punya anak pertama yang satu ini huehehe thanks mom telah mendahulukan kepentingan anakmu
hahahaha… saya malah sering pulang kemaleman melebihi jampulang…. wifian gratis….
Untunglah istri saya bekerja dirumah, jadi dapat sambil mengawasi jagoan yang saat ini baru berumur 8 bulan….
kadang saya iri sama sang istri yang lebih banyak waktunya bersama si kecil…sedang saya baru pulang kerja bisa bermain dengan si kecil….
kadang bekerja samnbil ngurus anak agak sullit juga mbak soalnya gak semua orang bisa ๐
Jgnkan ibu2 yg dah punya anak yg disindir2 klo pul cep padahal udah waktunya pulang…
intinya selalu di kantor ada orang yg ga suka liat org lain seneng pul cep…
Hehehe blum di apdettttt…
zeeee…..kangennya dakuuu….on op mulu niih…hahhh…aku baru saja merasakan lagi yang namanya jam kerja diluar batas normal… tapi kan ini ga melulu terjadi…enggrisnya mah just in case gituh…
dan gue paling SEBEL ama orang yang ngomong begitu…”hobi pulang cepet, alesan karna anak” eehhmm…tu orang hidup di dunia apa ya…?? ๐
buat gue malahan kalo ada orang lembur mulu…gue akan bertanya-2…ini anak overload ato produktfitasnya rendah..?? kok masih ada ya pemikiran bahwa pulang cepet itu ga bagus…?? HERAN…!! *emosi jiwa nih zee…* hihihiii…
ihikihikihik, berasa punya teman seperjuangan ๐ Tul mba, untuk aku juga … jatah cuti adalah “kartu sakti” yang ngga boleh sembarang kukeluarkan, jadi kalo ngga mepeeeet banget alesannya jangan coba-coba ambil cuti. Bener-bener dihemat untuk kepentingan anak ๐
hak kerja sambil ngurus anak kayaknya masih sangat mewah bagi banyak perempuan di negara ini.
Berarti dia belum pernah ngerasain bagaimana punya anak itu. Kalau sudah merasa kan tidak akan ngomong seperti itu
wah kata2 yang ada di baris akhirnya menyentuh bnget,,
btw lama nie nugra nggak keblognya mbak zee
bari terakhir itu yg jossss
Selamat pagi guru ^_^…V chayoo
sepakat dengan baberapa baris terakhir yang mbak zee tulis tuh ๐
wah lama gak manjat blog ini ni hehe
have a nice day mbak zee
selamat malam
selalu lengkap srtikelnya
salam hangat selalu
agak repot emang jadi ibu bekerja..apalagi kalau anaknya masih bayi…
tapi kalo bisa atur waktu mungkin oke-oke aja..asal pekerjaannya juga puuya office hour yang normal ๐
Malam Zee… udah bobo yaa.. hehee
Bloghicking malam-malam. Mengunjungi para sahabat, siapa tahu ada suguhan yang hangat.
belom ada yang baru ya!
kabur!
wkekekekek!
sangat menarik
hwaaa….pertanyaannya bagi ndutz:kapan bisa punya anak? ๐
Numpang neduh.. ngilangin ngantuk.. ๐
Nice post… well sayah setuju, jika kita pandai2 mengatur waktu kita akan bisa melaksanakan semua tugas kita dng baek. bagi sayah semua tu penting dan bagoss.. kerja ibadah, merawat dan menjaga seluruh keharmonisan keluarga itu adalah tugas yg mulai alangkah indahnya jika semua di lakukan dng baek seperti mama vaya ini ๐
Nambah lagi.
Tukeran link boleh? kasih nama Triunt aja ๐
Tehsusu udah saya link dari sini.
Yhx ya.. ๐
Kalo cowok yang belum punya anak
kalo pengen cuti mendadak
enaknya pake alasan apa ya
*hihi mikir, cari gara2*.
salam kenal ๐
berarti
hmmm
berarti
hmmmmtakut ah
Berkunjung lagi ..
Makasih …
Alhamdulillah aku punya bos yang super baik (walopun doi bule), ngerti bgt kalo keluarga itu nomor 1. kayak kmrn aku ngajuin cuti krn mau anter alma trial sekolah. Formnya malah dia buang, aku sampe ngotot2an kalo ini cuti tp dia blg anter anak sekolah bukan cuti tp day off (krn dia anggap family matters). Dl pernah jg alma dirawat di RS dan aku gak masuk. begitu balik kantor aku isi form cuti tp tdk pernah ditandatangani olehnya, hehehhe ktnya ngurus anak sakit bukan cuti. Addduuuh bahagia banget pny bos kayak gt. Kalo aku pulang tenggo pun dia gak pernah masalah dan buat dia when it’s time to go home, just go home. Gak usah pamit2 gt. Dan pernah hr sabtu aku mau masuk kntr tapi sama dia dilarang ๐
Wah cha enak bener punya bos kayak begitu. Doi pasti begitu krn dia tahu klo dia kasih kepercayaan pada anak buahnya, mereka jg ga akan menyia2kan kepercayaan itu. Harusnya bos2 yang suka nuduh itu baca komen lu ini Cha, biar ada pencerahan dikit buat mereka.
Met Wiken, kk (cozy)
aku jg ‘working mom’ hiksss…
seringkali pula mengalami dilema ‘hrs bekerja sdg anak demam di rmh’ kl sering2 cuti jg ga cukup jatah cutinya. yah..itu dah jd resiko para ‘working mom’ hy saja kl dianggap mencari-cari alasan ga masuk kerja krn anak, emang sgt menyakitkan seh, biar bagaimanapun naluri ke’ibu’an kita psti akan lbh mengutamakan anak ketimbang karir.
Baru tahu kalau ada jam paket. Tapi itu malah memberikan keleluasaan bagi karyawan yang bangunnya kesiangan. Dan kalo dipikir2 mendingan masuknya lebih cepat juga sih, karena pulangnya juga bisa lebih cepat.
heeeeee, karena eh karena belom ernah bekerja resmi apalgi pake seragam elit ato perfomance ala kantoran
en juga belum merit yang alhamdulillah nya juga belom punya anak
jadi ndak tau rasanya ada di posisi bunda
tapi kalu menerka nerka en mengira ngira si, yaiyalah namanya juga ibu ama bunda pastinya nduluin bebi nya. yang terpenting kan g cheating sama kantor betul kata bunda. ๐
ibu dan anak memang tidak bs dipisahkan ๐
terlebih kdang ada yg berpikir kan bekerja demi keluarga juga, tp keluarga tdk sepenuhnya membutuhkan materi… tp kasih sayang, sekedar bertemu dan menyapa sdh merupakan bagian dr kash sayang ini
Yuk mba, gabung @club ‘momsworkathome’, jam kerja anytime, baju kerja daster jg boleh, wehehe
Ya setuju, klo prinsip saya, waktu saya di beli oleh perusahaan dari jam 9-5, ya sudah..manfaatkan waktu tsb untuk menyelesaikan pekerjaan supaya tidak harus lembur…apalagi tidak ada uang lembur hehhe…
kalau bisa sih nggak usah kerja tapi duit ngalir terus!
jadi bisa kumpul dengan keluarga setiap saat!
wkekekekekeke!
kalow menurutku asal kerjanya efektif n efisien selama di kantor sah2 aja pulang tenggo., lha wong hak kita kok..yang heran sama kebanyakan kantor adalah kok kayaknya seneng liad pegawai lembur, padahal yang lembur itu karna di saat kerjanya dia maen2! udah gitu pake ngisi form lembur lage (ada oknum X deh pokoknya..)karna si X ini emang kos jadi ga ada keluarga…jadinya qta yang tenggo kadang suka terpending jadi lembur…ngeselin banged khan…
home sweet home ya zi ๐
btw, saya bisa ngantor sambil momong anak, masak, nonton tipi dll. wong ‘ngantor’ di rumah hehe..
Kodrat saya pula harus bisa membetahkan diri tinggal di pesantren, hahaha…
yah tentu krna keluarga lebih penting … apapun alsannya atasan pst ngerti lah . toh mereka juga punya anak kan? ๐
Saya setuju sekali sama mba.. Working mom yang pengen buru-buru pulang kantor juga saya sangat setuju sekali. Malah, saya yang notabene lelaki (ya iyalah…) juga kalau udah ngga ada yang penting yang harus dikerjakan di kantor dan memamng udah jam pulang kantor, ya tenggo aja…
Buat apa lama2 dikantor kalau kita bisa menghasilkan output yang sama selama jam kantor, nggak lebih…
Mantap, Mba… saya dukung pemikiran mba..
Saya sangat setuju dengan hal itu. Jangankan perempuan, saya sendiri saja memaksakan diri pulang lebih cepat (jam 19.00) demi menemui anak sebelum tidur. Biasanya saya pulang jam 21.00 dimana mereka sudah tidur. Efeknya luar biasa, mereka memberi surat spesial yang isinya, “Bintan kangen Abi.” Huaaaaaaaa … saya bahagia sekali. Siapa pun dia, laki-laki maupun perempuan, niat bekerja adalah demi keluarga, jadi jangan bandingkan pentingan mana pekerjaan dengan ngurus keluarga. Bullshit kalau ada orang yang lebih mentingin pekerjaan daripada keluarga!
emang itu salah satu politik kantor juga..banyak kok temen yang pulangnya sampai malam tapi gak produktif…yah kalo saya sebagai lelaki kadang ikut2 pulang malam juga biar gak diomongin…tapi kalo udah punya anak, seyogyanya mereka harus maklum.
bekerja sambil ngrawat anak..
di perusahaan ato rumah sendiri kyknya..
hehehe..
gimana kabarnya ce.. ๐
waah enak banget yah kalo ada paket jam kerja gitu, kayanya bisa lebih fleksibel:D
saya sih setuju banget neh…
like it lah pokoknya\. heheh
Sebenarnya dan seharusnya memang begitu mbak. Tak ada curiga untuk working mom yang sering kali harus cepet2 pulang karena anak. Apalagi bila masih balita, situasi emergency bisa datang kapanpun tanpa kenal ampun. So, pilihan apalagi bagi kita kecuali harus mendatanginya?
(perasaan pemilik balita :D)
My hubby sih treats karyawannya secara flexible, asal kerjaan selese, kalau mrk mau pulang lebih awal gga apa. Wkt aku kerja, tetep sih berusaha tenggo, yg penting kerjaan udah beres.
Bener juga ya. Yg penting sih kerja beres. Tp klo di perush yg ketat, ga bisa juga pulang cept biarpun kerja da kagak ada hihi..
iya bener… gak ada hubungannya ama jam kerja, yang penting kerjaannya beres kan.. itu orang sirik aja…
dan kadang emang tergantung culture perusahaan sih. terutama kalo bos nya masih single dan workaholic (yang jadi nya biasanya attitudenya jadi egois), suka gak mau mikirin kalo orang lain tuh punya kehidupan lain selain kerjaan dan kerjaan…
kalo bos nya udah berkeluarga biasa lebih pengertian…
melenceng dikit, tapi kadang kalo di 1 perusahaan itu banyakan yang udah berkeluarga (termasuk bos nya), karyawan yang single suka jadi tumbal. contohnya dulu pas gua masih single di kantor yang lama… suka jadi tumbal disuruh keluar kota. dengan alasan yang lain kan udah berkeluarga… dih apa hubungannya coba… emangnya kalo single gak punya social life apa… ๐
Hahaaahha…. ini kayak gw dululah waktu belom merid, sama aja. Selalu jd tumbal, misalnya ada event sampai malam ya gw jg yg ngurus. Untung lemburnya lancarrr.. ๐
setuju mbak, anak dan keluarga bagi seorang wanita (ibu dan juga istri) seharusnya menjadi prioritas utama.
karena Allah pun memuliakan mereka yang menjaga keluarganya, karena wanita adalah pemimpin keluarga suaminya.
Hemm senangnya vaya punya ibu seperti mbak zee… salam kenal buat vaya dari kami di soroako ๐
Makasih utk supportnya mas, mudah2an kaum wanita bisa tetap mengurus anak dan keluarga tanpa hrs meninggalkan tanggungjawbnya pada perusahaan. ๐
hmm, ternyata gini ya mba dilema seorang working mom.
saya sampe pending rencana nikah, karena bingung antara pengen kerja dan pengen karir.
Saya setuju sama mba, kalo saya jadi mba atau working mom lain juga pasti ga suka dibilang nelantarin kerjaan demi anak.
Saya salut sama mba. Bisa balance 2-2nya ^_^
Memang dilema sih antara memutuskan tetap bekerja atau total mengurus anak. Hmm..
itulah mungkin kenapa para perusahaan sukanya cari karyawan yang masih single ya? temenku sampe akhirnya ganti status CV nya jadi ‘single’ gara2 klo jujur pake status ‘married’ gak ada yang mau nerima dia.
Iya, bener. Temanku jg kemarin begitu, dia ngakunya single padahal ada anak 1. Dilema memang…
Waktu berdehem gitu, mereka berdua denger nggak? ๐ hehehe…
KK saya, seorang Ibu dengan : 1 suami (duh Tuteh) dan 5 anak. Masuk kantor jam 8, pulang jam 5. Istirahat siang jam 12 sampe jam 1 atau jam 1 sampe jam 2 atau jam 2 ampe jam 3 hehehe… tapi semua fine2 aja tuh… memang benar, dari si Ibu atau karyawati-nya aja yang harusnya pandai membagi waktu…
Cumaaaaa… kadang-kadaaaaaaaaang… kita tuh kalo udah dengki ma orang… tuh orang mo pulang tepat waktu or kurang 3 meniiiiit aja… udah deh dicela seolah2 dia nggak masuk kerja tiga tahun dengan gaji tetap hwakakakakaka… ampun deh ๐
Wakakakaa…. tuteh, mereka denger aku berdehem tp mereka ya cuek aja, namanya jg lg emosi kan ceritanya kekekee…
Hmmm tp mungkin jg ya teh, klo udah dengki ya begitu..
Kembali kepribadi masing2 gimana melihatnya. Klo emang udah waktunya pulang, kayanya fair2 aja mu pulang tenggo juga. Toh aturannya gitu, masuk jam berapa pulang jam berapa.
ehhheemm… turut mendehemm..
gara-gara omongan 2 perempuan ampe segitunya Zee..
ampe batuk batuuk… hehe
aniwe.. ada pencerahan yg bagus di atas..
thanks ya Zee,,,
n all about emails
semuanya cukup membuat pikiran plong
heheheee… soalnya ganggu banged. secara ngomongnya deket kuping gue, kenceng pulaa…
**sama-sama..
ada yg curcol hihihihi~
Saya rasa jam kantor memang harus ditepati… saya merasa waktu juga nggak bisa disepelein begitu ajah (itu karena saya nggak suka telat:D)… di kantor yang dulu 15 menit sebelum masuk saya sudah hadir… kadang pulang juga udah kelewat jam 5… biasa bosnya kalau udah mualai waktu pulang ada…. aja urusannya…
hehehee berarti bosnya sama tuh kayak bosnya nia…
bener banget mbak, paling sebel klo ada bos yg pikirannya picik kayak gitu, bosku juga pernah tuch mo cari karyawan baru tp dah wanti2 katanya jgn ce yg udah kawin dan punya anak, nanti sebentar2 ijin yg anaknya sakitlah….suaminya sakitlah…yg ijin datang siang mo bayar ini itulah, ijin pulang cpt ada urusanlah…pokoknya bosku tuch maunya karyawan datang sesuai jam kerja dan pulang hrs malam…tp gak ada lemburan…kalo ada yg datangnya telat lebih dr 8 hari dipotong cuti, kalo cutinya udah habis dipotong gaji, sama juga dikantorku gak ada yg namanya ijin, yg ada cuti atau sakit tp hrs ada surat dokter….
yg bikin sebel, bosku selalu datang pas jam pulang kntor, ujung2nya karyawan yg udah siap mo pulang dipangilin lg diajak meeting dan pd akhirnya harus pulang malam, yg kerja babak belur dr pagi bikin design juga pas bosku datang dimnta lihat hasilnya trs diacak2 lg sm bos ujung2nya dia hrs pulang pagi krn hrs merevisi kerjaan yg diacak2 sm bos tadi.
tapi itu dulu mbak waktu karyawannya masih banyak, krn kelakuan bosku kayak gitu akhirnya satu persatu temen2ku pd resign dan alhasil skrang di ktr tinggal 2 orang termasuk aku hahahah…..lg nunggu pesangon nech mbak hihihhi…
skrang suasana ktrku asyik mbak…datang sering telat, pulang secepatnya soale bos ngga pernah ke kantor, paling lewat telepon aja…di kantor kerjaannya buka internet trs nyambi menjalankan toko online…tp alhamdulillah gaji masih di transfer hihihhi….
btw aku blm sempet update postingan soale blm ada bahan yg harus diposting…
hmm itu tipe bos yg ga mau karyawan senang. orang kayak begitu harusnya didemo dan diadukan ke serikat buruh, tp memang banyak jg yg malas ribut jd memilih resign….
Saya perhatikan di rumah seorang Ibu Rumahtangga ngurusi anaknya (apalagi masih balita) itu saja sudah repot. Apalagi jika disambi kerja kantoran. Tapi memang sekeras itukah untuk membuat dapur tetap ngebul? Atau ada kenikmatan lain dibalik segala kericuhan itu semua? Bu Zee yang bisa jawab ๐
Yah klo udah kerja kantoran mah bukan nyambi kali ya, krn biasanya ada asisten yg membantu selama ibunya di kantor. Tp begitu malam tiba tentu jadi tugas ibunya. Wah kl bicara soal dapur tetap ngebul, back to alasan masing-2 toh.
Untung atasan mbak bisa mengerti ya. Tapi menurut saya, “atasan” mbak yang sebenarnya ya si Vaya. hehe..
ya memang harusnya sih begitu, toh saya kan tdk menyalahi aturan. memang kita di ktr ada paketnya, jd itu memang sdh haknya karyawan kan ๐
Hehehehe bicara soal tenggo (teng-teng-teng langsung GO!) aku sekarang hobi melakukannya.
Aku masuk jam 8.30 dan pulang jam 5 sore. Waktu awal2 kerja sih masih pake enak-nggak enak kan ke bos.. tapi pas udah tau tentang betapa kuatnya buruh di Australia, aku nggak mau tau lagi. Jam 5 tettt langsung pulang.
Pernah aku lagi solving bug di aplikasi, tau2 wekerku bunyi dan aku bilang “It’s 5.. i’m sorry i have to go now!”
Dan bosku cuma bisa bilang “I know.. c u tomorrow” hehehehe..:))
Hhahahaa… wah beneran top dah. Kalo buruh di Indonesia kuat, mungkin tidak akan bos yg semena2 kayak katanya Nia ya. ๐
wah enak banget ya mba.. ada paketan gitu hihi.. kalo saya milih yang paling pagi aja deh, pulang lebih awal.. ๐
tapi kalo di kantor saya lebih enak lagi lho.. jam masuk bisa fleksibel, yg penting lapor sama atasan kalo telat ada urusan apa gitu hihi.. pulangnya ya tetep jam 5.. (gak bisa lebih awal kecuali ada urusan)
lain kantor lain aturan ya Du. ya gpp kan yg penting kerjaan beres toh…… ๐
sebentar lagi saya juga bakaln punya anak, semoga saja nanti istri bisa ngatur waktu dan tidak mendapat cap negatif dikantornya ๐
**tuduhlah aku sepuas hatimu.. numpang dangdutan dulu ๐
aku baru tau lho zee bhw klo di jkt jam kerja bisa diatur spt itu, baguslah! jadi kita bisa atur waktu yang efektif buat kita.
kayanya perlu nyoba deh zee tukeran ma aku, wkkwkkakk bisa sama-sama bunuh diri kita ๐ **disini tll santai buat zee
hahaaha masa sih? hmm kalo begitu berarti kita tak usah tukaran deh ๐
kalo banyak karyawan yang statusnya working mom agak repot juga ya, tentu pikiran mereka akan terbagi antara pekerjaan dan anak di rumah.
Pengaruh gak mbak sama efisiensi kerja?
setuju banget zy, anak itu lebih penting daripada kerjaan. walau banyak ibu yg perlu bekerja utk membantu suami menafkahi keluarga. (contohnya seperti saya ini). kalo ada keadaan darurat, anak sakit, mertua sakit, dll… tinggal manfaatkan waktu cuti kan.
soal efektif tidaknya kerjaan gak berhubungan langsung sama jam datang dan jam pulang… yah gimana yah..kalo gak nerapin jam datang dan jam pulang, ntar semua orang bisa seenaknya jam berapa mau datang. kayaknya kurang bagus juga kali yah?
hehehe… maksudku tuh bukan berarti orang jadi suka2nya aja datang dan pulang, mana ada kantor yg begitu, bisa dipecat secepatnya hihihi…
tp mksdnya biarpun dia datangnya pagi tp pulangnya paling lama dari yang lain, bukan berarti kinerja kerjanya lbh baik dari mereka yang pulang tepat waktu. mgkn saja dia yg tdk bisa memaksimalkan jam kerjanya dengan baik.
saya punya pengalaman pribadi dengan teman sekantor yang suka berdalih karena anak… yang menyebalkan adalah, yang bersangkutan suka datang terlambat dan suka istirahat makan siang lebih lama (dua jam) karena pulang dulu ke rumah. kalau dia bisa profesional dengan menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya sih gak masalah. tapi akibatnya adalah pekerjaan yang lain juga ikut terhambat. kalau pulang tepat pada waktunya sih saya pikir tidak masalah. yang jadi masalah kalau itu dijadikan alasan dan pemakluman atas kinerjanya yang kedodoran…
dulu ada orang kayak gitu di kantor di Medan. wkt itu saya blak2an menyelak dia, dan dia dgn entengnya bilang : “nanti kalau kau sudah punya anak, kayak ginilah kau nanti,” & saya jawab, “not in this world. ga ada ceritanya aku punya anak trs mengabaikan tanggung jawab sbg karyawan.” utk orang2 spt itu shrsnya di-sp sama atasan biar tdk jd contoh buruk buat yg lain. klo dibiarin ya tambah jadi. makanya sekarang ketika saya punya anak, tetap anak nomor satu tp tanggung jawab pada perusahaan dijaga :).
Justru orang2 yang kerjanya sering banget melebihi waktu yang sudah tertera di kontrak patut dipertanyakan ‘time management’ kerjanya …. Bukan berarti yang pulang TENGGO itu kerjanya malas2an … yaa harus dilihatlah work quality nya. Eh, tp ada loh temen aku yang bilang gini: “Jangan bikin kesalahan 2x, dateng udah telat, jangan sampe pulang juga telat …. hihiiih
hehehe setuju fit… belum tentu yg lebih lama di kantor kerjanya lbh high quality dari yg tenggo. Tp klo datang telat, pulang jangan telat? Gw ga ikutan yaa hehee..
HHmmmm …
Saya bisa merasakannya …
However …
saya mencoba berkomentar dari sudut yang sedikit lain …
Bagi saya mungkin lebih penting …
Bagaimana dia memanfaatkan yang 8 jam itu … efektifkah …
atau jangan – jangan dia buang waktu yang bukan urusan kerjaan … atau makan siang menghabiskan waktu selama 2.5 jam …??
So … akibatnya dia jadi pulang malam dsb-dsb
Sementara yang bekerja efektif … pulang cepet … malah dikomentari …
So bagi saya (sekali lagi)
Yang terpenting adalah bagaimana mereka memanfaatkan jam kerjanya itu dengan efektif dan efisien…
Salam saya
Ya, bener. Itu td saya bilang di atas, bukan masalah datang jam berapa pulang jam berapa, tp bagaimana kita mengatur waktu dengan baik. ๐
Hmm… karyawan dipekerjakan untuk bekerja memang, dan ada jam kerja tertentu, nah klo pulangnya pas-pas an gtu kan ga ada yg bisa dipersalahkan…
*ada satu prinsip yg saya pegang selama kerja, bekerja itu mengutamakan attitude kita terhadap kerjaan, iya, attitude… hehehe