Sore tadi, dalam perjalanan pulang ke rumah, saya melihat seorang pemuda duduk di trotoar sambil mengurut pergelangan kakinya. Di sampingnya ada motor tercagak, dan juga seorang polisi yang berdiri, terlihat mengawasi pemuda itu.
Dalam pikiran saya, hmm barangkali si Mas ini terjatuh dari motor saat tadi diberhentikan polisi. Bukan pemandangan yang aneh memang kalau banyak pengendara motor berusaha menghindar saat bertemu dengan polisi di sebuah operasi lalu lintas. Ini adalah sore yang sama dengan beberapa kali sore yang lalu, polisi-polisi melakukan semacam pemeriksaan surat-surat kendaraan roda dua di beberapa ruas jalan. Salah satunya di Jl. Pemuda arah Pulogadung. Dan karena ruas jalan ini cukup lebar untuk disalip-salipin sepeda motor, polisi pun berjaga di dua sisi jalan, agar motor-motor — yang mungkin mencurigakan – tidak bisa meloloskan diri. Alhasil ya begitulah, barangkali saat melihat pak polisi dari jauh, jantung jadi berdebar-debar, adrenalin pun meningkat, darah pembalap mengalir kencang sehingga otak pun berpikir cepat mencari celah untuk meloloskan diri, namun tak berhasil sehingga akhirnya si pembalap pun terjatuh dari kendaraan. Apes.
Mungkin saja si pengendara memang tidak bawa surat-surat, tapi mungkin saja surat-suratnya lengkap, tapi dia memilih untuk menghindar. Kenapa demikian? Setiap orang punya alasan sendiri.
Tapi kalau saya pribadi, sejujurnya saya katakan bahwa saya kurang nyaman bila harus berurusan dengan polisi atau kalau boleh lebih luas lagi, dengan aparat. Kalau boleh sih jangan sampai deh berurusan dengan mereka. Mungkin karena sejak dulu hampir selalu punya pengalaman kurang enak dengan polisi atau aparat sehingga aura yang selalu tertangkap dari mereka adalah rasa tidak nyaman. Waktu di Medan beberapa kali saya hampir kena tilang polisi hanya karena saya tidak mau minta maaf! Saya bilang hampir, karena biasanya memang tidak jadi.
Contoh pertama nih ya. Waktu masih kuliah, saya pernah hampir ditilang polisi karena berhenti cukup lama di depan rambu S dengan tanda silang, alias Dilarang Berhenti. Saat itu saya berhenti cukup lama karena menjemput teman saya yang stay di ruko pinggir jalan itu. Seorang polisi pas lewat dan langsung meminta SIM & STNK dari jendela. Saya berikan saja tanpa bicara apa-apa. Teman sayalah yang kemudian buru-buru turun dari mobil dan menyusul pak polisi untuk minta maaf, sekaligus meminta SIM dan STNK saya kembali. Saat kembali ke mobil dengan surat-surat di tangannya (katanya dia sudah damai dengan polisi), teman saya bilang polisinya sempat merepet, katanya dia minta si pengemudi yang minta maaf. Saya menggeleng, untuk apa minta maaf. Tilang saja kalau memang harus ditilang.
Kejadian lainnya saat saya sedang mengemudi berdua mami saya, dan kami juga diberhentikan polisi entah karena salah apa (yang jelas bukan karena menerobos lampu merah karena waktu itu kami berbelok ke kiri, dan itu boleh langsung). Polisi itu mengambil surat-surat lalu berjalan ke depan sana, berhenti sambil membaca-baca surat di tangannya. Mami saya yang baik hati langsung turun dan menyusul si polisi untuk minta maaf. Seharusnya memang saya yang turun untuk mewakili mami saya dong ya, secara itu surat-surat atas nama saya, tapi rasa gengsi dan keras kepala memaksa saya untuk stay di mobil. Saya tetap tidak mau turun. Silahkan saja ditilang kalau memang saya salah, kenapa mesti negosiasi? Dari mobil saya dengar si polisi merepet lagi, dia bilang saya sombong kenapa tidak mau turun minta maaf. Halah. Bacrit! Tilang sajalah! Dan tidak jadi lagi ditilang karena mami saya sudah berdamai dengan pak polisi.
Peristiwa lain yang cukup memalukan adalah ketika saya dan teman saya “ditilang†polisi di simpang Glugur – Medan gara-gara kami berdua menertawakan mereka. Ya sebenarnya gak ada maksud menertawakan, tapi ini gara-gara pak polisinya juga. Waktu itu kami berdua mau ke kampus. Si cowok teman kuliah saya itu memang suka nebeng karena rumahnya dekat. Saat berhenti di depan lampu merah itulah kejadiannya. Tiba-tiba teman saya – yang memang usil – senyum-senyum sendiri sambil memberi kode agar saya melihat dua pak polisi yang sedang berdiri di samping traffic light. Dan memerahlah muka saya. Dua polisi yang masih muda itu sedang bergandengan tangan, sambil digoyang-goyang pula tangannya. Aihmak… teman saya buru-buru mengingatkan, “Jangan ketawa, Sy. Jangan ketawa!â€
Tapi apa daya, si polisi sudah telanjur melihat saya tertawa diam-diam. Datanglah dia ke samping saya, menanyakan surat-surat. Dan saya melawan pula, saya bilang, “Loh, saya salah apa, Pak?†yang ternyata bikin doi makin murka. Katanya, “Pentil roda gak ada pun bisa kamu saya tilang!†Okelah, Pak. Aturlah. Langsung saya keluarkan surat-surat dari dompet sambil ngedumel sama teman saya itu. Saya bilang sama teman saya, “Ini gara-gara kau ya, bikin aku ketawain mereka.†“Kan dah kubilang jangan ketawa,†“Mana bisaaaa..†Maka turunlah teman saya itu. Dan kami berdua masing-masing koyak lima ribu untuk mendapatkan kembali surat-surat itu. Lengkaplah hari itu kami gak jajan apa-apa.
Sebenarnya ada banyak pegalaman dengan polisi yang kurang meyenangkan, dan gak akan kelar-kelar kalau diceritakan. Tapi itu dengan polisi Medan, yang mukanya sama sangarnya dengan muka awak. Sama-sama muka perang. Parbada.
Pengalaman pertama ditangkap polisi Jakarta adalah saat bersama suami lewat Menteng. Waktu itu kami ragu apakah ini boleh belok kiri langsung atau tidak, dan ketika hubby belok, sebuah mobil patroli sudah nguing-nguing di belakang. Dan hubby berhasil lolos setelah menunjukkan kartu pers. *itu memang kartu ajaib…beneran.

Pengalaman kedua ditilang adalah saat memutar di bundaran HI. “Selamat siang, Bu… Ibu mau ke kanan, harusnya dari jauh sudah ambil kanan Bu. Tidak boleh dari kiri,†kata polisinya. Tapi pak polisi Jakarta ini baik dan ramah, mungkin karena orang Jawa ya jadi negurnya enak, gak kayak polisi Medan. Jadilah saya pun pasang muka manis juga dan itulah pertama kalinya saya mau minta maaf pada polisi atas kesalahan saya. Ternyata bisa juga.
Sebenarnya polisi itu kan pelindung masyarakat ya. Seharusnya memang tidak perlu ditakuti, karena kalau masyarakat takut dan tidak punya trust pada polisi, mau minta tolong ke siapa lagi?
But despite all. Ketahuilah dua hal ini. Satu, bahwa meskipun saya hampir selalu punya pengalaman tidak enak dengan polisi, tapi saya sangat menghormati dan menghargai profesi polisi. Siapa sekarang yang masih mau memberi teguran ramah pada pak polisi yang bertugas mengatur lalu lintas? Pernahkah kita merasakan empati saat melihat polisi berpanas-panasan atau berhujan-hujanan? Bertahun-tahun lalu saat saya masih di Medan, saya bertemu dengan seorang pak polisi yang selalu bertugas mengatur lalu lintas, sejak saya SMP! Saat saya smp dan menyetir ke sekolah, saya selalu papasan dengan si bapak di simpang Jl. Krakatau Bilal, dan ketika saya kuliah saya bertemu lagi dengannya di depan Kantor Walikota. Dan pak polisi itu juga mengenali saya, saya bisa melihat dari matanya. Ah, sedih juga sih lihatnya, kasihan si bapak sudah menua tapi masih saja mengatur lalu lintas. Mudah-mudah Tuhan selalu melindunginya saat bertugas.
Hal kedua adalah, bahwa cita-cita saya saat saya kecil sampai saya duduk di bangku SMA hanya satu dan tidak pernah berubah. Saya ingin jadi POLWAN. Waktu kecil saya suka melihat polwan, gagah gitu. Semakin besar saya tertarik karena saya ingin jadi pemberantas kejahatan. Duh, mulia sekali ya, hiks..
Sayang semuanya terkendala satu hal. Saya kurang tinggi. Ya sudah, alih cita-citalah, cari yang tidak butuh syarat fisik hehe… dan jadilah seperti sekarang ini, jadi pegawai saja.
Jadi… siapa di sini yang takut pada polisi? 🙂

kebetulan saya pernah dekat dengan polisi, pernah ngajar yoga selama hampir setahun di bandung sini. semuanya ramah2 dan tertib, juga disiplin tinggi 😀
Kalo saya ditilang polisi udah berkali-kali, mulai dari nerobos lampu merah, plat tidak resmi, tidak menyalakan lampu sign,…
Oh ya, hampir semua polisi kok takut ya ama wartawan….
takut kalo ditilang … tp kalo polisi norman sih asik…
Hmm… tulisan penuh hikmah mbak… aku juga gak pernah takut sama polisi (asal bener lho ya), aku juga punya cerita jaman SMA dikala orang-orang seperti menghindari polisi, aku malah nyamperin mereka, minta tolong sesuatu, dan… Voila, saya malah tertolong! ^^ kapan-kapan ditulis ah..
hehehehhe.. ketawa ngakak pas baca bagian polisi pegangan tangan dan mbak pernah di tilang gara-gara itu. sama kek temen nya kakak ku yang ditilang gara-gara nyebrang di jalan tol. dia kejar-kejar an sama pak polisi di jalan tol.
hehehehe.
dan, pas baca bagian Pernahkah kita merasakan empati saat melihat polisi berpanas-panasan atau berhujan-hujanan?
entah kenapa, jadi inget pak polisi di depan SMA ku. dan yah… memang sedikit menyedihkan. penegn rasanya yang mengatur lalu lintas itu yang masih muda dan seger-seger
(hloh?!
Ternyata banyak yang takut pada polisi, kejadian anak seorang teman yang nabrak trotoar karena melihat ada razia di depan nya, mendadak berhenti dan belok. Kontan menabrak trotoar…
Akibatnya kaki keseleo, biru dan bengkak di bagian mata ….Alhamdulillah masih sebatas itu…
aa.. saatnya polisi dihormati kewibawaannya.. stop bribing!!..
Polisi yang memberikan solusi supaya menjadi lebih baik itu yang akan selalu saya hormati, bukan polisi yang mencari kesempatan dalam kesempitan.. 😀
mungkin karena orang Jawa ya jadi negurnya enak, gak kayak polisi Medan<—-*ngikik* 😀
saya sih ngga takut polisi
kalo bener knp hrs takut kan 😀
namanya juga polisi di negara miskin (tapi sok kaya)…
pungli… oh.. pungli… inilah Indonesia Raya-ku tercinta…
sebenernya saya juga males berurusan dengan polisi. pernah suatu kali saya di lampung naik motor dari PT Sugar Group Company menuju ke arah way jepara. jalanan sangat mulus dan sepi, tiba-tiba di tengah jalan ada razia. saya cukup pede dong berhenti karena saya merasa semuanya komplit. SIM dan STNK ada, helm standard full face, spion komplit, lampu normal, semuanya normal. begitu polisi menanyakan SIM dan STNK tentu saya kasih.. kemudian polisi tersebut menanyakan KTP yang sesuai dengan nama di STNK. kebetulan STNK atas nama om saya karena saya pinjam motor om saya. tentu saja nggak saya bawa dong, buat apa bawa2 KTP orang. lha pengalaman 5 tahun di jawa saja kalo ada razia nggak pernah ditanyai KTP pemilik motor. ini aneh2 saja.
kemudian si polisi polisi tersebut menawarkan ingin ditilang atau bayar saja 50.000. lah saya ngotot dong karena nggak ada aturan di undang-undang yang mengharuskan membawa KTP yang sesuai STNK. lama berdebat akhirnya saya minta tilang saja tapi saya tidak menyetujui untuk menandatangani surat tilang. kalo saya tanda tangani berarti saya mengaku salah. saat sidang hakim tinggal mengetok palu. kalo tidak ditanda tangani berarti itu polisi nantinya akan dipanggil juga ke pengadilan sebagai saksi dan saya bisa berdebat dengan dia di pengadilan. karena terpojok itu polisi akhirnya tidak jadi menilang saya dan dengan sewot memberikan SIM dan STNK.
heran ya, polisi yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat malah berusaha memeras masyarakat.
tidak lama setelah saya kembali ke jogja saya mendapat kabar dari orang tua saya kalo kantor polisi yang dekat dengan tempat saya akan ditilang itu dibakar masa karena masyarakat sudah geram dengan tingkah laku polisi yang selalu memeras masyarakat meskipun surat-surat kendaraan sudah komplit. alhamdulillah..
Hehehehe secara gw mah Mba dah ikut kursus nyetir mobil puluhan kali, diajar ma Nyokap & driver kantor, tapi ga pernah lancar bawa mobil, so bisa dikatakan gw cuma beberapa kali doang bawa mobil sendiri. Dan alhamdulillah ketika bawa mobil dalam itungan jari ituh, or nebeng ke orang, gw kaga pernah ngerasain yang judulnya ditilang.
Kalo si Abang beberapa kali kena tuh. Waktu jemput temen di airport, nyimpen mobil asal2an bukan di tempat khusus letak kereta, eh 30 RM melayang dah. Nasiiiiib 🙁
Salam kenal mbak. Namun memang impresi tentang polisi nampaknya seperti sosok yang kurang friendly nampaknya bukan saja hanya ada di Indonesia saja. Dinegara lainpun saya juga melihat bahwa yang namanya polisi itu lekat dengan yang namanya kesan angker. Mungkin memang udah kodaratnya karena sebagai penegak hukum jadi selalu nampaknya seperti tidak ramah walaupun tidak semuanya seperti itu. Sekalian salam kenal mbak. BTW what a pretty blog themes 🙂
iihh ceyeemm ahhh….. :D:D
abis, pak polisi sekarang udah kayak bajak darat (bukan bajak laut).. :D:D
Seharusnya kita ga boleh takut sama polisi, justru seharusnya polisi yang harus mengayomi kita, kan polisi itu pelayan masyarakat…hehehe
Kadang sebel juga liat polisi yg suka nyari2 kesempatan pungli….saya pernah punya pengalaman dgn polisi baca disini http://rieztokho.wordpress.com/2011/03/06/3x-sial/
gue juga males zee…jd kalo distop…apalagi kalo gue salah, gue selalu bilang duluan…”ditilang aja pak, saya lagi buru2″ tapi anehnya biasanya malah gajadi ditilang tuh…
gue sih mikirnya gpp ditilang, ada om aku ini di polda,hehehee…pesennya dia, kalo ditilang catet aja namanya polisi itu dan dari ktr polisi mana…hehehee…makanya kadang polisi2 itu nanya…kamu anak siapa?hahahaa…udah bbrp kali pulak gue ditanya begitu… 😀
Ga takuut ahh..
soalnya surat2 lengkap deh..
yang ada polisi pernah aku omelin,gara2 motorku di stop kemaren tuh,sebel aja..pake nanya surat2 segala,goda2 segala hmm..macam2 ya..
*aku tuh ga mungkin jalan pak polisi kalo ga da surat2,malu donk ahh ..iih genit banget sih..!!* aku ngomel2 aja pak polisi nya bengong..iseng lagi nyetopin motorku..
takut???
cuma jiper aja kalau dah jalan lupa bawa sim dan ngga ada uang pula…
kalau aku dijakarta, secara KTP ku KTP palembang, kalau ditilang karena salah ngambil jalur .. yah alesan aja, maaf pak .. saya belum tau betul jalan2 dijakarta sini 😛 ..
btw pakabar jeng?? wah dah lama ga mampir kesini. vaya pasti udah gede yah skrg 🙂 nanti mampir deh ke blognya dia.
ga takut juga sih,,
cuma malesh berurusan kalo memang ga perlu 😉
sebenernya sih nggak takut Zee..
cuman kalo sekarang rada takut.. maklum gak punya SIM.. hihi
Kalau saya sih tak takut polisi…
Takut kalo di pistol doank… Khan bisa mati awak… 😀
Yah, meskipun pernah mengalami hal yang tak menyenangkan dengan polisi, atau meskipun banyak cerita miring tentang mereka, toh tetap saya juga sering mendengar kisah-kisah kepahlwanan mereka. Entah dimana, saya pernah membaca kisah seorang ibu beranak satu yang mobilnya mogok di jalanan surabaya yang waktu itu hujan dan banjir, nah si Pak Polisi inilah yang mendorong mobil si Ibu itu hingga bisa minggir dan tidak mengganggu mobil2 lain… 🙂
Dan saya sendiri, sering nanya alamat, nanya jalan sama Pak Polisi… 😀
Kebayang gak kalau saya nanya gini: “Pak Jalan ke Monas lewat mana Pak ya kalao jalan kaki?” 😀
Ah,
Aku suka baca komen ini. Akhirnya ada cerita positif juga, jadi senang aku bacanya.. 🙂
yang kasihan sopir angkot/bus, aku pernah lihat di terminal blok M masa kena tilang…gara2nya dia berhenti bukan di jalur kedatangan…padahal dia berhenti karena mobil didepannya ngga jalan. Atau kena tilang karena mengangkut penumpang di pintu jalur, padahal bukan salah sopirnya loch…penumpangnya sendiri yang naik, karena kalo naik dr dalam ngga kebagian duduk.
Ya itulah, pak sopir memang harusnya jgn ambil penumpang sembarangan, karena kan dia yg ditilang tar, penumpangnya enggak. Makanya itu di Jakarta ini kan ada tuh kemarin di mana gitu, ada besi2 yg dilumurin oli, agar para penumpang gak nunggu bus di situ…
Kalau saya sih bukannya takut, sebab surat2 lengkap dan tak ada yang salah pada kendaraan. Hanya saja berurusan dengan polisi bisa memperlambat waktu perjalanan.
hmm…
kadang2 polisi memang suka cari2 kesalahan kita, mbak…
pdhl ya kita jg gak sengaja melanggar aturannya…hehehe
mungkin ini yg menyebabkan para polisis ditakuti sekaligus dibenci oleh masyarakat ya… 😛
kalau menurut saya sih mbak, mereka bukan takut karena polisinya, tapi karena takut yang lain, hehehe
*curhat dan pengakuan sih sebenernya 😳
Jika membaca cerita2 diatas, saya paham mengapa ada yang tidak suka dengan profesi polisi, Mbak…
kalo saya sih biasa aja, lagian sering ketemu polisi yang mengurus kecelakaan lalu lintas di UGD saya 🙂
Saya punya pengalaman terakhir dengan polisi udh agak lama sekitar beberapa tahun yg lalu….ceritanya lagi jalan2 dengan keluarga…tiba2 di depan jalan ada busway dan jalur kanannya ke arah naik tol…padahal saya mau terus….berhenti sejenak…lihat garis2 jalan ternyata masih putus2….langsung aja ambil jalur kiri biar bisa terus….di kejauhan seorang polisi melambaikan tangan agar saya maju ke arah beliau.
Sambil mengucapkan salam, dia meminta SIM dan STNK, tapi sebelum saya berikan saya tanya…salah saya apa pak? bolak balik minta surat2…saya pun bolak balik tanya salahnya apa…akhirnya dia bilang kalau saya tidak boleh ambil lajur kiri karena garisnya tidak putus2…langsung aja saya bilang…mohon maaf pak sebelum saya putuskan ambil lajur kiri saya lihat garis masih putus2…pak polisi marah2…akhirnya menyuruh saya pergi tanpa ditilang deh….hehehehe…kuncinya jangan pernah kasih surat2 sebelum tahu salahnya….hehehehe
Wah.
Iya juga ya. Besok2 saya akan coba begitu. Kalau gak dikasih tahu salahnya apa, saya gak akan kasih surat-surat…
wah, kapok ketemu polisi
lebih baik menghindar, biasanya kitanya sudah benar (surat lengkap, pakai helm dan motor ngak ada yang salah) eh polisi nya malah nyari-nyari kesalahan kita
Ya ampun mbak,,asli ngakak baca ini..
aduhh, jadi ngerasa bersalah mbakkk
apalagi pas baca kl kartu pers bener2 ampuh bin ajaib
aku juga pernah ngalamin itu, waktu liputan pertama kali
masih belum paham jalan,eh dicegat deh sama pak polisi gara2 celingukan…
akhirnya ditanya ; mau kemana mbak? saya jawab : mau liputan ke pemkab, belok mana yah pak? hihihihi
waktu itu di kelihatan melirik ke kantong saya dan secara tdk sengaja kartu pers saya nongol gitu..
eh, dia langsung mendadak ramah gitu mbak..
sampai sekarang saya bisa dapet akses2 yg mudah gara2 kartu ini,,apalagi kl urusannya sama aparat yang rumit.. *ini sebenarnya boleh gak sih mbak?hihihi*
Wkwkwwk…
Ya kalo kata polisi sih, kita kan senasib pak… Gitu. Jd yg pake kartu pers boleh lewat.
Ga jelas maksudnya senasib itu apa. Apakah menyindir para wartawan bodrex yg suka minta uang or memeras, or gimana….
Emang kenapa sama polisi mendan mbak zee ? 😀
Saya juga punya pengalaman ditilang Pak Polisi, dua kali harus kehilangan uang 20.000. Bete juga sih, karena uang itu pasti masuk ke kantong pribadi. Tapi daripada ngurus repot-repot, mending bayar aja terus langsung cabut deh.
Pelajaran dari bapak driver di kantor adalah jangan sekali-kali melawan polisi agar urusan bisa segera cepat diselesaikan.
Kalau begitu ada satu lagi tambahan dalam daftar saya tentang bagaimana menyegerakan berurusan dengan polisi di jalan: pers. Hoho. Di atas “pers” sudah ada “pegawai BPK”. 😀
Hahah.. Iya, kalau melawan, siap-siap makin ditekan.
Saya jarang berurusan dengan polisi, kecuali minta surat kelakuan baik, minta tolong diseberangkan jalan …hehehe. Saya mengajarkan pada anak-anak tertib lalu lintas, betapapun saya menghargai polisi. Di panas terik dan hujan, mengurus lalu lintas macet, kecelakaan dll. Memang ada yang nyebelin, tapi mungkin hanya segelintir….
Dan betapa senengnya pak/bu polisi, kalau kita melewati mereka dan kasih daag dengan senyum manis….
Ada polisi di persimpangan Slipi yang jarang kasih tilang (cerita adik saya), dia rajin mengatur lalu lintas dengan tetap senyum..katanya kalau pas Puasa atau Lebaran, banyak yang memberikan makanan serta bonus, dll pada pak polisi itu….. berterima kasih atas jasanya.
aku nggak takut…
*bayangin kak Zizy jadi polwan* 😛
hahahaah ..klo aku palign rajin minta maaf sama polisi 😀 daripada negosiasi mending tilang
nah klo aku minta maaf ya minta dimaafin aja ga pake salam tempel. seringan sukses tapi ada juga yang gagal.
sempat ngerasain 2x ditilang, kali kedua malah bikin ilang sim-ku 🙁 ditilang di perempatan cempaka mas, abis itu ilang suratnya, jadi lah ga tau kemana nebus sim nya, udah di cari ke jaktim,jakut, jakpus ga ada semua, ga mungkin nyasar ke jaksel dan jakbar dong 😛
aku paling males lah urusan sm aparat itu, saking antipatinya, rasa2 sial aja klo jumpa mereka hahaha
ehm…setuju dengan kata Om ya mba…
mungkin bukan takut ya mbaaa…
Tapi males aja gituh…segan lah…
Pernah beberapa kali hampir kena tilang…
Tapi aku suka nge bluff ajah…
Langsung kasih SIM nya dan bilang…
Ntar biar Om aku aja yang ambil nya…
Bapak dari polsek mana nih??
Namanya siapa??
hihihi…
padahal mah boong gak punya om:)
saya jarang sih dtilang mb, pernah pas msh mahasiswa dl ndak ada duit sama sekali d dompet tinggal 5rban kl ga salah, eh kena tilang dh gara2 ga tau ga boleh belok kiri lewat jalan itu..
pak polisinya minta 15rb sebagai denda tapi saya kasih liat dompet saya yang dah tongpes..cm buat makan sekali aja..hihi…akhirnya kasihanlah pak polisi dan saya dilepaskan cuma2..
ah baik jg ya bapak polisi
Aduh saya jadi pengen ikut cerita tentang pengalaman dengan polisi. Beberapa kali saya mengalami kejadian tidak mengenakkan. Sebagian besar dengan polisi yang masih muda, entahlah mungkin emosi mereka masih labil.
Tapi sama seperti anda, saya juga sangat menghormati polisi, tidak semua polisi itu curang.
kalau gw paling benci sama polisi, kelakuannya dilapangan tidak mengayomi warga kok malah ngadain operasi di jalanan mau kampung yang rata2 ngak pake helm,ya jelas dapet uang banyak to,bukannya itu cuma cari uang namanya, dasar preman berseragam.
MMmmm …
Saya sih tidak takut Zee …
Cuma segen dan males saja berhubungan dengan mereka … hehehe
Seumur-umur …
Seingat saya …
Saya baru Lima kali di semprit …
Satu diampuni dan dilepas lagi …
Tiga diselesaikan ditempat …
Satu terus sampai ke pengadilan …
dan semoga tidak nambah lagi
Salam saya Zee
Jgn nambah lagi ya Om, lumayan kan uangnya bisa buat belanja2 … 😀
iya ya,,,,rata2 kayak gitu..hehe
salam kenal,…..
ah, aku juga kurang suka sama polisi mbak, pokoknya klo udah berurusan sama mereka jadinya ribet deh..
pernah keluarga aku kecurian motor, pas motornya udah dapet, eh malah gak bisa di ambil, kata polisinya untuk barang bukti, *beh* kesel banget dah jadinya.. bisa diambil klo udah bayar mahal..
kadang kasian juga liat polisi,apalagi aklu aps ujan ujanan dan panas,suka gak tega juga..
tapi pas kalu lagi dateng wat nilang rada kesel juga he he,,,
emm..takut seeh enggak,kan udah disiapin uang pas wat nyogok kalu kena tilang he he,,
Maaf, sy hrs jujur. Baru mendengar kt polisi disebut saja sy sdh sebel. Sy pernah adapenglaman buruk dengan beberapa oknum. (uang sy yg hanya Rp60000 diminta 45000 gara2 plat nomor motor saya tdk asli).
Maaf, sy hrs jujur. Baru mendengar kt polisi disebut saja sy sdh sebel. Sy pernah adapenglaman buruk dengan beberapa oknum. (uang sy yg hanya Rp60000 diminta 45000 gara2 plat nomor motor saya tdk asli)
Sayaaaaaa!
Entah kenapa polisi juga sering bikin deg-degan, terutama kalo saya lagi nyetir sendiri. Apalagi kalo dia sudah ancang-ancang mau nyuruh berhenti, duuuuh…jantung rasanya terjun ke perut deh!
Zee, beberapa kali juga saya pernah ditilang, tapi begitu ditunjukin KTP *apa hubungannya ya* rumah saya yang biasanya di asrama militer, biasanya sih langsung disuruh pergi plus ditambahin senyum manis… 😉
saya takut sama pak polisi, saya menggunakan alat bantu dengar (ABD) dan bila mengendarai motor saya cenderung menggunakan feeling ketimbang pendengaran
bisa berabe kalau polisi tahu saya mengendari motor dgn ABD
semua balik lagi ke orangnya.
Logisnya sebenernya simple, berani karena benar dan takut karena salah 😉
Saya slalu punya pengalaman buruk dengan polisi slama di Indo karena memang saya salah 🙂
Tapi kenapa saya salah dan tak ingin berbuat benar karena saya slalu merasa bahwa mereka mudah disogok meski saya salah.
Jadi mana yang harus dibenerin lebih dulu? membuat warga merasa benar dengan mendisiplinkan mereka kan? Karena dengan demikian mau tak mau kita tak kan takut karena kita benar.. 😉
Postingan ini bagus! 🙂
Enggak takut kalo nggak bersalah…
Tapi walau salah, mepet aja tuh di deket polisi jadi nggak kelihatan takut, jadi nggak distop 😀
Setelah dipikir-pikir aku nyetir bertahun-tahun di Jkt ngga pernah ketemu polisi ya? Ngga pernah takut karena ngga pernah ketemu hehehe
EM
hahaha pengalaman yang menerik banget kak
kalo saya sendiri sampai detik ini blom pernah ditilang ataupun di stop polisi
hehehe
klo ditanya takut, ya jelas takuttttt,, orang nggak punya SIM haha… mending menghindar deh klo jadi saya, daripada ribet…
iyah benar, ada polisi yang kadang tidak mengetahui fungsinya sebagai pelindung masyarakat, taunya mereka tilang doang…
kadang kalo yg rese malah saya kerjain dulu, tapi kalo memang baik2 yah ditemani bbicara baik2 dan direlakan ditilang aja deh 😀 hehe
bukan takut, mbak! tapi males aja! sama malesnya kalo kita berhadapan sama bos yang nyebelin! hehe.. 😀
Wah saya sampai saat ini masih belum punya SIM jadinya agak gmana gtu klo liat polisi mau razia.
Sebetulnya gak menakutkan amat kalau deket cuman image yang biasa diceritain yang buruk2 jadinya takut sama bayangannya.Yang baik2 juga banyak,paling suka kalau setiap pagi liat polisi nyebrangin anak2 sekolah,kesannya agak berubah disana
Saya juga memilih jauh2 deh, takut tiba2 ada yg ngamuk terus kena kita gimana… Hiihh..
wah yang pengalaman ngetawain polisi itu kalau menurut saya polisinya yang salah… masak g ada sebab yang jelas kok ditilang…..
kalau saya sih tenang-tenang aja, kan udah punya SIM, dan surat-surat yang lain… jadi ya enjoy aja
memang sih harus ada yang dibenahi didalam tubuh kepolisian…..
Malasnya berurusan dgn oknum begitu sih kalau mereka cari2 kesalahan. Jadi saya malas saja. Apalagi sekarang banyak yg stress, takut aja kena hajar..
hehehe, tetep aja, kalo bisa jangan lah berurusan sama polisi …
sekarang sih banyak kok polisi yg ramah 🙂 polwan juga cantik2 banget….
jujur ya, kalau lagi berkendaraan dan melihat polisi, bukannya tenang tapi malah was-was, jangan-jangan gak bawa surat-surat ya….
hahaha.. iya, jadi parno sendiri, jangan2 sim ketinggalan…
memang klo ngelihat polisi yg kerja bagus rasanya kasihan jg memang, tp coba yg kerjaannya suka nilang. ada aja kesalahan kita dibuatnya, dah gt maen bentak2 lg.cek..cek…polisi yg kyk gt perlu dikasih pelajaran jg..
emosi jiwa memang klo da ketemu yg sok galak itu. tp emg ada pula yang seperti itu, mo gimana lagi… kebiasan membentak kriminal kali ya.
Iyaaa suka sedih lihat polisi yang panas-panas, hujan-hujan, weekend pulak harus rela ngatur jalan. Saya sih termasuk yang takut kalau ada razia.. padahal suratnya lengkap, kendaraannya juga sesuai peraturan. Udah gak mungkin ditilang lah.. tapi entah kenapa pasti takut aja. deg-degan.
Iya. Deg-degannya ini yg ga tahan… padahal mah lengkap. Tp panik duluan.
Aduh, jadi inget dulu pengen jadi polisi. Untungnya enggak jadi, enggak banyak disumpahin. :p
LOL. Iya juga, drpd disumpahin.
Yang saya takutkan adalah kalau banyak oknum nya yang korupsi, hehehe…
banyak cerita menarik tentang polisi di masyarakat. adanya beberpa oknum yang mencari penghasilan tambahan dengan main tilang dan nyelesaiin masalah dengan bayar ditempat sepi, membuat citra polisi tidak selalu baik didaerah tertentu,
Iya, bener sih. Oknum2 seperti ini pelan2 harus bisa diberantas…
pak polisi?? hehe takut juga sih takut tuh pak polisi salah tangkep. gmn kalo ada teroris wajanya mirip saya? wkwk
polisi…..?
i lop u but i het u…..
pisss.. :D:D
hahaha.. gua paling takut kalo ngeliat polisi. ngeliatnya aja udah bikin deg2an. soalnya… entah kenapa (ya sebenernya karena gua suka ceroboh kali ya) gua ini sering melanggar lalu lintas. huahahaha. jadi kalo udah ngeliat polisi jadi deg2an, duh gua salah apa ya… soalnay gua suka gak nyadar udah ngelanggar. hahaha.
yang namanya kena panggil polisi mah udah gak tau berapa kali zy selama di jakarta. ya tentu selalu pake salam tempel lah. males kalo tilang beneran. 😛
disini pun udah kena 2 kali. mampus dah… 😛
Man,
Kayaknya sih tampang juga ngaruh ya. Kalau di Indonesia mungkin lu sering kena tangkap karena da keliatan, tampang orang kaya gitu mksdnya… ehehehe..
huahahaha
kagak lah… entah kenapa gua emang sering ngelanggar lampu merah dulu… 😛
Alamaaaak…banyak amat mbak pengalamannya dengan polisi 😀
Syukurnya saya belum pernah.
Jangan sampai deh, males soalnya 😀
Eh…gak ding, sering malah berurusan dengan polisi.
Wong kakak saya aja ada 2org yang polisi, wkwkwkwk… 😆
Weleh, ternyata keluarga polisi ya Zip :).
lihat polisi di depan , takut di stop mbak hehehe
padahal ga ngelanggar tapi takut bawaannya
Ketemu polisi deg-degan pastinya, tapi entah mengapa saya cenderung santai dan mungkin itu memang bawaan sehingga alhamdulillah sampai sekarang gak pernah berhubungan dengan mereka ^_^
Iya kan? Rasanya lgsg jd kriminal aja deh,pdhl diberhentiin jg gak. Wkwkwk… Tp kl mo tenang sih bisa. Kuncinya pengendalian diri :D.
saya dulu selalu punya masalah dng polisi. apalagi polisi yg ada2 aja cari kesalahan orang.
tp sekarang udah biasa. paling tegor2 sambil angkat2 alis. “hoi… apa kabar loo??”
gitu
Lol. Dah temenan dong sekarang ya..
saya selalu terkejut tatkala melihat pulisi di depan saya, nggak tahu kenapa
hahaa..ternyata lo punya cita2 jadi polwan ya zee…
waaaa….hebat ya cita2 nya hehheeeee…
eniwe…sebulan ini gw udah kena tilang polisi ampe 2 kalee…..bener2 apes deh bulan ini….eehh lo posting polisi…makin apes aja gw…
inget polisi inget hari2 sial hahhaaa…
seandainya ada polwan yg nilang gw, trus ngasih bunga waahhh….mimpi kale hihi
wakakakaa… kok bisa kena tilang? pasti deh elonya yg emang g lengkap tuh surat2nya… :p
yah..kalo surat2 jelaslah ga lengkap gw….hahahaa….
tapi tuh polisi sengaja nyari duit aja heheee.
lumayan sedekah ama polisi…yg pertama 50 rb..yg kedua 100 rb hahaa…lumayankaan…
Weleh. Padahal 150rb itu bisa u/ urus surat2 kendaraan lho Mod. Curiga gw,jgn2 lu sambilan nadah motor yg g pny surat2 ya :p. Lol.
Aku juga disini kalau nyetir, suka grogi sendiri kalau tepat di belakang tuh mobil polisi. Takut berbuat salah and ditilang maklum deh denda disini mahal. Jd inget kejadian 2 minggu lalu yg berkaitan ama polisi tp gga berkaitan dengan aku sih, nanti deh aku ceritanya di my website kalau aku ketik disini, dikira aku ngebajak your blog wakakak
Hahahaha…. aduh memang pasti deg2an ya klo ada polisi di belakang. Kirain kita ada salah apaaaa gitu.
di kota kecil, saya harus -setidaknya- kenal satu dua polisi minimal kanitnya, selalu ada alasan untuk tilang deh. Jadi saya pakai jurus ampuh kalo distop di jalan tinggal nyebut nama AKP anu, maka selamat lah saya dari alasan tilang, lha wong surat lengkap dan gak salah toh hihihi…
Memang enak kalau punya kenalan polisi ya. Tapi saya gak punya banyak teman polisi sih. Abang sepupu sih ada, tapi jauh…. hehe..