Marga

Marga. Tiba-tiba saja saya teringat untuk menuliskan pengalaman saya seputar marga. Ini karena beberapa kali saya mendapat pertanyaan dari beberapa teman sekelas saya dulu di SMANSA Medan seputar marga Damanik yang “tiba-tiba” ada di belakang nama saya.

“Suamimu Damanik ya?” pertanyaan pertama. Dew nama teman saya itu.

“Bapakkulah yang Damanik.”

“Iih… Aku baru tahulah kalau kau Damanik.” Dew bersikeras. Lalu ia menoleh pada Lya teman kami yang lain. “Sejak kapan dia jadi Damanik? Kukira bukan orang batak dia.”

“Memang Damaniklah dia.. emang lu kemana aja waktu SMA..?” dan tawa kami bertiga pun berderai.

Sebenarnya Dew tidak salah juga. Meskipun kami semua – empat puluh delapan orang kalau tidak salah — selama dua tahun selalu sekelas, tapi kan tidak ada jaminan bahwa semua siswa saling tahu satu sama lain. Setidaknya yang umum-umum saja tentulah tahu. Misalnya si A itu kecengannya siapa, si B itu anak pejabat mana, lalu si C itu yang sering dimarahi guru, dst dst.

Dan keheranan Dew itu patut dimaklumi juga. Karena apa? Karena sebenarnya saya memang tidak pernah punya marga di belakang nama saya. Tidak pernah ada nama “Damanik” menempel di surat-surat atau akta resmi yang bertuliskan nama saya.

Papi saya memang tidak menuliskan marga di belakang nama saya dan abang saya waktu kami lahir. Alasan papi saya waktu itu karena marga bukanlah nama. Marga sudah seharusnya menempel di belakang nama anak tanpa perlu dilegalkan lagi di dalam surat.

Somehow, tentu saja ketika kami mulai besar dan mulai mendapatkan secara rutin ijazah sd, smp, dan sma, papi saya kelihatan sedikit kehilangan “identitas diri” kalau boleh saya bilang begitu. Papi saya kelihatan sedikit menyesal kenapa dulu tidak mencantumkan saja marganya di belakang nama anak-anaknya waktu membuat Akte Kelahiran. Apalagi nanti saat anaknya lulus kuliah kan pasti dipanggil tuh ke panggung saat wisuda. Tentu saja di dalam hatinya ada keinginan mendengar anaknya dipanggil lengkap dengan marga. Biar orang tahu bahwa itu adalah anaknya.

Saya sendiri lama-lama juga mulai merasa butuh identitas diri. Soalnya seringkali kalau ketemu orang baru, mereka akan menebak-nebak sampai capek, saya ini suku apa. Semua nama suku yang tipikal-tipikal mukanya mendekati diucapkan haha.. Mulai dari waktu ikut les komputer dan bimbingan belajar, lalu setiap kali buka rekening tabungan di bank, pasti suka ditanya suku apa. Apalagi ketika saya menuliskan fam mami saya di kolom ‘nama ibu kandung’, maka petugas bank akan mengeja nama itu dengan bibir keriting lalu dengan penasaran bertanya lagi itu nama dari suku mana.

Akhirnya. Ketika saya duduk di bangku perkuliahan, di situlah saya pelan-pelan mulai memperkenalkan diri sebagai seorang boru Damanik. Bagaimanapun, meskipun darah batak itu hanya setengah saja, tapi saya wajib mengikuti garis keturunan dari ayah. Tidak bisa tidak. Kalau kata mami saya, “Su melekat di tulang belakang mo…”

foto wedding nih 😀

Meskipun akhirnya pas wisuda nama saya tetap dipanggil tanpa marga, ya sudahlah tak apa. Tapi saya sudah menyiapkan langkah-langkah pembalasan selanjutnya. Hehee..

Langkah pertama adalah menambah nama “Damanik” di belakang nama saya secara resmi. Secara resmi? Bisakah? Bisa, tapi manual. Hehe… Pertama, saat dapat email kantor resmi. Hanya ada dua nama. Saya kemudian minta ke bang IT, tolong tambahkan marga saya di belakang nama saya sehingga nanti email saya akan berbunyi namadepan.marga@company.com.

Pertama dia bilang tidak bisa karena dari sananya tidak ada. “Apa pula gak bisa. Itu kan marga.” Saya merepet. Ya sudah, daripada panjang cerita dia dengar saya merepet, akhirnya dia tambahkan “Damanik” di belakang nama saya. Setelah nama email resmi berubah maka otomatis data profil saya sebagai karyawan juga berubah. Selanjutnya pun berjalan secara otomatis, mulai dari slip gaji sampai SK, dan so pasti id card…. Semua sudah pakai marga.

Mungkin saking kemaruknya, waktu lima tahun lalu saya bikin KTP Siantar untuk keperluan bikin Paspor, nama saya juga dicetak pakai Damanik (padahal kan harusnya gak ada). Dan ketika Paspornya jadi, ya namanya pakai Damanik, tentu saja. Haha… alhasil kalau mau pergi ke luar negeri, saya harus ubek-ubek laci dulu cari KTP Siantar saya ada di mana (hehe.. maklum waktu itu saya punya 2 KTP).

Dan belakangan ini, saya sempat was-was juga waktu tahun lalu mau berangkat ke luar negeri pakai paspor itu. KTP saya sudah KTP Jakarta, alamat beda, nama juga gak sama persis, beda dengan Paspornya. Fotokopi KTP yang alamatnya sama dengan paspor juga  saya sisipkan di samping paspor apabila diperlukan. Foto saya di KTP lama itu pakai kerudung pula, karena waktu ngurus-ngurus untuk umroh kemarin diminta bikin pasfoto harus berkerudung, nah pasfoto itu sekalian dipakai untuk bikin KTP Siantar itu. Tapi untunglah aman. Ya pasti amanlah, kalau cuma ke Asia doang mah.. *ngejek banget wakakaka….

Langkah kedua tentu saja dengan memproklamirkan diri sebagai boru Damanik setiap kali berkenalan dengan orang baru. Alih-alih menggunakan nama lengkap sesuai KTP, saya mulai membiasakan diri pakai nama panggilan dengan ditempeli marga saja. Suku batak kan punya kekerabatan yang sangat luas, jadi memberitahukan marga kita adalah keharusan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Ada satu kejadian yang juga melatarbelakanginya. Waktu saya kuliah dulu ada cowok di angkatan atas yang mau pedekate ke saya, datang bertamu ke rumah berdua sama temannya (biasalah, belum berani datang sendiri). Waktu ngobrol-ngobrol itulah mereka baru tahu kalau saya orang batak, dan waktu saya bilang saya Damanik, kedua cowok itu menganga karena terkejut. Karena ternyata si cowok yang mau pedekate sama saya itu juga Damanik! Saya ingat betul mukanya memerah karena malu sementara temannya menertawakannya. Ya dia memang gak salah, dia mana tahu saya orang apa, lha nama saja tidak ada marganya.

Makanya sekarang nama si Vay di akte kelahiran ditulis lengkap-lengkap dengan marga, biar kalau sudah besar nanti kalau ditaksir orang gak akan salah kaprah hehe….

Kalau dihitung-hitung, berarti sudah hampir sepuluh tahun saya ‘resmi’ menyandang identitas Damanik. *walaupun saya tetap tidak bisa berbahasa Simalungun*.

Sekarang sudah mulai terbiasa dengan panggilan ke-adat-an. Seperti dipanggil bou oleh keponakan. Atau dipanggil Eda kalau lagi jalan ke Pasar Inpres, hihihi…

Dan saya bangga. Tentu saja. Kalau sama marga sendiri saja tidak bangga, bagaimana bisa bangga dengan budayamu, bagaimana bisa bangga dengan bangsa dan negaramu? Jadi, pakailah margamu dari sekarang, jangan disimpan-simpan!

100 Comments

  1. nina

    keren kak
    jadi mawu nyantumin marga deh

  2. Beruntunglah punya “family name” alias marga. Orang Indonesia kebanyakan tak punya, kalau ditanya bule, lebih sulit menjelaskannya.

    Saya sempat “bertengkar” dengan kepala sekolah anak saya, karena kepala sekolah tidak mau menambahkan marga di depan nama anak saya. (akte kelahirannya tidak pake marga, karena kantor catatan sipil jakarta pada waktu itu tidak mau memasukkan marga).

  3. Hihhihihi… saya buta sekali ttg marga dan budaya batak… waktu kecil malah saya malu dengan nama itu, selalu cuma sebut nama depan dan tengah, hingga pada satu ketika teman-teman SD (kelas 6) tau, dan mereka mulai bikin lelucon.. Huaaaaa… 🙁

    Sekarang semenjak ke US,saya malah bangga punya surename, kan gak semua orang punya, jadi saya malah pasang nama depan dan surename… :)Teman-teman saya terus mulai ngeh, itu nama kelaurga saya.. hahahaha..

    Oh iya, saya marga Hutabarat… 🙂 *katanya suruh pamer..hahahahaha

  4. hahahaha … ngerasa kesindir abis deh mbaca tulisan Eda ini, soalnya, saya pun tak pernah pakai marga di belakang nama asli.
    Hampir semua orang terkecoh ketika mengetahui saya adalah salah satu dari segelintir orang KARO di dunia ini *lebay*, dan kebanyakan pasti mengira saya orang Jawa karena kefasihan berbahasa Jawa, atau beberapa ada juga yang menebak saya berasal dari Makassar atau Padang.

    Jadi? Saatnya unjuk marga ya Eda? Hahahaha …

  5. nasgorkam

    :)) heuahuahaua sumpah zee
    muaaphhh gue bukan ngeledekin
    cuman its been so long ajah jadi ketawa ngeliat foto yang inih hhahahaha

  6. Hehehe, jadi usaha menambahkan Damanik udah keliatan hasilnya yah Mba 🙂

    Btw serius dah poto meridnya cantik amath. Tapi ko Papinya Vay ga ikutan dipajang seh??

  7. wah saya juga marga damanik,,,,asyiiik… bisa kenal ama kakak boru damanik….heheh…walaupun saya besar dan hidup di provinsi jambi dan kuliah di palembang,,tetapi tetap bangga dengan marga damanik,,

  8. Sebetulnya nama marga dicantumkan untuk menghindari perkawinan antar marga yang sama…walau sebetulnya sudah tak ada hubungan saudara ya….

    Saya tak punya nama marga, dulu banyak teman yang mencantumkan nama ayah dibelakang namanya…lha nama saya udah panjang, ditambahkan pula….makin panjang aja. Di kantor dan dalam urusan kerjaan saya masih pake nama asli, nama suami untuk urusan ke dokter kandungan (hehehe)…sedang nama ayah ibu hanya ditulis saat mengisi form.

  9. idem sama di atas, foto weddingnya cuantik..dan kerasa kok “buatak”nya…! hehehehee….
    aku lebih parah lagi..nama kami semua 4 besodara, cuman 1 potong di akte lahir dkknya. bahkan abang saya namanya hanya 4 huruf. paling pusing tiap kali isi formulir .. first name surname …
    abang saya akhirnya mengubah semua surat2 namanya ditambahkan nama papa saya.

  10. Mbak Zee…foto kawinnya cantik bangett, yg lengkapnya mana? jadi pengen lihat semuanya nechh

  11. Untung bokap dari dulu udah tanggap pake marga di Akte. Tapi emang banyak juga sih kak orang batak yang gak pake marga. padahal misalnya namanya udah batak banget, kesannya jadi malu mengakui identitas dirinya 😀

  12. Jadi tahu soal yang beginian deh…
    Saya Jawa, ndak punya marga, mbak. Kalo margi (=jalan) ada 🙂

  13. margaku pake marga chinese mbak..hehe…coz di china harus punya nama chinese jg..susah tu lidah orang2 kalo ngeja namaku yang kepanjangan..jadinya marga dan namaku “LIN YI DAN” agak mirip yah ma intan..hehe…asal marga darimana itu nyari aja di kamus..hihi

  14. mohon bantuan menjadi responden aktivitas ngeBlog di Indonesia

    *minta kunjungan balik*

  15. wah jadi kepingin anak saya nanti pakai marga Untoro cieee…
    takutnya ntar anak bukannya bangga malah malu sama nama bokapnya.

  16. r10

    aku setuju dgn komentar zippy orang jawa tdk punya marga

  17. hahaha, emang ribet kalo nama ktp beda sama akte kelahiran .. kalau saya, bukan masalah marga sih ,.. soalnya saya sunda tulen, tapi saya salah ejaan nama, jd wkt bikin paspor kudu bikin surat keterangan nama .. *senasib kita* hehehe

  18. kalo saya tulis nama komplit dengan marganya , itu paspor tidak cukup menampung karakternya, makanya di belakang passport di tuliskan nama keseluruhan.

    • Zizy

      wah berarti mas boy namanya panjang banget ya.

    • Zizy

      Mas itu blognya gimana cara isi jawaban yg benar di kolom hitungan? Kok gagal terus ya.

  19. kalo saya tidak punya marga, tetapi hidup di lingkungan yang penuh marga.. ambon ternyata banyak marganya, sekantor aja puluhan 😀

  20. Kalo saya gak punya marga mbak 😀
    Orang jawa jarang banget menggunakan nama marga 😀
    Btw, baru lagi nih themanya.
    Ah..jadi pengen 😀
    Pesen dimana toh mbak?
    Kasih bocoran lah :p

  21. Weleeeh aku juga bangga ama margaku kak!
    Identitas diri 🙂
    Untunglah dari dulu bapakku udh pasang margaku dimana-mana jd gak terlalu kerepotan kayak kk. Tapi, sempat repot juga siy, namaku kan panjangnya kayak kereta pai, kadang blum sampe marga, udh habis tempat buat nulis 😀
    huahahaha

  22. Oh ya lupa, saya pun darah Batak separuh yaitu dari Bapak, kalau Ibu saya Sunda asli 🙂

  23. Salut Eda he..he….mengangkat budaya Batak adalah mengangkat Budaya Indonesia juga 🙂
    saya sampai sekarang dalam keluarga besar walau sebagian besar keluarga besar tinggal di Bandung namun adat Batak masih melekat, panggilan Opung, Uda, Inang Uda, dan Bou masih kami pakai he..he…dan selendang Ulos saya bangga memakainya 🙂

    Perkenalkan saya Boru Ringo he..he… 😀

  24. tok tok, mbak sisy. 🙂

    salam hangat dari bogor yang dingiiinnnn 🙂

    btw, aku juga lebih suka pakai bahasa Indonesia 😉

  25. ndak punya marga neeh akunya..

    iya yaah..marga itu sebagai simbol,untuk memudahkan silsilah juga kali yaa..

  26. sayangnya gw ga ada marga Zee..sebetulnya pengen punya marga biar tahu keluarga besarnya sapa aja n dimana aja…

    Damanik tuh artinya apa zee?? kayak bukan nama marga..soalnya jarang2 denger..heheee maap krg gaul aja kale

  27. Saya ndak punya nama marga. Tapi saya pengen nama belakang saya ini suatu hari nanti lestari jadi nama marga bagi keturunan saya. Hehe! Bisa ndak ya? 🙂

  28. marga memang kada-kadang unik tapi kita harus bangga dengan marga yang kita punya karena itu menunjukkan siapa diri kita berbanggalah jika memiliki marga

  29. Salut juga sama kaka, padahal di Jakarta ini, orang2 batak yang ku kenal banyak yang malu kalo ketauan orang batak 😀

  30. bener mbak..anak2ku udah pake marga dr sekarang…jadi di akte udah ditulis marganya “Uly”. Dan kata suami, setiap orang NTT yang pake nama Uly, kalo ditelusurin masih ada hubungan saudara…..ehhh aku yang bukan NTT ikut2an pake marga Uly di FB hihhhihihi……

  31. Seperti orang-orang awam sebelumnya, saya pun tak mengira kalau Mbak atau Kak Zee adalah seorang Damanik 🙂

  32. DV

    Kamu mesti bangga jadi orang Batak karena di sini penggunaan surname (family name) sangat membantu identifikasi warga.

    Teman-temanku yang asli Batak di sini tak pernah kesulitan dengan proses itu karena setiap mereka menyebut nama, si petugas ngga bingung jagi karena mengandung surname.

    Beda dengan kebanyakan orang Jawa yang senengnya ngga pake surname dan malah pake nama2 baru yang tak terkait dengan nama keluarganya.

    Untung aku pake nama “verdian” yang meski bukan nama keluarga tapi aku slalu ngotot ke petugas. Aku slalu bilang “I am the Adam of “Verdian” clan” 🙂

    • Zizy

      Orang Jawa klo pakai nama bapaknya sbg surname lumrah gak? Ato pada ganti nama jadi kebule2an? 🙂

  33. Setiap nama pasti punya arti. Meskipun tanpa marga, nama akan tetap menjadi satu kebanggaan tersendiri karena nama kita adalah pemberian sekaligus harapan orang tua. Kalaupun ada yang bangga dengan pencantuman marga di belakangnya, tentu itu untuk menunjukkan sebuah identitas.

  34. ekekek… waduh nggak tau saia marga apa.. yang penting semangat menjaganya kan mbak ^^

    salam kenal!!.. semangat^^

  35. ehm, boleh tanya ya..
    emang kalo sesama Damanik nggak boleh ya?

    maap kalo salah, ya Zee. soalnya nggak ngerti soal marga..

  36. aku boru purba 🙂
    mamakku manik, kalo di simalungun damanik lah itu…sama sama Mak Vaya 🙂

  37. kalo ditempat saya ga ada marga, tetapi biasanya seseorang diberi nama tua, untuk pemakaiannya saya sendiri kurang paham, kapan tapi pas nikahan anaknya biasanya nama tua lah yang dipakai
    sebagai contoh nama aslinya pak Kuwat, nama tuanya Hadiwiyono (tgga saya sdl almrhm)

  38. oma

    loh, emang wajib ya pake kerudung di paspor kalo mau umroh? bukannya paspornya sama kaya paspor biasa yang warnanya ijo, yang penting kan foto visanya aja yang pake kerudung << sok tau detected

    waktu mau pergi umroh tahun lalu, ada peraturan dari saudi yang mengharuskan namanya terdiri dari tiga kata. jadi harus ngurus baru lah itu di paspor
    seharusnya namaku itu belakangnya ditambahin nama belakang ayah karena cuma ada dua kata
    tapi karena kedodolan petugas imigrasi akhirnya nama aku di paspor salah, ga sesuai permohonan, ditambahin nama depan ayah juga
    akhirnya nama internasionalku panjang banget dan ngerepotin kalo apply sesuatu yang berkaitan dengan akademis #tepokjidat

    • Zizy

      Nggak oma, aku missed. Mksdku KTP Siantarnya yg waktu itu pake kerudung. Fotokopi ktp itu suka aku simpan di samping paspornya jd suka salah lihat antara foto paspor dan KTP. Sudah aq revise di atas. Tx udah koreksi ya Oma ^_^.

  39. dulu anakku mau di kasih akhiran nama keluarga, tapi kedengerannya jadi aneh akhirnya ditiadakan. tahu sendiri kalo di jawa kan banyak pakai o jadi kalo nama arabian di campur java agak aneh gitu.

  40. Ya… sudah seharusnya kita menunjukkan siapa sebenarnya kita, berasal dari mana kita, dan orang seperti apa kita.

    Kalo saya sendiri sih gak ada marga2an. hehe

  41. waah kalo saya sendiri ga ada marga2 an kak
    jadi tetep aja make nama asli tanpa embel2 marga hehehe

  42. di tempat saya juga gak ada marga…. tapi emang, marga sangat menegaskan asal kita darimana ya…

  43. seperti saya yang bangga sebagai boru Silaban yang katanya cerewet dan lantam ^__^

  44. tentu bangga menyandang nama keluarga kak
    boru damanik biasanya cantik2 seperti kakak dan keponakanku ituuu 😀

    • Zizy

      hahaa… kata vaya makasih ya tante .. 😀

  45. nice post…..lumayan neh bisa nambah pengetahuan tentang budaya sendiri…ya, sebagai wong jowo, saya awam tentang masalah marga2an gitu mbak

  46. smansa itu smu 1 medan ya… ngomong2 soal marga 11 12 ama aq…hehe..bermarga juga neh..xixixixi

  47. hebat……… *apaan sih
    .
    pakai marga membuat jelas status di mata orang lain, jadi perlakuan yang akan kita terima pasti akan sesuai. ngomong-ngomong kenapa satu marga tidak boleh pdkt? apakah karena satu darah? kalau satu darah kok tidak saling mengenal sebelumnya.
    maaf banyak nanya, maklum tamu. xixixi

    • Zizy

      Kalau 1 marga artinya masih kerabat. Dianggap bersaudara. Wajar ya klo tdk semua marga saling kenal, kan sama sj dgn kita ga melulu kenal dgn tetangga kita. Makanya org batak klo kemana2 hrs bilang lengkap marganya, siapa tahu pas kenalan, itu sodaranya :).

  48. di Bali, tidak ada Marga, tapi ada Kasta, sayangnya Kasta saat ini lebih banyak menimbulkan masalah.

  49. atasan saya marganya Sijabat, kata beliau marga itu mulai langka. karena kebanyakan lahir anak permepuan. benarkah demikian, mbak?

    salam

    • Zizy

      Saya gak bisa menjawabnya mbak. Ybs mungkin lebih tahu ttg sejarah marganya..

  50. wahh dari siantar juga toh ito? (hihi…biasanya manggil mbak, lgsg ke ito. or kak yah?) 😀

    batak itu memang unik, dan im proud to be batak. hehe. kjadian taksir menaksir 1 marga yang ga sengaja itu memang agak sering terjadi dan kadang lucu jga.

    oh iya dr logat “Su melekat di tulang belakang mo” kayaknya ibunda dari kupang/timor ya?

    uups lupa,
    horas ya ito 😀

    • Zizy

      hehehe… mamiku dari maluu … 🙂

  51. Hmm…. kalo di Jawa sich ga ada Marga mbak he he he,,,

    Hmm… salam dech untuk seluruh keluarga Damanik ya Mbak Zee ^^

    Salam semangat selalu

  52. Hmm
    Ini cerita menarik Zee
    Dan saya pikir …
    Walaupun terlambat memang sebaiknya Marga tetap dicantumkan …

    Salam saya Zee

  53. Wah, saya mah gak punya marga
    Tapi bangga dengan suku dan budaya juga menghormati suku dan budaya orang lain. 🙂

  54. setau gua, pas jaman2 kita lahir dulu emang di akte kelahiran kita itu cuma ada kolom yang disebut ‘nama kecil’, bukan ‘nama lengkap’. makanya coba deh bikin polling, orang2 yang seumuran kita pasti rata2 di akte kelahirannya gak ada nama keluarganya. soalnya begitu juga yang terjadi ama gua.

    di akte gua ya namanya ‘arman’. gitu doang. gak pake tjandrawidjaja. 😀

    tapi sejak sekolah sih bokap selalu ngedaftarinnya pake tambahan nama keluarga. gitu juga pas bikin ktp ya diharuskan pake nama keluarga. ya iya lah… kalo gak ada nama keluarganya malah jadi aneh gak sih? hehehe.

    tapi kalo akte kelahiran anak2 sekarang emang pada ditulis selengkap2nya dah ya… 😀

    • Zizy

      Wah man, jadi nama lu cuma 1 doang di akte… singkat bener! hehehee…
      Kok bs sih daftar sekolah pk nama keluarga, bukannya sekolah wajib ikutin akte?
      Eh tp suami gw itu namanya lengkap pula dgn marga di aktenya… dan bnyk jg teman gw yg pk marga Man di akte nya.. Bisa ya beda2 kwkwkwkw…

      • berarti mungkin tergantung yang ngetik akte kelahirannya ya zy? hahahaha.

  55. kalau dibali marga itu sama dengan kasta…jadi pasti bangga banget sama identitas itu….ya kan mba??

  56. Waktu tinggal di Sumatera Utara, awalnya saya sempet bingung Zee, karena yang namanya Sembiring, Ginting atau Barus itu ternyata banyak banget…hehe, akhirnya diperjelasnya bukan dengan nama kecil, tapi dengan menjelaskan identitas lain yang melekat.
    Misalnya, Pak Ginting yang kerja di kantor A ya, atau Ibu Barus yang anaknya kuliah di universitas B?
    Hehe, uniknya Indonesia, itu yang membuat saya bangga 😀

  57. Saya juga baru tahu kalau Mbak ZEE marganya Damanik 😀

    Jujur mbak, saya belum pernah ketemu, rekan-rekan yang berasal dari tanah batak yang tidak bangga dengan marganya. Kebanggaan itu, kalau boleh saya setarakan sama dengan kebanggaan rekan-rekan China dengan marganya.

  58. langkah yang tepat menurut saya. Jadi diri dan kebanggan kita sebagai bangsa Indonesia (termasuk suku dan daerah) salah satunya terlihat pada kebanggaan dalam pemakaian nama.
    Apalagi dalam sistem marga keknya penggunaan nama marga punya implikasi yang luas.

  59. Biasanya dengan menyertakan nama marga
    sedikit ada rasa kebanggan pastinya.

  60. Wah, kalau saya sih, dari nama memang tidak ada marga, karena bukan suatu kebiasaan yang melekat pada suku Banjar… 😀

  61. setuju2….di akte mestinya lengkap dengan marga…jangan ampe tertinggal sejarah keluarga kita…

  62. Menarik…

    Saya tertarik dengan penghayatan marga pada perkawinan antara suku Batak dengan suku lain.

  63. kasusnya sama kaya temanku nih krn ortunya ga tau harus dimasukin ke akte atau ga, yg penting vay pakai marga

  64. kalo aku gak ada marga, tapi nama kakek yang udah berjalan dua generasi sekarang…sayangnya tak bisa diberikan pada anak karena saya perempuan.

  65. Ina

    hmm…sejarah yang panjang dan perlu untuk dikenang. 😛

    *ngikik*

  66. “Kalau sama marga sendiri saja tidak bangga, bagaimana bisa bangga dengan budayamu, bagaimana bisa bangga dengan bangsa dan negaramu?”

    Like this banget yg bagian itu Mbak..
    sepakat..
    heheheheh…
    Pasti mbak bangga banget…
    Salam muach..muach buat vanya ya mbak…

  67. di akte lahirku udah pakai marga,

    dulu sempat di akte ngak boleh pakai marga, sekarang udah boleh nggak ya…?

  68. Bagaimanapun, sesuatu yang berhubungan dengan keluarga itu membanggakan Mbak.
    Sayapun, andai ada tradisi marga, pasti juga akan memakainya…
    [kalau pakai Damanik pasti nggak boleh ya…] 😀

  69. sayangnya di indonesia, tidak semua suku memilikinya kan mbak… jawa misalnya… ini setahu saiia yg so tau gtu dee.. 🙂 keren asli dee klu punya marga.. kek orang bule… xixixixixix.. ko’ jd norak gini iia?!?!?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.