Arisan, kondangan, meeting, pertemuan guru murid, kopdar, reuni adalah banyak dari ajang pencitraan. Sebut yang lain lagi untuk menambahkan tapi intinya kumpul-kumpul adalah momen dimana orang akan berusaha menampilkan citra terbaik dirinya di depan orang lain.
Lihat parkiran, yang mobilnya paling mewah, itu punya siapa ya? Wah lihat itu si anu, dia pakai Blackberry terbaru, yang white pula, kan white lebih mahal dari yang black. Aiihh gile bo’ berlian di cincinnya gede banget, berapa puluh juta itu ya. Hmm pantas aja foto anaknya di facebook bagus-bagus, wong kameranya canggih begitu. Eh itu sepatunya bagus banget, merek apa sih, pasti deh mahal. Besok kan gue mau reuni sama teman-teman SMA nih, kudu bawa iPad dan nyetir mobil baru dong pastinya, kan bukti kesuksesan diri. Eh, itu dia baru beli iPhone4 lho. Yang 32Gb.
Jadi ceritanya waktu dua hari lalu saya ikut field trip dari sekolah anak saya ke TMII, secara tidak langsung saya mulai mengamat-amati – mostly – para mommy yang menemani anaknya field trip. Sebenarnya sih bukan hanya saat field trip, karena proses pengamatan ala intelijen ini (halah, gaya banget ya) sudah sejak si Vay pertama kali masuk sekolah. Waktu field trip kemarin, ibu-ibu dari kelas lain (bukan sekelas anak saya) ada yang gayanya – menurut saya – keren banget. Bercelana sependek mungkin, pakai kets bermerek dan kelihatannya masih baru, bawa ransel (juga merek mahal) di punggung, wah pokoknya sporty banget, dan yang melihat pasti langsung nebak ni orang pasti tajir. Lalu ibu yang lain lagi, kelihatan sedikit ‘menjaga level’ saat menggandeng anaknya, seolah anaknya adalah Michael Jackson yang tidak bisa disentuh sembarangan. Kalau kita tegur anaknya, mukanya seperti kurang senang, seakan-akan bilang eh gak level deh kita. Ada pula yang pakai kalung mas besar, gelang mas keroncong, cincin berlian, pokoknya lengkap deh.

Saya sempat menangkap lirik-lirikan seorang mommy, emak temannya Vay (yang tampil keren tentunya), just because I shot my princess with SLR. Entah apa yang ada dalam pikirannya, apakah membanding-bandingkan dengan entah punya siapa, atau mungkin pengen punya. Tapi pandangan matanya itu ketahuan sih, dia lagi menilai. Dalam hati saya bilang, Oh come on, it’s just the low end SLR. Kalau saya pakai eos-eos yang high end itu, bolehlah. LOL. Masalahnya ini satu-satunya yang tersisa setelah yang lain dibawa kabur si PRT. Hiks.
Berdasarkan pengamatan saya, pencitraan ini menular. Artinya ketika ada satu atau dua ibu yang setiap hari ngantar anak ke sekolah gonta-ganti tas dan sepatu, maka minggu berikutnya akan ada ibu lain – yang sebelumnya gayanya standar saja kalau ke sekolah anaknya – menyusul bawa tas yang bagusan dikit. Atau kalau misalnya ada ibu-ibu baru di sekolah anak kami dan dia diantar suaminya pakai mobil ke sekolah, maka minggu berikutnya akan ada ibu-ibu lama yang gak mau kalah. Kalau sebelumnya doi naik motor ke sekolah, sekarang bawa mobil, dan kunci mobil dicantolin di kantong belakang celana (biar kelihatan merek mobilnya). Ujung-ujungnya ya jadi bersaing haha…
Malah pernah tuh ada dua ibu yang awalnya saling menanyakan kerja dimana, lalu akhirnya malah jadi ngotot-ngototan gak mau kalah. Saya yang dengar mereka ngotot-ngototan cuma senyum saja diam-diam.
Well, manusia kan pada dasarnya memang suka dipuja dan disanjung, juga tidak pernah puas, selalu ingin lebih dan lebih, jadi ya manusiawi aja kalau kita bisa terimbas ikut ke dalam persaingan menonjolkan citra. Seperti saya, tentu saja juga pernah tergoda untuk gak mau kalah menonjolkan citra, wajar dong, saya masih manusia biasa. Belakangan ini pun tergoda banget ingin beli gadget ini itu yang high end, tapi ya gak jadi-jadi selain karena gak ada budgetnya, juga karena ternyata setelah dipikir-pikir toh saya gak perlu-perlu banget (kecuali dibelikan ya kita sih terima-terima saja, huehehe…).
Tapi pencitraan juga perlulah, karena pencitraan yang positif bisa saja membawa pengaruh positif buat yang melihat. Misalnya ya, kalau hari ini kita ketemu cewek yang terlihat cantik karena dandannya yang natural, lalu dalam hati kita berniat ah besok pengen coba dandan kayak dia tadi ah biar bisa terlihat cantik dan segar, itu berarti si cewek tadi berhasil menciptakan pencitraan yang positif. Atau saat kita lihat teman kita pakai iPad dan kita pun mencobanya lalu merasa itu akan cocok dipakai untuk menunjang kerjaan kita, itu yang namanya pencitraan positif. Kalau bisa menunjang appearance dan attitude yang positif, pencitraan memang perlu. Jelas !

Tulisan yang bagus. Baru sadar kalau pencitraan itu satu hal yang menular. Bukan Bapak – bapak aja yang beginian ternyata ibu – ibu juga toh. he he he .. salam kenal.
Persaingan pencitraan diantara mommies emang heboh…hihihi…apapun bisa dilakukan demi citra yang lebih di mata para “kompetitor”
Salam kenal ya Jeng…
klo ngeblog, termasuk salah satu bagian dari pencitraan gak ya?
Btw, salam kenal…
ternyata pencitraan juga penting diantara ibu2 ^^
berarti pencitraan itu bagaikan pisau ya mbak?
kesimpulannnya, pencitraan bisa menimbulkan efek positif dan negatif ya mbak? *halah kayak setrum aja 😀
sepakat banget mbak..pencitraan memng penting
dan akan sangat bagus jika itu bisa menimbulkan sisi positif yg mendukung kita…
wah, lama saya gak BW di sini
Hehehe, untung gw mah tipe makhluk yang cuke bebek, Mba Zee. Gw ga peduli boo dengan berlian, kamrea, mobil, dan segala sesuatu yang brebau materi. Kalopun gw pake tas bermerk, or gelang keroncong (misalnya), itu karena gw nyaman bukan untuk persaingan 🙂
Dan akan lebih nyaman toh menjadi diri sendiri, tanpa memikirkan gengsi. Yah hidup apa adanya ajah deh 🙂
Oya, maap Mba Zee baru mampir dimari. Zahia lagi sakit neh. Doain yah Ka Vaya biar Zahia cepet sembuh. Amien
Jadi ngerasa terenyuh baca ceritanya…………
Klw dlihat dri fakta sehari-hari sih emang kbanyakan kayak gtu, mungkin klw dprosentasekan antara pencitraan (+) n (-)nya,kisarannya 10:90 lah…..
Pencitraan diri buat menginspirasi yg baik bagi banyak orang itu malah dianjurkan ya mba, btw kl buat pamer harta no way deh he..he… 🙂
Vaya udah sembuh blm mba bibirnya ?
ada yg sebenernya bukan pencitraan, tp dari sananya begitu. emang sukanya baju itu, gayanya emang begitu, gadget suka yang itu.
klo yg pencitraan doank sih keliatan, dikit2 pasti ganti gaya XD
Le,
Blognya kok di-hacked mulu…. being repairednya lama bener… 🙂
Tugas saya di kantor adalah membentuk pencitraan yang baik untuk klien hehehehe…
Hahahah …
ada-ada saja nih …
ini bukan pencitraan mungkin …
ini istilah sederhananya … Pamer …
hahaha
maybe lho ini …
Salam saya Zee
And satu lagi …
menurut saya …
akan sampai di suatu titik dimana …
pencitraan fisik sudah tidak diperukan lagi
Itu sudah menyatu paripurna dengan jati diri kita
(beuh .. what did I say ?)
🙂
salam saya
Kalau dalam bentuk materi atau barang sepertinya buang-buang tenaga, pikiran dan uang tapi kalau dalam hal pengetahuan dan skill itu harus.
blom bisa komen karena blom punya anak yang skolah 😀
Gak tau knpa ya mbak kalo ibu2 itu lebih riweh masalah pencitraan ini, lha kalo bapak-bapak rasanya kok gak sampe kaya gt, yang ada malah kelewat cuek… heheeheh… kalo saya mau jalan gt ya, pasti mikirnya bukan: kalo pake baju ini pasti orang ngira saya keren, dll, tapi malah: kayanya lebay kalo pake baju ginian atau aksesoris ginian, pake baju yang biasa aja ah… wkakakakakak… 🙂
Hahaa…
Eh but menurutku sama saja sih, bapak2 or ibu2, co2 or ce2. Krn itu kan manusiawi kl ingin pamer. Soalnya aku jg pny byk teman co yg melakukan apapun agar terlihat COOL (dgn bj bermerk, gadget, aksesoris). Dan yg ce jg ada. Jadi ya imbang.
Tp mgkn mksdmu adalah bapak2 cenderung lbh santai dlm bpakaian, mungkin ya. Maklumlah pak, ibu2 kan emg bawaannya suka tampil cantik & resik :).
Pencitraan yang hanya “casing” ga akan bertahan lama.. cepet tertular, cepet luntur dan biasanya cuma latah. Citra diri rasanya lebih diwujudkan dalam karakter yang kuat, yang ga gampang terpengaruh dengan segala tetek bengek yang diributkan orang.. *soktautingkatdewa*
Setiap orang pasti punya sifat, karakter dan kepribadian masing2, kalau seseorang tak mampu mempertahankan karakter yang ada pada dirinya bisa jadi ia akan selalu terpengaruh oleh orang lain baik gaya hidup ataupun yang lainnya alias tak mau kalah…
kalo denger pencitraan sayah lebih sering bayangkan pak SBY 😀
Pencitraan itu sepertinya bahasa yang sangat halus, ya, mbak… ^_^
Kalo mesti memperbaiki citra (dalam hal material) terus ketika akan bertemu orang banyak rasanya akan sangat menguras kantong…. he..he.. 😀
pencitraan itu masalah personal branding. kalo karakter kita gak kuat pasti gak bakal menarik.
Hoho. Sesuaikan dengan pribadi masing-masing saja sih. Dan yang terutama adalah jangan berlebihan. 😀
Saya itu selalu protes. Apakah seorang yang gendut itu selalu dicitrakan sebagai tukang makan, ya? Padahal makan saya sedikit, Bu. Paling ngemilnya aja yang banyak (doh).
zee…ga bisa kita hindari situasi seperti itu…yang penting saya selalu menekankan kepada anak2 bahwa segala sesuatunya yang paling penting adalah fungsinya. Jangan kita terkecoh membeli sesuatu karena brand tapi usahakan atas dasar fungsinya.
kok sekolahnya vay gitu2 banget mbak :p. Ati2 lo, kalo orang tuanya suka gegayaan, bisa2 nular ke anaknya. eeh bisa2 nular ke anak kita (*nakut2in). mama temenku udah pakai iphone, kok aq belum? mama temenku udah bawa mobil camry kok aq masih innova? *weleh (*nakut2in lagi) hehehe
heheh..ada2 aja ya kelakuan orang ya
pencitraan emang penting asalkan menjadi diri sendiri aja.. malah tidak punya beban.. dan tentunya nyaman.
setuju?
Kapan-kapan kalo pas beli TV baru saya mau bawa juga ah ke kantor. Kan critanya mau pamer 😆
justru saya akhir2 ini agak dibingungkan dng pencitraan. pencitraan bukan dimaksudkan untuk memperlihatkan diri kita sesungguhnya kah?
anehnya, saya lebih suka tampil apa adanya. meskipun banyak juga yang menyarankan saya lebih bergaya. jiaah… bergaya.
Hahahaa… bergaya juga tidak salah kok… kan kalau enak dilihat orang artinya berpahala 🙂
Ya pencitraan itu baik ko dan sah2 saja, selama tidak di paksakan.
Tetapi kalo menurut saya yg baik itu pencitraan akan karakter atau kepribadian bukan kekayaan.
Pencitraan itu hashtag yang pernah booming dan sesekali masih dipakai, dan kalau dalam twitter memang pencitraan lebih mengungkapkan kejujuran, menulis sesuatu yang wah padahal sebenarnya itu hanya sebuah keinginan untuk dicitrakan..
pencitraan ya…? kebanyakan pada jaim seeh mba
tapi yang lebih penting mendingan jadi diri sendiri deh
yang penting kita saling menghargai satu sama lain 🙂
Pencitraan memang perlu tapi jangan berlebihan… jangan mumpung presidennya suka pencitraan lalu kita jadi latah sok mencitrakan diri hehehehe…
Kalau menurutmu, apa citraku, Zee?
Kalu kamu, kamu itu ibu gaul yang masih jelita 😉
Hahaha… Ya klo aku sih, selama org itu mampu gpp juga sih, asal ga jd kesannya pamer aja.
Menurutku citramu jelas : pria pekerja keras, penikmat hidup, metroseksual jg, & outspoken. Lol.
kalo ada kekuatan untuk menandingi ya sah2 saja bisa tunjukin udah beli ini udah beli itu, tapi kalo nggak ya jangan dipaksain apalagi sampe ngredit…inget masa depan aja.
Selalu ada sisi baik dan buruk 🙂
Kalo saya… hnn, jadi diri sendir ajalah. Yang penting masih dalam taraf positif, hehehe
Iya, jadi diri sendiri jelas tar aura positifnya keluar dgn sendirinya 🙂
Pencitraan yg baik uk kebaikan itu baik
Tapi agar terkesan kaya, glamour dll itu kayaknya kurang pas ya 😀
hehe,,,aduh ibu2. kenapa banyak semua ibu2 yg begitu ya. untungnya ibu sy ga termasuk golongan yg sgt mementingkan pencitraan..
salam, mba.. 😉
Nah, ini nih yang bikin kas keluarga jebol 😀
Untungnya nyokap ga sebegitu nya, dan mudah2an dapet istri yang ga kayak gitu juga 🙂
Haha… Eniwei, pencitraan ini sih ga melulu ce. Bapak2 jg banyak, paling banyak malah…. 🙂
salam persahabatan, mampir dan membaca tentang pencitraan ini menarik menurut saya posting ini karena melihat apa adanya yang terjadi. Lam kenal dan nice post, semoga blog ini semakin berkembang ya Gan ?
Thank you atas komentarnya.. 🙂
Wah.. wah.. semoga nanti calon istri ndak mementingkan pencitraan yang negatif.. yang positif aja lah.. hehe… Kalo boleh nambah nih ya mbak, picitraan yang wajar dan biasa saja.. Tunjukin diri kita sesungguhnya, bukan diri kita yang memakai orang lain.. hehe..
Iya Vit,
Gimanapun juga yg palsu pasti ketahuan, jd lebih baik apa adanya saja sesuai kemampuan. #talktomyself too… 🙂
pusing saya kalau masalah pencitraan ini…maksudnya pusing sama temen kantor saya yang memikirkan pencitraan-nya dihadapan boss…bukannya pekerjaan yang dipikirin..tapi malah pencitraannya….hahaaaa..
salama :)…
Kl aku menganut simple is beautiful, he..he..
Hem… ironis ya? Masyarakat skrg lebih memperhatikan pencitraan lebih dari yg dia mampu atau melebihi keperluan yg sebenarnya.
Salam kenal
Jangankan yang udah punya anak ya kak, orang seperti aku jg sering gitu klo lagi pulang kampung..hihi
seperti ingin membandingkan perkerjaan di tanah rantau *halaaah bahasaku..haha
Hehee… wajar dong ya, kan klo kita pergi merantau artinya musti siap2 ditagih dgn pertanyaan kerjaannya OKE ga….klo pas mudik…. 🙂
untung saya belom jadi bapak2 mbak, kalau udah jadi bapak mungkin saya bakalan bingung untuk mensupport “pencitraan” istri saya … heheheh LoL 😀
you’ll never ngeblog alone 😀
Hahahaha…untung saya nggak mengalami seperti ini. Jika sesekali (pas hari Sabtu atau cuti) mengantar anak sekolah… karena saya langsung mojok dan baca buku ya…atau sekaligus bawa pekerjaan kantor, lumayan kerjaan selesai, anakpun senang.
Tapi saya jadi kurang memperhatikan sekeliling..jadi merasa deh, selama aktif kerja 28 tahun lebih kok jadi terasa kurang gaul ya, nggak tahu apa-apa dan tak dengar apa-apa…karena: bajunya itu2 aja, blazer dan celana panjang warna hitam, coklat gelap, cream….kadang2 aja ada merah hati nya. Terus pergi pagi pulang malam, yang dipelototi angka-angka melulu.
Zee, saya merasa dunia lebar dan indah justru setelah pensiun, ngeblog, jadi memperhatikan sekeliling…suka melihat perilaku orang disekitar kita dll….thanks to blog….hehehe
Sepertinya dunia blog ini memang indah sekali ya Bu… Ibu baru kenal blog saat umur segini karena memang trendnya sedang happening baru2 ini. Kalau dari dulu udah ada, tentu sudah senior banget bu…. 🙂
Iya… apalagi kalau acara arisannya ibu-ibu…
byuhh… nggak mudeng persiapan untuk penampilan kadang bikin bete yang mo nganterin
Kadang saya merasa keren kalau duduk di taman kota dengan setelan rancangan Brioni atau Kiton, sambil bermain dengan layar sentuh iPad 2, pastinya akan mengangkat pencitraan. Tapi pada kenyataannya itu tidak ada, saya malah nongkrong dengan kaos oblong yang sudah nyaris compang-camping sambil menggunakan sandal jepit, mesti masuk ke hotel mewah sekali pun.
Cuek is the best :D. (penyakit pengangguran ya begini).
Hahahaa… Well… Jgn compang camping jugalaahhh… At least kaosnya or celananya ga bolong 😀
Tanggal 5 April kemarin baru nemenin Kayla field trip ke TMII juga:)
Di sekolah anak-anak juga begitu, Zee.
Maaf nih, bukan karena merasa orang lama di sekolah itu, biasanya yang butuh pencitraan, orangtua murid baru:D
Dan, ajang kumpul2 seperti ambil raport dan acara jadi ajang pencitraan paling oke 😀
Memang Kak, yg baru2 biasanya jaga citra, jd saat free trial itu datangnya kayak mo k mall. Hahaa.. Tp bbrp yg lama2 ada jg yg ngikut krn g mo kalah. Kalau kelas Vay syukurnya mostly kita cuek aja ama gaya masing2, g terikut2 yg jaga citra itu :D.
Kalau saya bawa-bawa DSLR, kadang-kadang ada orang yang mikir “Wuidih, tajir! Wah, pasti jago banget tuh kalo foto-foto”. Padahal belum tau aje kalo cuma make DSLR yang paling murah dan ngejepret fotonya pun pake mode otomatis, hehe.
Sebenernya kan yang paling susah itu pencitraan dari dalam, kalau dari luar mah gampang dipalsuinnya. Kalau dari dalam, ya harus benar-benar dari hati. Inget aja filosofi uang koin dan uang kertas “coins always make sounds, but paper moneys are always silent, so keep yourself silent and humble when your value increases”.
Haha… duh sama dong dengan saya Ma, dan moto jg pake otomatiss aja, yg cepat. Wong mo cepat utk apa manual, keburu lari objeknya alias si vaya..
Pencitraan dari dalam itu memang susah dipalsukan… karena menguar dgn sendirinya.
kok pencitraannya gitu banget.. klo mo banding-bandingan mbok jangan kentara banget, ga malu gitu hihi…
yah segala hal emang ada plus minusnya ya zy. tergantung kitanya mau mikirnya gimana. kalo kita bisa ngambil sisi positifnya ya jadi bagus. bisa jadi motivasi kan. 🙂
Bener Man,tergantung mikirnya gimana. Hrs bisa ambil sisi positifnya biar ga jd tukang sirikan ya…
pencitran perlu juga kadang2 asal pada tempatnya ya
Huaah untung di sekolah anakku biasa2 aja tuh ibu2nya. Pada cuek, aku sndr juga ga kenal merk2an jd nganggep semuanya sama aja, ga ngerti mana tas keren yg branded ato nggak wkwkwkkw *terlalu polos*
Di sekolah Vay sih gak semua Mbak, cuma bedanya ya ada yg tampil sederhana tp meninggikan mutu :D.
Gimana dgn bapak2nya, apakah ada pencitraan ky gini juga 😆 ?
Pencintraan juga ada sisi positifnya, ya…
hehehe…kiran cuma politikus doang yg pake acara pencitraan 😀
wah..kalo pencitraan jadinya malah kaya saingan gitu mah ga bagus kali yah mbak..
Setelah belasan th tinggal disini kayaknya orang Asia cenderung lebih pay more attention ama merek dan citra diri deh. Disini ada juga cuman biasanya yg gitu malah org2 yg pengen dinilai berasal dari level masyarakat atas pdhal dia gga diatas. Kalu ke sekolah anak2 neh, aku liat yg rumahnya guede2 gitu, bisa disebut mansions, justru sederhana deh, gga sombong pula. Tetangga2 yg mansionnya segede buta, kalau kita bersua saat jalan kaki, mrk pasti nyapa atau wave their hands. Kayaknya di Indo kalau udah kaya, mana mau nyapa duluan. Tp ada juga temen2 laki gw yg bini2nya pada glamour, pdhal sih rumah mereka tuh di drh gga bagus dan gga bagus pula. Kalau mobil mewah, berhubung disini credit gampang, org2 males itu yg tiap bulan ke dept2 pemerintah untuk ngambil tunjangan, justru mobilnya mewah2. Gimana tuh Obama, gga adil kan kita2 yg kerja, org2 yg kaya dipajekin, buktinya pajeknya dibagi2 ke orang males tp show off. Lho kok jd pilitik lagee. Kalu temen Indo disini, wah itu dia, show off semua de….
Suka deh baca komen Sylvia, soalnya komen dirimu pasti melengkapi postingan. 🙂
Yaaa bener juga itu, yang kaya bener2 justru diam2 saja dan ramah dgn orang lain, beda dengan OKB kali ya….
jiaaaaah……….
jadi mbayangin nti klo nganterin anak sekolah klo ibu2nya seperti kok sy jadi serem sendiri ya huaaa
soalnya saya cuek banget orangnya,
mana sehari2 juga males dandan, malah bedak tuh utuh xixixi … terakhir jemput ponakan dari sekolah juga tampil seadanya saja.
lagian ga sanggup klo demi pencitraan harus ngeluarin dana yang ngurass kantong LOL
Menurutku perlu sih, tapi ya tergantung kondisi dan situasi. Kadang memang dibutuhkan untuk “membaur” dengan komunitas. Kadang juga harus dilepaskan dan menjadi apa adanya 🙂 #sotoy tapi begitulah 😀
Wah..sampai segitunya ya mbak.
Ah..jadi males juga kalo gitu, gak welcome banget jadinya.
Heran ya, masih aja ada yang suka pamer kayak gitu.
Pencitraan emang penting sih, cuma jangan sampai berlebihan kayak gitu.
Ya toh? 😛
nice post
Saya “field trip” ke blog ini bukan karena ngejar pencitraan tapi emang pengin kesini 😀
Wah kebeneran mas. Sy tiap k blog sampeyan g bisa2, diblokir LAN kantor,ntah knp. Cb tar tak cb dr rumah..
SD nya Riku negeri, jadi hampir semua ibu-ibunya cuek, malah ngga ada yang dandan abis. Nah, aku kan sering berjas bawaan ngajar, jadi deh pusat perhatian. Tapi aku sih sabodo teuing, soalnya cuma punya jas hahaha.
EM
Di skolah Vay ada jg ibu2 yg cuek saja g dandan habis kek aku,sec kita da capek senin-jumat dandan k ktr hahah.. Mrk mengagumi mbak krn dirimu kan mengajar. 🙂
Aku sih apa adanya aku aja ngga dilebihin ngga dikurangin capek juga ngikutin orang yang belum tentu kita mampu dan bahagia melakukannya. Makanya aku jemput anak,ngobrol seperlunya aja, kadang pas aku liwat atau datang kulihat mereka sedang menilai aku, tapi pusing juga mengambil hati apa yang mereka katakan, tugas lain sudah menunggu jadi lupa deh apa yang diomongin orang…he..he…
Hahah… dulu aku jg dinilai2 krn ke sekolah sll pake celana selutut + kaos + selop. Tp skrg gak lagi,mgkn bosan jg mereka ya. Lagian aku dah senin-jumat pakaian resmi jd sabtu ya pengen santai boleh dongg :D.
wah..saya tipe wanita/ibu yang ga peduli dan terlalu cuek malah mbak! kalo lagi di sekolahan anakku aku cenderung sibuk baca novel dibanding ngobrol atau banding2in tampilan! hehe..
Ya, saya jg suka bawa novel biar g kejebak ama model yg suka ngerumpi. Tapi mbak, dirimu gak cuek2 banget kan, pasti dandan biarpun tipis2…. 🙂
Kalau cuma beli ini itu karena ikut-ikutan padahal ga butuh sih, menurut saya kurang manfaat. Mending uangnya ditabung aja 🙂
Iya. Klo ditabung emas, lumayan ituu… 😀
hihi.. ternyata dunia perempuan dimana aja sama ya mbak.. hehehe… saya sih pengen lebih rapi.. sekarang berasa kumal.. apalagi tambah hitam gara-gara rajin berenang. Suka sirik meliat mbak-mbak pramuniaga yang kinclong-kinclong padahal ga pake make up dan bisa tetap manis dengan seragam tokonya. iriiiii. halah
Itulah Ra, klo liat org yg kulitnya bisa mulus kinclong tanpa make up gitu pasti iri. Makanya kita dandan dong, biar lebih kinclong juga :D.
Yup pencintraan lumayan bermanfaat.
buat cambuk biar bisa nyalip hihihi.
Yoi. Jd semangat cari duit deh :p
Kayaknya bersosialisasi di mana-mana, buntutnya ya seperti itu, Mbak, pencitraan.
Kalau saya sih, disesuaikan dengan kemampuan. Nggak akan ngoyo hanya demi penilaian orang lain. Biarlah mereka menyipit dan memandang “ndeso”, daripada berujung seperti nasabah Citib**k yang mengenaskan itu. 🙂
Ya betull…. saya sih gak mau maksakan diri klo emg gak mampu. Lah klo dipaksakan trs tar jd dikejar2 hutang, kan g tenang jg :D.
beruntunglah mereka yang bisa selalu menampilkan yang terbaru yang mereka punya untuk pencitraan,, dan alangkah semakin tercitranya, kalo dalemnya juga,, lengkap sudah nikmat hidup 😀
Ya tentu saja Mbak. Kalau dalamnya bagus, pencitraan otomatis jd positif :).