Pengamen, Musisi or Penodong?
Musisi Jalanan (foto pinjem dr Kaskus, nanti akan diinsert foto sendiri klo udah dapat yang bagus:) )

Pengamen, Musisi or Penodong?

Tak semua orang suka pada pengamen, itu pasti. Terutama terhadap pengamen-pengamen yang hobinya nodong, mengamen bukan karena dirinya hobi menyanyi dan ikhlas jadi pengamen, tapi demi suara keroncongan di perutnya. Umumnya kalau di warteg-warteg, pengamen seringnya berdua dengan temannya, sementara yang satu baru jrang-jreng memulai dua bait pertama, temannya sudah meletakkan plastik ukuran sedang bekas permen  — yang mungkin dia pungut dari tempat sampah – di atas meja. Setelah nyanyian selesai, pengamen mulai keliling sambil menggoyang-goyangkan plastiknya di samping orang yang makan. Bikin emosi gak kira-kira?

Saya paling tak suka makan diganggu pengamen. Pertama, harus mengeluarkan uang dari dompet yang berarti saya akan mengotori tangan karena memegang uang. Kedua, ini yang terpenting, ya karena mereka mengganggu saat-saat makan siang yang berkualitas. Kita makan siang bersama teman pastinya ingin mengobrol tapi yang ngamen ini sengaja menyanyi keras-keras di belakang. Alasan ketiga, karena mereka bukanlah pengamen sejati. Tak beda dengan penodong.

Beberapa tahun lalu ketika saya masih suka makan di warteg belakang gedung Sarana Jaya, ada seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahunan, yang ‘mengamen’ di depan pintu, bahkan masuk ke dalam warteg yang sempit. Dia akan menyanyi dengan suara seperti penderita tuna wicara, seperti orang gagu. Padahal sebenarnya dia hanya berpura-pura. Berlalu dari warteg – setelah dapat uang dari yang iba – dia berjalan keluar dan dengaan santainya berbicara normal. Keesokan harinya, ketika dia datang lagi, si ibu pemilik warteg memarahinya karena kekurang-ajarannya, menipu orang dengan berpura-pura gagu. Dia dilarang masuk ke dalam wartegnya lagi.

Musisi Jalanan (foto pinjem dr Kaskus, nanti akan diinsert foto karya sendiri klo udah dapat yang bagus:) )

Belakangan ini saya tak suka lagi makan di warung-warung kecil sebelah kantor. Tak suka dengan gangguan pengamen. Paling aman sih makan di kantin DepHan, karena mereka jelas melarang pengamen masuk. Kalau mau nyanyi di luaran silahkan, asalkan tidak masuk.

Anyway, saya sebenarnya sangat menghargai profesi pengamen. Urusan bahwa mereka mengganggu waktu makan dan waktu ngobrol saya bisa saya lupakan, selama dia bisa bernyanyi dengan memukau. Ya. Memukau. Teman-teman pernah ketemu dengan pengamen dengan suara memukau? Trust me, saya sering bertemu dengan model begitu, ketika saya masih tinggal di Medan. Dua pengamen berpasangan, satu membawa gitar, satu membawa biola, dan membawakan lagu yang indah, siapa yang tega untuk tidak memberikan mereka tip lebih. Bahkan saat baru kerja dulu (di Medan), kami bikin festival band untuk para pengamen, dan saya sendiri yang berkeliling mencari pengamen untuk ikutan. Sampai saya pinjamkan gitar saya untuk mereka, mengingat mereka tak terbiasa memakai gitar listrik untuk akustikan.

Pernah pula saya dan teman-teman ketemu pengamen yang suaranya bagus sekali, mirip betul dengan penyanyi aslinya. Kesempatanlah Kakak, langsung request lagu (macam di kafe aja ya… hehehe). Setelah dia menyanyikan lima lagu, itu juga karena kami tak tega minta tambah melihat dia sudah ngos-ngosan, kita kasih dua puluh ribu untuk tip. Kan enak toh kalau dihibur dengan permainan musik dan nyanyian yang ciamik. Telinga juga butuh dimanjakan, jangan sampai mendengarkan seteman yang baling.

OOT, jadi teringat waktu masih dulu sering nonton live music di Rock Cafe, Medan. Malam itu, saya dan dua teman main ke sana sepulang kantor, dan sesuai temanya di cafe itu, yang tampil adalah band-band lokal pilihan. Layaknya live music, pengunjung tentu boleh dong request lagu. Band yang tampil ini not bad sebenarnya, tapi sepertinya ada yang salah deh di telinga. Saya minta kertas lagu, lalu saya tulis begini : “Bang, minta lagu ini….. *saya tuliskan judulnya* tapi gitarnya jangan baling ya.” Teman di sebelah saya mengintip dan setengah mati menahan tawa. “Kejam kalilah,” komentarnya. “Gak apalah, kan untuk kebaikan dia…” Dan siapa bilang saya kejam? Ketika waiter memberikan kertas lagu itu ke gitarisnya (karena yang baca-baca request song itu biasanya gitaris), saya lihat gitarisnya cekikikan (dan mungkin sedikit kehilangan kepercayaan diri). *maaf ya dek, kakak mantan gitaris soalnya….

Back to pengamen.

Pengamen yang sekarang buanyaaakk sekali saya temui, apalagi kalau bukan pengamen lampu merah yang bermodalkan krecekan, terutama bencong-bencong pengamen. Pengamen banci tak pernah setia, setia pada pangkalannya, gitu….! Setelah beberapa waktu biasanya orangnya ganti. Tapi saya selalu memberikan mereka uang kalau mereka lewat di samping mobil. At least banci-banci ini mengeluarkan modal, untuk make up, pakaian, jadi layak dihargai.

Pengamen yang setia dengan pangkalannya adalah ibu-ibu dengan krecekan. Yang di lampu merah Arion, lampu merah Pulogadung, itu tak pernah ganti sejak bertahun-tahun terakhir ini (hapal bo’). Dan juga ada seorang pengamen laki-laki di lampu merah Pulogadung, saya ingat dia sudah mangkal di situ sejak saya baru pindah ke Jakarta, means lima tahun lalu. Orangnya pendek, gempal, dengan rambut lurus seleher. Dia baru gondrong setahun terakhir ini kayaknya, karena sebelumnya rambutnya selalu pendek. Pengamen yang satu ini sopan sekali, dan kelihatan tak pernah mengeluh meski dari depan ke belakang semua pengemudi mengangkat tangan. Terbit iba di hati saya melihat dia tak memperoleh sepeserpun dari deretan mobil yang mengular, yang maju sedikit demi sedikit mengejar green light. Sejak kejadian itu, saya tak pernah absen memberinya uang, meski hampir semua mobil dari depan ke belakang tetap memberi tangan padanya. Walaupun ada pengamen baru bermunculan, misalnya anak-anak kecil dari lingkungan sekitar yang coba-coba jadi pengamen, atau penghuni tetap, si ibu kurus yang suka ngedumel kalau dikasih tangan, tapi hanya dia pengamen yang saya kasih. Meski dia belum selesai menyanyipun, langsung saya kasih, biar dia sempat ngamen ke mobil di belakang. Setelah saya pikirkan lagi, alasan saya menjadikan dia pengamen favorit adalah karena ketulusannya menjadi pengamen. Kadang kala dia berdiri saja di pulau jalan, alih-alih menyerbu kendaraan memanfaatkan detik-detik lampu merah, dia bersandar di pagar sambil main gitar, beryanyi untuk dirinya sendiri.

Jadi ingat beberapa bulan lalu saat saya dan teman makan di warung samping kantor. Kami berdua sedang tak ada uang recehan — dua ribu, seribu sampai gopekan sekalipun — jadi karena si pengamen terus menodong, teman saya nyemplungin seratusan logam (karena memang hanya itu yang ada). Si pengamen berlalu, tapi kira-kira semenit kemudian, mungkin dia baru lihat kalau dia dikasih cepek-an, dia balik ke tempat kami, dan melemparkan koin itu ke atas meja. “Ini Mbak, gak usah.” Kami terkejut, terutama teman saya langsung pucat pasi. *inilah cikal bakalnya kami malas makan di samping lagi.

Memang kurang ajar deh tuh pengamen. Dikasih tangan – dibilang maaf – memaksa. Dikasih uang kecil, gengsi. Beuh!

77 Comments

  1. aq pernah ngalamin juga mbak, uang yg ku kasih di balikin gara-gara kekecilan … 🙂

    • Zizy

      haha… emg kurang asem kan tuh pengamen…

  2. wah kalau uang kecil nolak, dia ngga bakal dapat yang besar tuh… nyebelin!

  3. dulu saya juga pernah digituin.
    dikasih gopek duitnya malah dibuang.
    pengamen gak jelas yang gapernah mau bersyukur.
    kalo sekarang saya milih2 kalo mau ngasih ke pengamen.
    kalo nyanyinya gajelas ya ga saya kasih,
    tapi kalo mukanya melas dan nyanyinya enak ya saya kasih
    wkkkk

    bodo amat deh

  4. alhamdulillah, saya belum pernah nemuin pengamen yang suka maksa.. xixixixixi

  5. Saya juga sering nemu pengamen yang niat menghibur orang dan bernyanyi dengan baik dan bagus. Sisanya cuma penggumam (bukan pengamen), yang entah nyanyi atau kumur-kumur, trus menengadahkan tangan untuk minta duit. Mungkin dia nyanyinya juga, “Pak,, kasihan pak, blum makan pak..” Sama aja kaya’ ngemis donk.

    Pernah juga nemu sekelompok mahasiswa yang ngamen untuk pengumpulan dana. Trus saya tantang, “Nih ada duit 20ribu, tapi jangan nyanyi lagu pop mulu. Nyanyikan saya lagu Indonesia Pusaka atau Rayuan Pulau Kelapa” Eh, malah saling pandang mereka dan menawar untuk nyanyi lagu Indonesia Raya saja, itu pun tanpa alat musik. Hadeeeh,,, :p

  6. oma

    Sekarang pengamen itu makin ngeselin sih. Bahkan sekarang, sebelum meminta uang, mereka akan mengucapkan kalimat “Tolong hargai suara kami, suara kami bukan suara binatang yang bisa anda hiraukan begitu saja.” Biasanya nih, kalau tetap ga dikasih, mereka malah memaki-maki. Oh, yang ngeselin lagi, kalau ada yang dandan ala punk dan berusaha menakut-nakuti penumpang.

  7. hehe sy pernah ngasih ‘tangan’ ke pengamen yg ngamen di angkot, lupa kalau tangan sy lg pegang uang (uang 2000) buat angkot. laah waktu itu ngangkot emang niatnya mau ke ATM dan ga da uang lagi. Si pengamen ngasih gestur mau noyor saya. serem!

    • Zizy

      Ihhhh tak tahu diri banget pengamennya itu.

  8. Hehe kalau pengamennya suaranya enak sih enak-enak aja ya.
    Kalau yang gak enak, malesin…
    Lebih mending pengamen sih daripada anak kecil yang gak modal apa-apa minta-minta di perempatan jalan T.T

  9. Kalau saya biasa pulang kampung naik Bus, saat bus melakukan transit maka naiklah pengamen ke bus sambil menyanyikan lagu di depan. Sebenarnya saya tidak terganggu karena biasanya suara mereka memang bagus… tetapi terkadang saya pura-pura tidur sambil menutupi muka dengan sapu tangan atau buku :D. Mungkin tahu saya berura-pura, pernah ada pengamen yang bilang “Semoga tidur terus yah Pak…” 😀

  10. Kadang saya juga merasa heran saat menemui pengamen yang sepertinya memaksa saat meminta, kalau tidak diberi, kadang ada yang sampai mengeluarkan kata-kata yang kurang enak di dengar.

  11. Ya ampun sampe lemparin lagi uangnya , tak sopan banget ya, meskipun pengamen tata krama harus tetep. Saya juga kurang suka kalau lagi makan di kaki lima diganggu pengamen ini, bukannya terhibur yg ada terganggu 😀

  12. Wah, ditempat saya malah lebih parah,.. kalau recehan mereka malah milih minta beberapa batang rokok. Jiah… dia tau kalau yang dikasi bakalan ngga dapet beli sepuntung rokok. 🙁

  13. paling males kalo lg makan enak2 dan tangan belepotan sambal/bumbu, masa tangan kotor mau rogoh2 saku cari recehan? akhirnya kita cuma bilang ‘maaf…(lagi asyik makan nih!)”

  14. Karena beberapa alasan yang (buruk) dijabarkan oleh mbak Zee, saya kadang buru-buru menutup pintu kalau bertemu mereka.

    Selain karena (akhir” ini) banyak yang suka maksa, juga saya tidak bisa tahan melihat akting muka melas mereka, heheh.

  15. hmmm untuk ibukota memang pengamennya agak agak deh mbak, yg didaerah sih keknya belum

    • Zizy

      Iya Jul, nanti malam aku updated…

  16. jadi inget pengamen jaman kuliah di its dulu.. dia itu seorang. bencong ! dan ya ampun, kalo ada dia aku musti ngumpet dulu haha. takut euy digodain

  17. kadang pengamen emng gitu jg sih mbak, suka maksa.
    kadang malah juga minta rokok atau permen kalo gak ngasih uang…
    Jadi males jg ngasihnya, sekarang pilih² kalo mau ngasihke pengamen..

    salam kenal mbak…

  18. kalau di rumah, pintu depan selalu ditutup. males ama tukang ngamen katanya. padahal saya lebih senang terbuka. siapa tahu ada tetangga lewat, bisa bertegur sapa. maklum sehari-hari kerja jarang ada kesempatan ngobrol bareng tetangga.
    salam kenal dari Kemhan, bukan DepHan lagi. udah ganti. he..he..he..

  19. saya paling benci kalau ada pengamen yang memberikan “ceramah” dulu sebelum nyanyi (engga jelas) … yang bilang “mending kami mengamen daripada merampok …” :angry: maksud loe apa?!!! … 😆 …

  20. Dapat bertemu dengan pengamen yang sopan, tidak memaksa serta bersuara indah mengalun dan menghibur berarti jg termasuk rejeki ya 😀 …

    Sayangnya tidak semua orang yg memilih profesi pengamen, memiliki suara yang memang mampu menghibur yang mendengar.

  21. DV

    Hal-hal seperti ini yang membuat saya semakin rajin bekerja!
    Hah? Kaitannya?
    Dengan rajin bekerja, saya akan semakin dapat uang banyak dan ketika libur tiba, saya bisa pilih2 alat transport dan tempat makan yang memungkinkan saya untuk tidak bersentuhan dengan para penodong seperti ini 🙂

    Demikian! 😉

  22. iyah memang nggak asik pengamen, kebanyakan pengamen di indo, lebih mirip penodong, dah suaranya jelek, main gitar juga gak bisa, paling gak asik mang ada yang nodong saat makan,
    satu kali pas di jakarta dulu pernah terkesan banget sama seorang pengamen, waktu itu lagi ngetop ngetopnya peter pan dengan lagunya mimpi yang sempurna itu…
    dia itu, main gitarnya dan kualitas vokalnya, wah kaya peter pan yang lagi konser akustik dah, ku perhatikan pula semua penumpang bis kliatannya begitu terkesan, akhirnya hampir semua penumpang ngasih duit, bahkan cukup banyak yang ngasih 5ribuan, dan saat turun dari bis pada ngasih tepuk tangan,
    saya berpikir, pekerjaan apapun kalau dilakukan dengan sebaikbaiknya, hasilnya akan baik pula…
    hingga kini belum pernah menjumpai pengamen sebaik itu….

  23. Hmm…sangat komplit pengalaman lo zee tentang pengamen…salut berat dah…

    gw menyoroti sosok pengamen yg setia ama pangkalannya, yang lo liat di lampumerah pulogadung itu…hmm…sangat damai rasanya, kalau melihat pengamen yg nyanyi di bawah pohon bersandar di pagar sambil main gitar, beryanyi untuk dirinya sendiri….asyik yaa

  24. nh18

    Hmmm …
    Memang betul … jika sedang makan … ada orang ngamen … memang terganggu ,,,
    Tetapi saya tidak akan terganggu dengan pengamen yang mempunyai suara yang bagus … (at least tidak baling) … gitarnya pun tidak baling … alias ter stem dengan baik …

    Ooo itu saya pasti suka …
    Dan ringan-ringan saja kasih dia uang …

    Salam saya
    (sort of … mantan pengamen )
    hehehe

  25. Iya bener… sebel juga rasanya kalau lagi enak2 makan trus diganggu pengamen.. yang maksa pula….

    dosenku dulu pernah di cerita, di tempat asalnya (Inggris) orang ngamen ya di satu tempat… gak keliling-keliling, nggak ngganggu kenyamanan orang lain… kalau ada orang yang mau ngasih uang, tinggal memasukkan uang ke wadah biola atau kaleng di depannya.. nggak ngasih juga nggak apa-apa, nggak akan dipaksa atau ditodong..

  26. saya juga pernah ngalamin ngasih pengamen malah dilempar, saking palengnya kepala waktu itu, ta kejar pengamen nya sambil bawa kunci socket… baru jadi pengamen aja udah belagu sama uang receh…gimana kalau jadi orang kaya??

  27. kalo gak ada uang receh di kantong kayaknya sy lebih milih utk nolak bayar pengamen.. Rasanya jengah bgt buka2 dompet di depan pengamen..

  28. Unang muruk-muruk kak 😀
    Eh ini bahasa batakku bener gak yah?
    Untung di kantorku skr gak ada pengamen.
    Yeay

  29. Wow, gitaris ya… keren.. 😀
    memang banyak pengamen yg sebenarnya gak layak di sebut pengamen, tapi pengemis. Kalau pengamen itu harus punya skill bermusik lebih atau bernyanyi lebih, toh kalau aku lebih baik dari dia dalam bernyanyi dan bermusik, ngapain dia menghibur. bukankah begitu?

  30. seringnya ketemu di bis dari stasiun tanah abang menuju thamrin…dan banyak sekali yang menyanyi dengan baik dan benar…maka tak segan2 seribu atau 2 ribu berpindah tangan kepada mereka…

  31. Saat menikmati makan di rumah makan, selera makan saya langsung hilang ketika ada pengamen.
    Mana datangnya silih berganti.
    Udah gitu penampilannya kumal

  32. di temapat saya Solo ntah karena memang banyak senimannya, rata-rata pengamennya suaranya lumayan, main musiknya juga rapih, jadi waktu ngasih duitnya ikhlas aja 🙂

  33. pengamen memang menyebalkan…
    setiap hari, gak terhitung jumlah pengamen yang wara wiri di depan tokoku, apalagi kalo jumat, jumlah mereka meningkat. entah kenapa

    sebelnya lagi kalo ada pengamen yang gak dikasi uang, lantas marah marah… nah lho… aneh kan

  34. Kalau saya biasanya diem dulu kalau ada pengamen. Kalau dia bagus ya saya apresiasi. Tapi kalau jelek musiknya dan galak, saya langsung galaki dia..

    • Zizy

      Halo… terima kasih sudah berkunjung kembali… 🙂

  35. iya, paling sebel banget kalo ada pengamen pas kita lg makan, emg sih kdang menghibur, tp keseringan malah keganggu

  36. aku juga sempat hafal pengamen di lampu merah cempaka mas, ada pengamen waria yg wajahnya udah nggak nentu, kayak silikon ya mbleber semua

    yg di bis juga, aku dan pengamen sampai saling kenal sejak anakny masih 3 tahunan yg lucu sampai sekarang sudah gede usia SD jadi nyebelin karena maksa ngedarin amplop kosong

  37. aku pernah mbak dipasar bilang maaf sama pengamen cilik, eh aku dicubit 🙂

  38. haha, ternyata pengamen itu memang bagian dari keragaman sifat manusia. saya juga punya beberapa pengamen favorit di kota padang. ada yg nyanyinya keren banget pake gitar + harmonika, ada bapak dan anak yg nyanyi puluhan lagu baru keliling ngedarin plastik fav saya karena anknya tumbuh semakin besar namun bersiih dan ganteng banget, meskipun kulit bapaknya semakin menghitam, ada juga pengamen fav yg bisa direquest lagu apa aja.
    tapi banyak juga pengamen ngeselin yang datang puluhan kali ke saya hanya dalam jarak waktu 10 menit -_-“”
    macem2 deh…
    tapi beneran deh mbak, ngebaca duit 100-nya dibalikin, saya ikut deg2an. hahah. itu pasti mau marah gimana, mau kesel juga gimana. 🙂
    yah,,, diambil hikmahnya aja, toh bisa dijadiin bahan postingan di blog.
    salam kenaaaaal

    • Zizy

      Nah paling males emang klo datang semua rame2, jadinya kita malah keluar uang lebih banyak utk pengamen…
      Makasih mbak kunjungannya… 🙂

  39. yaa ampunn. masak pengamennya marah gt dikasih uang logam.. kalau banyak kan bs besar juga nominalnya.. hmmm..

    di pontianak jarang yg suaranya bagus mbak.. lagian aku gak ngerti juga menentukan.yg bagus atau gak.. hehehe.. yg pasti ada disatu ruas jalan di pontianak pengamennya niat bgt.. ya pake gitar sama biola gt deh.. tapi masalahnya di ruas jalan itu sering bgt pengamen yg bergaya sama.. jd kalau udah.dikasih yg pertama, males juga ngasih yang seterusnya deh..

  40. ded

    Apalagi yang ngamen di atas bus kota atau metro mini, biasanya banyak yang ga benarnya…. 🙂

  41. kuraaaang aseeeemmm itu pengamen yg dikasih cepek…ehh tp sejujurnya utk pengamen dan polisi cepek gue gak pernah berani kasih cepek….karnaahh pengalaman pribadi…aku kasih ke polisi cepek bbrp taun yg lalu jaman masih tinggal di jakarta dan aku didamprat…kurang ajar memang…tp aku jiper bok…hihihii…dan itu keterusan ampe di bandung sini…

    • Zizy

      Duh kurang ajar itu yg mendamprat. Kita serba salah sih, mau kita ajak berantem kok kayaknya gimana gitu… sudahlah yang waras ngalah.

  42. aku pernah ngasih recehan 100 rupiah tapi banyak, itu aja diomelin (-____-)
    gimana coba… dia ngamen, kita gak minta, tapi kita dipaksa harus bayar.

  43. Saya setuju, Bu. Semakin lama pengamen yang asal-asalan itu semakin meresahkan. Di warung tenda tepi jalan, ada mereka. Di bus kota, ada mereka. Di angkot, ada juga. Di lampu lalu lintas, ada lagi. Yang masih bocah-bocah itu terutama yang menurut saya sekadar ikut-ikutan. Saya takutnya mereka jadi terlalu keenakan, terlena, mencari uang dengan begitu mudah. Tidak perlu susah-susah bersekolah, dsb. Jangka panjangnya kan jadi tidak bagus juga buat mereka, saya pikir.

  44. Aku nggak pernah kasih uang ke pengamen. Karena menurutku memang kualitas nyanyinya nggak bagus, jadi nggak pantas aja dihargain. Aku kasihan sama pengamen-pengamen yang ngeyel kepadaku minta uang, karena sekeras apapun usaha mereka, pasti aku nggak akan kasih. Tebel-tebelin muka aja, nggak peduli dia mau nyodorkan tangannya ke aku sampek sejam sekalipun.

  45. Di Pontianak yg byk pengamen itu di warung kopi gajah mada… Mcm2. Dr yg brkualitas sampe g ad sama sekali.

  46. dari pada dengerin pengamen bayar lagi, mendingan ke ancol tiap jumat ada friday jazz night gratis…heee…promosi nih…tp bener lho buat penggemar rio febrian bisa nonton gratis tanggal 18 ini.

  47. wah mbak zizy sampai hapal sama pengamen yg dilampu merah Pulogadung ya…?? kalo di Lampu merah mau kiri ke mall citra ada pengamen bapak2 tua yg sdh tahunan disitu…hmm kalo di Metro Mini gak keitung silih berganti pengamen, banyak juga yg bagus suaranya ada jg yg cuman nyanyi asal sambil ngancem, ada yg pura2 gagu jg, kalo makan siang emang ganggu bgt yaks.

  48. Ah iya.. kalau nyanyinya niat selalu dikasih pasti. iya cukup niat aja mbak.. soalnya buta nada jadi ga ngerti apa itu baling. Hahahaha.

    kadang suka request lagu kalau dari awaln dia udah mainin lagu kesukaan.

    buat yang banci sih ga pernah ngasih. karena dia nyanyinya kecrek-kecrek aja. tapi iya juga ya.. modal makeup. baiklah.. 😀 *gampang terbujuk*

  49. Kalau soal pengamen dan sejenisnya, saya termasuk subyektif. Dalam artian kalau saya sreg ngasih ya saya kasih, kalau enggak ya enggak. Kaya kemarin misalnya, ada pengamen yang nyanyinya bagus, niat, saya diam-diam rekam, buat didengerin lagi tar. Saya kasih? Iyalah, wong bagus… :))

    Tapi kemarin ada yang baru ngomong, “Pak Markum kecebur empang, assalamualaikum para penumpang…”, trus dia atraksi nyilet-nyilet lengan sambil menengadahkan topi, nggak dikasih malah marah dan nyumpahin dompet kecopetan, hp ilang. Ih, kaya begini nih yang kagak demen 😐

    • Zizy

      Aihhh gak banget itu orang yg atraksi nyilet-2……

  50. Kalau memang suaranya bagus dan lagu yang dibawakan indah – pas mengiringi suasana makan dan ngobrol, saya sepakat jika kita layak memberikan apresiasi dan tips untuk mengamen.

    Tapi jika sudah muncul sebagai gangguan, ya maaf saja. Makanya saya jarang makan di lesehan ketika di Jogja – biasanya selalu jadi serbuan pengamen. Bisa lebih dari empat kali selama kita duduk dari belum memesan hingga hampir cuci tangan, pengamen selalu datang silih berganti.

  51. Zy..sekarang pengamen tuh menjamur di mana-mana..
    dimanapun kita makan pasti ada, udah jelas2 ngamen ga boleh *bikin kesel emang ganggu juga*

    Apalgi di komplek, moso pagi2 buta dah ngamen..setiap saat..
    Kadang aku juga kalo ada pengamen yang bersih, suaranya bagus, sopan, pasti lah terenyuh untuk ngasih.
    Tapi kalo belagu gitu tuh..beuuh..*pengen nendang*

    • Zizy

      Beneeerrr…. Pengen rasanya nge-hajar tuh orang.

  52. untung surabaya masih oke2 aja dikasih duit kecil mbak, di beberapa lampu merah ada sih yang niat banget, beberapa pengamen dandan bergaya kaya’ wayang orang atau ludruk gitu mbak, kreatif, walaupun mungkin yang didapat sama dengan yang bermodal krecekan ~.~” agak kesian saya, ngasihnya pasti lebih banyak 🙂

    • Zizy

      D Jkt skrg udah banyak jg pengamen ondel-2 gitu Fen, tp belum pernah lewat depan rumah sih… Kalau lewat tentu aku kasih. Kasihan juga, orang cari makan.

  53. iya memang banyak tuh pengamen seperti itu.. sangat mengganggu sekali. tapi banyak juga yang bener benar pengamen yang bisa request lagu…

    coba deh di menteng jakarta banyak pengamen yang pro begitu.. jadi bisa request lagu dan suaranya relatif bagus bagus…

  54. gitar dibaling itu maksudnya diapain zy?

    iya emang kadang ada pengamen yang bagus nyanyinya… dan paling kesel ama pengamen belagu yang kalo dikasih duit kecil malah ngoceh…

    • Zizy

      hehe… baling itu maksudnya fals. 😀

  55. Bonyok pernah cerita di Bandung, sekali waktu pas di perempatan lampu merah ada pengamen, krn bonyok waktu itu gga ada uang kecil, mereka kasih seadanya. Eh trusnya si pengamen itu lanjut nyanyi dengan kalimat2 berbau SARA. Kurang ajar banget deh.

    • Zizy

      Wah kurang ajar tuh orang. Nyalahin suku lain utk nasib buruknya.

  56. di jogja ada tempat nongkrong yang asyik, dulu di kawasan 0 km, tetapi dengan begitu banyak pengamen, tiap ada orang duduk duduk saja sudah disapa pengamen, saya sekarang jadi ogah nongkrong2 di sana, begitu pula dengan tempat tempat makan di sepanjang jalan pangeran mangkubumi, yogyakarta 😀

    • Zizy

      Iya, kehadiran pengamen2 ini pd akhirnhpya bs mengurangi pengunjung.. Para penjual pernah ngeh gak ya kalau dia mgkn telah kehilangan pelanggan2 potensial.

  57. Aku pernah sama ibu turun dari bus karena pengamen tipikal seperti itu.

    “Kami bukan penodong, kami bukan pencopet” tapi gayanya seperti itu dan nyanyinya asal-asal-an. Karena sudah melihat gelagat yang tidak mengenakan, kami berdua memilih untuk turun.

    Padahal yang dituju masih 300 meter lagi.

    • Zizy

      Duh capek jg itu jalan 300mtr. Kayak2 gitu memang bikin gak nyamanlah….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.