Baru selesai nonton Philadeplhia di HBO, film yang bercerita tentang Andrew Beckett, seorang pengacara yang dikeluarkan dari firma tempatnya bekerja karena dia menderita AIDS. Sebuah akting luar biasa dari Tom Hanks (yang waktu itu masih muda dan cakep banged pula :)) ) dan Denzel Washington. Ada adegan ketika mereka sedang sidang di pengadilan dan saat itu Joe Miller (Denzel Washington) bilang begini, “Ayolah blak-blakan saja, tidak perlu ditutupi. Saya yakin bahwa kalian memberhentikan Andrew bukan karena AIDS-nya tapi karena dia seorang gay. Kalian takut akan kaum homoseksualitas.” Kira-kira begitulah artinya kalau diterjemahkan.
Saya jadi tergelitik untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran saya sejak dulu. Apakah Indonesia siap dengan eksistensinya kaum homoseksualitas? Komunitas homoseks ada banyak di negara kita ini, dan seiring kemajuan jaman, eksistensi mereka juga semakin terlihat.

Saya sering bertemu dengan pasangan sejenis, wanita-wanita atau pria-pria. Saya juga punya teman yang punya orientasi seksual pada sejenisnya. Mari kita menyebut mereka dengan kaum gay. Suatu istilah yang lebih elegan daripada menggunakan istilah “homo”.
Kenapa seseorang bisa menjadi gay? Beberapa kalangan mengatakan bisa jadi karena salah pergaulan, trauma masa lalu, dan yang mayoritas mungkin adalah bawaan lahir. Sejak masih kecil sudah bisa merasakan bahwa dirinya berbeda dengan yang lain. Lalu bisakah mereka yang berbeda ini diarahkan untuk kembali menjadi “hetero”? Banyak yang mengklaim bisa membuat seorang gay kembali normal. Dulu pernah ada acara TV yang mengklaim bisa buat seorang bertobat dalam tujuh hari. Di beberapa episodenya memang selalu berhasil, tapi tidak ada kelanjutan bagaimana sekarang? Apakah para “pasien” bisa terus melangkah di “jalan yang benar” atau kembali ke pilihannya yang dulu?
Sedikit yang saya tahu adalah, kaum gay banyak berkumpul dengan komunitasnya sendiri tanpa berani keluar menunjukkan eksistensi mereka. Well, tidak semua memang. Di daerah mungkin tidak seagresif di Jakarta ini, karena Jakarta ini kota semua orang. Siapapun bebas berekspresi di sini selama tidak mengganggu orang lain. Tapi mereka yang berani terang-terangan itu juga sedikit sekali, mungkin hanya berani tampil di klab-klab atau di mal-mal menengah atas karena di mal mewah itu kita mau bergaya ala Britney Spears pake rok mini yang kelihatan pantat sedikit juga no problem gitu lohhh.. 😀
Kembali kepada ucapan Joe Miller di film Philadelphia itu. Apakah kita takut pada kaum homoseks? Takutkah Anda bila ada seorang homoseks di lingkungan Anda?
Salahkah menjadi seorang gay? Nistakah itu? Kalau tanya saya, saya tentu ingin keluarga dan teman saya menjadi hetero semua, tapi kan saya tidak bisa memilih. Menurut saya, tidak ada salahnya menjadi seorang gay. Dia hanya punya orientasi seks yang berbeda dengan mereka yang hetero.
Film Philadelphia itu mengingatkan saya kembali bahwa di belahan dunia manapun, diskriminasi pasti terjadi. Diskriminasi buat mereka yang sangat minoritas dan berbeda, karena ketakutan bahwa yang minoritas bisa menjadi mayoritas.
Lalu, kapan negara kita ini bisa menerima keberadaan mereka yang berbeda dengan tangan terbuka? Biar mereka yang mau menikah tidak harus repot-repot ke luar negeri untuk melegalkan hubungan karena negara ini tidak bisa mensyahkannya secara undang-undang.
Hanya masalah waktu. Perubahan itu pasti datang, dan kita harus siap dengan itu.

alo mbak zee
slm knal aja dr saya. tentang gay saya cuma kasi koment. kalo Tuhan gak prnah salah cetak. yaa tak sempurnanya insan adalah kewajaran. tak perlu ada cemooh dan caci. jika dari mata agama salah. itu memang salah. manusia yg beragama harus mengikuti syariat bukan? tp semua penilaian kita serahkan pada Tuhan. Dialah yg menciptakan. kita hanya sebutir pasir dari maha karyaNya.
thanks ya sudah datang dan berkomentar di sini…. 🙂
ah..gak takut kok.mereka kan bukan macan. aku belum nonton Phil. sampai skrg. kapan yah..pengen nonton krn hanks yang main! tapi gak sempet2 dari dulu.
Aku walau ngga keberatan dengan kaum gay, tapi jujur aja memang agak was was kalau aku bekerja dengan kaum gay.
GR mungkin, tapi aku takut kalo mereka naksir aku 😛 — that’s all about it.
Gimana gak was was kalau kita dipegang kaum Gay. If we know they are straight, nothing is going to happened.
Bukan cuma mereka kaum gay aja yang trauma kali… Aku kaum normal juga trauma, pernah dicium BANCI! (memori kelam dipesta sweet 17th teman SMA ku dulu)…
salam kenal sobat
artikel yg berkesan
Gimana perasaan botou dekat-dekat sama mereka, apa tidak terasa asing gitu. Kalau saya botou, dengar aja rasanya sudah ngeri. Munkin tidak mereka normal lagi?.
tidak aku tidak takut berada diantara mreka,aku menerima mreka,9imanapun ju9a mreka tetep manusia..
aku punya teman yan9 ju9a seoran9 9ay,perlakuanku sama tidak berubah 🙂
karena pada umumnya masyrakat kita san9ad susah menerima ke9anjilan,padahal mreka ju9a tidak mau seperti itu..
Mbak Zee,
Kebetulan saya juga pernah menonton filmnya.
Jika kita kaitkan dengan kondisi yang ada disekitar kita kasus ini banyak terjadi.
Di Indonesia, eksistensi mereka memang belum terlalu mencolok dan masih cenderung eksklusif. Buat saya pribadi nggak ada masalah, toh yang berbeda hanya orientasi seksual saja, sama seperti kita, tidak bisa memilih kenapa saya harus laki-laki dan Mbak Zee harus perempuan.
mmmm…susah juga sih mbak kalo masalah sudah menyangkut adat ketimuran dan pandangan yg hanya bisa melihat secara umum.
aku adalah sahabat seorang gay yg sangat luar biasa, dia itu inspirasiku mbak dan well gak semua orang bisa melihatnya dengan sisi berbeda mereka cuman melihat dari pandangan umum 🙁
kira2 perubahannya berapa thn lagi ya?
menurut saya, indonesia blm siap mbak u/kaum pecinta sesama jenis..masyarakat kita pasti akan menyorotinya dengan heboh
hi mbak apa kabar. aku dah lama nih gak eksis, masa transisi, dari hotel sekarang ngurusin wisata di flores, tempatnya sangat indah dan sangat direkomendasikan untuk dikunjungi
aku jg gak suka diskriminasi thdp kaum gay, mbak…. 🙂
umm..entahlah..menurutku yang penting mereka ga ganggu aja…
kalo masalah dosa atau tidak, kurasa itu adalah urusan pribadi masing-masing dengan Yang Kuasa…
masalah norma? ummm…bukankah masih banyak penyimpangan lain yang lebih ‘mengganggu’? ah..entahlah…
Selam kaum gay tidak mengganggu orang lain, mengapa kita mesti menolak? Plitalitas adalah keniscayaan, termasuk di dalamnya orientasi seksual. So, tergantung bagaimana kita menyikapinya aja…
Salam kenal dari Senat Mahasiswa Tarbiyah…
Waduh, menjadi gay or tidak gay adalah suatu pilihan. Jika seseorang tau dirinya mempunyai kecenderungan untuk menjadi gay, dia tinggal memilih mau mengikuti nafsunya atau nuraninya? Apapun, Tuhan tidak menciptakan kita setengah-setengah, tinggal gimana kita mau mengikuti Tuhan or not. Sama sekali gak gampang, tapi bimbingan dan pendalaman iman akan sangat membantu.
So, jelaslah, aku tidak mendukung gay, sorry 😀
gw udah jd fan Devushkashop
akhirnya lo bisa ngintip fb gw dunk.. hehe
Zee… gw barusan updeeet…
ayoolaah
saya suka diskriminasi asal yang didiskriminasi bukan saya
aku ga merasa terganggu dengan mereka selama masih dalam batas wajar
itu sebuah penyimpangan
Kalau mau ditanya sebenarnya bukan kapan negara bisa menerima keberadaan mereka yang berbeda dengan tangan terbuka?
Tapi kapan orang-orang/pemerintahan/budaya/arogansi di negara ini bisa menerima perbedaan dan bisa menempatkan kaum minoritas secara adil.
Nice post mbak.
Kalau ditinjau dari sudut pandang agama Islam, hal seperti itu tak bisa ditolerir lagi tentu tidak diperbolehkan. Apalagi kalau sampai diresmikan dalam sebuah ikatan. Dari sudut pandang yang lain mungkin saja itu bisa dilegalkan dan disahkan dengan UU.
Wah homo, tidakkkkkkkkkk……..
Hehehe, saya dulu sempat berinteraksi intens dengan kaum gay, salah seorang malah naksir saya. Yah, sepanjang tidak saling mengganggu sih tidak apa-apa. Kalau sudah mulai mengusik privasi, siap-siap aja… 😀
Hiiiii…klo maalah gay dan sejenisnya aq jai takut mau komen…….memang kebanyakan penderitanya adalah mereka……takut bgt ah……..mrinding…
homoseks itu sih, susah untuk merubahnya. karena itu berhubungan denganorientasi seks memang. dan biasanya, eksistensinya lebih didukung oleh lingkungannya. saya punya temen, yang memilih jalan ini hingga memutuskan untuk berhenti bekerja.
yah, itu pilihan mereka. mau di apain lagi? toh mereka tau apa yang terbaik bagi mereka.
yang penting, kita tetap menjaga hubungan silaturrahmi aja. kenapa harus takut?
biarkan dia dengan dunianya, dan kita pada dunia kita juga
wah, blognya semakin indah saja…
Mbak zee, saya tidak takut dengan kaum gay,tapi saya khawatir kalau keberadaan mereka malah menularkan keadaan tersebut ke lingkungan sekitarnya.
Jadi saya sepakat mereka tetap berada di komunitasnya saja
Gay tuh ada yg bawaan sejak lahir yach ???
yes mam…only time will tell…
🙂
Aku nggak takut dekat dengan kaum gay selama mereka nggak agresif. selama mereka tetep sopan, kayaknya nggak masalah deh…
Aku pernah punya muris SMA yang gay, tapi dia malah dekat denganku, dia bisa curhat bahwa beberapa temannya ada yang “geli” jalan/kelompok studi bareng dia…kasihan deh..
setiap manusia dilahirkan berbeda dan kita tidak pernah tau gimana masa depan seseorang itu…jadi..jika mereka seperti itu..biarlah waktu dan situasi yang menentukan apakah mereka akan tetap seperti itu atau akan berubah 🙂
Aku yakin kak, kalo Gay bisa milih dia pasti mau jadi hetero aja *bisa berhayal untuk Three some hahahahah*. Kadang ini tentang psikis kan? kejiwaan? Bukan sekedar pilihan. Sometimes malah udah terlanjur dan ga sadar dan ga bisa diselamatkan lagi untuk balik ke jalan yang “lurus” :D.
‘diskriminasi’ sama personalnya sebaiknya tidak, sama2 manusia ciptaan Tuhan. tp ‘status’-nya itu yg membuat prihatin 🙂
Keberadaannya sebagai manusia kita hargai tapi kecenderungannya yang menyalahi fitrah patut kita ingatkan. tentunya dengan bahsa yang baik dan terhormat..salam
jawabanya adalah karena kita negara beragama dan gay tidak ada dalam alkitab..trus gimandrang dunk…
Saya setuju dengan pendapat Pak Boyin,…. apalgi ditambah dengan norma-norma masyarakat kita, hukum norma masih berlaku, dan yg utama tentunya hal ini sangat diharamkan oleh Agama……..
Kaum Gay juga manusia yang butuh bersosialisasi dan butuh kenyamanan serta pengakuan keberadaan mereka secara personal juga, namun kita harus berfikir logis bahwa gay adalah benar benar telah menyimpang dari takdir yang digariskan, yang perlu kita lakukan cuma tetap menerima mereka dalam pergaulan dan sedikit2 kasih perhatian dan pandangan yang logis dari sudut sosial dan spiritual, karena agama manapun tidak menghendaki homoseks karena Yang diatas sudah memberi garis hidup yang jelas nyata, kenapa harus mengingkari kan? kita hanya berkewajiban tetap memperlakukan mereka dengan baik, kita rangkul dan kita bina bukan di diskriminasi.
perbedaan itu psti ada, bagaimanapun keadaannya kaum gay tetaplah manusia yg butuh diakui & dihargai eksistensi mrk, yah mudah2an seiring berjalannya waktu masyarakat kita bs terbuka menerima perbedaan ini.
nggak berani komeng
yang penting tidak melakukan tindakan provokatif dan diskriminatif
item 🙂
salam
Saya ngak bilang setuju atau ngak setuju, tapi yang jelas penertian 🙂
jujur sebagai yang normal, saya rada2 takut sama cwo yang gitu. tapi bukan berarti saya mendiskriminasikan, cuma yaa… gimana ya, tetep aja geli dan takut, pasti kk ngerti deh
Betul..tul..tul, setuju…
Kalo disuruh memilih, mereka juga pasti gak mau milih hidup sebagai Gay…
Tapi emang sih, di negara kita N negara lainnya hal tersebut masih pamali…
sya gak blng stuju, gak blang gak stuju… yg pasti kita hrus mnerima dan mnghrmati perbedaan 🙂
saya malah waktu kuliah dulu skripsinya tentang komunitas penari pria homoseksual… 😀
dalem nie mbak Zee, pertanyaan yang jawabannya membutuhkan pedebatan panjang.
wetsss, kren nie penampilan baru blog ini, semakin look friendly… nice. tapi sayang blog ku tak ada di blogroll nya 🙁
Dua aktor keren yg pasti saya tonton tuch filmnya. Berkaitan dengan gay/homosex… sory saya ga’ bisa koment.
no comment, tapi saya sepakat sama komentar terdahulu bahwa kita tidak boleh diskriminatif dalam segala hal, semua memiliki kedudukan yang sama..
denzel n Tom Hank, memang luar biasa di film itu. Soal gay, saya salut sama mereka, kreativitasnya itu lho! luar biasaaa! btw pa kbr sis?? 🙂 (i m back, try to be back)
Heheheh di Ende banyak kok, kk… yang secara terang2an menunjukkan mereka gay 😀 hehe. Rahasia umum alias semua orang juga tau… maklum kota kecil.
Padahal dulunya mereka2 itu punya pacar permpuan alias normal… fiuh :/
I’m surrounded by friends with different orientation.. they are fun and nice! 🙂
it’s their choice loh…
setuju ama titiw…
gak menolak mereka, tp menolak dgn tegas jika perilaku tsb dipromosikan kpd anak2..
I ain’t against gay people. I’m just against it being promoted to kids, mbak.. 😀
Untuk yang ini …
saya tidak bisa berkomentar mengenai hal ini …
namun demikian …
diperusahaan kami … kita sama sekali tidak diperkenankan untuk berlaku diskriminatif …
entah itu age, gender, status, race … maupun sexual orientation …
Salam saya
saya pernah melihat kaum yang saya kira gay di mal-mal…hmm..ada perasaan aneh, perasaan bahwa mereka ‘berbeda’, mereka ga normal, mereka ga sehat dll… Saya berpikir, jika mereka menjadi gay karena lingkungan/pergaulan, maka kaum inilah yang mungkin akan sulit atau bahkan tidak bisa diterima masyarakat,termasuk saya karena pada dasrnya mereka bisa berubah. Namun jika kelainan perilaku dan orientasi seks ini adalah karena kelainan hormon… mka mereka bukanlah orang yang berbeda.. saya yakin bukan keinginan mereka juga untuk menjadi gay/lesbi..
btw.. untuk pertemanan..kita/saya berteman dengan sapa aja, yang penting ga nyebelin atau nyakitin atau ngerugiin.. heheh
terus terang saya belum bisa nerima gtu mbak.. soalnya jelas banget beda nya dengan kita kita
kalo di legalkan?? ah mendingan jangan deh. Jadi inget kisah kaum nabi luth saya..
Mbak Zee, aku pernah loch punya pacar yang ternyata gay…untung ngga jadi nikah yachhh….7 tahun loch aku jalan sama dia, sebenarnya udah banyak orang2 yg mengingangkan aku cuma waktu itu aku gak peduli, aku pikir mereka syirik aja, tapi akhirnya pada satu waktu ALLAH membukakan mata hatiku….
Waktu itu dia nyuruh aku mainin games di hapenya supaya baterynya cpt habis krna mau di charge, trus iseng2 aku baca smsnya…ternyata isi smsnya sangat mencengangkan ” kalau mau putus ya udah putus aja…gw juga udah ngga cinta lagi sama loe” dan itu sms dari B (cowok) yang aku juga kenal sama orangnya krna sering jalan bareng….oalahh langit terasa runtuh, 7 tahun aku buang2 waktu….trs krna penasaran aku tanya temenku satu gang yg suka main sm dia, akhirnya temenku itu cerita semuanya kalo ternyata dia emang gay.
Dan dia itu tinggalnya persis disebelah rumahku. Sampai sekarang dia masih gay, dan hidup “serumah” dengan pacarnya yang sekarang. Tetangga sempet mau ngegrebek rumah itu tapi ngga jadi karena menghargai kakaknya (yang punya rumah).
kalau aku perhatiin, untuk berubah kayaknya ngga mungkin krna dia begitu sepertinya udah bawaan dari lahir. Kecuali ada mukjizat dari ALLAH hehehhe….
dari kejadian itu sekarang aku udah bisa bedain mana co yang jantan sama yang gay heheheh…..ternyata masih ada hikmahnya juga yachh….
sayang belum pernah nonton 😀
Huhuhu … tema yg kontroversial 🙂
Btw ada pertanyaan : Takutkah Anda bila ada seorang homoseks di lingkungan Anda?
Saya pernah ada di lingkungan itu dan rasanya sih biasa saja. Selama saling menghormati gak pernah ada masalah.
Hm… gimana ya…
ga bisa komen apa apa..
komenin tempalte barunya aja dah…
Bannernya keren, apalagi tulisan yang dibawah judul…
hahaha…
***membayangkan bagaimana bila yang “hetero” menjadi minoritas dan gay adalah mayoritas..
Ini adalah perdebatan yang panjang dan datang ke titik yang sama terjadi perkawinan seks. Seperti di Amerika Serikat bahwa beberapa negara mereka memperdebatkan rancangan undang-undang dalam pernikahan seks sama.
sejak ayahnya blue meninggal blue ikut kelompok GAY………..Gerakan Anak Yatim singkatannya…….hehehe
wah gay itu sebuah rasa yg entah bisa kita dapat mensuportnya atau tidak
salam hangat dari blue
Menurut saya sih manusia itu diciptakan normal menurut kodratnya masing-masing. artinya manusia diciptakan berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan, kalau ada yang menympang dari itu ternyata membuktikan bahwa kondisi masyarakat sebagian besar masih melakukan penolakan.
belum bisa menerima
suer apalagi dicintai sesama jenis
suerrrr
duh rempong deh sm topik yg 1 ini,tapi berhub itu salah satu hak asasi manusia,so what should we do??hehehe…
mo dianggap miring,ya emg mereka mau spt itu??mo dianggap lurus,ga wajar jg…tp intinya kan it takes 2 to tango ;p
kl ga ada demand,maka ga ada supply,nah lho haha…let them be aj deh,urusan mereka biar mereka yg tanggung,jgn kita ikut campur…
saya setuju dengan kondisi negara Indonesia sekarang, yang tdk mentolerir gay atau lesbian, karena mereka berperilaku menyimpang dari kodratnya
Kebetulan banget ya mbak.. topik gay dan lesbi jadi bahan pembicaraan di kantor saya pas kita makan siang bareng kemaren. Tapi kemaren sih kita cuma sekedar share pernah gak liat gay di sekitar kita. dan anyway ternyata temen-temen saya pernah liat pasangan-pasangan tersebut. Meskipun belum blak-blakan, tetapi tetep keliatan…
wah mbak, ngomongin gay, sampe sekarang saya belum menemukan orang dengan prilaku seperti itu, padahal saya punya satu program radio untuk mengangkat kisah hidup mereka, tapi saya kesulitan mendapatkan sumbernya di kota saya, mungkin krn kota saya kota kecil kali yah, jadi kehidupan seperti itu belum bisa dengan jelas dilihat.
selain negara juga ada halangan agama mba.. hihi.. di amerika sono sudah bebas ya yg namanya gay.. kalo di indonesia bisa-bisa FPI duluan yg maju haha
Mba, istilah homoseksual kan arti mentahnya ya suka sama orang yang berjenis kelamin sama, ya itu mencakup lesbian dan gay. Dan, kita pasti sudah tahu lah ya definisi lesbian dan gay? 😀
Btw, saya pribadi tidak ada masalah dengan homoseksual yang memang “dari sononya” terlahir untuk menjadi seorang homoseksual. Namun, saya suka sebal kalau bertemu dengan orang-orang yang menjadi homoseksual karena “homosexual is a lifestyle”. Njir, please deh.
sebenarnya mbak di negara kita untuk urusan sex itu masih sangat sensitif. Jadi kalau saya bilang antara homoseks ataupun lesbi sebenarnya status sosial dan hak mereka sama dengan kita yang normal, hanya saja yang membedakannya adalah cara mereka berhubungan sex yang kita belum bisa terima..
They’r not alien..
Tulisan menarik..:)
Di Jogja dulu aku banyak bersahabat dengan kaum gay tanpa aku harus tertarik menjadi gay 🙂 Kukenal mereka di banyak tempat dan mereka so far OK2 saja (atau aku yang kurang menarik bagi mereka ya? hahaha).
Di sini aku bersahabat dengan sepasang lesbi, mereka kocak dan menarik. Aku juga tak takut kalau istriku bakalan didekati mereka.
Secara prinsip, agama, aku tetap tak setuju dengan kaum homoseksual, tapi itu prinsip.. dan prinsip itu cuma urusanku dengan Tuhan.. di luar prinsip itu aku harus baik dengan siapapun termasuk mereka saudara-saudari kaum homoseksual 🙂
klo kemarin nonton film ini di HBO, nonton yang tentang sindrom Tourette itu juga gak?
Ceritanya ada tentang diskriminasi juga tapi happy ending.
lo telat seh Zee kasih tau gw.
ya kl gw punya pandangan, gw fine2 aja dengan mereka. ya itukan pilihan hidup mereka. Toh mereka manusia biasa yang berhak hidup dengan apa adanya. gak perlu ambil jarak, dan gak perlu anggap mereka sbg golongan yg beda ato aneh. manusia ya manusia. yang membedakan itu kan sifat n karakternya.
yg pantas dijauhi itu ya golongan manusia yang cenderung merusak, jahat, suka mengganggu orang lain, koruptor, dst. ya gitulah kira-kira 🙂
salam kenal dulu ama yang punya blog keren ini. sebagai kunjungan perdana maaf saya belum bisa merespon artikelnya. dan selamat pagi. di tunggu kunjungan baliknya SALAM.
saya belum pernah dekat dgn orang yg seperti itu, setau saya belum pernah… jadi saya gak tau saya takut ato tidak
at least, they are humans… ya human..!
Jika homo itu di bilang sebuah penyakit, semoga mereka bisa sembuh….!
perubahan emang gak bisa diterima simultan, apalagi kalo dah nyerempet2 masalah norma & etika.. banyak bikin orang kalap rupanya… Huh, padahal pihak2 yang kalap gak mesti suci lahir batin juga kan?*esmosi.com*
iya masih dilema banget emang…
gua sendiri sih juga punya temen gay dan gua gak ada masalah bertemen ama gay (baik yang ce-ce atau co-co). tapi kalo mikir apa kita bisa nerima kalo ada anggota keluarga kita yang gay? rasanya kok belum bisa ya…
jadi sebenernya itu udah bisa nerima atau gak, masih setengah2… hehehe.
kalo sekarang ini sebenarnya di luar negeri homoseksualitas dianggap hal yang normal, namun untuk indonesia hal itu masih merupakan suatu yang abnormal dan tabu untuk dibicarakan, kalo menurutku indonesia belum siap menerima ke-normal-an homoseksualitas
waduuuww…kalo gue jujur ga siap…dan sepertinya ga pernah siap…apalagi abis denger wawancara di elshinta minggu lalu…ama pak sarlito…tentang kasus yg lagi rame itu…
tapi itu ga berarti gue musuhin ato jauhin loh…mereka juga kan manusia…iya kaaan… 🙂
Gay salah, dan mudah-mudahan Indonesia tak pernah mendukung kesalahan itu dengan melegalkan mereka. Kalau mau membayangkan efek destruktif gay, lihatlah dari sisi ideal mereka (pencapaian puncak dari sebuah pemahaman) yaitu, jika seluruh manusia di bumi gay. Maka nasib manusia akan sama dengan nasib dinosaurus, punah, karena tak ada keberlangsungan generasi. Gay, secara esensi, meski para gay itu sadar atau tidak, adalah gerakan untuk memusnahkan generasi manusia.
Meski begitu, saya juga punya teman lesbian dan saya menghormatinya, memperlakukan dia seperti teman-teman yang lain. Namun bagi saya, menghormati bukan berarti menyetujui.
Huehehe, jangankan buat melegalkan pasangan sejenis Mba, wong film 2012 beredar ajah ada yang langsung mengeluarkan fatwa haram. Btw gw juga ada tuh temen di BDG yang suka sejenis. Dia emang tomboy banget. Setelah gw intervies ternyata dari kecil Nyokapnya suka memperlakukan dia kaya anak cowo, pakein baju2 cowo, kasih mainan mobil2an. Nyokapnya itu terobsesi punya anak cowo karna anaknya cewe semua. So, ampe sekarang, dia berperilaku kaya cowo (dulu kalo cewe ke sekolah boleh pake celana pasti dia ga bakalan pake rok). Dan pacar2nya juga cewe. Cantik2 malah!! Tapi gw mah ga ambil pusing Mba, wong itu haknya dia. Yang penting ga ganggu gw. Tul??
wah saat ini belum siap, nanti bisa-bisa dibakar masa kalo ada homo, apalagi fatwa-fatwa yang beringas… duh duh… jadi kalo homo diem2 aja…
Hidup adalah pilihan masing-masing orang, kalaupun ada yang memilih jalan tersebut jadi jalan hidupnya itu adalah hak asasi dia. Dan saya pribadi kalo seandainya mengenal orang yang berorientasi seperti itu ya oke2 aja. Tapi masalahnya mayoritas masyarakat Indonesia dan di belahan dunia lain belum siap menerima kehadiran mereka.
munkin karena negara kita negara timur
yang masih menjunjung tinggi norma-norma agama…,
di pergaulan saya sering terdengar bisik2 klo si A atau si B itu seorang homo, di mana penilaian hanya karena berdasar yg kelihatan mata saja. misalany sdh usia kepala 5 kok belum kawin, atau klo dng si C yg ganteng itu akrabnya minta ampu dsb.
**tp bisa jd eksistensi mrk di negeri ini akan diakui dng sebuah payung hukum. siapa tau?
“Beberapa kalangan mengatakan bisa jadi karena salah pergaulan, trauma masa lalu, dan yang mayoritas mungkin adalah bawaan lahir.”
jika mayoritas karena bawaan lahir.., pertanyaannya.., “mengapa bisa muncul dari bawaan lahir?” karena secara genetika manusia jelas2 diciptakan berpasangan laki-laki dan perempuan. jika laki-laki berpasangan dengan laki-laki, untuk apa diciptakan perempuan. demikian pula senaliknya, jika perempuan berpasangan dengan perempuan, untuk apa diciptakan laki-laki.
“lantas dimana proses yg salah sehingga terlahir mereka2 yg mengalami disorientasi seksual?”
kata gw sih gak mengerikan, selama gay itu masih orang dan makan nasi, bukan makan mayat. hehehe…
Kaum gay sudah ada sejak dahulu kala.. tapi aku juga belum siap untuk mengakui mereka ada. Selama ini kuanggap dongeng metropolitan saja, padahal mereka ada di mana-mana.
well, sejujurnya kalo ditanya ke saya yang gay ini, tentu Indonesia (baca: kebanyakan masyarakatnya) masih belum menerima orang-orang yang lahir dengan orientasi seksual sejenis, karena pada umumnya masyarakat masih memandang gay sebagai penyakit dan aib…
apa iya saya berpenyakit gay? saya pun ga bisa menjawab.. tapi setidaknya saya ga menularkan ‘penyakit’ gay ini ke orang lain. saya menikmatinya sendiri sama seperti kalian yang hetero menikmati ke-heteroan kalian…
saya bisa bekerja dengan baik, bisa berprestasi, bisa berkarya dengan layak sama seperti orang kebanyakan yang bukan gay…
tapi saya juga mengalami deskriminasi. saya dijauhi beberapa orang saat saya terbuka pada mereka bahwa saya gay. padahal berusaha jujur tentang orientasi sexual saya lakukan lebih karena saya ingin mereka mengenal saya seutuhnya, bukan karena suka. tapi tetep aja ga bisa diterima…
ga semua lah, sebagian justru bisa menerima saya apa adanya saya dengan ke gay-an saya…
mungkin hanya waktu yang bisa menjawab…
saiia ko’ rada miris… apa gemeter apa gmn gtu klu menyadari bahwa mereka itu emang bener eksis di dunia… ko’ bisa iia…?!?!?! bener kah tuhan memang menghendaki mereka seperti itu?!?!?! hhhmmmmmmmmm….
Di Indonesia sepertinya sulit untuk untuk menerima hal semacam ini.
sebenarnya bukan hal yang mengganggu bagi lingkungan, tapi menurut ajaran agama saya melarang adanya homo (dan aturan agama adalah yang utama).
mmm, mbak setiap orang punya pribadi masing-masing … tp jgn pula atas nama kebebasan, semua hal bisa bebas .. 😀
mungkin karena kurang dasar akidah agama nya ya
kita bangsa dgn adat ketimuran masih terbentur dgn norma, syariat agama dll.
Sejarah terus berjalan, siap ato tdk siap waktu yg jd penentunya…
Hmm…
Di kampung kami yang ketat akan syariat islam, Aceh, juga ada komunitas gay. Tapi sulit untuk di ungkapkan, dan hal itu akan sangat menghantui kampung kami. Bagi saya kalau ditanya soal siap atau tidak, hal itu tergantung aturan yang berlaku di kampung kami, Toh bagi saya, biasa aja, karena saya jelek, dan kaum gay ngak mungkin selara untuk menggoda saya… hehehe…