Sekaratnya Lahan Hijau

Saya paling senang kalau sudah mudik. Setiap kali mudik ke Medan, yang saya rindukan adalah suasana segar dan asri yang ada di sekitar rumah kami di daerah Krakatau. Komplek perumahan kami sebenarnya bukanlah komplek perumahan resmi yang pakai plang di depan jalan masuk dan rumah-rumahnya dibangun pakai jasa pengembang, sebenarnya komplek ini hanya petak-petak tanah yang dibeli oleh masing-masing keluarga yang kemudian dibangun menjadi rumah tinggal yang nyaman. Umumnya rumah di jalan rumah kami ukurannya luas, dengan rumput hijau di depan rumah. Berjalan melewati jalanan kami terasa seperti masuk ke daerah pinggiran kota (memang daerah Krakatau itu termasuk daerah pinggiran kota Medan), masih ada sedikit terasa suasana pedesaan karena di sudut jalan sana masih ada sepetak sawah milik penduduk. Biarpun rumah-rumah di sini besar-besar, tapi modelnya lebih konvensional dan natural. Pokoknya jangan dibandingkan dengan komplek perumahan mewah di kota yang rumahnya model gedong dengan pilar-pilar sebesar batang pohon yang berumur ratusan tahun.

Di halaman rumah kami, tumbuh rumput Jepang yang subur. Yang kalau diinjak, rasanya lembut di telapak kaki. Kemudian ada juga pohon cemara sedang di depan rumah, sebagai pelindung rumah dari panas matahari. Pohon ini adalah pohon kedua setelah pohon yang pertama tumbang karena sudah tua. Di sisi lainnya ada bunga-bunga yang ditanami oleh mami saya.

Inilah salah satu surga dunia untuk saya. Suasana alam, natural, dan serba hijau. Bukan cuma mata yang segar, tapi hati juga jadi fresh. Lihat saja bagaimana anak saya senang sekali setiap mudik. Dia senang berlari-lari di halaman mengejar kucing, atau bahkan berlari-lari di jalan depan mengejar ayam tetangga, karena jalan rumah kami memang sepi kendaraan. Sesekali becak dayung lewat, dan anak saya melongo takjub (alias norak gak pernah lihat becak hahaha..)

Lalu bagaimana dengan kondisi rumah kami di Jakarta? Dengan sangat kecewa saya katakan, di sini jauh sekali dari yang namanya asri. Rumah yang kami tinggali ini, berada di posisi yang tidak enak, dimana jalan depan rumah kami adalah tempat lalu lalang kendaraan termasuk mikrolet. Lalu di seberang jalan, para sopir ojek mangkal dengan motor-motornya, yang kalau pintu pagar terbuka, mata mereka dengan cepat mengintip-intip ke dalam. Di sini bukan hanya kenyang oleh suara berisik dari jalan raya, tapi juga kenyang oleh debu dan polusi. Pertama kali pindah ke Jakarta, saya agak stress juga lho karena tidak betah dengan kondisi yang ada.

Saya rasa, rumah tempat kami tinggal ini bukan tempat yang pas untuk membesarkan anak. Memang, tepat di seberang jalan depan rumah kami, ada taman komplek yang lumayanlah ukurannya untuk bawa anak main di depan. Tinggal berjalan empat langkah saja sudah sampai. Tapi, hayyaaahhh… taman itu sama sekali tidak terawat. Pertama, di sisi kirinya (yaitu depan pagar rumah kami), jadi tempat mangkal tukang ojek. Sofa-sofa butut digeletakkan di situ, termasuk juga kayu-kayu bekas entah untuk apa. Mungkin bekas tukang saat ngecor jalan, tapi biasanya semua kotoran diangkat, termasuk juga ketika kami ada kerja di dalam rumah, kami pakai sebagian space taman, tapi setelah itu semua dibersihkan oleh tukang kami. Tidak boleh ada sisa batu atau semen. Kedua, rumput taman itu tidak rutin dipotong, pernah tinggi rumputnya sampai mencapai setengah betis. Lalu di sisi kanan taman, di ujung sana, rumputnya sudah botak karena sering dipakai untuk main bola oleh pemuda setempat (bayangkan kalau musim hujan tiba, beceknya minta ampun). Lalu di sisi depan, mangkal gerobak tukang gorengan dan tukang bakso. Di taman itu ada beberapa pohon ditanam di sisi sebelah luar, sejenis pohon peneduh juga tapi dari jenis biasa yang saya kurang tahu namanya. Para gerobak jualan mangkal di bawah pohon-pohon itu.

Setiap pulang kantor, saya melihat ada saja ibu-ibu yang membawa anaknya main di taman itu, anaknya lari-lari di tengah taman yang rumputnya tinggi itu, sambil sesekali dikejar untuk disuapin. Saya meremang melihatnya. Soalnya saya pernah sekali bawa anak saya main ke taman (waktu itu taman lagi sepi dan tukang-tukang ojek juga lagi ngacir), dan saat membawa anak saya melintasi taman, aiihhh…. di tengah taman banyak batu-batu kasar. Gila! Ini taman hijau atau taman batu?

suasana taman komplek di depan rumah kami, kotor dan penuh batu

Dan belakangan, ketika malam tiba, entah siapa yang mengizinkan, taman itu berubah fungsi menjadi tempat parkir mobil-mobil sejenis mobil trans milik salah satu penghuni komplek. Hueh. Hebat bener ya. Beberapa bulan sekali juga taman itu dipakai untuk pasar malam dadakan selama seminggu, yang sudah pasti merusak konstruksi si taman. Saya benar-benar kehabisan ide kemana lagi mau bawa anak jalan-jalan sore. Di cluster depan katanya ada taman lain yang lebih bagus, tapi setelah saya lihat sih ya standar juga. Tetap belum bisa berasa nyaman bawa anak main di situ.

Satu-satunya penghiburan yang bisa dipilih adalah pergi ke daerah yang lebih hijau seperti melancong ke Taman Safari atau  TMII (yang tentu tidak bisa sering-sering karena biaya yang dikeluarkan umumnya relatif besar). Pantas saja setiap wiken tempat-tempat itu sarat pengunjung, sebagian besar sudah pasti adalah penduduk Jakarta yang haus dengan lahan hijau.

2007 – Kings Park – Perth.   *kapan ya Jakarta punya taman seperti ini…

Jadi teringat waktu beberapa tahun lalu jalan ke Perth. Di sana kanan kiri jalan itu taman semua. Sejuk. Asri. Alami. Huhuu, langsung terbayang indahnya suasana piknik sore hari di taman sementara anak berlari kesana kemari dengan riang. Anyway, rumah kami sekarang pelan-pelan sudah mulai hijau. Sudah ada pohon mangga, pohon giawas, dan tiga pohon keladi besar yang bolak balik potong-tebang karena daunnya lebar sekali sampai menutupi jalan, juga bunga-bungaan. Lumayanlah kalau mau piknik seadanya di rumah sendiri. 🙂

Kapan ya Jakarta bisa punya lahan terbuka yang indah? Minimal kalau ada 25% lahan hijau yang layak di Jakarta ini, Jakarta bisa jadi asri dan sejuk, dan tentu saja menjadi lebih sehat. Saya yakin, Jakarta masih bisa kok dihijaukan kembali seperti daerah-dearah lain di Indonesia yang masih hijau.

115 Comments

  1. Ternyata, tulisan ini menjadi 100 nominator Beatblog Writing Contest. Selamat yaaaa … ^_^

  2. iya ya.. susah membangun kesadaran masyarakat tentang ‘keindahan, kebersihan, dan kenyamanan lingkungan sekitar’ pada tingkat/level yang sama… apalagi ada benturan kepentingan di sana…

  3. kalupun ada taman, pasti ga lama banyak lapak-lapaknya..hehe..

  4. desya suka sekali memandang pohon yang hijau, makanya suka sekali naik gunung, bisa menghilangkan penat di kota…

    kalau dekat jalan gitu pasti kakak gag bisa tenang ya kalau istirahat?

  5. setuju banget zee
    paling seneng emang saat pulkam, mata terasa adem, hati sejuk & pikiran pun menj fresh setelah melihat hamparan sawah/tanaman hijau di tepi jalan.

    Tapi lahan hijau yg asri ini sulit ditemui di kota2 besar krn semakin padatnya penduduk & setiap ada lahan kosong pstilah dibangun komplek2 perumahan utk memenuhi kebutuhan t4 tinggal & sbg lahan bisnis tentunya bg para pengembang.

  6. Memang, menghirup udara segar di tempat kelahiran (desa/kampung) itu sangat menyenangkan, jauh dari stress

  7. di Medan juga panas minta ampun ya tan, yang asri di perumahan elit aja, dan di kampung tentu saja 😀

  8. Konon katanya negara kita ini adalah paru-paru dunia. Penghasil oksigen untuk bumi. Tapi, jangankan taman kota, hutannya pun dibabat habis. Hmmm..

    Senangnya melihat taman kota di Perth yang hijau dan asri. Denpasar punya alun-alun yang cukup hijau dan rindang.

    • Zizy

      Itu dia, mudah2an program menanam pohon yg digalakkan pemerintah bukan malah nantinya jadi lahan tebang lagi untuk tukang curi kayu :))

  9. semahal-mahalnya lahan di Tokyo, pemerintah daerah masih menyediakan taman-taman yang bisa dipakai umum. Sekeliling rumahku saja ada lebih dari 5 taman. Lengkap dengan ayunan dan jungkat-jungkit/ tempat pasir.

    Memang sulit jika tata-kotanya tidak “memanusiakan” warga, dan malah mengejar konsumerisme.

    EM

  10. Coba warga semua sepakat ya, mulai membersihkan dan merwat taman itu, pasti anak2 akan merasakan kesenangan yang tiada tara, mengingat lahan main mereka udh banyak direnggut.. 🙂

  11. Fiz

    “Di halaman rumah kami, tumbuh rumput Jepang yang subur.”

    Hehehehe… di kampung saya (dan mungkin kampung2 lain di Jawa) rumput jepang adalah nama lain dari tali rafia 🙂

  12. yupz,, bener banget tuh harus dimulai dari rumah kita dulu,, trus lingkungan sekitar rumah..

  13. Makanya dari pada itu tante, saya malas ke Jakarta dan tidak ada niat serta keinginan sama sekali untuk tinggal di Jakarta. Mending saya balik aja ke kampung halaman saya. Btw gak ada niat nie tante, bikin taman sendiri..??? heheheh

  14. wah iya, di jakarta emang bener-bener sumpek ya, aku yg baru 3 bulan tinggal disini dibikin kepanasan terus,

  15. ok

    lebih parah lagi di kotaku, masih banyak lahan tapi gak ada yang mau memanfaatkannya u/kehijauan dimana2 terlihat gersang ^^

  16. wah, enak sekali yah..saya jadi kangen dengan halaman rumah saya waktu masih tinggal di Bintan, Kepulauan Riau sekitar 20 tahun lalu. Kebetulan itu rumah Belanda dengan halaman yang luas sekali. saking luasnya, kalo akhir pekan suka ada orang yang piknik dan menggelar tikar di halaman kami. mungkin krn letaknya di pinggir jalan..:p
    sekarang, tingal di Jakarta. halamannya kecil, bahkan karena alasan yg saya lupa apa, sekarang rumput halaman kami sudah diganti orangtua saya dengan paving block.
    jadi, sekarang kalo mau ke taman..harus keluar rumah dan naik tol sekitar 10 menit dulu ke Bumi Serpong Damai karena di sana ada taman kota yg lumayan bikin adem

    • Zizy

      Berarti lebih kurang harus keluar waktu 1/2 jam ya utk k BSD, krn persiapan ini itu, keluarin mobil lagi, parkirnya dll. Lumayan juga. Tp kalo ademnya lumayan, gpp juga siih…
      Wah enak tuh halaman rumah gede, sampe orang bisa piknik…

  17. masih mending lho di depannya ada taman batu. di tempat saya, rumah ketemu rumah. no more space for green.

    • Huehuehee…. wah berarti saya harus bersyukur ya Fer. Masih mending taman batu daripada tidak ada sama sekali.

  18. emang asik sih mbak dengan suasana kota dan ada tamannya. sayang, negara kita belum memiliki orientasi seperti itu, taman kota. yang ada tanah kosong justru dijadikan “taman” ruko… walaupun harus dibangun diatas daerah serapan air.

  19. emh…
    butuh waktu yang lumayan lama mbak buat orang2 bisa ngerti manfaatnya “hijau” itu 🙂

  20. Adenk

    Bagus juga ceritanya yang secara tidak langsung menyarankan penghijauan di sekitar lingkungan. Tapi kalo di cat hijau gimana ya?
    hehehehe…

    • Zizy

      Gpp bang dicat hijau, setidaknya mata jg adem. Tp halaman juga ditanamilah. Jgn bangun toko aja :p

  21. Dulu dihalaman rumah saya banyak sekali pepohonan dan tanaman, tapi sekarang sudah lenyap. Padahal dengan adanya pepohonan dan tanaman mengubah suasana rumah jadi fresh, jadi bikin betah dirumah. Harus mulai menanani pekarangan rumah dari awal lagi deh.. 🙁

  22. mungkin sebelum membenahi lingkungan, masyarakatnya dulu lah yang harus membenahi pola pikiranya supaya Go Green
    karena kesadaran lingkungan berawal dari diri sendiri

  23. Susah mengharapkan dari orang lain, Mbak. Mending kita sendiri yang memulai dengan menanami pekarangan rumah kita sendiri. Senang kalau pekarangan rumah Mbak Zee sudah hijau ^_^

    • Zizy

      Iya Bang Aswi, impian itu bisa pelan2 kita wujudkan di halaman kita sajalah 🙂

  24. Ria

    kapan ya mbak Zee?
    mungkin jika yang sedang menjabat sebagai pemerintah adalah seangkatan kita semua dengan satu syarat “apakah kita masih ingat bahwa kita butuh taman untuk sekedar merefresh mata?” 😀

    • Zizy

      Yang sekarang menjabat kan udah tua-tua ya Ri, mereka pasti butuh tamanlah utk refreshing. Secara klo udah tua, kemana lagi bersantai kalau bukan di taman? Kekkee…

  25. Hehe, benar mba, kita orang tua pikir2 juga ya kalo mau ajak anak keluar rumah dengan lingkungan yang kurang sreg gitu. Pindah daerah cibubur aja mba … disini udaranya masih lumayan bersih dan seger. Jauh dari polusi dan kebisingan. Tapi ya itu, asal tahan macet dan jauhnya, hehehe

    • Zizy

      Mbak Hen,
      Cibubur memang kondusif untuk tempat istirahat, tapi kurang cocok utk tempat tinggal bagi kita yg bekerja di Jakarta :(.

  26. Lingkungan t4 tinggal sayapun tidak kondusif keadaannya. Langsung menghadap jalan raya, meskipun diseberangnya ada taman dan sungai. Tamannya tidak terurus dan sungainya telah tercemar. Begitu menyedihkan 🙁

  27. woke deh saya sudah ada lahan di depan rumah tinggal di tanami
    makasih nie infonya karena artikel ini membuat saya peduli terhadap lingkungan
    nice artikel

  28. jogja yang sekarang ini juga tampak gersang..
    nggak ada lahan hijau ataupun taman 🙁

  29. mudik kemedan juga ya.. ? salam dari daerah thamrin.. lebih sumpek lagi hehehe…

    Alhamdulillah rumah dibatam agak lumayan

  30. Di jogja sekarang juga udah mulai panas banget mbak. terus disini juga belum ada taman-taman hijau kayak gitu… pengen juga sih ada taman yang bisa buat santai-santai kalo sore…

    • Zizy

      Masa di sana gak ada? Tapi yang agak gede mirip-mirip halamannya Monas ada kan ya.

      • Setau saya sih, kalo di kotanya gak ada… malah yang ada sawah-sawah gitu. Itu aja harus di luar kotanya…

  31. di surabaya taman2 gitu skrg udah mulai banyak bermunculan lowh, mbak…
    yah, lumayan jd sarana rekreasi buat keluarga yg murah meriah…hehehe

    • Zizy

      wah enak ya, mudah2an daerah lain cepat menyusul..

  32. kayaknya ini masalah klasik setiap kota besar… **khususnya Indonesia, hahaha

  33. wahhh iya
    ayoo sukseskan gerakan
    1 orang 1 pohon
    biar bumi kita hijauuu

    • Zizy

      Sipp… masing-2 rumah harus tanam ya..

  34. padahal kalau hijau dipandang saja sudah nyaman yaw
    kelihatan sejuk gitu
    ayooo sukseskan penghijauan
    stop global warming

  35. keren yah taman nya bersih kapan diindonesia ada taman sebrsih itu

    • Zizy

      ini dia yg harus digiatkan di masing2 daerah oleh pemerintah 🙂

  36. Rasanya oase kehijauan memang bener2 langka ya mba 🙂
    Mari kita ciptakan kehijauan itu dengan menanam apotik dan warung hidup di halaman rumah

    • Zizy

      setuju mba anny. saya jg pelan2 nyicil warung hidup nih di rumah 🙂

  37. Sama,
    saya juga paling senang kalau lagi mudik ke kampung halaman.

  38. Ntar klo ke Jakarta, boleh nggak kita berkunjung ke tamannya mbak zy? (bukan taman kompleks itu ya…)

    • Zizy

      Boleh Mbak, tar bisa piknik di bawah pohon keladi hihihi..

  39. Lahan hijau di desa-desa juga perlahan-lahan sudah mulai terjamah dan terkikis. Saya prediksi dalam 20 tahun ke depan lahan hijau sudah sangat sulit ditemui.

    Btw, tagline blognya buat pengen ketawa, hehehe…

    Salam kenal 😀

    • Zizy

      Waduh kalau bisa jangan sampai terkikis mas. Makanya dari sekarang harus kita hijaukan, biar 20thn lagi justru lebih banyak hijau2 yg bisa kita lihat.. 🙂

  40. ke daerah depok aja mba,lumayan adem,tapi jangan depok kotanya tapi depok pinggiran

  41. Itulah Mba kenapa gw seneng banget tinggal di camp. Berasa punya taman yang luaaaasss bangetz. Apalagi lingkungan sekitar masih asri banget, penuh pohon2.

    Makanya waktu pinda ke Miri, yang rumahnya tembok ketemu tembok, gw agak2 sutrisno. Mana ventilasi juga ga bagus pula.

    Jadi merindukan camp tercinta bo. Setiap buka jendela langsung deh uara segar masuk ke paru2. Lah kalo sekarang, setiap buka jendela yang kecium asap dari orang2 yang buka lahan dengan cara ngebakar, ato bau got. Hiks!

    • Zizy

      Nah, tuh enakan di camp kan. Pantas saja tingkat stress di kota lebih tinggi, setiap hari yang dilihat gedung beton dan cium polusi. Memang perlu nih, harus ada hijau2 dikitlah setidaknya di rumah kita, San.

  42. Ata

    ..
    DiSurabaya tiap tahun ada even green and clean..
    Yaitu lomba keindahan taman dan kebersihan lingkungan tingkat RW se-kota Surabaya..
    Kayaknya musti dicontoh kota2 laen..;-)
    ..
    Untuk merubah lingkungan butuh kesadaran masyarakat dan dukungan pemerintah..
    Tul gak mbak..?
    🙂
    ..

    • Zizy

      Betul Ata. Namun kalau pemerintah agak lamban, gpp lah kita mulai duluan pelan2 dengan menanam hijau2 di sekitar rumah. Setuju kan? 🙂

  43. wah sayang juga ya. padahal taman nya gede gitu. gimana kalo ngajak tetangga pada patungan untuk nyewa tukang taman yang dateng regular gitu untuk ngerawat tamannya? at least ya buat ngebersihin dan motong rumput gitu, biar anak2 bisa lari2 nya lebih enak…

    • Zizy

      Saran yang bagus, Man. Masalahnya kita juga aga bingung bagaimana mengelola taman ini biar bersih, karena RT nya saja juga malas. Lalu tkang2 jualan juga bagaimana, kan tidak mungkin diusir. Sementara kalau ramai tukang jualan, lama2 pasti kotor juga.

  44. DV

    Di sini lahan hijau juga dijaga dengan baik, Zee..

    Marilah kemari!

    • Zizy

      Wah Don masa pindah ke sana? Ingiinya ya negara kita ini juga gak kalah, hehe…

  45. Jakarta uhff….saya tak sungkan untuk menyebutnya Jancukarta hehehe..kadang pun saya harus ke monas mbak untuk mengajak anak sekadar menikmati udara segar. persoalannya sama, taman di dekat tempat tinggal tak terawat dan menjurus kumuh. Entah kapan target RTH DKi terealisasi..

    • Zizy

      Monas atau Senayan itu hiburan mahal buat saya mas, karena cukup jauh dari rumah untuk ke sana. Di dekat rumah saya ini kan ada BKT, pinggirannya itu udah ditanamin pohon2 juga untuk mempercantik, dan katanya nanti akan dibuat jogging track juga di situ. Mudah2an saja hasilnya bagus,krn kalau melihat model org Jakarta, bisa2 lebih banyak gerobak jualan daripada yang jogging.

  46. ary

    ngeliat taman cantik kayak di Perth itu emang bikin kita ngiler2 yah ….. kayaknya gak gampang deh bikin gitu di jkt, kendala (termasuk kemauan pemerintahnya) gak dikit, hehehe
    iya lah, dimana ada ijo2an pasti diserbu, bosen juga kan orang kalo ke mall terus ..

    • Zizy

      Iya Ri, bangun taman gede juga pasti butuh modal besar. Tapi kalau hasilnya bagus, mustinya uang tidak jadi masalah ya. Musti masuk dlm apbn dan apdb nih, dan wajib dikerjakan.

  47. jun

    wah, keren ya perth 🙂

    tamannya luas dan enak banget keknya duduk disana sambil online 😛

    • Zizy

      huhu memang, saking luasnya, semua orang kebagian tempat.. saat istirahat kantor siang2 bisa numpang tidur di situ, sedappp…

  48. di deketku aja ada taman tapi juga ga di rawat, apa pada ga suka yah punya taman yang bagus

    • Zizy

      wah kenapa ya semua orang masalahnya sama, ada taman umum, tp tidak dirawat. *sigh*

  49. Kalo di dekat tempat saya tinggal ada taman kayak gitu, aku rela mbak nggak ngerokok sama sekali kalo main ke situ.
    klo rumah opung aku di medan di daerah gaharu, tp skrg udah pindah ke drh Karya. hiks kangen medan…

    • Zizy

      Yoi Le, kalo taman sebagus itu kita rela deh ninggalin kebiasaan buruk kita yg mgkn bisa ngerusak konstruksinya. Kalau aku, aku pasti bawa tempat sampah sendiri :D.

  50. kota kecil macam karawang nggak punya taman kota. kalaupun ada, pagi sampai malam sdh berubah fungsi jd ‘pasar kaget’ beraneka pedagang mangkal di sana. tumpukan sampah ada di mana2.

    • Zizy

      begitulah kyaine, kadang ada taman bagus, tapi tidak dikelola dengan benar. klo di luar negeri taman ya taman, mana boleh ada tukang jualan.

  51. wah, indah sekali rerumputan itu.. kalau di JKT ada taman yg kayak gitu, pasti yg jadi masalah sampah2 para pengunjung 🙂

    • Zizy

      Itu sebabnya harus sekaligus kita buat peraturan yang ketat. Di Perth sana bisa bagus karena masyarakatnya juga sadar utk menjaga “harta” mereka itu. 🙂

  52. sejuk enak dipandang ya kalau ada rumput2 seperti itu. rumahku sendiri aja gak ada tanahnya nih hihihi.

    Mbak Zee kerja di Isat?bagian apa?

  53. Kalau Jakarta ada taman spt di perth, bisa ramai tiap malam minggu sampai pagi dini hari. Dan sampah yang terkumpul jangan-jangan sampah an-organik yang terbuat dari karet habis digunakan oleh muda-mudi dimalam hari….

    • Zizy

      Hahahaa… jangan pesimis begitu. Itu kan tergantung bagaimana kita mengelolanya. Di sini ada Monas tapi lihat saja kalau sudah diisi oleh Konser-2… besoknya hancurrr!!

  54. enak banget itu ya di perth.. di Jakarta saya palingan mentok ke Ragunan buat menikmati kerindangan pohon sambil berkunjung ‘keluarga’ jauh LOL

    • Zizy

      hahahaaa… menyamakan muka ya, sama nih kayak moudy…

  55. Nda

    Mbak, di pinggiran jkt pasti banyak taman2 megah itu.. tapi emang mesti ke pinggir. DI perumahan2 megah itu loh..

    • Zizy

      Oh iya, itu salah satu fasilitas yang didapat oleh penghuni komplek ya, sesuai dgn harga dong hehee..

  56. Mbak Zee,
    Jangankan Jakarta yang hanya terdiri dari ruas-ruas beton, kalimantan yang terkenal dengan hutannya saja sekarang semakin kering kerontang.
    Ntah kapan kebijakan akan benar-benar berpihak kepada lingkungan.

    • Zizy

      Masa Kalimantan kering kerontang? Wah, sudah bahaya itu kalau paru-paru dunia bisa kering.

  57. wuah enakan tinggal di medan aja teh!
    daripada di jakarta udah panas sering macet lagi
    hihihi

  58. setujuh gw Zee… kalo di Jakarta, ada kok Zee. Gw biasanya ke Senayan, terasa udaranya lebih seger aja di sana dibanding di tempat2 lain, walaupun sebetulnya beda banget ama penggambaran lo yang di perth. ya setidaknya, lumayanlah buat cari udara seger n hijauan buat cuci mata. atau kalau mau, ke ragunan aja.. kumpul ama sodara2 kita hehehee…. ya agak kumuh seh sebenernya hehee

    • Zizy

      tapi ragunan juga ga asri2 banged, dan kan kotor plus bau hewannya terasa banged.

  59. gila, pasti panas bgt ya..

    btw, tukeran link yuk gan.. (klik aja tulisan ‘pasang link’ di blog sy)

    • Zizy

      buset deh, ketahuan kagak baca postingan.. kebanyakan main di kaskus ya, gan? 🙂

  60. saya pernah nemu tuh tempat yang asri di Jakarta. Waktu itu diundang ke rumahnya pak budiono, bosnya detik.com. Enak banget deh tuh rumah. Ada sayur mayur, pohon-pohon, sampai kolam pembiakan ikan. Asri dan nyaman banget. 😀

    • Zizy

      iya sih, setidaknya seperti apapun bentuk rumah kita, kita bisa usahakan utk memperhijaunya, even tinggal di apartemen sekalipun..

    • Eh waktu itu saya juga diundang ke sana.. berarti kita ketemu dong.. Hehe.. iya rumahnya enak ya.. GUEDE amat sih nggak, tapi nyaman dan asri.. 🙂

  61. hmm, aku suka penggambaran zee ttg rumah di medan. Sejuknya terasa.

    ttg Jakarta, berusaha saja bikin rumah menjadi hijau dan rindang zee.. siapa tau setiap yang lewat jadi terinspirasi melihatnya, ikut nanam juga di rumah mereka.. dan lama-lama jakarta jadi hijau deh kaya’ di Perth

    **saran naif dari orang Bukittinggi 😀

  62. ……

    Mungkin setelah program car free day tiap weekend, langkah selanjutnya dari Pemda DKI Jakarta adalah memperluas area hijau ya, Mbak.

    Semoga

    ……..

  63. Kota semodern Tokyo atau New York saja punya lahan hijau yg besar ditengah kota, Jakarta?!? *sigh*

    • Tenang dut.. ayo kita jangan ngarepin pemerintah aja.. mulai dari diri sendiri aja.. Kekuatan bareng2 itu besar lho.. 🙂

  64. Iya ya Zee …
    Kapan ya Jakarta bisa hijau …

    However …
    Ketika saya berangkat kerja … Saya kadang suka berlama-lama muter-muter di sekitar senopati … dekat kantor saya
    kenapa ? karena masih banyak pohon gede … apalagi kalau dibawah pohon gede itu ada yang jual Bubur Ayam …
    Saya pasti ngadem …

    Salam saya Zee …

  65. HUaaaaah.. Ngebaca ini aku tuh jadi merinding sendiri deh mbak.. Gila ya, betapa minimnya lahan hijau di perkotaan.. Seminim perhatian pemerintah atau siapapun yang berwajib untuk membuat lahan hijau tersebut.

    Kemaren aku ke acara yang diadain di muesum bank mandiri, di dalamnya kan hijau tuh.. anak2 kecil larian2 gitu seneeeeng banget ngeliatnya. Aku aja yang belom punya anak, rasanya bahagia banget ngeliat mereka ketawa2 girang dan lepas. Gemana mbak zee ya yang udah punya anak.. Huhuhu.. aku ingin lahan hijauuuu diperbanyaaak!!

    • Zizy

      Itulah Tiw, intinya semakin banyak lahan hijau, kota kita ini pasti makin sehat. Jangan cuma gedung aja dibanyakin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.