tips solo traveling

Tips Solo Traveling untuk Pemula: Cerita Pertama Kali Berani Jalan Sendiri

Ada satu fase dalam hidup ketika kita ingin pergi, tapi bukan untuk lari dari kenyataan ya. Lebih ke… ingin mendengar diri sendiri lebih jelas. Bagi saya, momen itu datang ketika pertama kali memberanikan diri melakukan solo traveling. Bukan karena tidak ada teman, tapi karena ada kebutuhan untuk berjalan dengan ritme sendiri. Dari sanalah saya mulai mencari dan merasakan langsung berbagai tips solo traveling—bukan dari teori, tapi dari pengalaman selama di perjalanan.

Solo traveling sering terdengar keren, bebas, dan penuh cerita. Tapi saat benar-benar dijalani, ada banyak pertanyaan kecil yang muncul: aman tidak? sepi tidak? ribet tidak? Artikel ini saya tulis untuk kamu yang mungkin sedang berada di titik yang sama: ingin mencoba, tapi masih ragu.

Apa Sebenarnya Solo Traveling Itu? (Bukan Sekadar Pergi Sendiri)

Sebelum bicara teknis, saya ingin meluruskan satu hal dulu. Banyak orang mengira solo traveling adalah tentang pergi sendirian tanpa siapa-siapa. Padahal, maknanya lebih dalam dari itu.

Solo traveling adalah pengalaman bepergian di mana kita menjadi penentu utama: keputusan, waktu, arah, bahkan emosi. Kita belajar mendengarkan diri sendiri, mengatur ulang ekspektasi, dan tanpa  kita sadari membangun kepercayaan diri. Menurut si Artsy Traveler, solo traveling membantu seseorang lebih peka pada lingkungan dan lebih terbuka pada interaksi baru karena tidak bergantung pada teman perjalanan.

Saya merasakannya sendiri. Saat tidak ada teman untuk diajak diskusi, kita justru jadi lebih jujur pada diri sendiri: capek ya capek, senang ya dinikmati. Tidak perlu kompromi.

Kenapa Banyak Orang Takut Mencoba Solo Traveling (dan Itu Wajar)

Masuk ke pengalaman berikutnya, rasa takut itu nyata. Bahkan sebelum kita tutup koper.

Takut tersesat.
Takut kesepian.
Takut tidak aman.

Saya pun begitu. Apalagi sebagai perempuan, ada lapisan kekhawatiran ekstra. Tapi dari semua ketakutan itu, satu hal yang saya pelajari, yaitu sebagian besar ketakutan datang dari bayangan, bukan kejadian nyata.

Menurut mereka yang sudah sering solo, dan ini saya setuju, salah satu tantangan terbesar solo traveler pemula adalah rasa cemas berlebihan sebelum berangkat, padahal setelah dijalani, banyak yang justru merasa lebih tenang.

Kuncinya bukan menghilangkan rasa takut, tapi menyiapkan diri dengan tepat.

Tips Solo Traveling untuk yang Mau Coba, Mulai dari Siapin Mental

Sebelum bicara itinerary dan koper, mari mulai dari yang sering dilupakan: mental.

Solo traveling mengajarkan kita untuk nyaman dengan kesendirian. Awalnya canggung, tapi lama-lama senang, karena baru terasa seperti mendapatkan ruang baru untuk bernapas. Saya biasanya menyiapkan diri dengan ekspektasi realistis: perjalanan ini mungkin tidak selalu indah, tapi pasti bermakna.

Salah satu tips solo traveling yang paling membantu saya adalah memberi ruang untuk fleksibilitas. Tidak semua harus sempurna. Kalau capek, ya berhenti. Kalau ingin pulang lebih cepat ke penginapan, tidak apa-apa. Ini perjalananmu.

Menentukan Destinasi Pertama: Cari yang Dekat,dan Familiar

Masuk ke keputusan penting berikutnya: ke mana?

Untuk perjalanan pertama, saya sangat menyarankan memilih destinasi yang infrastruktur wisatanya matang, transportasinya juga mudah, serta banyak informasi yang bisa kita akses. Itulah mengapa banyak orang memulai dengan kota-kota populer di Indonesia.

Solo Traveling Bali, Sering Jadi Pilihan Pertama

Tidak berlebihan jika menyebut solo traveling Bali sebagai tempat yang aman untuk pemula. Bali punya segalanya: transportasi offline-online, penginapan beragam, kafe ramah solo traveler, hingga komunitas traveler internasional.

Saya ingat duduk sendiri di sebuah kafe kecil di Seminyak, cuma minum kopi sambil ngecek email. Gak ada rasa canggung. Justru terasa normal. Bali memberi ruang untuk sendiri tanpa merasa aneh.

Menyusun Itinerary yang Tidak Melelahkan

Berikutnya, mari bicara soal rencana perjalanan.

Kesalahan umum traveler yang baru-baru mau solo adalah membuat itinerary terlalu padat. Padahal, esensi solo traveling justru ada pada ruang kosong di antara jadwal agar kita ada waktu meresapi ruang bernapas tadi. Saya belajar menyusun rencana dengan prinsip relatif seimbang, 50-60% terencana,  sisanya spontan.

Salah satu tips solo traveling yang selalu saya pegang: sisakan waktu untuk “tidak melakukan apa-apa”. Duduk, mengamati, atau sekadar berjalan tanpa tujuan jelas sering kali justru menjadi momen paling berkesan.

Penginapan: Aman, Strategis, dan Nyaman untuk Sendiri

Saat bepergian sendiri, penginapan bukan sekadar tempat tidur. Ia adalah tempat pulang.

Saya pribadi memilih berdasarkan:

  • Lokasi yang strategis: berarti mudah dijangkau transportasi, tidak terlalu jauh dari tempat wisata yang diinginkan, dan dekat kuliner.
  • Review jelas dari solo traveler lain
  • Keamanan 24 jam

Bukan harus mahal. Yang penting memberi rasa aman. Sebab dengan memilih penginapan dengan area publik yang nyaman ini akan membantu solo traveler merasa tidak terisolasi.

Keamanan Saat Solo Traveling (Tanpa Paranoid)

Masuk ke topik yang sering bikin cemas: keamanan.

Jangan sampai paranoid tapi tetap harus waspada. Beberapa kebiasaan kecil yang bisa diterapkan:

  • Memberi tahu orang rumah itinerary dasar kita mau ke mana saja
  • Menyimpan dokumen penting di cloud
  • Tidak memamerkan barang berharga saat berjalan-jalan

Kedengarannya klise ya tapi justru kebiasaan sederhana inilah yang membuat perjalanan lebih tenang. Bukan soal takut tapi tentang siap.

Momen Sepi yang Justru Menguatkan

Ada satu sore dalam perjalanan pertama saya, ketika hujan turun dan saya sendirian di hotel. Tidak ada agenda, tidak ada teman. Awalnya terasa kosong. Tapi di situlah saya belajar oh ternyata menyenangkan juga kok. Kesepian tidak selalu buruk.

Solo traveling memberi ruang untuk refleksi. Kita belajar berdamai dengan pikiran sendiri. Dan entah kenapa, setelah itu, saya pulang dengan perasaan lebih utuh.

Penutup: Perjalanan yang Mengubah Cara Mendengar Diri Sendiri

Jika ada yang tanya apakah solo traveling layak dicoba, jawaban saya sederhana: iya, jika siap mendengarkan diri sendiri.

Perjalanan pertama saya tidak sempurna. Ada salah jalan, ada rasa ragu, ada malam yang sepi, dan juga rasa takut tentu saja. Tapi dari semua itu, saya pulang dengan satu hal yang tidak bisa dibeli: kepercayaan diri.

Mungkin kamu tidak langsung jatuh cinta. Tapi bisa jadi, kamu akan pulang dengan versi diri yang lebih jujur. Dan bukankah itu salah satu tujuan bepergian?


Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.