Masih ingat postingan saya tentang Sekaratnya Lahan Hijau? Tak lama setelah saya menulis topik kurangnya lahan hijau di Jakarta, saya mendapati beberapa tulisan menarik yang pantas untuk disimak.
Pertama, tulisan Mas Amril TG di sini. Hati saya terharu saat membaca kenangannya saat kecil bersama adik dan ayahnya yang memanjatkan doa untuk pohon mangga yang mereka tanam, agar pohon itu dapat tumbuh subur dan sehat sehingga menghasilkan mangga yang manis. Dan semakin terharu membaca ceritanya tentang para blogger yang menyanyikan lagu Happy Birthday Pohon saat acara Ulang Tahun Kedua Botanical Garden Jababeka.
Well, percayakah Anda bahwa tanaman juga punya jiwa? Kita bisa bilang kita percaya tapi benarkah demikian? Kita bisa marah besar kalau anjing atau kucing kita dilempar tetangga (sama seperti saya yang langsung mengambil senapan angin untuk mengincar anjing kampung yang menggigit anjing peking kesayangan saya), kita juga bisa menghujat para fashionista yang gemar memakai mantel asli dari bulu binatang, tapi akankah kita marah besar ketika salah satu pohon di depan pagar kita harus ditebang karena akan ada pelebaran jalan? Satu-satunya alasan yang masuk akal untuk marah adalah, karena kita belum menerima uang ganti rugi untuk pelebaran jalan, ya kan? Iyalah, ngaku aja hihihih…. Lalu kalaupun rada gak rela, mungkin karena pohon itu adalah pohon penghasil buah yang uenakkk… Kita sadar bahwa tanaman adalah makhluk hidup, seperti halnya manusia dan binatang sebagai ciptaan Tuhan, tapi kita mungkin tidak peduli ketika melihat anak kita mencabuti sebuah pohon yang baru tumbuh di halaman.
Selama beberapa hari, saya terusik dengan kenyataan itu. Saya akui saya juga kurang peduli dengan jiwa sebuah tanaman. Akibatnya, setiap pagi, saat dalam perjalanan ke kantor, saya jadi rajin memperhatikan setiap pohon di tepi dan tengah jalan, dan kemudian saya mendapati bahwa betapa pohon-pohon itu “disiksa†oleh manusia. Mereka ditanam di pulau-pulau jalan berdiameter 60-70 cm dengan tiap sisi bertemu aspal. Kemana akarnya akan bertumbuh saat dia besar? Berapa kira-kira umur tanaman itu nanti? Entahlah. Saya juga tak bisa menjawab. Saya tergugu saja melihat kenyataan itu.

Kedua, tulisan Didut di sini tentang Pohon Trembesi. Nah, ini nih, si Pohon Idola. Kenapa saya menyebutnya idola? Karena dia selalu jadi pohon favorit di setiap program tanam pohon dari tahun ke tahun. Dan tahun ini dia kembali menduduki tempat teratas sebagai tanaman utama dalam program Penanaman 1 Miliar Pohon Tahun 2010. Apa sih sebenarnya kelebihan Pohon Trembesi?
Berikut saya kutip dari tulisan Didut : Disebut Pohon Hujan (Rain Tree) karena air yang sering menetes dari tajuknya yang disebabkan kemampuannya menyerap air tanah yang kuat. Daunnya juga sangat sensitif terhadap cahaya dan menutup secara bersamaan dalam cuaca mendung (ataupun gelap) sehingga air hujan dapat menyentuh tanah langsung melewati lebatnya kanopi pohon ini. Rerumputan juga berwarna lebih hijau dibawah pohon hujan dibandingkan dengan rumput disekelilingnya. Selain kelebihan diatas ternyata pohon trembesi juga mampu menyerap CO2 puluhan kali dari pohon biasa. Pohon trembesi mampu menyerap 28,5 ton karbondioksida setiap tahunnya. Bandingkan dengan pohon biasa yang rata-rata mampu menyerap 1 ton CO2 dalam 20 tahun masa hidupnya.
Bayangkan kalau kita punya banyak pohon trembesi di sekitar kita, berapa banyak CO2 yang bisa diberantas oleh pohon yang umurnya bisa mencapai ratusan tahun ini? Anyway bahasan lebih lengkap tentang pohon trembesi ini bisa dibaca di postingan Didut atau Anda bisa googling sendiri.
Saya pribadi tidak punya kenangan khusus tentang pohon ini. Waktu saya kanak-kanak, dan masih tinggal di Biak yang jelas lebih hijau dibandingkan kota-kota besar, pohon yang sering jadi tempat kami anak-anak bergelantungan dan jungkir balik ala akrobat adalah pohon giawas dan pohon akasia. Kemudian pohon yang selalu bikin kami lari terbirit-birit karena ketakutan adalah pohon beringin yang sangat besar dan gelap. Tapi pohon trembesi? Saya tidak ingat pernah melihat pohon payung ini. Beringin memang mirip, tapi beda. Bedanya adalah penghuninya, hehehee…
Jadi saat setiap pagi saya mengamati pohon-pohon tersiksa itu, saya juga melebarkan mata mencari-cari pohon trembesi di sepanjang jalan, terutama di sekitar tempat tinggal saya. Hei, saya menemukan dua pohon yang mirip dengan karakteristik pohon trembesi. Pohon itu cantik sekali. Daunnya kecil saja, tapi dengan dahan-dahan yang melebar seperti payung.
Ini fotonya. Semoga saya tidak salah menebak, tapi pohon ini jelas berbeda dengan pohon-pohon lainnya. Dia kelihatan “so trembesi” buat saya. Motretnya agak susah karena sambil jalan jadi mungkin kurang jelas ya.

Cukup mirip dengan gambar pohon trembesi berikut yang saya dapat dari internet.

Tidak salah memang pohon trembesi ini menjadi idola, karena dengan kelebihannya sebagai tanaman peneduh, pohon ini cocok jadi tanaman utama di taman kota atau taman komplek. Lalu dengan kemampuannya menyerap CO2, jelas pohon trembesi wajib ada di setiap jalan besar.
Boleh dong ya kasih saran. Buat pemerintah dan pihak-pihak yang terkait dengan program Penanaman 1 Miliar Pohon, akan lebih tepat bila yang dibenahi dahulu adalah taman-taman rusak di dalam komplek. Libatkan warga dan pengurus lingkungan saat penanaman pohon trembesi agar semua merasa bertanggung jawab atas kelangsungan hidup si pohon dan taman mereka kelak. Menurut saya kota yang sehat berawal dari keluarga yang sehat, dan keluarga sehat butuh lingkungan yang sehat.
Dan kalaupun hendak menanam pohon trembesi di pinggir jalan, tentu jangan lupa memberi space yang cukup agar pohon bisa tumbuh dengan lega. Memberi kerangkeng pada pohon atau tanaman sama saja dengan memperpendek umur tanaman.
Yuk. Mari kita tanam setidaknya satu pohon setahun deh. Tidak apa-apa biarpun hanya satu pohon yang ditanam, yang penting pohon itu hidup dan terawat.

saya selaku ketua RT, mau menanam pohon trembesi di lingkungan perumahan kami, bagaimana cara untuk mendapatkan pohon tersebut dan berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk pohon tersebut berdasarkan diameter dan tinggi pohonnya.
trima kasih
ardi
hubungi dinas kehutanan bagian pembibitan
disana saudara akan mendapatkan bibit trembesi dengan gratis…
dengan syarat non komersil…
karena saat ini memang dinas kehutananpun kewalahan mendistribusikan ribuan bibit yang ada…
daripada bibit trembesi tersebut terlantar, lebih baik kita bersama sama melakukan penanaman yg nantinya jg kita yg akan merasakan dampak positifnya…
pohon trembesi kayaknya angker,,?apa ada gendruonya ya?hehehe
Kalo memulainya dari dalam pot, gapapa? Saya mulai menanam tanaman di rumah, dengan pit tentunya. 😀
Iya nih, banyak lho taneman yang begitu ditanam langsung ditelantarkan. Ga dirawat, akhirnya kering dan mati sendiri. Banyak juga event penanaman pohon yang hanya simbolis belaka. Ujung2nya pohon pada ga dirawat. 🙁
oh, ini namanya pohon trembesi. beberapa waktu kmrn gencar banget beberapa teman menuliskan ajakan penanaman pohon ini dan aku masih belum tau apa keistimewaannya.
saya pernah baca artikel tentang pohon trembesi ini… kelebihannya memang luar biasa.. betapa udara akan lebih sejuk jika banyak pohon trembesi di sekitar kita, apalagi di jalanan Jakarta…
* jelas, pepohonan itu punya jiwa..
Oh, ini to bentuknya pojon trembesi itu. Sepertinya sih sering lihat di pinggir-pinggir jalan besar. Di Jogja kebetulan kan masih banyak sekali jalan raya yang pinggiran dan pulau jalannya ditanami pohon rindang. Kalau tidak salah, pojon trembesi termasuk salah satu yang banyak ditanam di sana. 😀
Pingback: Djarum Trees For Life « Secangkir Teh Susu
go..go..green…
Yuk kita tanam pohon..
Cuma untuk pohon trembesi harus cuku[p lahannya, yang tak mungkin ditanam di depan rumah saya…..
Memang enak sekali …
kalau lingkungan rumah kita …
lingkungan menuju kantor kita …
di penuhi oleh pohon-pohon yang rindang …
mengenai Pohon yang “tertanam” ditrotoar itu … hmmm … no comments …
Paling tidak … nggak di tebang lah … hehehe … sayang bener kalo di tebang …
Salam saya
aku juga baru tau ada pohon trembesi…
senangnya kalo punya tanaman kesayangan
aku baru tahu nama pohonnya trembesi 😀 sayangnya rumahku ga punya halaman jadi cuma bisa tanam2 di pot 🙁
Tak apa juga sih menanam di pot, yang penting ada menanam :).
baru tau zee ada pohon yang namanya trembesi, sama gw juga gak pernah perhatian sama pohon 🙂 n kalo gw mau tanam pohon, palingan pohon kecil yang ditanam di pot aja deh, dulu pernah nanem n mati lantaran lupa disiram 😀
Kalau pohon besar sebenarnya lebih kuat ya, artinya ya mereka masih bisa hidup dgn air hujan. Ayo Jim tanam2 lagi tapi jangan sampai lupa siram ya.
saya suka pepohonan, tapi idola saya flamboyan, bukan trembesi…
*jadi ingat waktu ikut Amprokan Blogger Bekasi”, di Jababeka, saya ikut-ikutan nanam bibit flamboyan di sebelah trembesi…*
ada kenangan indah masa kecil bersama flamboyan yang saya tulis di sini: andy.web.id/flamboyan.php
Oh iya berarti pas yang amprokan itu bukan mas yang ada acara nyanyi lagu Happy Birthday?
iya… saya ada di deretan paling depan mengelilingi tumpeng. saya ikut nyanyi juga lho! makan nasi tumpengnya juga pasti ikut (mmm), bahkan telur asinnya saya kantongin semua… (hahaha)
hahahaa… waduh tiba2 pengen makan telor asin nih.
belon ada yang baru
minum kopi dulu ahhhh
paling seneng tuh kalo nemu jalanan yang 2 sisinya ditanam pohon. terus ujung2 daun pohon dari kedua sisi bertemu di tengah2, jadi seperti membentuk terowongan.
Di Jakarta ini ada tuh, di Pulomas. Kalau malam ademmm banged, sore2 aja adem karena sisi2 jalan pohonnya rindang, jadi mereka menutup ke tengah jalan raya. Cuma yaa…. masih kurang sih. Tp ya gpp jugalah, daripada ga ada ya kekekee…
Aku sayang banget sama pohon kelengkeng depan rumahku. pdhl gak ada buahnya. pernah dahan2nya dipotong sama papa krn terlalu rimbun, aku sedih. paling marah pas ada yg masang iklan di pohon, pake paku!!! bayangin pake paku!!! emosi bener waktu itu. klo ketemu orangnya pengen aku teriakkin.
tp aku pribadi nggak pinter soal bercocok tanam. pernah secara nggak sengaja membunuh 20 kaktus. sedih bener, ngurus kaktus aja gak bisa…
Nah itu dia Le. Kemarin itu aku beberapa kali berhenti utk melihat apakah tiap pohon ada nama ilmiahnya, karena ada papan2 gitu. Ehh ternyata papan iklan. Ga bener banged memang.
sebentar. prohon trembesi itu yang banyak banget di deket jalanan bandara soekarno hatta yah? gue pikir itu pohon beringin -_-”
Daya serap nya oke banget. gue pernah denganr, satu pohon biasa bisa mensuplai oksigen cukup untuk 2 orang manusia/hari. kalo pohon trembesi mungkin bisa buat satu keluarga besar kali
sulit sekarang nyari pohon trembesi…
..
Sebagai petani, saya pasti menyayangi tanaman mbak..
Pohon juga..
Tapi saya sukanya nanem pohon duren ato mangga..
😀
..
Tetep yaa, maunya nanem yang enak-enak 😀
pernah denger cerita nih mbak, nenek ku setiap nanem apapun mau itu bunga, buah sayur ato apa aja, sebelum ditanem nenek ku pake istilah dinikahkan, ibarat penghulu gt. menikahkan tanaman dengan tanah. aku pernah liat nenek ku nanem pohon alpukat di depan rumahku, dan alhamdulillah alpukat, lengkeng dan mangga yg ditanemin itu berbuah semuanya.
oya pohon trembesi baru kali ini aku lihat mbak.
Wow. Berarti benar, tanaman itu juga butuh kasih sayang. Kita tidak percaya karena kita tdk mencobanya. Hmm aku jadi ingin coba juga kayak nenek kamu itu.. 🙂
sejuk indah dan nyaman
baru tau dari mas kyaine di komentar atas kalo di bagian bawah trembesi bisa ditanami bunga2an..ada fotonya ga? *ngelunjak
penasaran 😀
kawasan tempat saya bekerja, jln masuk utama kami tanami pohon2 trembesi (ki hujan). umur mereka sdh 16 tahun, besar dan kekar, dan tentu saja rindang.
di wilayah baru yg sedang kami kembangkan, pohon trembesi masih menjadi pilihan, di bawahnya ditanami berbagai jenis bunga2n.
wah selamat ya kyaine, ternyata kyaine sudah memulai ya. *mantep*
saya baca di koran, seingat saya pohon trembesi itu mengancam varietas lokal, apa iya ya?
Ya kalau saya tidak salah info, itu karena daunnya sangat rindang & bisa menghalangai tanaman yg hidup di bawahnya utk mendapatkan sinar matahari, kemudian krn dia sangat kuat menyerap air. akarnya jg katanya bisa merusak sekitar kalo semakin besar. tp asalkan ditanam di tempat yang tepat, seharusnya sih tepat-2 saja ya.
waw. pohon harus dijaga supaya mencegah global warning…
benar zee, pohon yang cantik dan tangguh. Aku baru tau namanya niyh..
Aku paling suka melewati jalan yang pohon2nya sambung menyambung, merindangi jalan. Teduh.
Wow, jadi inget di Bogor banyak pohon2 gede, tapi sepertinya bkan Trembesi tuh
Fotonya kerennnnnn, mirip bangetttt.
BUkankah hijau itu penting dan menyegarkan ya 🙂
di tempat saia masih banyak pohonnya kok 🙂
waah baru tau manfaat pohon trambesi
Kalo tau gitu kenapa ga dari dulu aja nanem pohon trambesi di pinggir-pinggir jalan Jakarta?
Biar jakarta tidak trlihat gersang lagi
Wow. Berarti pohon ini memang banyak manfaatnya dong Tiw. *berkhayal piknik di bawah pohon trembesi sambil makan bijinya… eh bijinya bisa dimakan gitu aja kan, kayak buah ketapang gt?
Ya, pohon Trembesi memang pohon favorit, selain kemampuannya menyerap CO2 yang jauh lebih banyak, juga karena sifat peneduhnya yang sangat luar biasa. … bersama adik dan ayahnya yang memanjatkan doa untuk pohon mangga yang mereka tanam … kalimat ini mengingatkan saya pada film TOTORO yang mengajarkan bagaimana kita harus menghargai alam layaknya kita menghargai orang lain. Tabik!
One man one tree…? setuju banget mbak. Di Surabaya ada istilah saji sapo= satu jiwa satu pohon.
Berarti satu blogger bisa banyak pohon..
kenapa nga duren sekalian atau mangga selain peneduh kan ada nilai ekonominya
bukan hanya fungsi peneduh saja yg dicari tp juga fungsi penyerap CO2nya. klo tanam duren or mangga sih fine aja wung, tp tar orang pd rebutan metik mangga di pinggir jalan kekekee…
Trembesi memang mempunyai kemampuan menyerap CO2 yang fantastik, 28 kg/tahun. Meski ada beberapa pihak yang menengarai pohon ini juga boros air tanah.
Bener pak, saya juga dapat info trembesi ini dari blognya alamendah lho 🙂
untuk binatang sih saya punya rasa kasihan… tapi kalau pohon rasanya nda… mungkin karena pohon tidak menunjukan ekspresi dan tidak bisa bergerak ya…
lia suka tanaman…
kalo dibatam mbak….pohon2 yang tumbuh diruas jalan tidak benar2 hijau.. sangking nya terlalu banyak karbondioksida dari asap2 kendaraan bermotor dan penembangan hutan… 🙁
Semoga program ini berjalan lancar…
Makasih infonya…
jadi inget jaman kecil dulu….
dulu abah punya lahan yang banyak pohon trembesinya, tapi sekarang sayang lahan itu sudah jadi rumah dan hanya menyisakjan sedikit pohon besar. Tapi, kalau pohon itu gak ditebang aku juga belum punya rumah sampai sekarang…..
betuknya yang terkesan memiliki daun lebat meluas membuat kita merasa adem selalu ila sedang berada di bawah pohon ini….
Mbak Zee,
Terimakasih sudah melakukan backlink ke blog saya. Tulisan yang menarik, saya juga membuat tulisan soal pohon andalan dan eksotis ini diblog saya.
ihh,, aku kasian liat pohon2nya yaa..
Eh, tambahan mbak Zee, menurut postingan paman tyo waktu itu.. biji pohon trembesi bisa dimakaaan!! Yaaay!! :))
o ya, aku kira tanaman jg punya jiwa, anggrekku makin rajin berbunga kl seing diajakan omong
sama suka dgn trembesi juga
fotonya kok mirip angsana ya?
entah ya mbak, foto yang saya ambil itu mirip sekali dgn trembesi, sayangnya tidak ada papan nama yang menerangkan nama pohon tsb.
soal lingkungan saya sudah tidak mau bicara, soalnya saya sendiri juga masih berbuat kerusakan kepada alam
hahahaa.. pelan2 dikurangi ya.
udah lama banget gak nanem pohon sejak di jkt kak
ternyata satu pohon itu artinya sungguh besar ya
Lahan hijau saya kira adalah sebuah kebutuhan, kalau tidak terpenuhi di daerah tropis, bisa jadi itu namanya bencana.
kebanyakan dr kita tidak memperlakukan pohon sebagaimana kita memperlakukan binatang mungkin dikarenakan tidak ada interaksi dua arah yang terjalin sehingga rasa “sayang” pun hampir tidak ada, kecuali mungkin pohon tersebut telah berjasa karena berbuah. Saya sendiri pun terkadang tdk terlalu memperhatikan “kesejahteraan” para pohon ini, setelah menanam ya sudah selesai toh dia akan tumbuh dengan sendirinya.
eh banyak kali manfaat pohon trembesi ini ya, secara tidak langsung maksudnya. hmmm dia tdk berbuah kan yaaa?…jadi rada kurang semangat nanamnya…*dibacok*
wahahahaa… gpp dah, at least menanam pohon buah yang keras juga lumayan kok, kayak durian..
Setuju, pohon juga makhluk hidup yang punya jiwa juga hak untuk hidup tenang sesuai habitatnya, jangan mentang2 pohon diperlakukan semena mena 😀
Manusia terkadang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya yang ada dipikirannya hanyalah, materi, uang dan lainnya
Aku ngga bisa membayangkan betapa membahagiakannya kalau seorang dari setiap kita diberi tanggung jawab menanam dan memelihara satu batang pohon saja seumur hidup kita..:)
Eh Zee, blogku udah pindah hosting. Kalau ada waktu please check and gimme a report dari browse kamu via komputer/laptop ya…
Cheers!
Betul. Diberi tanggung jawab dan dilakukan pengecekan oleh pihak terkait agar orang tidak asal tanam saja tp benar2 serius merawat pohonnya.
jadi inget jalan Adi Sucipto Solo yg sering saya lewati kalo mw berangkat kerja.
jalannya adem banget karena banyak pohonnya.
tapi saya jarang merhatiin pohonnya apa :).
trembesi? saya kira rembesi. jujur baru tahu pohon semacam ini. biasanya tumbuhnya dimana aja eh i daerah mana tuh mbak
klu ikut menanam langsung aku belum pernah sist..
tapi ikut berpartisipasi dalam program ini 🙂
Saya baru tahu kalau ada pohon yang namanya trembesi. Mungkin sebenarnya saya sudah sering lihat, tapi tidak tahu saja apa itu namanya. Apakah pohon itu sejenis pohon Kalpataru. Kayanya begitu banyak manfaat yang tersembunyi dari pohon tersebut.
Memang benar, manfaat pohon ini banyak sekali terutama mampu menyerap banyak CO2..
Salam Mbak Zee,
Trembesi memiliki kemampuan menyerap air yang luar biasa tinggi dan rindang.
Cuma sayangnya, pohon ini masuk dalam kategori pohon eksotis ditempat saya karena bukan berasal dari daerah setempat.
Dsini lebih digalakkan menanam jenis Shorea lerposula (melapi/palapi)yang memiliki kemampuan tumbuh yang cukup cepat.
Oh ya? Memang karena trembesi itu bukan tanaman asli Indonesia jadi masih banyak pro kontra ttg pohon ini. Tp pohon apapun asal memang bisa menyerap banyak air dan menghijaukan, oke lah itu… :0
sip, go green untuk mencegah global warming…
Sangat menyenangkan jika tiap orang masih punya waktu untuk sekedar menyiram tanaman walaupun itu hanya sebatang kaktus. Sebab saya ngerasain banget Jakarta sekarang sudah lebih panas.
Wah bukan panas lagi, terbakar hehehe,,,
cocok deh buat keadaan skr yang semakin panas
Bener kak, menanam pohon juga harus dengan “jiwa”, yah seolah-olah membesarkan anak lah. Banyak program menanam pohon sekarang ini notabene jadi populer karena isu global warming. Tapi sebenarnya kegiatan “penanaman kembali” atau reboisasi sudah lama dilakukan. Instansi pemerintah, NGO, Yayasan atau Instansi Independent lainnya telah banyak yang … See Moremelakukan kegiatan serupa. Hanya saja laju pertumbuhan keberhasilan dari program tersebut berbanding lurus dengan laju kegagalannya. Ternyata awareness yang kurang dari kita sebagai masyarakat, dan dari masyarakat pinggiran hutan, membuat program menjadi agak maju mundur.
Memang sudah saatnya sih pemerintah melakukan campur tangan menyeluruh melakukan kampanye ke masyarakat. Bukan Rahasia juga justru “pelahap hutan” adalah orang-orang besar yang berkecimpung dalam pemerintahan kita. Wah kita musti mengurut dada…
U go kak… aku suka postingan go green ini, aku mau ikutan ah… buat postingan nada-nada serupa… kekekek…
Tq Wid, pada dasarnya tindakan reboisasi sudah banyak dilakukan oleh lembaga2 independent ya, tapi sekarang ini kan mulai giat merangkul masyarakat dan juga instansi lainnya agar semua sadar akan pentingnya reboisasi. Jangan cuma belajar teori saja waktu sekolah ttg reboisasi tp tidak ada action apa-apa. 🙂
iya harus diperbanyak ya pohon2 itu… biar jadi lebih adem…
Orang yang jualan buah trembesi goreng sudah langka. Anak2 dikampung saya juga gak ada lagi yang makan buah gurih itu-kalah sama bakso deh.
Salam hangat dari Plesiran – media untuk mempromosikan pariwisata daerah anda secara gratis. Pengirim artikelnya bahkan akan mendapatkan tali asih berupa sebuah buku yang menarik dan bermanfaat.
Saya pribadi punya kenangan banyak dengan pohon trembesi karena pohon itu ditanam di kuburan dekat rumahku.
Saya suka ambil buahnya, dikeringkan lalu digoreng (oleh emak) tanpa minyak. Rasanya gurih banget.
Kita harus memiliki kesabaran karena makannya harus nyisil ha ha ha ha.
Salam hangat dari BlogCamp
Kau pun cinta pohon
Cinta dunia nan hijau 🙂
minggu kemaren..gw jalan ke Semarang n Kudus.. aku liat reklame berjejer Iklan Djarum, bunyinya ” Go Green, Tanam Pohon Trembesi”. kira-kira gitu bunyinya… gw sempet tanya2 seh.. pohon Trembesi yg gimana yaa.. kok kayaknya special banget, ditengah isu global warming.. n jawabannya kutemukan disini.. pas banget Zee postinganmu 🙂
hehee… kok fotoku bisa nyasar ke tengah gitu seeh, Zee???
kereeen banget ya, kalau pinggiran jalan ditanami pohon pohon rindang trembesi, jadi kelihatan sejuk. Tapi bila sedang angin bisa juga membuat kita pengendara waspada.
Salam
Ya, sepertinya betul, pohon itu punya jiwa. Bos Nita pernah home stay di sebuah keluarga di Belanda. Dia merawat tumbuhan kecil di pot keluarga tersebut. Setiap hari dia mengajak bicara si pohon kecil itu dan menyiraminya. Pada suatu ketika, tumbuh bunga yang indah dan seluruh keluarga asuhnya kaget, karena seumur2 pohon kecil di pot itu tidak pernah mengeluarkan bunga!
aseeek, blog dakuh di link blog seleb 😛
wah, sya baru tau ttg trembesi. subhanallah.. huhu.. jd inget taneman dpn rumah yg dah lamaaa bgt ga disentuh 😛
Ya ampuuun aku yang pertama komentar di blogya mbak Zee yang kondang iniiih!! 😉 (eh maaf mbak OOT) hehe.. 😀
Hueehh… bisa aje ibu Titiw ini.. 😀
Saran2nya mbak Zee top banget tentang pohon! “lebih tepat bila yang dibenahi dahulu adalah taman-taman rusak di dalam komplek”? Super beneer! Eh btw yakin gak itu foto trembesi beneran..? hehe..
anyway aku sudah main ke link yang disebutan di atas dan ternyata memang trembesi banyak manfaatnya yaa.. Selama tidak ditanam dengan membabi buta dan terus dirawt sih oke banget. Go trembesi!! 😉
Hai Tiw,
Aku kurang yakin juga kalau itu trembesi, karena sekilas mirip dengan beringin. Tapi kalau beringin biasnya tudungnya bulat,sementara pohon ini mirip dengan beberapa pohon trembesi yang aku lihat di pulau jalan Casablanca. Sayangnya belum ketemu momen yg tepat untum memotret. 😀 Barangkali ada yang lebih tahu ini trrembesi bukan ya. 😀