[Manado Trip] Ketika Teriknya Bunaken Menyambutmu

Cerita sebelumnya di sini.

Kami berebutan mengoleskan lotion SPF di tangan, kaki, juga wajah, ketika bus mendekati sebuah resort. Kami akan menyeberang ke Pulau Bunaken dari resort itu, menggunakan boat untuk diving.

Panasnya matahari tak terasa karena angin laut cukup kuat menerpa kami. Some of us tiduran di atas atap kapal, sebagian di dalam, para pendamping dari resort di belakang. Saya duduk di depan, di haluan. Sengaja di situ karena tak ingin mabok laut kalau di dalam. Hari masih pagi, sepertinya ombak juga sedang beristirahat sehingga perjalanan kami lancar-lancar saja. Sekitar 45 menit perjalanan untuk sampai ke Pulau Bunaken.

Di sekitar area yang disebut Taman Laut Bunaken, ada lima pulau di dalamnya : Pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Naen, dan Pulau Mantehage, dengan luas sekitar 75.000 hektar.

Sebelum ke pulau, kami dibawa kapal menuju dive spot Fukui. Area ini katanya area untuk tempat latihan bagi yang belum licensed, jadi di sisi kanan kapal itu kedalaman 1.5 – 4 meter lalu sisi kirinya yang dalam. Dari rombongan ada tiga orang yang sudah licensed jadi bisa langsung menyelam, sementara sisanya akan dikasih base knowledge dulu mengenai alat.

Mungkin karena lama tak diving, saya jadi sedikit paranoid. Saya mendapati regulator saya sangat tidak proper, purge button sudah sobek-sobek. Saat dites malah free flow kemana-mana. Si divemaster bilang itu tidak usah ditekan-tekan, biarkan saja. Tapi saya tetap minta ganti, dong. Yah, di dalam laut kan kita bergantung hidup pada alat ini, jadi tak bisa dianggap sepele.

And then. Setelah back roll, ternyata octopus-nya bocor juga. Ampun, dah. Dan entah apa yang dilakukan oleh mereka, berusaha membetulkan purge dengan obeng. Tapi tetap tak bisa maksimal, masih saja bocor.

Beginilah kalau beli paket diving langsung dari travel, mereka tak mengerti juga bagaimana memilih dive center yang proper dalam hal standar safety. Apalagi alat-alat diving mahal, kalau diver yang bermodal ya bawa sendiri. Kalau saya, belum punya apa-apa malah. Hahah…. mau masuk ke air saja tetap belum suka pakai wetsuit, jadi pakai baju biasa saja. Saya pikir airnya juga yah gak dingin-dingin amatlah.

Betul saja kekhawatiran saya. Karena octopus yang bocor, udara saya cepat sekali habis. Tidak sampai empat puluh menit di bawah, saya sudah kembali ke atas, karena udara tinggal 40 – biasanya dari angka awal 200 paling jauh turun ke 100 dalam 30-40 menit.

Meski demikian, di tengah buteknya air dan waktu yang terlalu singkat – yang bikin saya cukup kecewa karena tak banyak yang bisa dinikmati – minimal saya sempat bertemu dengan sea turtle yang besar banget. Ini jauh lebih besar dari yang saya lihat di Gili tahun lalu. Tak bisa dikejar, dia terlalu cepat, tapi sempat saya rekam juga, tapi tak punya foto yang proper. Foto saya di Fukui hanya ada 1 yang lumayan nih, difotoin teman.

Naik ke atas kapal, saya lihat teman-teman lain hepi dan excited sekali dengan pengalaman pertama diving. Cuma Mas wartawan ahli sambal dari Detikcom saja yang gagal turun, dia bilang “Mbak maaf ya, saya kayaknya belum berani…. deg-degan…” Padahal sudah tinggal back roll. Tapi kan tak boleh dipaksa kalau memang orangnya belum pede.

Selesai dari situ baru kami lanjut ke Bunaken untuk makan.

Beberapa bintang laut merah bertotol coklat menyambut langkah kami saat turun dari kapal. Di sudut sana anak-anak kecil sedang bermain di sebuah pohon kayu tumbang. Mengingatkan saya ke masa kecil dulu, bermain di pantai mencari bia.

“Sedang cari apa?”
“Cari ikan.” Jawab seorang dari mereka. Satu di antaranya ingusan sampai keluar-keluar. Saya ada fotonya tuh pas kedua ingusnya keluar, hahai… silakan cek di Instagram saya.

Mereka kelihatan tak peduli meski kamera-kamera kami mengintai mereka dengan lihai. Cara mendekati anak-anak memang tak mudah, apalagi kalau mau dimintai foto. Jadi untuk mendapatkan kepercayaan mereka, saya dan teman-teman mengajak mereka melihat hasil foto langsung di kamera kami. Setelah itu, saya minta mereka lomba lari ke arah kami, dan kami jepret. Hahah, seruuu… mereka jadi ketawa-ketawa senang diajak main begitu.

Di tengah panas dan kosongnya pantai itu, ada satu spot foto yang menarik. Yaitu hutan bakau. Mereka yang sangat kreatif sampai naik ke pohon lalu memotret sang model dari atas. Dramatis!

Setelah cukup kenyang dan membilas badan — saya melahap ikan tude hampir seeokor hehe —  kami kembali ke kapal. Ternyata masih ada 1 spot lagi untuk diving. Tapi saya sudah malas, udah mandi masa cebur ke laut lagi. Terus alatnya juga masih sama toh, hahah. Hanya satu teman saya yang licensed yang turun. Kemudian peserta juga separohnya turun, tentunya masih ingin explore laut lebih jauh. Dan mereka beruntung. Karena di dive kedua ini, pas ketemu penyu juga!

Jam tiga sore kami kembali ke Manado. Dan semua tepar di kapal. Tidur!

Tak terasa ya dua hari di Manado-Bunaken kami cukup puas menikmati semua destinasi utama. Meski ada satu yang gak berhasil didapat. Sunset! Jadi habis dari Bunaken, kita ke hotel sebentar untuk mandi, lalu langsung ke restoran untuk kejar sunset dan barbeque malamnya. Eh ternyata telat! Hahai. Begitu tiba di lokasi, matahari yang bulat itu sudah mulai turun, dan cepat pula! Padahal kita udah lari-lari dari bus untuk ke pantai mengejar sunset. Tapi dapatnya separoh. Seperti ini.

Satu hal yang saya pastikan ketika pulang dari Manado adalah, belanja oleh-oleh khas Manado. Bagea, keripik pisang, abon cakalang, dan klapertart!

Good bye, Manado! Semoga nanti bisa berkunjung lagi.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

35 thoughts on “[Manado Trip] Ketika Teriknya Bunaken Menyambutmu

  1. nah itu bajunya indosatsnap,,,bukannya itu kompetisi hunting foto ya 😀
    hhehehe keren deh,, sambil menyelam minum air…
    indah banget 🙂

  2. Halo mba Zizy
    Makasi sharingnya
    Saya skitar 2 thn lalu sempat ke Manado,
    Tapi ga bisa ke Bunaken, backpacking minim budget soalnya, mesti hemat hehe
    Salam kenal saya Razi mba
    🙂

  3. Evi

    Kayaknya kalau sdh ngomongin pantai di Indonesia gak ada yang gak bagus ya Mbak Zy. Manado tak terlecuali. Anak-anak itu pasti senang ketemu fotografer yg ramah-ramah, jadinya mereka rela pose-pose 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *