menyusuri Pecinan Taman Sari

Menyusuri Pecinan Glodok: Menunggu, Hidup Pelan, & Frame

Dua minggu lalu saya datang ke Pecinan Glodok Taman Sari, di sebuah pagi yang sangat basah oleh derasnya hujan. Niat awalnya sederhana: ikut hunting foto bersama komunitas, berjalan kaki, mengamati, lalu pulang dengan beberapa frame yang mungkin layak disimpan. Tidak ada target, tidak ada konsep, tidak ada ambisi untuk “menangkap Jakarta”. Hanya ingin berusaha menangkap saja.

Justru karena itu, perjalanan ini pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang lain.

Saya mungkin baru dua kali saja ke tempat ini, sebab lokasinya juga termasuk jauh dari rumah. Kemarin itu suasana Imlek sudah sangat terasa. Nuansa merah hiasan Imlek merebak di mana-mana.

Pecinan Taman Sari memang punya cara sendiri untuk menyambut orang. Ia mungkin tidak menawarkan keindahan yang rapi, tapi ia menawarkan kehidupan yang apa adanya. Padat, lelah, berlapis, dan sering kali berjalan tanpa perlu disaksikan siapa pun.

Dan hari itu, hujan turun seolah sengaja memperlambat segalanya.

Dan itulah yang saya tangkap setelah saya turun dari parkiran mobil di Pancoran Chinatown Point.

Berangkat Bersama, Tapi Kota Tetap Menentukan Ritmenya

Berjalan bersama komunitas fotografi selalu memberi dinamika yang menarik. Kami pun mulai berjalan memasuki pasar, sembari leader grup kami di depan, Om Sambodo menerangkan tentang sudut-sudut yang bagus di pasar untuk mengambil momen.

Setiap orang berjalan dengan ritmenya sendiri. Ada yang cepat mengejar momen, ada yang berhenti lama di satu sudut, ada yang sibuk mengatur exposure, dan ada yang, seperti saya, kadang lebih sering diam.

Saya tidak pernah terlalu pandai “mengejar” foto. Saya lebih suka menunggu. Membiarkan kota berjalan dulu, baru saya ikut setelahnya. Apalagi, ini adalah tempat baru buat saya. Saya butuh berkenalan dan merasakan auranya.

Menyusuri pasar Pecinan Glodok Taman Sari bukan seperti berjalan di kawasan wisata. Kita harus bisa mengikuti lorong-lorong sempit, barang jualan, hingga manusia yang sibuk dengan urusan masing-masing.

Di sini, kita bukan pusat perhatian. Kita hanya tamu yang lewat.

Ada sesuatu tentang hujan di kawasan seperti ini. Air mengalir membawa bau aspal, dinding tua menjadi lebih gelap, warna kuning, merah, dan hijau terlihat lebih jujur. Hujan tidak membuat Pecinan Taman Sari sepi; justru ia membuatnya lebih nyata.

Di sela perjalanan kami menyusuri pasar, saya mulai melihat hal-hal kecil yang biasanya terlewat: tangan-tangan yang sudah keriput tapi tetap bekerja, kaki-kaki yang melangkah pelan di aspal basah, dan wajah-wajah yang tidak menoleh ke kamera.

Dan, juga lorong sangat sempit di mana jarak pintu ke pintu sebelah lebih dekat dari selemparan kolor. Sesuatu yang sering dilihat di film-film, tapi jarang bisa dilihat langsung dengan mata sendiri. 

Tukang Becak dan Seni Menunggu

street photography Pecinan Jakarta

Salah satu momen yang paling lama saya ingat adalah sosok tukang becak itu. Ia duduk diam, rokok di tangan, tatapannya kosong tapi tidak hilang. Becaknya tua, catnya mengelupas, bannya tidak lagi putih. Tapi ia tetap duduk di sana, seolah tidak terburu-buru ke mana pun.

Ia tidak sedang mencari perhatian. Ia juga tidak sedang “berpose”. Ia hanya menunggu.

Di kota seperti Jakarta, menunggu sering dianggap sebagai kekalahan. Tapi di Pecinan Taman Sari, menunggu terasa seperti bagian dari hidup. Tidak semua orang punya kemewahan untuk bergerak cepat. Sebagian orang hanya bisa bertahan, dan itu tidak selalu tragis sih.

Foto itu mengingatkan saya bahwa street photography bukan tentang menangkap momen dramatis, tapi tentang menghormati keberadaan seseorang di ruang publiknya sendiri.

Gang Sempit, Gapura Merah, dan Kota yang Bertumpuk

menyusuri Pecinan Taman Sari

Saya berjalan masuk ke lorong trotoar pejalan kaki dengan gapura merah bertuliskan aksara Tionghoa. Lampion menggantung, dan gang itu terasa seperti ruang antara, bukan sepenuhnya masa lalu, bukan juga masa kini.

Di sinilah Pecinan Taman Sari menunjukkan lapisannya. Kota ini tidak pernah dibangun ulang secara bersih. Ia ditumpuk. Di atas sejarah, di atas ekonomi, di atas kebutuhan hidup.

Orang-orang lewat tanpa saling menyapa, tapi juga tanpa saling mengusik. Ada ketenangan yang aneh di tengah kepadatan. Tidak ada yang ingin menjelaskan apa pun kepada kita. Kita hanya diminta untuk lewat dengan sopan.

Pasar, Karung-Karung Besar, dan Seorang Perempuan Tua

perjalanan fotografi jalanan di Jakarta

Di dalam pasar, saya melihat seorang perempuan tua berdiri di samping tumpukan karung besar. Bajunya biru, sendalnya sudah cukup usang, tangannya menggenggam gelas plastik kosong. Ia tidak tersenyum, tidak juga terlihat sedih. Wajahnya datar—tenang dengan caranya sendiri.

Saya memotret satu frame, lalu menurunkan kamera.

Ada batas yang saya rasakan saat itu. Tidak semua momen harus “diambil”. Beberapa cukup kita simpan dalam kepala. Tapi foto itu terlanjur tinggal di ingatan saya.

Perempuan itu tidak sedang menceritakan apa pun. Tapi kehadirannya berkata banyak tentang hidup yang dijalani tanpa panggung. Tentang usia yang terus berjalan, tentang kerja yang tidak berhenti hanya karena tubuh melemah.

Melihatnya, saya merasa kecil. Dan mungkin memang itu yang seharusnya kita rasakan saat berjalan di ruang hidup orang lain.

Refleksi: Kota Tidak Selalu Butuh Kita Mengerti

Perjalanan fotografi jalanan di Jakarta sering kali membuat kita ingin “memahami” kota. Tapi hari itu, Pecinan Taman Sari mengajarkan hal sebaliknya: tidak semua hal perlu kita pahami. Beberapa cukup kita hormati.

Saya tidak tahu cerita hidup tukang becak itu. Saya tidak tahu nama perempuan tua di pasar. Saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada gang-gang sempit itu lima atau sepuluh tahun ke depan.

Tapi saya tahu satu hal: mereka nyata. Mereka hadir. Dan mereka layak dilihat tanpa harus dijadikan narasi besar.

Pulang dengan Kepala yang Lebih Sunyi

Saya pulang dengan jumlah foto yang menurut saya tidak banyak. Ada banyak yang saya capture diam-diam, candid, dengan harapan saya bisa dapat momen. Tapi kepala saya terasa lebih sunyi—dalam arti yang baik. Ada semacam kelegaan setelah berjalan pelan, setelah tidak memaksa apa pun.

Menyusuri Pecinan Taman Sari hari itu bukan tentang hasil. Ia tentang kehadiran. Tentang belajar diam. Tentang menerima bahwa kota tidak selalu ramah, tapi selalu jujur.

Dan mungkin itu cukup.


Editorial Note — Seri Fotografi Tehsusu

Tulisan ini adalah bagian dari seri Daily Notes & Reflections: Perjalanan Fotografi Jalanan, di mana foto tidak berdiri sebagai karya tunggal, melainkan sebagai pintu masuk ke refleksi personal tentang ruang, manusia, dan kehidupan sehari-hari.Di Tehsusu, fotografi bukan soal estetika semata, tapi soal melihat dengan empati—tanpa tergesa, tanpa klaim, tanpa harus selalu punya jawaban.


Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.