Stasiun Palmerah: Gerbang Menuju Sebuah Persimpangan

Stasiun Palmerah: Gerbang Menuju Sebuah Persimpangan

52 Tempat, 52 Cerita • 01/52

Jujur saja, sudah belasan tahun tinggal di Jakarta ternyata saya belum kemana-mana, belum mampir ke tempat-tempat di mana kita bisa bertemu suasana asli Jakarta. Saya memang pernah ke banyak mal, kantor, hotel, atau tempat meeting. Tetapi ruang-ruang yang membuat kota ini hidup—pasar, stasiun, gang kecil, taman kota, justru masih banyak yang belum pernah saya datangi.

Jadi ketika minggu lalu ada info kegiatan komunitas, hunting foto blusukan ke daerah Palmerah, saya langsung mendaftar. Sudah terlalu lama tidak memanaskan kamera, dan  pergi ke pasar atau ke taman adalah momen yang tepat untuk melatih skill street photography.

Jam enam dua puluh saya tiba di STC Senayan, memarkir mobil di situ, baru naik taksi online ke titik pertemuan di Stasiun Palmerah. Saat saya didrop di bawah JPO, saya sedikit bingung karena harus turun di situ. Dalam bayangan saya, akan turun langsung di depan halte seperti di St. Tebet. Jadi kalau saya turun di sisi sebelah sini, saya pikir tentu saya harus mutar jauh naik turun tangga beberapa tingkat. Kenapa pula drivernya menurunkan di sini?

“Stasiunnya di atas, Bu. Naik dari sini, lalu langsung terus muter ke sana…” seorang bapak pengemudi opang menjelaskan dengan ramah. Saya mengucapkan terima kasih sambil mengangguk, sedikit tersenyum malu. Ternyata saya benar-benar asing dengan stasiun yang setiap hari mungkin dilewati ribuan orang.

Oh, ternyata kalau mau naik dari Stasiun Palmerah ini aksesnya ada di tengah, antara JPO di kedua sisi. Harus naik JPO, baru tiba di stasiun. Masuk dan turun ke peron sesuai tujuan KRL.

Gerbang Tinggi dan Lebar

Pagi Stasiun Palmerah

Begitu sampai di dalam stasiun, pandangan saya langsung tertuju pada gerbang yang tinggi dan lebar. Besi-besi biru dengan atap abu terang. Ruangan terasa cukup lapang, dengan pancaran  cahaya alami yang masuk dari beberapa sisi. Modern, tetapi tidak dingin.

Kemudian suara-suara. Langkah sepatu silih berganti. Suara pengumuman KRL. Aroma makanan dari tenant yang sudah buka sejak pagi.

Orang-orang terus berjalan. Ada yang bergegas mengejar kereta, ada yang baru turun sambil melihat ponsel, ada juga yang berdiri sebentar di depan layar petunjuk. Juga ada yang mampir ke tenant kuliner untuk membeli sesuatu untuk mengisi perut pagi itu.

Semua orang punya tujuan masing-masing. Saya membayangkan mungkin ada yang sedang berangkat kerja di hari Sabtu. Ada yang menuju kampus. Ada yang baru akan pulang setelah shift malam.  Ada yang ingin mengeksplor tempat baru entah di mana. Ada juga yang sekadar menemui seseorang yang sudah lama tidak ditemui.

Tidak saling mengenal, tetapi untuk beberapa menit, mereka dipertemukan di ruang yang sama. Tapi bukankah memang begitu fungsi sebuah stasiun? Bukan untuk menetap. Melainkan tempat singgah sebelum melanjutkan perjalanan.

Tadinya, saat saya berada di depan gerbang besar itu, saya sempat berpikir tentang hidup. Bukankah kita juga sering berada di persimpangan seperti ini? Ada masa ketika kita belum benar-benar tahu akan pergi ke mana, tetapi kita tahu bahwa kita tidak bisa diam di tempat. Kadang kita harus menunggu kereta berikutnya karena yang baru lewat sudah penuh, lalu tak jarang kita juga harus berpindah jalur karena tujuan berubah. Dan sering juga kita baru turun dari perjalanan panjang, dan itu cukup melelahkan.

Sama seperti saya pagi kemarin, bersama komunitas yang awalnya tidak saling mengenal, kami dipertemukan di depan stasiun. 

Saya menemui teman-teman yang sudah datang duluan, yang menunggu di depan gerbang. Ada yang membawa kamera mirrorless kecil, ada yang menggantung DSLR di leher. Kami saling menyapa, sebagian besar  baru pertama kali bertemu pagi itu.

Saya menoleh sekali lagi ke arah gerbang besar Stasiun Palmerah di belakang saya. Sebenarnya saya ingin masuk ke dalam, tapi mungkin lain waktu. Saat saya akan menuju satu tempat dengan KRL. Rasanya lucu juga. Saya datang ke sini untuk belajar memotret jalanan Jakarta, tetapi sebelum kamera mulai dinyalakan dan diangkat, sebuah stasiun sudah lebih dulu memberi saya satu cerita.

Foto dari JPO Stasiun Palmerah

Kami kemudian memulai perjalanan hunting kami. Kami melewati lagi JPO untuk turun ke sisi sebelah, mencoba mencari cerita. Menurut kalian seperti itu tidak? Bahwa kadang perjalanan sudah dimulai sejak kita masuk ke JPO, melihat dan melewati sebuah gerbang, tak harus menunggu sampai tiba di tujuan.


Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.