Kalau mendengar nama Tanjung Priok, yang langsung muncul di kepala pasti gambaran pelabuhan, kontainer, dan truk-truk besar. Tambahan: jalanan super sibuk dan padat. Begitulah selama ini saya memandang kawasan Tanjung Priok.
Sebuah kawasan yang identik dengan aktivitas perdangangan dan pelabuhan. Tempat orang datang pergi, bukan tempat yang terpikir untuk sekadar jalan-jalan.
Bulan lalu, saya dan beberapa teman berkunjung ke Tanjung Priok, untuk masuk dan melihat langsung sisi kehidupan di sana.
Bukan dari jalan besar. Bukan dari pelabuhan. Saya justru masuk ke kampung-kampung warga, berjalan menyusuri pemukiman pesisir, melihat aktivitas pengolahan ikan asin, dan menemukan sebuah kampung yang sangat dekat dengan kehidupan kerang hijau.
Ternyata, Jakarta punya wajah lain yang selama ini jarang (atau katakanlah belum pernah) saya lihat.
Tanjung Priok: Jakarta yang Tidak Selalu Terlihat
Tanjung Priok punya sejarah panjang yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan pelabuhan Jakarta. Pelabuhan Tanjung Priok mulai dibangun pada akhir abad ke-19 dimaksudkan untuk menggantikan Pelabuhan Sunda Kelapa yang mulai mengalami pendangkalan dan sulit digunakan oleh kapal-kapal besar.
Berawal dari situ, kawasan ini kemudian berkembang sebagai salah satu pusat aktivitas perdagangan dan pelabuhan penting di Jakarta.
Di kawasan Tanjung Priok, aktivitas industri dan pelabuhan juga hidup berdampingan dengan manusia. Rumah-rumah kecil, warung, tempat bekerja, anak-anak yang bermain, mereka yang berangkat mencari nafkah, dan keluarga yang sejak betahun-tahun lamanya ada tinggal di sana.
Kalau kita terbiasa dengan gedung-gedung besar mentereng di pusat Jakarta, gedung mall ber-AC, kedai kopi trendy, maka di sini adalah realita yang mengembalikan kita pada pijakan bumi. Yang ada di sini adalah gang-gang kecil, rumah petak berdempetan, aktivitas warga sampai aroma laut yang lengket di kulit.
Ya. Ini juga Jakarta.
Dimulai dari Stasiun Jakarta Beos
Kami berempat janji bertemu di Stasiun Jakarta Beos jam 8 pagi. Baru kemudian kami pindah kereta ke jalur tujuan Tanjung Priok. Kereta yang ke Priok hanya ada setiap 30 menit, dan kami baru naik yang jam 9.00 setelah sarapan pagi dulu di KFC stasiun.

Ini adalah perjalanan yang menarik bagi saya sebab dengan begini saya jadi bisa tahu apa saja sebenarnya yang ada di Jakarta. Kalau selama ini saya mungkin tahunya udara laut di pantai Bali atau di Biak (omaigat betapa rindunya saya pada Biak), maka kali ini udara lautnya beda. Bukan udara laut wisata, tapi udara laut kehidupan yang keras!
Tiba di Stasiun Tanjung Priok
Tiba di Stasiun Tanjung Priok, kami memotret sebentar menikmati suasana. Stasiun adalah tempat antara mereka yang datang dan pergi, mungkin yang selalu tinggal di sana hanyalah kucing-kucing dan para penjual.
Stasiun Tanjung Priok dibangun pada 1914 dan mulai beroperasi penuh pada 1925. Dirancang bergaya Art Deco dan neoklasik, stasiun ini dahulu menghubungkan penumpang kapal laut dengan jaringan kereta menuju pedalaman Jawa dan kini menjadi bangunan cagar budaya.
Tujuan kami adalah ke Kampung Nelayan, tepatnya Desa Kerang Hijau. Om Tito langsung menawar angkot untuk mengantar kami pp. Mencarter angkot adalah pilihan yang tepat sebab selain pengemudi lebih hapal dengan lokasi, kita juga tak perlu repot menunggu lagi bila sudah selesai dan ingin pulang. Berbeda kalau pakai taxi online, kan?

Karena kami datang saat suasana 17-an, maka banyak jalan yang ditutup untuk acara 17-an. Akhirnya angkot hanya bisa berhenti di satu sisi jalan, dan kami melanjutkan dengan berjalan kaki ke dalam.
Kampung Nelayan Tanjung Priok dan Perputaran Aktivitas Ekonomi
Mungkin istilah kampung nelayan terdengar sederhana. Tetapi sebenarnya ketika kita sudah benar-benar masuk dan melihat bagaimana kehidupan di dalamnnya, kita akan menemukan bahwa ini bukan hanya tentang orang yang pergi melaut.
Justru ada banyak aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.
Pertama sekali kami melewati para lelaki dewasa yang sedang menjemur ikan asin. Ikan-ikan direbus, diaduk, lalu dijemur. Dan diulang sampai sesuai dengan hasil yang diinginkan. Bau garam dan asin menyeruak ke hidung.
Segelas teh panas di tengah hari yang terik terlihat cukup kontradiktif. Bapak nelayan mempersilakan kami memotret. Mereka dengan lugu bercanda, bilang kami dari Indosiar. Hahah.

Kampung Kerang Hijau
Setiap gang yang kami lewati sangat sempit, bahkan ada yang lebarnya kurang dari 2 meter. Tak lama kemudian kami tiba di Kampung Kerang Hijau. Sesuai namanya kampung ini dimukimi oleh para nelayan dan mereka yang bekerja mengolah kerang hijau.
Kami memasuki sebuah emperan luas beratap, tempat para pekerja kerang hijau sedang beraktivitas. Seperti halnya kerja kantoran, di sini juga terstruktur. Ada yang bertugas membawa karung-karung berisi kerang fresh yang baru diangkut dari laut. Lalu ada yang bertugas merebus kerang di dalam drum-drum besar dengan kayu bakar. Setiap beberapa menit, karung di dalam drum diaduk dan dibalik.

Baru kemudian, kerang hijau yang sudah direbus dipindahkan ke bagian pengupas atau pembersih, di sini para wanita yang bekerja. Kerang akan dibersihkan kembali, untuk kemudian disalurkan. Biasanya ke restoran dan warung-warung penjual seafood.
Memang Bukan Kampung yang Cantik
Saya berjalan sambil memperhatikan aktivitas warga yang berlangsung begitu saja. Ini bukan kampung yang akan langsung terlihat “cantik” di mata orang luar. Lingkungannya cukup kumuh. Ada bagian jalan yang kotor, genangan air, tumpukan sisa hasil laut dan lalat yang beterbangan hampir di setiap sudut tempat pengolahan. Bayangkan memasang perangkap lalat di sini, 5 menit pasti penih.
Bau amis pun terasa cukup kuat. Saya tidak sedang mengatakan bahwa warga di sini tidak menjaga kebersihan. Saya hanya sedang mencoba menggambarkan apa yang saya lihat ketika pertama kali datang.
Yang sebenarnya perlu jadi perhatian adalah limbah dari cangkang kerang hijau ini. Tumpukannya sudah melewati tanggul pembatas pantai. Dan seperti tadi saya sebut di atas, lalat-lalat terlihat seperti hal yang sangat wajar di sini. Masak di situ, lalat di situ, jualan di situ, lalat di situ.
Dari situ kami keliling lagi dan memotret anak-anak yang sedang mengikuti lomba 17-an. Hmm… kapan ya terakhir kali saya ikutan lomba 17an?

Kembali ke Angkot
Kami kemudian keluar dari kampung dan kembali berjalan menuju tempat angkot tadi menunggu. Matahari semakin terik, dan saya baru sadar ternyata jalan kaki menyusuri gang-gang tadi lumayan juga. Hahaha. Di kepala masih terbayang drum-drum besar tempat kerang direbus, para perempuan yang duduk membersihkan kerang, ikan asin yang dijemur, dan tentu saja… lalat yang jumlahnya luar biasa itu. Rentokil seharusnya jualan perangkap lalat di sini.
Angkot membawa kami kembali menuju Stasiun Tanjung Priok. Dari sana kami naik kereta lagi menuju Jakarta. Saya, DKD, OmLeo, dan OmTito, empat orang yang pagi tadi berangkat dengan rasa penasaran, kini pulang membawa cerita masing-masing. Tapi tentu saja sebelum bubar jalan, kami makan siang dulu.
Buat saya, perjalanan hari itu sih sederhana saja: naik kereta, naik angkot, berjalan kaki, melihat kampung orang dan memotret apa yang menarik mata. Tapi tentu saja, perjalanan sederhana seperti ini membuat saya merasa sedikit lebih mengenal kota tempat saya tinggal.
