Mengajarkan Anak Gunakan Internet Dengan Aman

Mengajarkan Anak Gunakan Internet Dengan Aman

[soliloquy id=”7711″]

Lebih dari setahun belakangan ini, anak saya Vay sudah mulai intens mengenal internet. Meski dia sudah sering melihat kami orang tuanya mengakses smartphone atau dia sendiri yang bermain langsung dengan perangkat mobilenya, namun dia sendiri baru intens mengakses karena sudah merasakan asyiknya berselancar di internet. Mengakses Chrome, membuka YouTube, hingga belakangan ini mulai dikenalkan social media, dengan membuatkannya akun Instagram dan Path.
Seperti orang dewasa, anak pun perlu diajarkan bagaimana menggunakan internet dengan aman dan bertanggung jawab. Sadar dong, sekarang ini kejahatan dunia maya banyak sekali mengincar remaja dan anak-anak. Bagaimanapun, meski kita sudah pakai parental control, tapi anak-anak juga harus bisa melindungi diri sendiri, agar mereka bisa berasa aman menggunakan internet.

Berikut ini adalah cara saya mengajarkan anak agar bisa aman dalam berinternet.

1. Memberitahunya bahwa dia harus selalu didampingi. Apabila ingin mencari sesuatu via browser, atau membuka Instagram dan melihat-lihat gallery harus didampingi orang tua, atau minimal orang dewasa yang kita percaya. Jadi yang selama ini dibuka oleh Vay itu biasanya hanya mencari gambar via chrome atau mencari video dari YouTube. Saya selalu mengingatkan dia bahwa ada konten yang tidak boleh diakses oleh anak-anak, dan Vay sudah cukup aware dengan hal itu. Pernah sekali dia mencari gambar via Chrome, menggunakan keyword “tumblr” yang dia dapat dari temannya yang punya gambar-gambar sticker lucu gitu, dan ternyata yang keluar adalah gambar-gambar doodle namun ada sebagian dengan kata-kata kasar kasar. Vay paham itu dan melapor ke saya, dia mau cari gambar yang cute-cute tapi kok dapat yang ada kata-kata tak pantas. Di sini, saya beritahu Vay, kalau mencari sesuatu, gunakan keyword yang tepat, misal “cute stickers” atau “hello kitty stickers”. Jadi, Vay sendiri sudah aware bahwa sekarang ini dia belum bisa akses internet kalau tidak ada saya atau ayahnya yang mendampingi.

2. Menyimpan semua password. Saat anak sudah punya akun email, social media, atau pun blog, anak harus tahu bahwa dia tidak boleh memberikan passwordnya pada orang lain, kecuali dirinya dan orangtuanya. Kalau Vay, karena masih 7 tahun, semua password saya simpan dan tidak saya beritahukan padanya. Termasuk juga password ke playstore – apalagi itu – biar dia tidak kebablasan mendownlod aplikasi yang belum tentu tepat buatnya. Dia juga saya ajarkan agar tidak share data-data pribadi di dunia maya atau ke siapa pun. Jadi kalau dia lagi di wahana lalu diminta menuliskan email supaya bisa ikutan gamesnya, saya ingatkan dia untuk menuliskan email saya saja.

3. Tidak semua social media itu untuk anak-anak. Vay selalu ingin punya akun Facebook, karena kalau login pakai Facebook di games di smartphonenya, dia akan dapat bonus lebih banyak. Jadi cuma itu sih alasan kenapa dia ingin punya Facebook, LOL. Tapi saya katakan padanya, bahwa ada umur minimal untuk bikin akun Facebook, dan sebenarnya dia juga belum perlu akun itu. Saya membuatkannya Path, karena bisa sangat private. Kemudian Instagram, untuk jadi galeri foto-fotonya. Facebook? Belum perlu. Sekarang sih, dia baru belajar main Snapchat, tapi masih pakai akun saya, masih kirim-kiriman ekspresi lucu-lucuan dengan teman-teman maminya yang sudah kenal.

**Lihat ini ekspresinya main Snapchat. Seru banget kayaknya, ya. ^^)

4. Jangan mudah percaya. Selalu saya bilang, bahwa Om Google tidak selalu benar, jadi jangan gampang percaya dengan yang dilihatnya di internet. Kalau ingin cari sesuatu, tanya ke mami atau ayahnya. Syukurnya, Vay selalu rajin konsultasi sama maminya. Misalnya dia difollow sama satu senior di sekolahnya, dia sudah lihat foto anak itu beramai-ramai dengam satu temannya. Tapi karena dia tidak kenal, dia menolak untuk men-folbek anak itu.

5. Chatting dengan teman dan keluarga. Saya mengizinkan Vay untuk ngobrol dengan kakak sepupu, namborunya, atau dengan omanya di Medan. Manfaat internet tentu harus bisa juga mendekatkan yang jauh, toh. Jadi saya izinkan dia berkomunikasi hanya dengan yang dia sudah kenal di dunia nyata, mau texting, voice note, atau kirim-kirim foto. Bila tak kenal, maka tak boleh. Tahu kan, sering ada SMS nyasar dari nomor tak dikenal. Vay gak pernah aware, syukurlah. Saya yang rutin menghapus sms-sms itu. Semua urusan online Vay ini, mulai dari akses YouTube, akses social medianya, hingga chatting-an, saya bekali dengan paket Freedom Combo. Menurut saya ini paket yang paling tepat saat ini buat pengguna internet, karena paket data yang kita miliki bisa dipakai kapan saja tanpa limitasi waktu. Jadi gak ada lagi tuh ceritanya, jatah malam sekian Gigabyte, jatah siang sekian Megabyte. Beli paket ini juga dapat double kuota (dengan bonus untuk dipakai di jaringan 4G) dan unlimited call-sms selama 24jam. Vay sih pakai paket M saja, yang 2GB sudah cukup buat dia, dan terus jadi deh tiap sore dia telepon saya terus, karena gratisan itu.

6. Hati-hati saat mengupload foto dan menulis status. Saya selalu ingatkan Vay, tiap mau upload apapun, harus ada saya atau ayahnya di sebelah, tidak boleh aplod sendiri. Bahkan kalau dia mau komen di foto orang, saya ingatkan harus kasih tahu saya dulu.

7. Tidak boleh klik sembarangan. Kalau sudah buka YouTube dan nonton video klip penyanyi luar, umumnya suka ada referensi video lainnya. Dan layaknya penyanyi luar, video klipnya mostly mengandung konten dewasa. Maka, bila mencari video klip, selalu saya ingatkan untuk cari versi live concert saja, lebih aman.

Internet memang tidak bisa dikatakan aman, bagi orang dewasa sekalipun. Untuk usia-usia seperti Vay ini, ketika informasi di internet begitu banyak dan bisa saja tidak tersaring begitu dia klik Go, adalah tugas orang tua dan pendamping untuk memastikan bahwa informasi yang diterima dan diakses dari internet adalah sesuai dengan usianya. Jadi anak pun aman bermain internet, dan orang tua juga aman memberi kepercayaan.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

11 Comments

    • cuman kalau sudah mengenal internet, sosialisasi dengan lingkungan kurang, trus ada kayak kecanduan hp diletakkan di meja bentar wah sudah dipake anak2, malah sekarang yang jadi masalah kalo diajak belajar jadi malas

  1. bener bgt emang harus selalu dipantau, apa lagi sekarang makin mudah sekali klik bisa muncul konten2 negatif yang seharusnya tidak dilihat oleh anak kita

  2. bner bgt nih mba.. akupun slalu ngawasin Fylly tiap dia lg main ama tabletnya.. krn dia baru 3 thn, jdnya smua mainan2 ato games udh kita install semua. dia cuma tinggal main … tp itu aja udh mulai kritis minta denger lagu di you tube lah -__-.. anak skr memang yaa… ;p

    • Zizy

      Iyaa bener…. udah tahu kalau tablet or hp bisa dipakai utk cari info apapun… jadi emg harus didampingi terus kan ini.

  3. Iya mesti di dampingin emang kalo anak anak main Internet ya. Kita juga selalu bilangin anak anak cuma boleh nonton youtube kalo ada kita. Kalo gak ya gak boleh.

  4. zaman sekarang kita tidak bisa melarang anak menggunakan internet cuma kita harus mengawasi dan membimbing mereka biar menggunakan internet dan socmed untuk hal-hal positif dan berguna, info edukasi ini bagus sekali Zi

  5. Ah keren punya path dan instagram, aku dah menutup path karna sering lemot loading nya hehehe.
    Anak mesti terus di dampingi yaa saat menjamah social media, biar ngak kebablasan 🙂

    • Zizy

      Kenapa ditutup? Kan itu ajang eksismu nak. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *