Pagi tadi, setelah menurunkan Vay di Stasiun Tebet – yes, dia sekarang sudah kuliah – saya lanjut berbelok ke arah Bukit Duri. Saya ingin pergi ngopi di Kota Tua. Luar biasa sih, mau ngopi aja jauh banget ya.
Tapi inilah yang saya maksud dengan mempraktikkan hal-hal kecil yang membuat kita senang. Sekarang saya sedang tidak ada proyek menulis yang harus dikerjakan, sehingga praktis saya seperti memiliki terlalu banyak waktu.
Menikmati Kesendirian
Saya termasuk orang yang menikmati kesendirian. Mungkin karena, dalam banyak hal, saya merasa lebih secure ketika bisa menikmati waktu bersama diri sendiri. Saya tidak harus menunggu orang lain punya waktu, menyamakan jadwal, atau menentukan mau pergi ke mana. Kalau ingin keluar, ya tinggal pergi.
Tapi, menikmati kesendirian tentu bukan berarti tidak suka bergaul atau menutup diri dari orang lain. Saya tetap percaya bahwa kita membutuhkan orang-orang di sekitar kita. Ada saatnya kepala terasa terlalu penuh dan kita perlu mengosongkannya. Pergilah keluar. Ketemu dengan orang-orang. Mengobrol, melihat kehidupan berjalan, atau sekadar berada di tengah keramaian.
Ini akan membuat hati kita merasa lebih plong, lebih hangat, dan semakin mensyukuri apa yang kita punya.
Kenapa Tidak Ke Kota Tua pakai KRL saja?
Betul. Transportasi paling jitu memang naik KRL dari Tebet ke Stasiun Kota. Kenapa saya tidak naik KRL saja? Pertama, di St. Tebet tidak ada tempat parkir mobil. Kedua, kalau pagi hari, kereta ke arah kota pasti full, karena banyak yang pergi ngantor. Kebalikannya dengan Vay yang naik KRL ke arah Depok (ke UI), sehingga dia aman pergi dan juga aman pulang sorenya.
Jadi ya sudah naik mobil saja. Toh tidak ada yang dikejar. Dan seperti biasa, saya selalu kesulitan dengan Google Maps. Saya tidak pernah bisa temenan dengan peta digital, sering delayed dan saya merasa dibuat sesat sama mereka.
Ke Kota Tua sebenarnya gampang saja, karena saya seharusnya cukup mencari Tempat Parkir Kemukus. Tapi, saya sebenarnya ingin ke Toko Merah. Dan saya bersikeras ingin bisa parkir di dekat tempat itu, alih-alih berjalan kaki dari parkir.
So, karena ada pekerjaan konstruksi di beberapa ruas jalan, saya sampai tiga kali (!) memutar di jalan yang sama hanya karena saya salah belok.
Akhirnya saya menyerah. Saya ganti arah dan mencari Parkir Kemukus saja. Sampai, masuk, parkir. Diam sebentar. Capek! Bayangkan saja, saya dari Bukit Duri sampai ke Kota itu sejam lebih hanya karena ketidakbecusan saya membaca map. Haha!
Jadi, ke Kota Tua Ke Mana aja?
Rombongan wisatawan yang baru turun dari bus juga turut berjalan bersama saya, menuju Fatahillah. Kota Tua memang sudah aktif meski hari masih pagi. Di beberapa spot ada banyak pelajar dan mahasiswa yang sepertinya sedang mengerjakan tugas lapangan mereka.
Ok. Urusan ngopi pun batal. Setelah saya cek di maps, kalau saya jalan kaki, 500 meter ke Toko Merah, dan saya sudah keburu lelah. Memang masih jam 10 lewat lima belas menit di Kota Tua, tapi mataharinya sudah sangat silau. Seperti pakai puluhan lampu 100 watt di atas kepala.
Geliat seniman menyambut para pengunjung. Noni Belanda, Pejuang-Pejuang, sampai Kuntilanak Merah di Rumah Hantu yang lagi nongkrong dengan wajah seramnya di depan jendela yang langsung melambaikan tangan pada saya.

Suara tawa mengalihkan perhatian saya dari kunti di jendela. Beberapa turis gerak cepat, foto bareng, main sepeda, sampai ikutan menggunakan baju Noni Belanda.

Saya berjalan saja di situ, mengelilingi lapangan luas Fatahillah, baru kemudian karena perut mulai terasa lapar, dan saya butuh AC (!), saya akhirnya ke AW. See? Rencana ngopi cantik tidak berhasil hari ini, malah diganti dengan brunch di AW.
Digitalisasi juga sangat mengubah cara bertransaksi di Kota Tua. Bukan hanya tiket masuk, toilet juga pakai QRIS. Penjual buah potong juga begitu. Memudahkan sekali. Jauh lebih aman dan lebih jujur.
Lanjut ke Museum Seni Rupa & Keramik
Museum yang satu ini terletak berseberangan dengan Fatahillah. Harga tiket masuk termasuk murah, Rp10.000 saja, dan bisa langsung bayar pakai QRIS. Di depan gedung banyak mobil berpelat merah terparkir. Saya menduga kalau museum masih digunakan sebagai kantor. Meskipun secara resmi memang katanya tidak dijadikan kantor lagi.
Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik ini dibangun pada 1870, ditujukan sebagai gedung pengadilan. Tak heran kalau kita dipaksa untuk kagum dengan arsitekturnya. Memang sangat megah dan mencerminkan kewibawaan lembaga hukum pada jaman kolonial.
Ruangannya dimulai dari sisi kiri pintu masuk, lalu berputar seperti huruf U dan kembali ke depan. Koleksi seni rupa dan lukisan ada di sisi kiri (arah depan), dan koleksi keramik tradisional ada di sisi kanan.
Di ruang pertama banyak terpampang karya sketsa tinta di atas kertas dari Henk Ngantung. Semua karyanya merupakan “cerita” tentang aktivitas pemerintahan, salah satunya berjudul “Pertemuan Presiden Soekarno-1946”. Setelah saya mencari informasi tentangnya di internet, ternyata dia adalah Gubernur DKI Jakarta ke-5, periode 1964–1965. Dan merupakan satu-satunya gubernur yang berasal dari kalangan seniman.

Ruangan berikutnya berisi lukisan-lukisan. Ada satu lukisan yang terasa saya kenal, bukan karena saya pernah melihatnya, tapi karena gayanya seperti yang saya kenal. Ya, ternyata itu lukisan mahakarya dari Basoeki Abdullah.
Sayang sekali, saya cek iPhone saya kok tidak ada fotonya. Entah kenapa saya malah lupa foto (apa karena terlalu terpukau).

Lanjut ke sisi sebelah adalah bagian harta jarahan dan keramik tradisional.Yang saya maksud dengan harta jarahan ini sebenarnya adalah harta karun yang ditemukan dari kapal-kapal karam jaman Dinasti Song abad ke-10.
Macam-macamlah ya, kebanyakan alat-alat makan. Lalu ada timbangan kuno termasuk anak timbangan sampai ukuran paling kecil. Mengingatkan kita bahwa sejak jaman dulu para pedagang harus jujur dalam bertransaksi. Mungkin bentuk anak timbangannya tidak sempurna, namun yang penting bisa mewakili beratnya.

Ou. Di Museum Seni Rupa dan Keramik ini juga ada kelas Pottery yang bisa dicoba oleh pengunjung. Saya melewatinya saja karena terlihat ada rombongan anak SD yang lagi membuat pottery. Menarik juga sih. Artinya, kalau sedang cari kegiatan seru untuk melemaskan diri, boleh juga ke sini.
Kurang lebih satu jam saya di situ, dan kemudian saya keluar. Sudah jam dua belas tiga puluh. Saya melewati pos tiket tadi lagi. Petugasnya masih sama. Saya menyapanya dan dia membalas: “Terima kasih, Bu.”
Pada akhirnya, saya pulang tanpa berhasil ngopi di tempat yang sejak awal ingin saya datangi. Haha. Tapi tak mengapa. Tetap menyenangkan kok. Kadang kita memang tidak perlu berhasil menjalankan semua rencana untuk bisa merasa puas.
Baca juga:

aku baru tau ada Rumah Hantu di Kota Tua, jadi penasaran :O