Pasca Kelahiran Vaya

Aya or Vaya lahir kecepatan dua minggu lebih dari jadwal yang diperkirakan dokter. Seharusnya tgl 13 April, begitu perkiraan dokter. Jadi saya pun mengajukan cuti pertanggal 1 April. **kt dr.spog saya, ini krn saya terlalu aktif jdnya kecepetan :D.

Rabu 26 Maret, saya gak masuk kantor, entah kenapa pagi itu malasss banget bangun. Masih mengantuk, dan badan juga lemas. Sorenya, saya ke RS untuk konsultasi rutin, dan ternyata tensi saya tinggi. 183/90 !! Setelah melakukan tes urine, 2 jam kemudian hasilnya keluar, positive 1, yang artinya ada keracunan ringan, dan pasien disarankan untuk rawat inap. Tapi setelah diukur ulang, tensi sudah turun jadi 140, jadi oleh dokter saya boleh istirahat di rumah, tentu dikasih resep agar tekanan darah cepat normal. Terus juga harus mengurangi makan yang bergaram.

Salon : “Nyari Pelanggan” atau Dicari Pelanggan?

Saya paling hobi ke salon. Biasanya untuk memanjakan diri seperti creambath, pedi-meni, luluran, massage, dan juga refleksi, rutin setiap minggu ke salon (dulu sih waktu masih lajang di Medan). Kalau untuk potong rambut atau colouring, itu baru… setiap tiga enam bulan sekali.

Karena itulah saya suka menjajal setiap salon yang ditemui. Mulai dari salon murah sampai salon yang agak mahal. Iya, agak mahal, artinya saya belum pernah menjajal salon yang terlalu mahal, yang misalnya untuk cutting harus bayar 400 ribu. Huhuu….mana sanggup.

Pakai Baju Apa Ya Hari Ini…?

Sudah seminggu terakhir ini, saya selalu berdiri lama di depan lemari pakaian. Setiap selesai mandi dan bersiap-siap untuk ke kantor atau jalan-jalan, pintu lemari itu akan terbuka untuk waktu yang…

28 Minggu

Tidak terasa saya sudah memasuki usia kehamilan 28 minggu. Kalau mau dirunut, banyak sekali perubahan yang saya rasakan selama awal kehamilan sampai sekarang. Jadi tidak ada salahnya berbagi, selain buat cewek-cewek single yang pada mau merit, juga untuk para cowok agar nanti jadi lebih sayang sama istri, ya. Eniwei, postingan ini agak panjang, jadi bacanya boleh lah sambil ngemil..

Warung Daun Cikini

Untuk penggemar makanan enak, apalagi makanan khas Sunda, saya baru nyoba satu tempat makan di daerah Cikini Jakarta. Namanya Warung Daun. Kalo gak salah, tempat ini baru buka sekitar sebulanan yang lalu, dan merupakan cabang dari tempat lain (saya tidak begitu tahu persis karena jarang lewat Cikini, but hubby saya bilang baru buka). Letaknya pas banget bersebarangan dengan Pintu Masuk TIM. Tahu kan, kalo kita lewat TIM di depannya suka rame tukang bajaj dan gerobak makanan? Nah, Warung Daun ini di seberang jalannya.

Awalnya hubby suka pulang malam lewat Cikini, dan tertarik untuk singgah. Tapi karena dilihatnya sepi, jadi ragu-ragu untuk masuk. Nah, minggu lalu ketika ia harus menjamu seorang rekan, dia nekat pilih Warung Daun dengan alasan dekat dari kantor. Dan ternyata di siang hari itu, rame banged..!! Parkiran penuh dengan mobil. Dan setelah dia mencoba makan di situ, well..memang tidak mengecewakan.

Makan Siang Mahal

Seperti biasa, kalo waktu sudah hampir jam 12 siang, teman-teman mulai kasak kusuk mau makan dimana. Lalu kalau saya ditanya, saya cuma jawab, terserahlah. Bukan berarti tidak punya keinginan, tapi memang tidak banyak pilihan menarik buat saya.

Di belakang gedung Sarja ini, banyak warteg yang menjual aneka masakan. Ada juga warung padang, lalu warung yang mendeklarasikan diri sebagai warung sunda, padahal isi masakannya yang berbau sunda cuma ayam goreng. Biasanya teman-teman suka makan di warung Barokah, tapi sudah tiga minggu ini warungnya tutup, karena kontraknya habis.

Pengen Punya Gigi Bagus? Mahal.

Jadi tertarik posting soal gigi, gara-gara di kantor saya sedang demam pakai behel, alias kawat gigi. Mula-mula Mbak Hagi, bela-belain antri di poliklinik kantor pusat untuk periksa gigi. Tahu-tahu seminggu kemudian, sudah pakai kawat gigi warna biru kehijauan. Lalu gak lama Mbak Olla nyusul, pasang behel juga tapi tidak berwarna. Lalu terjadilah promosi dari mulut ke mulut, besoknya tambah lagi satu orang cowok di ruangan ini ikutan. Lalu bulan berikutnya, teman mereka di lantai tiga juga pakai kawat gigi. Kali ini warnanya biru.

Maap Ya Bang Bajaj..

Jam sembilan lewat lima menit pagi, saya turun ke B1, keluar dari pintu belakang Sarja, dan jalan kaki ke RS Budi Kemuliaan. Tak lupa membawa payung, siapa tahu hujan atau siapa tahu juga panas terik (untuk melindungi wajah, gitu). Urusan kerjaan sudah dikebut sebelum jam sembilan, jadi bisa dilanjutkan siang setelah urusan ke rumah sakit kelar.

Pizza Timeee…….!!

Ini pertama kali nya saya merayakan hari ulang tahun tanpa keluarga. Tahun-tahun lalu biasanya tradisi kami sekeluarga adalah makan bersama di rumah, sambil makan ayam panggang buatan Tante Cie yang luar biasa lezatnya. **too bad saya gak bisa masaknya, he he hee….

Tapi karena ultah tahun ini saya sudah di Jakarta, saya tidak merayakannya secara khusus. Kebetulan sekali tgl dua sampai empat November kemarin bonyok saya ada di Jakarta untuk acara peringatan lima puluh tahun pernikahan makela dan bou saya (Bpk & Ibu Bismar Siregar), jadi waktu tgl empat masih sempat memberi ciuman selamat ultah buat putri semata wayangnya ini.

Musim Hujan

Musim hujan datang lagi. Hampir setiap hari, Jakarta diguyur hujan lebat, kalau gak siang hari, ya sore. Seperti hari ini, sejak tengah hari sudah mendung, tapi hujan belum turun. Ruangan yang sudah dingin oleh AC, serasa makin membeku.

Sekitar jam empat, hujan mulai turun. Deras. Campur angin puting beliung. Halaqhh… gak bener, becanda, maksudnya cuma angin kencang biasa kok, he hee … tapi yang namanya angin kencang ya mengkhawatirkan juga, terutama buat para pengendara.

Kalau biasanya jam setengah lima saya sudah cabut dari kantor, kali ini saya masih betah ngendon di kursi sampai jam 6 lewat. Soalnya saya pikir, kalau keluar hujan-hujan ya sama aja kejebak macet. Udah kebayang antrian panjang mulai dari Monas sampai Tugu Tani, doughh…. males dah…! Sempat kepikir juga mau ke Burger King lagi, tapi lagi-lagi karena mikirin macet di Sabang & Wahid Hasyim langsung males. **iya, nih, klo udah ketemu fast food, suka kemaruk 😀