Sabtu kemarin saya baru saja berkunjung ke Museum Batik Indonesia di TMII. Berangkat dari rumah jam 8 pagi, sampai di TMII kurang lebih 30 menit. Saya parkir di area parkir besar outdoor dengan pepohonan di sekeliling, yang disebut petugas sebagai gedung parkir.
Oh ya. Beberapa waktu sebelumnya saya juga sempat berkunjung ke Museum Nasional Indonesia, yang sama-sama menawarkan pengalaman melihat sejarah dan budaya Indonesia dari dekat.
Pagi hari itu Taman Mini Indonesia Indah masih sepi, tapi ini lebih baik buat saya agar tidak terlalu panas untuk berjalan. Meski akhirnya kena panas juga karena museum baru buka jam 9.

Dari situ saya jalan kaki ke gedung TIC (Tourist Information Center), tempat wisatawan berkumpul. TIC juga jadi tempat untuk naik shuttle car, jadi memang semua pengunjung harus ke sini, sebab sekarang wilayah TMII hanya bisa diakses dengan shuttle car atau skuter dan sepeda yang disewakan untuk pengunjung. Jadi, kalau datang dengan kendaraan pribadi, wajib parkir.
Suasana di sekitar TIC sudah keren banget. Dengan ticketing di sisi kiri gerbang, sedikit pameran di bagian dalam gedung, lalu masuk lagi ke dalam, sudah ada shopping gallery untuk membeli cinderamata. Sangat proper untuk menyambut wisatawan.

Setelah berjalan beberapa puluh meter, seorang petugas mengarahkan saya untuk menunggu shuttle car di jalur selatan. Jalur yang mengarah ke museum yang ingin saya kunjungi.
Tak lama datanglah buggy car, warna pink. Cuma ada saya, jadi saya naik dan langsung diantar petugas. Turun langsung di depan halte dekat museum-museum di selatan.
Museum Batik Indonesia TMII yang Modern
Sebenarnya hari itu saya berniat mengunjungi beberapa museum TMII, yang utama adalah Museum Asmat dan Museum Timor Timur. Namun, sayangnya, saat saya sampai di dalam, Museum Asmat tidak buka. Gerbang masih tergemok.
Maka saya langsung melipir saja ke Museum Batik yang ada di sebelahnya. Museum ini terlihat cukup mentereng dari kejauhan. Jalur undakan untuk sampai ke pintu museum dibuat bertangga-tangga, tapi dibuatkan jalur jalan biasa zig-zag di antaranya.
Dari balik pintu dengan kaca gelap terlihat seorang petugas security buru-buru mendekati pintu lalu membukakan untuk saya. Sepertinya mereka tidak menyangka ada pengunjung datang sepagi itu. Saya mengedarkan pandangan dan melihat ada banyak pegawai di dalam. Kelihatannya sebagian besar anak-anak magang.
Masuk Museum Batik TMII bayar berapa?
Gratis. Tidak perlu membayar sama sekali. Sebelum masuk saya diminta menitipkan barang bawaan, kecuali handphone dan dompet. Saya sempat berdebat dengan pegawai di situ karena saya menolak menitipkan dompet sandang saya.
Yang saya bawa memang semacam handbag kecil semidompet dengan handle. Ada dua bagian, yang satu untuk ponsel, 1 lagi untuk KTP-SIM-CC, lipstik lipgloss dan kunci mobil. Juga untuk 2-3 lembar uang dilipat-lipat. Tapi ini bukan tas. Jadi kalau disuruh titip ya aneh betul ini mereka. Sampai saya bilang, atau kalian mau saya buka dan talinya saya titip biar kalian bilang ini DOMPET?
Apa saja yang ada di Museum Batik?
Begitu saya masuk ke dalam Museum Batik Indonesia, saya langsung disambut dengan pajangan besar batik dengan jenis motif beserta penjelasannya.
Arca bermotif batik
Kemudian juga ada beberapa arca yang pahatannya mengenakan pakaian dengan motif batik. Ini menggambarkan bahwa batik juga sudah ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu.



Galeri batik Indonesia
Banyak jenis batik dari berbagai daerah dipajang. Kita mungkin akan lebih mudah mengenal batik dari Pulau Jawa, seperti motif klasik parang. Namun, museum ini tidak hanya menampilkan batik dari Jawa saja. Ada juga dari banyak daerah di Indonesia. Melihat semuanya dalam satu ruangan membuat saya kembali sadar bahwa batik ini bukan cuma kain tradisional tapi juga hasil perjalanan panjang budaya dari berbagai daerah di Indonesia.




Hal yang menarik dari koleksi di Museum Batik Indonesia TMII adalah bagaimana setiap motif ternyata memiliki filosofi tersendiri. Beberapa motif melambangkan kekuatan, harapan, atau perlindungan bagi pemakainya. Ada juga motif yang dulu hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu pada masa kerajaan. Serta bagaimana batik digunakan dalam penggunaan sehari-hari di masa dulu.
Ruang proses pembuatan batik
Kemudian saya masuk ke bagian lain ruangan, di mana di sini kita bisa melihat penjelasan mengenai proses pembuatan batik. Dari kain putih polos, prosesnya dimulai dengan menggambar pola menggunakan canting dan malam (lilin batik). Setelah itu, kain melalui tahap pewarnaan, penutupan motif dengan malam, hingga akhirnya direbus untuk menghilangkan lapisan lilin dan memperlihatkan motif yang sudah terbentuk.


Prosesnya tidak sederhana dan seringkali membutuhkan waktu yang panjang, sampai mendapatkan warna yang diinginkan.


Ruang para tokoh batik
Kemudian saya tiba di ruangan tempat para tokoh batik. Yang dimulai dari RA Kartini, lalu ada Presiden Soekarno, hingga Presiden SBY yang berhasil membawa Batik Indonesia resmi diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2 Oktober 2009.


Rasanya sudah cukup lengkap main ke Museum Batik Indonesia
Setelah berkeliling dari satu ruang ke ruang lainnya, rasanya kunjungan saya ke Museum Batik Indonesia TMII sudah cukup lengkap. Saya sempat berjalan sekali lagi melewati beberapa display yang tadi menarik perhatian, seolah memastikan tidak ada yang terlewat. Ruangan museum yang tenang membuat pengalaman melihat koleksi batik terasa lebih santai, tidak terburu-buru, dan memberi waktu untuk benar-benar membaca cerita di balik setiap motif. Setelah merasa puas, saya pun melangkah keluar dari area museum menuju halaman depan.
Tempat seperti ini juga cocok sebagai wisata edukasi untuk anak, karena banyak informasi tentang batik Indonesia yang disajikan secara visual.
Di luar, suasana TMII masih cukup ramai meskipun hari sudah mulai bergeser ke siang. Saya berjalan ke titik penjemputan shuttle car yang memang disediakan untuk pengunjung yang ingin berpindah dari satu area ke area lain di dalam kompleks TMII.
Sebuah shuttle car datang membawa pengunjung lain, lalu petugasnya memanggil saya agar segera naik. Oh, saya ingat. Tadi di depan saya sebenarnya tanya apakah saya bisa naik mobil dia, tapi dia menolak dengan sopan karena katanya dia harus mengantar rombongan. Kali ini mungkin daripada dia pulang dengan mobil kosong, dia ajak saja saya dan semua yang ada di situ untuk naik.
Perjalanan singkat itu membawa saya kembali ke area TIC (Tourist Information Center), tempat yang tadi menjadi titik awal sebelum menjelajahi museum. Dari dalam kendaraan kecil itu, saya sempat melihat lagi beberapa sudut TMII yang sudah diperbarui dengan wajah yang lebih modern dan rapi.
Rasanya menyenangkan bisa menutup kunjungan hari itu dengan pengalaman yang sederhana namun berkesan—melihat batik tidak hanya sebagai kain, tetapi sebagai cerita panjang tentang budaya Indonesia.
