Akhirnya kesampaian juga keinginan saya untuk trekking. Trekking ke Curug Cibeureum Cibodas yang ada di Taman Nasional Gunung Gede.
Curug yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini sebenarnya bukan cuma satu air terjun. Di lokasi yang sama ada tiga curug yang letaknya berdekatan, yaitu Curug Cibeureum sebagai curug utama, Curug Cidendeng, dan Curug Cikundul. Curug Cibeureum sendiri memiliki ketinggian sekitar 40 meter dan berada di ketinggian sekitar 1.600–1.700 mdpl. Untuk sampai ke sana, pengunjung perlu trekking sekitar 2,8 km dari gerbang jalur Cibodas, melewati jalur hutan, bebatuan, Telaga Biru, hingga jembatan kayu di kawasan Rawa Gayonggong.
Akhirnya, kesampaian juga keinginan saya untuk trekking ke Curug Cibeureum Cibodas, yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Saya menemukan open trip khusus usia 40 tahun ke atas dan langsung berpikir, “Oh, pas nih!” Bukan semata-mata soal medan trekking-nya, tetapi lebih karena circle-nya. ?
Tentang Curug Cibeureum
Sebelum bercerita lebih jauh tentang perjalanan saya, ada sedikit fakta menarik tentang Curug Cibeureum. Ternyata, di kawasan ini bukan cuma ada satu air terjun, melainkan tiga yang letaknya berdekatan, yaitu Curug Cibeureum sebagai curug utama, Curug Cidendeng, dan Curug Cikundul. Curug Cibeureum sendiri memiliki ketinggian sekitar 40 meter dan berada di ketinggian sekitar 1.600–1.700 mdpl. Untuk sampai ke sana, pengunjung perlu berjalan kaki sekitar 2,8 km dari gerbang jalur Cibodas, melewati jalur hutan, bebatuan, Telaga Biru, hingga jembatan kayu di kawasan Rawa Gayonggong.
Nah, nama Cibeureum sendiri berasal dari bahasa Sunda, yaitu ci yang berarti air dan beureum yang berarti merah. Nama ini dikaitkan dengan warna kemerahan pada dinding tebing di sekitar air terjun yang ditumbuhi lumut merah. Jadi, bukan berarti air terjunnya mengalirkan air berwarna merah, ya.
Yang menarik, meski jarak dari gerbang menuju Curug Cibeureum disebut sekitar 2,8 km atau 5,6 km untuk perjalanan pulang-pergi, Huawei saya justru mencatat lebih dari 12 km! Padahal, saya sudah menyalakan fitur Outdoor Walk sejak saya mulai berjalan dari pintu basecamp. Namun, angka yang tercatat saat itu baru sekitar 500 meter. Kok bisa sampai 12 km lebih? Nah, bagian ini nanti akan saya ceritakan.
Kenapa Saya Memilih Ikut Open Trip?
Kenapa saya akhirnya memutuskan untuk ikutan open trip ini? Sebuah keinginan yang tidak muluk-muluk. Sejak rutin berenang, incline walking dan strength training, rasanya saya butuh medium lain untuk menantang tubuh jadi terus aktif. Kurang lebih ingin mengetes kebugaran tubuh. Apakah saya akan kuat? Atau mungkin akan ngos-ngosan dan kram kaki?
Saya menemukan posting open trip trekking untuk usia 40 tahun ke atas, dan saya pikir: “Oh pas nih.” Bukan masalah medannya, tapi lebih ke circlenya. Dikatakan juga kalau itu trekking untuk pemula, artinya peserta tidak perlu takut ketinggalan karena pasti ada panitia yang menemani sampai atas.
Persiapan Sebelum Berangkat ke Curug Cibeureum Cibodas
Begitu saya mendaftar open trip ini, saya sudah berencana untuk rutin trekking sehingga dirasa perlu membuat persiapan yang matang.
Pertama, outfit. Dua minggu sebelum tanggal keberangkatan, saya membeli sepatu trekking di store Eiger. Lalu beli topi (walau akhirnya topi itu tidak saya pakai di hari H). Kemudian beli vest bag. Semacam backpack tipis dengan kantong di depan. Saya sangat jatuh cinta dengan konsep ini, karena beban yang kita bawa jadi balance, tidak berat di punggung.
Di bagian depan saya letakkan dua botol minum. Lalu saya membeli trekking pole. Untuk semua kebutuhan ini, saya cari yang merek biasa saja, karena baru pertama kali coba. Jadi, kalau rusak ya sudah tidak terlalu rugi. Kecuali sepatu tadi, memang beli langsung yang bagusan biar cukup tahan.
Kedua, fisik. Memang setiap hari saya tetap berolahraga; renang, walking, dan angkat beban. Menjelang hari H, saya fokus di incline walking minimal 35 menit. Sehari sebelum berangkat, sorenya saya juga tetap melakukan strength training. Menurut saya, kalau H-1 dibawa istirahat dengan alasan biar hari H aman, malah nanti stamina turun dan susah untuk naik kembali.
Ketiga, asupan. Sebelum berangkat, saya menghindari makan yang aneh-aneh, agar tidak sakit perut saat nanti berkegiatan. Lalu, persiapan bekal yang akan dibawa. Di open trip ini kita akan mendapatkan snack pagi dan lunch, tapi untuk sepanjang perjalanan harus bawa sendiri. Jadi saya bawa dua telur rebus saja dan 1 protein bar.
Sudah. Itu saja.
Berangkat dari Tebet, menuju Cibodas
Menurut itinerary, semua harus kumpul di Stasiun Bogor antara 6.30-7.00.
Sabtu pagi, 3 Oktober, jam 5.20 saya sudah tiba di St.Tebet. Menunggu kereta jam 5.30 dengan tujuan akhir Stasiun Bogor.
Pagi itu suasana masih gelap-gelap syahdu, tapi kereta tetap ramai. Saya mencoba memejamkan mata, tapi tidak berhasil. Dari beberapa stasiun, saya melihat juga ada anak-anak muda dengan outfit untuk outing. Wah, jangan-jangan tujuannya sama nih.
Peserta open trip ini berjumlah 28 orang yang kemudian dibagi ke dalam 2 mobil Hi-Ace. Saya tiba pukul 6.35 dan lalu berjalan kaki ke pintu keluar A, tempat mobil sudah menunggu. Saya duduk di deret paling belakang bersama 3 orang lainnya, dan ternyata kami cocok! Hahah!
Yang bikin kita uring-uringan adalah, ada 1 peserta yang sangat terlambat karena telat jalan dari rumah. Seharusnya kita sudah jalan jam 7.00 atau paling lama 7.15, tapi karena ada 1 orang yang tidak bisa menghargai waktu orang lain, kita akhirnya baru jalan 7.45! Sudah sangat terlambat karena kita kejar-kejaran dengan jalur yang macet.
Perjalanan ke Basecamp yang Lumayan Menguras Kesabaran
Akhirnya, jalanlah kita ke Cibodas. Dan betul saja dugaan kita semua. Begitu masuk tol, langsung terjebak kemacetan padat merayap kendaraan menuju Puncak. Lagu-lagu karaoke diputar, dan beberapa dari kami menyumbangkan suara yang pas-pasan.
Rasanya sudah bertahun-tahun lamanya sejak terakhir kali saya ke Puncak. Kanan-kiri masih ada pedagang yang berjualan, tapi dengan sepeda motor. Artinya, kalau ada razia, mereka tinggal tancap gas.
Karena duduk di kursi belakang, dengan kondisi hampir empat jam duduk (dihitung dari naik KA), saya mulai merasa mual. Dan baru sadar, ternyata kantong obat saya tertinggal. Untungnya saya masih tetap bawa dompet sling, di situ ada 2 butir obat sakit kepala. Segera saya minum sebutir agar cepat bereaksi sebelum nanti trekking dimulai.
Trekking Curug Cibeureum Dimulai
Cuaca hari itu cukup bersahabat. Tidak terlalu panas ataupun hujan. Hi Ace kami tiba di lokasi jam 9.45, kami diturunkan di dekat basecamp yang sudah dibooking panitia. Semua orang langsung wurrrrr… berebut ke toilet.
Perut dan kerongkongan saya masih tidak enak. Saya mencoba memaksakan diri untuk muntah, tapi ternyata itu tindakan yang salah karena sakit kepala langsung menyerang kening. Mulai ada sedikit rasa khawatir dan tidak tenang, karena sudah lama sekali saya tidak merasa sakit begini.
Tapi saya tetap sampaikan kondisi saya ke Kak Nena team leader kita, untuk jaga-jaga saja. Mampir dulu ke warung untuk minum air putih panas, lalu bersiap untuk trekking. Ransel sudah ditinggal di mobil, hanya bawa vest bag dan trekking pole saja.
Kami lalu terbagi menjadi beberapa kelompok dengan sendirinya, masing-masing ditemani satu panitia. Yeaahhh… trekking dimulai!
Katanya Cuma 2,8 KM, Kok Huawei Saya Bilang 12 KM?

Pagi itu suasana ramai nian. Menurut teman sekelompok, ini karena akhir minggu dan tanggal muda. Kami berjalan menuju pintu masuk gerbang awal yang menjadi titik awal. Tapi sebelum sampai ke sana saya langsung menyalakan jam tangan saya, outdoor walk.
Masih ada rasa mual yang cukup mengganggu, tapi saya mencoba tidak terlalu memikirkannya. Sebelum masuk ke trek, kita ketemu loket tiket. Panitia langsung membeli tiket sementara kami rombongan sudah langsung naik.
Trek awal masih cukup bersahabat, masih cukup landai. Udara terasa dingin dan segar, berbeda sekali dengan udara Jakarta yang baru ditinggalkan beberapa jam lalu.
Mari mulai..
Perlahan-lahan suara keramaian seperti suara kendaraan, pengeras suara, semakin hilang. Berganti dengan suara langkah kaki di atas tanah dan batu, suara obrolan orang-orang yang berusaha mengobrol (tapi biasanya hanya bertahan sebentar karena nanti akan mulai susah mengatur napas).
Saya masih mendengar suara Susan memanggil saya di atas. Saya berhenti dulu beberapa kali untuk mengatasi rasa mual. Baru kemudian saya kembali bergerak.
Jalur mulai menanjak. Napas mulai terasa harus diatur, keringat juga perlahan muncul meskipun udara cukup dingin. Tapi betis tidak ada masalah. Bu Tuti, salah satu peserta yang berusia 63 tahun, memilih turun setelah kurang lebih 100 meter. Terlalu curam, lututnya tidak kuat.

Ada rombongan bapak-bapak yang berjalan barengan. Awalnya mereka duluan tapi kemudian berhasil disalip, karena saya berusaha mengejar Susan, Ida, dan dua lagi. Trekking pole menurut saya tidak terlalu bermanfaat buat saya di urusan naik, malah terasa merepotkan. Saya lebih sering melipatnya ke belakang ketimbang memakainya. Hanya ketika di curug nanti baru saya pakai.
Kurang lebih 1.5 jam sampai atas
Perjalanan seperti ini bisa dibilang tidak terasa. Ketika saya ketemu teman-teman di jembatan, itu sudah satu jam. Kami ternyata kloter pertama yang sampai di situ. Teman-teman tanya apa saya sudah enakan, saya jawab alhamdulillah ternyata setelah dipaksa berjalan malah mualnya hilang.
Kami tiba di Telaga Biru (yang tidak biru). Spot ini spot viral untuk berfoto, jadi orang harus mengantre. Banyak juga yang berhenti bersantai, tapi kami tak punya waktu untuk itu. Sebab kami mau segera sampai ke tiga curug di atas.

Eh iya, yang menarik adalah di atas sini ada warung dadakan. Kami mampir sebentar untuk cemilan ringan. Saya malah makan bakso, padahal sudah bawa telur. Rasanya nikmat, cukuplah untuk mengobati perut yang mual tadi.
Rombongan berikutnya baru tiba, tapi kami langsung jalan lagi. Sebab konsep trekking memang tak boleh terlalu lama istirahat, nanti ritme keburu balik flat dan susah untuk kembali naik.
Jalur mulai landai. Dan mulai deh muncul rasa sok iye di dalam diri. Mana nih kok segini aja? LOL.
Akhirnya Sampai di Curug Cibeureum
Dalam perjalanan menuju curug, saya berpapasan dengan bapak-bapak yang tadi berjalan di belakang saya. Eh, ternyata beliau sudah dalam perjalanan turun!
“Lho, kok sudah turun, Pak?”
“Oh iya, sudah. Ibu bukannya tadi di depan?”
“Oh, kita makan bakso dulu tadi, Pak, di bawah.”
Oalah! Pantesan sudah turun. Rupanya beliau sudah selesai menikmati curug, sementara saya masih berjuang menuju tujuan. Haha.
Tidak lama kemudian, akhirnya kami sampai juga di Curug Cibeureum. Kami mulai mengganti sepatu dengan sandal agar sepatu tidak basah. Saya membawa sepatu sandal Hush Puppies yang sol bawahnya karet, sudah terbukti cukup kuat untuk menjejak di batu.
Dan… wow! Ramainya bukan main. Rasanya seperti pasar malam!
Orang ada di mana-mana. Ada yang sibuk berfoto, bergerombol bersama teman-temannya, duduk menikmati bekal, atau sekadar berdiri memandangi air terjun. Suara gemuruh air bercampur dengan riuhnya suara pengunjung. Kalau berharap mendapatkan suasana hening di tengah hutan, sepertinya saya datang pada waktu yang kurang tepat.
Tapi, ya, namanya juga tempat wisata yang populer. Apalagi, trekking menuju Curug Cibeureum relatif bisa dijangkau oleh banyak orang yang ingin menikmati alam tanpa harus mendaki gunung sampai ke puncak.

Air terjun menjulang di antara tebing dan hijaunya pepohonan. Airnya jatuh deras, menciptakan suara gemuruh yang sesekali terasa lebih kuat daripada suara orang-orang di sekitarnya. Cakep pol! Oke, satu hal yang pasti, airnya seperti air es! Berjalan selama 1 menit saja kaki sudah beku, saya tidak yakin ada yang sanggup mandi-mandi di sini.
Menariknya, ketiga curug di kawasan ini punya karakter yang berbeda. Curug Cibeureum merupakan air terjun utama yang paling dikenal, dengan aliran air cukup deras dan tebing tinggi yang ditumbuhi lumut. Sementara itu, Curug Cidendeng memiliki aliran air yang lebih ramping, dan Curug Cikundul berada di antara tebing yang dikelilingi pepohonan. Ketiganya bisa ditemukan di kawasan yang sama, sehingga perjalanan menuju Curug Cibeureum juga memberi kesempatan untuk menikmati keindahan air terjun lainnya. Jadi, bukan cuma satu curug yang bisa dinikmati di sini!

Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya saya sampai juga di sini. Rasa lelah, perjalanan berliku dari Jakarta, sampai mual yang sempat mengganggu tadi seperti mendapat sedikit kompensasi. Kami saling bergantian memotret.
Sekarang tinggal satu pertanyaan: setelah puas menikmati curug, apakah perjalanan pulangnya bakal semudah yang saya bayangkan?
Pulang dengan Kaki Lelah dan Cerita Baru
Setelah puas bermain air kami pun bersiap untuk kembali. Menjelang turun, air di sekitar curug mulai terlihat keruh dan gerimis pun datang. Saya memutuskan turun lebih dulu bersama tiga teman, karena mengira Susan dan teman-teman lainnya sudah berada di depan.
Ternyata, mereka masih di belakang, sedang berfoto grup. Jadilah, kami tidak ikut dalam foto bersama itu. Memang tidak mudah mencari teman di tengah suasana seramai itu. Semua orang terlihat hampir sama: ada yang memakai jaket, membawa ransel, atau sibuk dengan kelompoknya masing-masing. Sedikit meleng, rombongan bisa langsung terpisah.
Perjalanan turun ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Batu-batu di jalur trekking cukup licin, apalagi setelah gerimis. Beberapa kali saya hampir terpeleset, padahal sudah memakai sepatu trekking.
Agak kecewa sama Eiger
Jujur, agak kecewa juga. Waktu membeli sepatu itu, saya sudah bilang kepada penjual bahwa saya membutuhkannya untuk trekking. Entah memang kurang cocok untuk medan seperti ini atau saya yang belum cukup lihai memilih pijakan. Nah, di sinilah trekking pole berguna. Saya sendiri kemudian memilih mencari jalan tanah dedaunan ketimbang batu karena sepatu saya terasa tak bisa mencengkeram batu.
Yang jelas, pengalaman ini jadi catatan untuk perjalanan berikutnya: sepatu trekking ternyata tidak otomatis menjamin kaki aman dari terpeleset.
Di tengah perjalanan turun, saya melihat sekelompok remaja berkumpul. Rupanya, salah satu teman mereka terpeleset dan menangis kesakitan. Saya tidak tahu persis bagaimana kejadiannya, tetapi pemandangan itu membuat saya semakin sadar bahwa jalur turun pun perlu dihadapi dengan hati-hati. Jangan sampai karena merasa sudah dekat dengan pintu keluar, kita malah lengah. Memang banyak anak remaja yang saya lihat ingin buru-buru turun, kadang sambil berlari. Sampai saya refleks mengingatkan: “Hati-hati, Dek.”
Setelah melewati jalur yang licin itu, akhirnya saya kembali tiba di gerbang. Hal pertama yang saya cari? Toilet! Dari atas tadi sudah kebelet pipis. Oh iya toilet hanya ada di Curug ya! Cuma antrinya luar biasa.
Saya bertemu teman-teman di tempat prasmanan. Mereka juga baru tiba, dan saya bilang saya dari toilet. Dari obrolan mereka, ternyata Kak Ida tadi terpeleset di atas dan sebelum kami pulang, kakinya diurut sebentar oleh warga lokal.
Di tempat prasmanan saya juga ketemu lagi dengan rombongan bapak-bapak tadi. Mereka sudah selesai makan. Bapak yang tadi bilang mereka juga foto kok di atas, cuma ya gak lama-lama. Jadi begitu sampai, foto langsung turun. Hahah, khas bapak-bapak ya.
Wah, ternyata cerita perjalanan turun kami masing-masing cukup berwarna.
Mungkin Saya Perlu Jalan Lebih Jauh
Setelah bersih-bersih, kami istirahat sebentar di bale-bale sambil nunggu semua anggota lengkap.
Baru kemudian pukul 17.15, kami meninggalkan Cibodas untuk kembali ke Bogor. Macet di perjalanan membuat kami baru tiba di Stasiun Bogor sekitar pukul 21.35. Stress banget ini sih. Gile macetnya horor!
Kami masih harus menunggu kereta menuju Jakarta yang berangkat pukul 22.00. Saya, Susan dan Sobah duduk dengan lelah di dalam kereta. Saya akan turun di Tebet sementara mereka ke Manggarai untuk tujuan Bekasi.
Sekitar pukul 23.00, saya tiba di Stasiun Tebet. Babai-babai dulu dengan teman-teman.
Setelah itu, masih ada perjalanan pulang ke rumah. Kalau dihitung-hitung, panjang juga perjalanan hari itu. Berangkat sebelum matahari terbit, pulang ketika malam hampir berganti hari.
Kaki lelah, badan pegal, dan tentu saja ada beberapa hal yang tidak berjalan sesuai harapan. Mulai dari mual dalam perjalanan berangkat, rombongan yang terpisah, sampai sepatu yang ternyata kurang bersahabat dengan jalur licin.
Tapi, anehnya, saya tetap pengen trekking lagi. Hahah.Saya justru pulang membawa cerita baru. Tentang mencoba sesuatu yang sudah lama ingin dilakukan, bertemu orang-orang baru, belajar mengenali batas tubuh sendiri, dan menyadari bahwa perjalanan di alam terbuka tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Ternyata, setiap perjalanan punya tantangannya sendiri. Kalau sebelumnya saya menikmati pengalaman berjalan di kawasan pegunungan lewat perjalanan ke Gunung Fansipan, kali ini saya belajar bahwa trekking menuju sebuah curug pun punya cerita yang tidak kalah menarik.
Dan soal angka 12 kilometer di Huawei itu? Sepertinya masih akan menjadi bahan cerita setiap kali saya membicarakan Curug Cibeureum. 🙂
Barangkali saya memang perlu jalan lebih jauh sesekali. Bukan untuk membuktikan bahwa saya kuat, apalagi untuk mengejar angka di jam tangan, tetapi untuk memberi diri sendiri kesempatan mengalami hal-hal baru.
