cara berhenti mengonsumsi hal negatif di media sosial

Yuklah! Kurangi Mengonsumsi Hal Negatif di Media Sosial!

Cara berhenti mengonsumsi hal negatif di media sosial. Berdasarkan laporan Digital 2024 dari We Are Social, jumlah pengguna media sosial aktif di Indonesia mencapai sekitar 139 juta orang, atau sekitar 49,9% dari total populasi. Platform yang paling banyak digunakan oleh pengguna internet usia 16–64 tahun adalah WhatsApp (90,9%), diikuti Instagram (85,3%), Facebook (81,6%), TikTok (73,5%), Telegram (61,3%), dan X atau Twitter (57,5%), dengan platform lain seperti Facebook Messenger dan Pinterest juga masih cukup banyak digunakan.

(**Catatan pembaruan: Artikel ini pertama kali ditulis pada tahun 2020 dan diperbarui pada tahun 2026 dengan penambahan data terbaru serta beberapa penyempurnaan isi.)

Tanpa disadari, kita sering mengonsumsi terlalu banyak informasi dari media sosial setiap hari. Tidak semuanya membawa dampak positif. Karena itu, penting bagi kita belajar cara berhenti mengonsumsi hal negatif di media sosial, mulai dari memilih akun yang kita ikuti sampai mengatur pola penggunaan platform digital. Dengan begitu, media sosial bisa tetap menjadi ruang yang bermanfaat, bukan justru membuat pikiran kita semakin penuh dengan hal yang tidak perlu.

Benar sih, media sosial sangat membantu kita mengatasi kesepian. Namun, terlalu banyak mengonsumsi media sosial bisa membuat kita kewalahan. Penggunaan secara berlebihan dapat menyebabkan efek negatif pada kesehatan mental dan fisik.

Artikel ini akan membagikan cara agar kita semua bisa berhenti mengonsumsi hal-hal negatif dari media sosial.

cara berhenti mengonsumsi hal negatif di media sosial

Bersikap lebih perhatian dan pemilih

Media sosial memiliki algoritme tertentu untuk mengontrol apa yang kita lihat di news feed. Biasanya begitu kita mulai tertarik membaca satu dua artikel yang sama, maka media sosial akan terus memunculkan rekomendasi yang sejenis. Tapi kita masih bisa mengontrolnya. Pertahankan feed yang positif dengan cara hanya mengikuti brand atau influencer yang menghasilkan konten yang membuat kita merasa lebih positif dan terinspirasi.

Gak apa-apa kok kalau mau unfollow atau unfriend

Jangan ragu untuk menjauh dari apa pun yang membuat kita jadi memiliki perasaan negatif seperti rasa takut, rasa cemas, khawatir, atau kemarahan. Perhatikan siapa saja yang kita follow. Tak perlu takut atau merasa cemas untuk unfollow atau membatalkan pertemanan dengan akun yang tidak menambah nilai positif.

Misalnya, jika kalian merasa ocehan teman tentang pandangan politik merugikan diri, entah jadi kesal dan emosi, maka berhenti mengikuti dia. Berhenti mengikuti orang di Facebook atau Instagram bukan berarti kita tidak berteman dengannya di kehidupan nyata. Saya juga mengunfollow beberapa akun di Facebook dan juga Instagram karena merasa tidak cocok dengan apa yang mereka share. Gampang aja.

Salah satu langkah sederhana yang sering diremehkan adalah melakukan “kurasi” terhadap timeline kita sendiri. Banyak orang merasa tidak enak untuk unfollow akun tertentu, padahal sebenarnya kita punya kendali penuh atas apa yang ingin kita lihat setiap hari. Jika sebuah akun membuat kita merasa tidak nyaman, marah, atau terus membandingkan diri dengan orang lain, mungkin sudah saatnya berhenti mengikuti akun tersebut.

Timeline media sosial seharusnya menjadi ruang yang memberi inspirasi, bukan tempat yang memicu emosi negatif setiap kali kita membuka aplikasi.

Rutin istirahat dari media sosial

Ketika semua orang sibuk membuat akun untuk setiap platform media sosial baru, kita gak perlu ikutan. Punya banyak media sosial berarti banyak yang harus dimantain, dan bersiaplah pula untuk stres. Media sosial memang menyenangkan tapi tidak berarti kita harus mengikuti semuanya.

Pilih hanya yang kita rasa cocok saja. Jangan percaya sama yang katanya nanti ketinggalan berita atau ketinggalan momen. Detoksifikasi media sosial, bikin komitmen untuk tidak membuka media sosial selama kurun waktu tertentu, misal tiga hari, seminggu, atau satu bulan. Jangan detoks cuma sehari sih, gak ngefek :).

Sebaliknya, perbanyak interaksi langsung.

Batasi waktu media sosial Anda

Selain detox atau istirahat buka-buka media sosial, batasi juga waktu untuk bermain, browsing dan scrolling feed medsos. Terlalu banyak terekspos cahaya dari smartphone dapat mengganggu kesehatan mata bahkan juga bisa menyebabkan sakit kepala. Cobalah batasi dengan membuka dan scrolling feed, mungkin setiap tiga puluh menit sekali. Dan tentunya jangan terlalu lama membaca. Mungkin setengah sejam setelah menonton atau membaca berita, istirahat.

Selain memilih akun yang diikuti, penting juga untuk memperhatikan pola konsumsi konten. Banyak dari kita membuka media sosial tanpa tujuan jelas—sekadar scrolling saat menunggu, sebelum tidur, atau ketika sedang bosan. Lama-lama kebiasaan ini membuat kita terpapar terlalu banyak informasi yang sebenarnya tidak penting. Cobalah membuat batas waktu penggunaan media sosial setiap hari. Misalnya hanya membuka aplikasi pada waktu tertentu, atau memberi jeda beberapa jam tanpa layar.

Atur notifikasi dan tampilan home screen di ponsel

Saat pertama kali membuka ponsel, rata-rata aplikasi yang berada di halaman pertama home screen adalah aplikasi media sosial. Jika kita sudah sampai pada titik jenuh dengan banyaknya berita atau postingan yang menguras emosi, saatnya mengubah tampilan. Pindahkan semua akun media sosial ke folder dan letakkan di halaman berikutnya. Jadi setidaknya ketika membuka handphone pertama kali, tidak langsung tergoda untuk mengklik ikon app di depan.

Cek ulang juga pengaturan notifikasi di media sosial. Tidak terlalu penting juga kita mengetahui apa saja komentar yang masuk dari tiap postingan brand atau teman yang kita follow. Semakin sedikit kita melihat dan mendengar suara notifikasi dari media sosial, makin sedikit godaan untuk buka sosmed.

Menjaga keseimbangan antara kehidupan media sosial dengan dunia nyata adalah kuncinya. Ambil manfaatnya saja, karena semua yang berlebihan akan memberi banyak dampak negatif juga.

Jadi, sebenarnya, mengurangi konsumsi hal negatif di media sosial bukan berarti kita harus meninggalkan platform tersebut sepenuhnya. Media sosial tetap bisa menjadi tempat belajar, berbagi ide, dan menemukan komunitas yang positif.

Jika digunakan dengan bijak, media sosial juga bisa menjadi sarana untuk berkomunikasi dengan remaja dan memahami cara mereka berinteraksi di dunia digital.

Kuncinya adalah kesadaran untuk memilih apa yang kita konsumsi setiap hari. Sama seperti makanan, apa yang kita lihat dan baca di media sosial juga memengaruhi kesehatan mental kita.


FAQ Section

Apa yang dimaksud dengan konten negatif di media sosial?

Konten negatif di media sosial adalah informasi atau unggahan yang memicu emosi tidak sehat seperti marah, iri, cemas, atau merasa tidak cukup baik. Contohnya termasuk berita provokatif, komentar toxic, drama influencer, hingga konten yang membuat kita terus membandingkan diri dengan orang lain.

Bagaimana cara berhenti mengonsumsi hal negatif di media sosial?

Cara paling sederhana adalah mulai mengatur apa yang muncul di timeline. Misalnya dengan unfollow akun yang tidak memberi manfaat, membatasi waktu scrolling, dan memilih mengikuti akun yang memberikan inspirasi atau pengetahuan.

Mengapa penting mengurangi konten negatif di media sosial?

Terlalu sering terpapar konten negatif dapat memengaruhi kesehatan mental, meningkatkan stres, dan membuat pikiran dipenuhi hal yang tidak produktif. Dengan mengurangi konsumsi konten seperti itu, media sosial bisa kembali menjadi ruang yang lebih sehat dan bermanfaat.

23 Comments

  1. aku biasanya rutin melakukan detoks medsos… 3 bulan kalau sedang off… yg aku tetap pertahanin hanya blog mba… tp kalau medsos terkadang jujur buat jenuh dan stress… apalagi kalau yg dibaca negatif, dari orang2 yg suka mengaku pakar.

    jd bener sih, penting untuk memilah akun2 yg kita ikuti, dan lakukan detoks sesekali

    • Zizy Damanik

      Aku senang deh kalau lihat teman2 blogger masih tetap rajin, kayak dirimu, trs Zam. Jadi semangat terus. 🙂

  2. Media sosial memang sebaiknya kita isi dengan hal-hal yang positif, yang negatif kita jauhi. Lebih baik berbagi sesuatu yang bermanfaat daripada membuang waktu dengan hal-hal yang tidak ada manfaatnya buat sesama.

  3. Zam

    saya kalo share ke media sosial ya yang lucu-lucu dan menyenangkan saja.. sudah malas mengisi dengan hal-hal negatif.. memang media sosial ini seperti pisau, tergantung dari siapa yang memegangnya..

    • Zizy Dmk

      Setuju…
      Social media itu tidak bisa ditebak feelingnya, itu sebabnya orang bisa gampang tersinggung oleh sebuah kalimat yang mungkin buat si penulis itu tidak ada maksud negatif. So, akan lebih baik diisi dengan yang positiflah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.