Intro – Kenapa Foto BW Tetap Relevan
Pernah nggak kalian melihat sebuah foto hitam putih lalu merasa seperti tersedot masuk ke dalam cerita yang tersembunyi di baliknya? Ada sesuatu yang magis di sana—mungkin karena warna-warna yang biasanya jadi “pengalih perhatian” hilang, sehingga kita hanya berhadapan dengan emosi, kontras, dan cerita murni yang ditangkap kamera. Menurut Artsper, banyak fotografer memilih BW karena mampu menonjolkan kekuatan emosi dan drama yang tak tertandingi oleh foto berwarna.
Saya sendiri mulai jatuh cinta pada teknik fotografi hitam putih ketika suatu hari memotret di pasar tradisional. Semua warna cerah sayuran, baju, dan spanduk menjadi tak lagi penting. Yang tertinggal hanyalah garis wajah penuh cerita, kerut tangan, dan cahaya pagi yang jatuh lembut. Sejak saat itu, saya sadar: foto BW bukan cuma soal hitam dan putih, tapi soal rasa. (Kayak indomie)
Memahami Konsep Foto Hitam Putih
Menghadirkan Emosi Lewat Kontras
Dalam teknik fotografi hitam putih, ketiadaan warna justru memaksa kita memusatkan perhatian pada permainan terang dan gelap. Kontras yang tajam dapat memunculkan rasa dramatis, sedangkan kontras lembut memberi kesan melankolis. Misalnya saat memotret foto jurnalistik human interest, perbedaan cahaya di wajah subjek dapat bercerita lebih kuat dibanding warna kulit atau pakaian.
Mengandalkan Bentuk dan Tekstur
Tanpa warna, bentuk dan tekstur menjadi “aktor utama” dalam foto. Bayangkan foto human interest pasar di mana keriput wajah penjual tua atau detail anyaman keranjang terlihat jelas. Tekstur ini membawa penonton seolah dapat merasakan suasana pasar itu sendiri.

Menceritakan Suasana Lewat Gradasi
Gradasi abu-abu dapat membentuk narasi visual yang kuat. Misalnya dalam street photography di pasar, kabut tipis di pagi hari dapat digambarkan lewat peralihan tone yang lembut, menghadirkan rasa dingin dan tenang di tengah keramaian.
Kamera & Setting Terbaik untuk Foto BW

Banyak orang bertanya, “Harus pakai kamera mahal nggak sih untuk bisa bikin foto BW yang bagus?” Jawabannya: tidak selalu. Saya pernah memotret BW yang bagus hanya dengan kamera pocket dan bahkan smartphone. Tapi, memang, kamera dengan kontrol manual memberi kebebasan lebih besar.
Jika kalian memakai kamera digital, ada mode BW langsung di menu. Tapi saya sarankan, tetap ambil foto dalam format RAW berwarna. Kenapa? Karena saat editing, kita punya kontrol penuh untuk mengatur tonal range dan kontras. Untuk kamera manual, jangan takut bereksperimen dengan lensa prime—karena ketajamannya akan membuat detail BW semakin mengagumkan.
ISO biasanya lebih rendah (100–400) untuk meminimalisir noise, kecuali kalian memang ingin efek grain yang artistik. Aperture? Sesuaikan dengan cerita yang mau kalian sampaikan. Foto portrait dengan aperture besar (f/1.8–f/2.8) akan membuat background blur dan subjek fokus penuh.
Saya ingat sekali, pernah memotret di stasiun tua dengan ISO rendah dan aperture kecil. Hasilnya? Setiap detail—dari paku di rel hingga debu di jendela—terlihat jelas. Seakan waktu berhenti hanya untuk saya dan kamera.
Komposisi dalam Fotografi BW
Komposisi adalah bahasa visual yang mengarahkan mata penonton untuk memahami cerita di balik sebuah gambar. Dalam teknik fotografi hitam putih, komposisi menjadi semakin penting karena kita tidak lagi dibantu oleh warna untuk menuntun fokus.
Gunakan Leading Lines
Garis-garis jalan, jembatan, atau bahkan bayangan dapat mengarahkan mata penonton menuju subjek. Misalnya, di contoh foto street photography, garis batu trotoar mengarah pada sosok pedagang kaki lima, membuat cerita terasa mengalir.
Manfaatkan Rule of Thirds
Meletakkan subjek di sepertiga bingkai menciptakan keseimbangan visual yang nyaman. Pada foto human interest pasar, pedagang yang berdiri di tepi bingkai dengan latar pembeli di kejauhan bisa memperkuat nuansa aktivitas.
Bermain dengan Negatif Space
Area kosong yang luas dapat memberikan “napas” pada foto, sekaligus menonjolkan subjek. Misalnya, siluet seorang anak yang berlari di jalanan sepi akan terasa lebih kuat dengan latar dinding polos tanpa detail berlebihan.
Kontras sebagai Penegas Fokus
Dalam hitam putih, kontras adalah “senjata” untuk mengarahkan mata. Subjek terang di latar gelap, atau sebaliknya, langsung menarik perhatian. Ini efektif pada adegan apa itu street photography yang mengandalkan momen spontan dan cepat.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
Mengabaikan Pencahayaan
Cahaya adalah nyawa foto. Dalam teknik fotografi hitam putih, pencahayaan buruk dapat membuat gambar datar dan membosankan. Misalnya, pada foto jurnalistik human interest, minim cahaya tanpa kontras akan kehilangan kekuatan cerita.
Terlalu Banyak Elemen dalam Frame
Memasukkan terlalu banyak detail membuat penonton bingung fokus pada apa. Apalagi di street photography di pasar yang memang sudah ramai, sebaiknya pilih sudut yang meminimalkan gangguan visual agar subjek tetap dominan.
Editing Berlebihan
Over-editing dapat merusak nuansa alami, membuat foto terlihat tidak realistis. Pada contoh foto street photography, terlalu banyak menajamkan atau meningkatkan kontras bisa menghilangkan detail halus yang justru penting untuk cerita.
Akhir kata

Fotografi BW itu seperti menulis puisi. Sedikit kata, tapi penuh makna. Dengan memahami konsep tonal range, kontras, tekstur, lalu memilih kamera dan setting yang tepat, serta bermain dengan komposisi, kalian bisa menciptakan foto BW yang bercerita.
Kalau kalian ingin inspirasi lebih, saya pernah membuat kumpulan foto hitam putih yang mungkin bisa memicu ide baru untuk memotret.
Yuk, mulai ambil kamera dan ciptakan cerita kalian sendiri dalam hitam dan putih. Dunia penuh warna, tapi kadang, keindahan sejati ada saat warna itu kita lepaskan.