Ada satu fase dalam hidup ketika saya ingin bepergian, tapi bukan untuk ramai-ramai. Bukan untuk mengejar itinerary padat atau destinasi yang “Instagramable”. Saya hanya ingin pergi, berjalan dengan ritme sendiri, dan memberi ruang untuk bernapas. Dari situlah saya mulai mempertimbangkan solo traveling ke Bali—perjalanan yang ternyata jauh lebih bermakna dari yang saya bayangkan.
Bagi saya, tips solo traveling bukan soal berani atau nekat, tapi soal kesiapan mendengarkan diri sendiri. Bali menjadi pilihan pertama karena terasa aman, familiar, tapi tetap menawarkan ruang refleksi yang luas. Saya tidak sedang mencari pelarian, hanya ingin hadir sepenuhnya di setiap langkah perjalanan.
Solo Traveling Adalah Tentang Mengenal Diri, Bukan Sekadar Pergi Sendiri
Sebelum benar-benar berangkat, saya sempat bertanya pada diri sendiri: solo traveling adalah apa sebenarnya? Apakah hanya soal bepergian tanpa teman, atau ada makna yang lebih dalam? Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa solo traveling bukan tentang kesepian, melainkan tentang kejujuran pada diri sendiri.
Saat bepergian sendiri, tidak ada distraksi dari obrolan atau kompromi dengan orang lain. Semua keputusan—mulai dari bangun pagi, memilih tempat makan, hingga menentukan kapan harus berhenti—datang dari diri sendiri. Justru di situlah muncul rasa percaya diri yang pelan-pelan tumbuh.
Bali memberi ruang aman untuk proses ini. Banyak solo traveler lain, suasananya ramah, dan infrastrukturnya mendukung. Tidak ada rasa canggung duduk sendiri di kafe atau berjalan sendirian di pantai. Semua terasa wajar.
Is Bali Good for Solo Travellers?

Kalau ada yang bertanya, Is Bali good for solo travellers? Jawaban saya: ya, sangat. Tapi dengan catatan, Bali punya banyak wajah, dan solo traveler perlu memilih mana yang sesuai dengan kebutuhan emosionalnya.
Bali tidak selalu tentang keramaian. Ada sisi tenang di Ubud, Sanur, atau daerah-daerah kecil yang memungkinkan kita berjalan pelan, mengamati, dan tidak merasa tertinggal. Bagi saya, ini penting karena solo traveling bukan soal mengejar sebanyak mungkin tempat, melainkan memberi ruang pada setiap pengalaman.
Baca juga: [Bali Trip] Mencari Sunrise di Pura Ulun Danu Bratan
Keamanan juga menjadi faktor besar. Selama saya di Bali, saya merasa relatif aman berjalan sendiri, menggunakan transportasi online, hingga menginap sendirian. Tentu tetap perlu waspada, tapi tidak ada rasa cemas berlebihan yang sering muncul saat bepergian sendiri ke tempat baru.
Biaya Solo Traveling ke Bali: Realistis dan Bisa Disesuaikan
Salah satu kekhawatiran yang sering muncul sebelum solo traveling adalah soal biaya. Dari pengalaman saya, biaya solo traveling ke Bali sangat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan gaya perjalanan masing-masing.
Untuk tiket pesawat pulang-pergi, harganya sangat tergantung dari kota asal dan waktu pemesanan. Kalau cukup fleksibel soal tanggal, biasanya ada promo yang bisa dimanfaatkan tanpa harus mengorbankan kenyamanan. Saya sendiri memilih jadwal yang tidak terlalu ramai, sehingga harga tiket lebih bersahabat.
Soal penginapan, saya tidak merasa perlu memilih hotel besar atau resort mahal. Guesthouse atau hotel kecil bintang 2 atau 3 justru terasa lebih pas untuk solo traveler. Suasananya lebih tenang, tidak terlalu ramai, dan sering kali lebih personal. Penginapan seperti ini memberi rasa aman sekaligus nyaman setelah seharian beraktivitas.
Untuk makan, Bali memberi banyak pilihan. Dari warung lokal dengan harga terjangkau hingga kafe-kafe yang nyaman untuk duduk lama sambil menulis atau membaca. Sebagai solo traveler, saya menikmati kebebasan memilih kapan dan di mana ingin makan, tanpa harus menyesuaikan selera siapa pun.
Intinya bagi yang suka kulineran, Bali adalah tempat yang cocok.
Tips Solo Traveling ke Bali Agar Tetap Nyaman dan Aman
Ada beberapa hal yang saya pelajari dari perjalanan ini, dan semuanya terasa lebih seperti refleksi daripada aturan kaku. Salah satu tips solo traveling yang paling penting adalah mengenali batas diri sendiri. Tidak perlu memaksakan diri mengunjungi semua tempat hanya karena “sayang kalau tidak”.
Saya lebih suka menyusun itinerary yang longgar. Di mana saya lebih suka berjalan kaki santai, duduk di kafe, lalu balik lagi ke hotel lebih awal. Anehnya, justru hari-hari seperti itu yang paling saya ingat. Soalnya kalau ke tempat-tempat wisata mainstream, ini sudah biasa. Dan sudah sering saya tulis juga postingannya.
Transportasi juga perlu dipikirkan sejak awal. Menggunakan transportasi online atau menyewa motor bisa jadi pilihan, tergantung kenyamanan masing-masing. Saya memilih opsi yang paling membuat saya tenang, meski mungkin sedikit lebih mahal. Kalau mau seharian keliling, saya sewa mobil harian, tapi kalau cuma santai, cukup pakai transportasi online saja.
Yang tidak kalah penting adalah menjaga komunikasi dengan orang terdekat. Bukan untuk melapor setiap langkah, tapi sekadar memberi tahu bahwa saya baik-baik saja. Ini memberi rasa aman, baik untuk saya maupun mereka di rumah.
Solo Traveling Bali dan Ruang untuk Refleksi
Ada momen-momen kecil selama solo traveling ke Bali yang membuat saya berhenti sejenak dan berpikir. Duduk sendiri di pantai saat matahari mulai turun, berjalan di pagi hari ketika Bali belum ramai, atau sekadar menikmati kopi tanpa gangguan.
Di momen-momen seperti itu, saya merasa perjalanan ini bukan tentang Bali sebagai destinasi, tapi tentang diri saya sendiri. Tentang bagaimana saya berdamai dengan kesunyian, menikmati kebebasan, dan menerima bahwa tidak semua perjalanan harus penuh agenda.
Pengalaman ini mengingatkan saya pada perjalanan solo lainnya, seperti saat pertama kali menjelajah Vietnam sendirian. Meski konteks dan tantangannya berbeda, rasa hadir sepenuhnya itu tetap sama—belajar percaya pada diri sendiri dan menikmati proses, bukan hanya tujuan.
Bali sebagai Awal, Bukan Akhir
Solo traveling ke Bali mengubah cara pandang saya tentang perjalanan. Ini bukan soal berani pergi sendiri, tapi soal memberi diri sendiri ruang untuk tumbuh. Bali hanyalah pintu masuk—tempat yang aman dan ramah untuk memulai.
Apakah saya akan solo traveling lagi? Besar kemungkinan iya. Karena setelah merasakan perjalanan seperti ini, saya belajar bahwa bepergian sendiri bukan berarti sendirian. Kadang, itu justru cara terbaik untuk kembali terhubung dengan diri sendiri.

