Seperti Bubble

“Pesankan latte dan dua oatmeal, ya.” Saya berkata pada mbaknya Vay sambil memberikan uang. Sore itu kami sedang ada di depan pintu masuk sebuah gerai kopi di KoKas, Vay baru kelar nge-gym, dan sebelum pulang mau beli sedikit cemilan dulu untuk dimakan di mobil. Karena saya malas mengantri maka saya meminta tolong pada si mbak, dan saya sudah mengincar meja di sisi luar gerai kopi itu. Saya berjalan ke arah meja dan meletakkan tas saya di atas meja, lalu memanggil tante saya untuk duduk di kursi yang tinggal satu (satunya lagi entah ke mana). Saya dan Vay nanti mau duduk di kursi panjang di depannya saja yang memang disediakan untuk pengunjung mall.

“Permisi! Permisi! Aku duduk di situ, yaa…” sebuah suara mengagetkan saya. Saya menoleh dan mendapati seorang ibu tua dengan songkok, berperawakan gemuk, langsung menyeruak dan memotong space – yang sempit – di depan saya dan langsung menuju kursi. Dan langsung duduk.

“Oh, mau duduk di sini ya?” tanyanya ke saya. Saya sedikit kesal sebenarnya tapi melihat itu ibu-ibu, ya sudahlah mengalah saja. “Silahkan, Bu, tidak apa-apa, saya beli take away kok.”

“Kalau mau duduk di sini, aku bisa sih duduk di dalam,” katanya lagi. Lha terus kok gak ke dalam aja Bu, kenapa malah merebut kursi orang, saya ngomel dalam hati. Ketahuan deh si ibu itu ngeles doang, karena dia sepertinya sedang menunggu orang, bukan mau beli kopi. Jadi gak berani duduk di dalam kayaknya sih. Actually saya bisa saja ke dalam, karena di dalam juga masih banyak kursi kosong. Tapi sepertinya ribet banget masuk lagi ke dalam, karena toh di kursi panjang itu masih bisa duduk.

Saya panggil Vay dan tante saya, biar duduk di kursi panjang. Si ibu tadi juga ikut memanggil, “Sini, Bu. Duduk di sini.” Tante saya berjalan pelan dan duduk di situ. Saya berdiri, bersandar pada meja.

“Orang mana?” tanyanya.

“Oh, kita dari Medan, Bu.” Saya menjawab.

“Saya kira tadi orang Papua.” Tukasnya. Tidak salah memang beliau menduga begitu, karena saya memang bicara pakai logat Papua dengan tante saya sebelumnya. “Oh, iya dulu memang kita tinggal di Papua.”

“Saya juga baru ada tamu tadi pagi, orang Papua,” ceritanya. Saya senyum saja.

“Tinggal di mana, Bu?” tanyanya lagi ke tante saya. Sepertinya ibu bersongkok ini tipe orang yang gampang bergaul karena tidak kelihatan sungkan mengajak orang lain mengobrol. Tante saya diam saja.

“Maaf, Bu. Tante saya ini kurang dengar,” saya yang menyahut.

“Ooohhh…. Kenapa gak pakai itu aja? Alat bantu dengar?”

“Sudah pernah sih, tapi memang tantenya gak nyaman, jadi tidak dipakai lagi.”

“Pasti deh karena sering dikorek-korek tuh telinganya pakai bulu ayam!” Nyengir, sambil tangannya terus mengupil. Saya lihat cincinnya kayak cincin batu (rada mirip dukun), lalu pakai beberapa gelang warna-warni. Lalu beliau bercerita panjang lebar, mengenai puskesmas di Tebet, di situ ada dokter spesialis yang bagus banget, yang bisa membersihkan kotoran kerak telinga. Dan bayarnya hanya delapan ribu rupiah, plus obat seharga lima puluh ribu paling mahal, begitu katanya.

Tiba-tiba dia nyeletuk, “Eh itu dia pendeta yang dari Australi itu, dekat rumah saya dia.” Sambil menunjuk seorang pria bule yang baru masuk dari lobby. “Apa aku nyusul dia aja dulu, nitip sebentar barang-barang saya di sini?” Aih, nitip tas? Saya langsung curiga. Baru kenal dan langsung dititipi barang orang, jelas saya tidak mau. Nanti ada apa-apa, kita jadi terlibat. Untunglah ibu itu membatalkan niatnya, jadi saya tak perlu harus menolak permintaannya menjaga tas.

Lalu lanjut lagi bicara soal puskesmas. “Apa perlu ditemani ke puskesmasnya? Nanti saya temani, Bu.” Dia mencolek tante saya. Tante saya hanya manggut saja, maklumlah sudah oma-oma dan memang kurang dengar.

“Makanya Bu, pasti deh waktu kecil hobi korek-korek telinga pakai bulu ayam.” Dia terkekeh sendiri.

“Gak apa-apa, Bu. Mertua saya tinggal di Tebet kok, gampang itu.” Saya memotong.

Lalu dia mengajak Vay bercakap-cakap. Kataya kalau TK B, berarti sudah telur bebek, karena TK A itu telur ayam. Vay cuek saja, tetap sibuk melempar-lempar balonnya.

Dan kemudian bertanya ke saya, kenapa bisa ujug-ujug tinggal di Medan? Saya pun menjawab, saya aslinya Batak dan Ambon, maksudnya biar paham gitu loh, kenapa kita pindah ke Medan. Karena saya yakin, dalam pikirannya pasti menduga, untuk apa orang Papua pindah ke Medan. “Oh, saya kira orang Papua, habis wajahnya mirip orang Papua,” sambil mengangguk ke tante saya. Saya tersenyum.

Sebenarnya kalau dipikir-dipikir, kelakuan menyebalkan ibu satu ini mirip dengan salah satu kenalan keluarga kami. Yang suka merasa paling tahu segala, dan suka nyablak mencela orang lain, padahal baru kenal. Dan nyablaknya mungkin karena merasa level dirinya lebih tinggi dari orang yang diselak. Bicara soal korek telinga pakai bulu ayamlah, dan apa ibu ini gak tahu kali ya kalau setiap etnis di Indonesia ini punya ciri fisik masing-masing, meski sekilas mungkin saja mirip? Seperti Mandailing dan Toba, ada kekhasan fisik yang membedakan. Papua dan Ambon, juga beda. Rambut tante saya lurus, hidungnya khas hidung Ambon (trust me, I know banget muka Papua seperti apa, muka Ambon seperti apa, muka orang Timor seperti apa).

Dalam hati saya, ada pertentangan. Kenapa sih gak marah aja? Jangan, sabar. Marah dong, masa diam aja. Gak apa-apa, belajar sabar.

Kalian tahu, apa yang paling susah saat menghadapi orang seperti itu? Menjaga emosi, menjaga hati. Meskipun dalam hati saya sedikit kesal – saya yakin kalian mungkin agak sensi bila ada yang menyinggung keluarga kalian – tapi saya berusaha kompromi. You know kan, tipe orang itu macam-macam. Kadang dengan ketemu orang model begini atau begono, kita bisa belajar banyak juga dari dia. Dan barangkali, barangkali saja ibu songkok yang satu itu memang sedang butuh teman bicara. Biarlah kita jadi pendengarnya, toh hanya untuk beberapa menit. Tak perlu terlalu dibawa ke hati. Biarkan saja seperti bubble, terbang jauh sedikit dan pecah. Hilang.

Seperti Bubble

Seperti Bubble

Terpikir pula, mungkin gak sih, kalau saya kenal si ibu songkok itu lebih lama, bisa jadi aslinya dia tidak sebegitu menyebalkan. Bukankah begitu, seringkali kulit memang tidak semanis isinya.

Ah! Tapi kalau saya, malaslah mengenal dia lebih jauh. Lima menit cukup!

24 thoughts on “Seperti Bubble

  1. Kalau aku pasti jatohnya sama dengan mbak memperlakukan ibu itu. mau marah juga males.. pengennya cepet cepet pergi aja..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *