Berkunjung ke Kampung Batik Trusmi – Cirebon

Dalam dua kali kunjungan terakhir ke kampung batik, yaitu saat mengunjungi worskhop maestro Art of Batik, Sapuan di Pekalongan, lalu mengunjungi Ayu Tri Handayani, seorang artisan difabel asal Solo, yang tertangkap oleh saya adalah bagaimana kedua orang itu sungguh berperan luar biasa di mata rantai para pembatik. Bila Sapuan sebagai seorang creator menyediakan workshop untuk para pembatik yang bekerja merealisasikan batik ciptaannya, maka Ayu mengambil bagian sebagai dari artisan yang berada di tengah-tengah rantai, untuk kemudian menghasilkan karya batik atas namanya.

Keduanya tentu punya satu tujuan yang sama selain tujuan mulia (membesarkan nama batik) yaitu demi kelangsungan hidup keluarga, dan rantai perbatikan itu sendiri.

IMG_2321

Dalam kunjungan ke Cirebon weekend kemarin, saya dan rombongan berkunjung ke Kampung Batik Trusmi. Kami tiba di Sanggar Batik Katura sekitar jam sebelas pagi, demi melihat aktivitas para pembatik yang sedang melakukan proses pelilinan dan penembokan. Bau asap bakaran dan malam tercium. Khas.

“Ini kain siapa, Bu?” Menanyakan helaian kain batik yang tergantung.
“Oh, ini sudah pesanan orang.”

IMG_2314

Selembar batik dengan gambar sebuah naga di tengah, serta dikelilingi oleh lukisan pepohonan dan bunga, jelas menggambarkan ciri khas batik Cirebon. Entah ya soal naganya, tapi lukisan pohon dan bunga merupakan salah satu ciri batik Cirebon.

Selembar batik lainnya yang menggantung terlihat menggambarkan ornamen-ornamen bernuansa keraton, yang mana ini juga salah satu motif yang menjadi ciri khas batik Cirebon, yaitu batik keraton.

Untuk harga helaian batik itu bervariasi tentu saja. Dari ratusan ribu hingga jutaan. Tapi bagi yang ingin membeli oleh-oleh batik cap yang sudah jadi baju atau celana, di dalam galeri juga dijual. Monggo kalau main ke kampung batik ini, dibeli ya hasil karya para pembatik ini.

IMG_2334

Kami menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam, mulai dari belajar membatik, foto-foto, belanja, dan juga membuat kehebohan yang mengundang tawa para pembatik. Ternyata tak mudah lho menggunakan canting itu. Cairan panas yang terus menetes mengenai tangan — atau paha bagi yang pakai celana pendek — lumayan bikin teriak. Norak sih memang, maklumlah ya, namanya juga wisatawan, tahunya bikin heboh aja. Kita dikasih kain kecil ukuran segi empat untuk dipakai belajar mencanting, sama seperti yang dipegang seorang anak perempuan kecil yang sedang menemani bibinya membatik. Eh tapi si anak kecil itu santai saja, sudah mulai mahir, tidak kejatuhan malam kayak kita. LOL.

IMG_2339

IMG_2335

IMG_2309

Keluar dari sana, beberapa dari kami menenteng belanjaan. Yeah, bukan beli batik yang jutaan rupiah itu sih hehee… tapi beli sehelai dua helai pakaian dari batik cap.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

Related Post

Melihat Penyu 70 tahun di Bali Mobil yang membawa kami berbelok ke salah satu penyedia jasa wisata air sekitar jam 10.30 pagi WITA. Begitu keluar dari mobil, panasnya udara langsung menyambar kulit. Tapi bukan Bali ya kalau gak panas, meskipun saat itu juga sedang musim hujan. ...
Melipir ke Dunia Fantasi Ancol Sabtu kemarin habis main ke Dunia Fantasi sama Vay. Sebenarnya rencana awal tuh mau ke Sea World, Vay suka sekali ke situ. Dia mau lihat ikan babi – lupa namanya, tapi kayak sejenis paus kecil yang moncongnya kayak babi itu – katanya. Ayahnya gak...
Sketsa Wajah di Kawasan Wisata Kota Tua Akhirnya jadi juga kemarin ajak Vay main ke museum. Dia memang sudah bilang sejak lama, kalau dia belum pernah masuk museum, dan pengen tahu museum itu seperti apa. Mumpung kemarin libur, sepulang cooking course di YCA, kita langsung cabut ke Kawasan...
The Royal Palace & Puerta Del Sol Square Begitulah. Pada akhirnya perjalanan akan tiba di hari terakhir. Rombongan kami memang tidak lama stay di Barcelona, hanya tiga hari sih. Hari keempat, pagi-pagi benar sudah langsung keluar dari hotel, mengejar train tujuan Madrid. Barcelona saat ...
Pantai Losari Makassar Memang, untuk menikmati pantai seutuhnya adalah dengan menyentuh airnya dengan kaki, merasakan rasa air asinnya di sudut bibir, serta merasakan hangat airnya di kulit. Namun bila semua momentum di atas tak bisa didapat, maka nikmatilah dengan cara...

by

About Zizy Damanik | Mommy Vay | Digital Marketing Practitioner | A Passionate Traveler and Photographer | Coffee Lovers | Beach Addicted |

17 thoughts on “Berkunjung ke Kampung Batik Trusmi – Cirebon

  1. Batik trusmi emang beda banget, apalagi kalau kita belanja langsung di pusatnya.
    Btw aku suka mampir ke tempat mas Ibnu, soalnya aku kenal batik ini dari dia

  2. Keren batik tulisnya mbak, saya jadi ingat di desa Tenganan juga ada kain khasnya yang juga mahal seperti batik ini. Indonesia memang sangat kaya, namun sayangnya terkadang segmentasi pasar di sini membuat seperti batik tulis ini menjadi mahal dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa beli, kalau buat orang seperti saya mungkin hanya bisa membeli batik yang cap-capan… 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.