Apakah Kita Sekuat Bunga Liar?

Ceritanya, sejak weekend kemarin, saya merasakan sesuatu yang tak enak di lambung. Seperti ada angin yang berputar-putar, seperti orang sakit maag atau masuk angin. Tapi saya ingat tidak ada makan yang aneh-aneh, minum kopi juga as usual. Tapi sedikit kecurigaan muncul, teringat hari Jumat sempat minum kopi hitam di sebuah kedai donat yang rasanya sangat asam. Maklumlah, biasanya saya minum kopi tubruk buatan sendiri, giliran minum yang asam rasanya gak enak lagi.

(Bilangnya gak enak, padahal bilang aja gak kuat perutnya minum kopi mahal)

(Hahah)

Karena sampai Senin masih terasa tidak enak, saya langsung mengunjungi klinik di lantai 2 gedung kantor. Seorang dokter umum mulai memeriksa, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan standar. Seperti apakah ada makan yang terlalu pedas (which is enggak karena saya tak terlalu suka pedas), lalu ditanya lagi apakah ada minum kopi (ini sih pasti, sehari dua kali).

Lalu dokternya berkata, “Barangkali ada stress, Bu?”

“Pastilah!” Saya menjawab. Ya gak mungkin kan gak stress. Di mana-mana ibu-ibu pasti full of stress. Anak mo ujian sekolah: stress, jalanan macet dan mobil disalip bodat-bodat: stress, gak ada duit (apalagi): stress. (nanya pulak)

Lalu teringatlah saya pada kejadian dua minggu lalu. Kejadian yang bikin saya patah hati.

Dua minggu lalu, sesuatu yang tak pernah diharapkan dan diduga terjadi dan sampai saat ini bisa saya katakan masih ada perasaan kaget dan tak percaya akibat kejadian itu. Dan bukan hanya tak percaya, tapi juga marah. Marah pada diri sendiri, marah pada keadaan. Marah pada seorang bos (yang ngakunya leader) yang karena kecerobohannya telah mengakibatkan terjadinya suatu keputusan dengan dampak cukup besar yang kemudian bahkan dia sendiri menyesal karena sudah terlambat.

Kejadian ini sekaligus membuat saya bisa melihat siapa saja teman sejati. Seperti gula yang dikerubuti semut, begitu pula saya. Tapi ketika sebagian semut hanya menggigit dan membawa pergi, sebagian semut tinggal untuk menjaga. Dan kemudian ada pula semut yang oportunis, yang kemudian berusaha menonjol di saat tidak tepat, yang rasanya pengen di-pites.

Tapi kemudian, pada akhirnya hanya tinggal saya sendiri. Ketika teman, sahabat, dan keluarga tak ada lagi di sisi kita untuk memberi support, lalu? Semua kejadian ini telah membuka mata belok saya ini lebar-lebar, bahwa pada akhirnya hanya diri kita sendirilah yang tahu bagaimana rasanya sakit dan pahit, bagaimana rasanya jatuh, bagaimana rasanya tak berdaya, dan semua rasa negatif yang menguras energi itu. Benar, masih ada teman setia yang turut menjadi tempat menampung unek-unek, tapi kan perasaan itu tak akan bisa dirasakannya. Kau harus mengalaminya sendiri baru bisa merasakannya.

Dan kemudian, ketika saatnya tiba bagi kita untuk meninggalkan semua perasaan negatif tadi, itu pun hanya diri kita yang tahu waktu yang tepat. Saya belum bisa bilang sih, bahwa saya sudah move on dari semua perasaan busuk itu, tapi saya yakin saya sekarang sudah perlahan meninggalkannya.

Saya percaya bahwa setiap kejadian yang kita alami adalah bagian dari isi suratan hidup kita di dunia, sudah diatur oleh Yang Di Atas, tak ada alasan untuk terus tenggelam dengan ketidakpastian itu. Dan saya pun percaya kok, rezeki tak akan tertukar. Berusahalah sekuatnya.

Ibarat bunga hutan yang bisa survive di sela bebatuan dengan hanya sedikit tanah, seperti itulah kita harus berusaha dan berjuang untuk diri kita.

(Self note buat diriku)

-ZD-

Related Post

Saya Suka Kopi (juga Bir) Saya addicted sama kopi. Sekarang. Dulu tidak begitu. Makanya saya suka posting foto-foto minuman kopi, baik di Path ataupun di Instagram. Emang penting, ya? Mungkin ada yang bilang begitu. Oh iya, penting buat saya. Saya suka, dan saya senang memost...
Putar Saja “Sweet Emotion” buat Debt C... Pernah gak ditelepon sama debt collector yang marah-marah? Nah, saya sering. Mending kalo saya yang berhutang. Ini, salah satu kerabat keluarga yang melarikan diri dari kewajiban membayar hutangnya ke bank, dan karena saya tertulis di kolom “saudar...
Ngajak Vaya Imunisasi.. Setelah dua bulan mendekam di rumah, dan jarang keluar kemana-kemana, begitu ada kesempatan keluar biasanya itu benar-benar jadi sedikit hiburan buat saya. Iya, semenjak ada Vaya, gak ada lagi cerita saya bebas dolan-dolan, kemana saya pergi atau seb...
Potret Jakarta Aih. November sudah masuk sepertiga bulan tapi saya belum menulis satu postingan pun. Padahal ini kan bulannya saya, harusnya lebih semangat, bukan begitu? Musim hujan juga sudah dimulai, dan banjir pun sudah datang satu kali ke komplek kami. Jaka...
iseng2 itung pengeluaran utk gadget Pernah gak, mencoba menghitung berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan untuk membeli gadget2-an? Mulai dari pertama kali kerja dan mulai bisa beli hape sendiri, lalu tiap tahun atau beberapa kali setahun ganti hape? Pasti gak kebayang kan berapa ba...

by

About Zizy Damanik | Mommy Vay | Digital Marketing Practitioner | A Passionate Traveler and Photographer | Coffee Lovers | Beach Addicted |

5 thoughts on “Apakah Kita Sekuat Bunga Liar?

  1. semangat mbak zee, emang kok ada saatnya kita inferior pada diri kita sendiri, take a break, dan setelah itu tetap semangat untuk keluarga dan orang-orang di sekitar yang butuh kita 🙂

  2. Kadang kita harus ngalamin yg ga enak dulu, utk bisa belajar dari sana 🙂 . Akupun pernah ngalamin mba.. Kejadian fatal dlm kerjaan , yg nyaris bikin aku kehilangan kerja.. Tp dari situ aku bljr utk ga terlalu percaya dan jd lebiiih teliti lg sebelum menandatangani sesuatu :D. Aku msh percaya ama kata2 yg bilang, something that doesn’t kill you, will make you stronger 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.