Jakarta Oh Jakarta

Jakarta yang menyebalkan. Berisik, kotor, semrawut, menjijikkan, macet, gak beraturan, dan gepeng dimana-mana. Seminggu lebih jadi penghuni kota Jakarta, ada banyak hal yang saya pelajari (dan masih akan ada lebih banyak lagi).

Seperti pak’ogah- pak’ogah yang berjaga di setiap persimpangan, membantu mengatur jalan bagi kendaraan yang mau muter, dengan harapan diberi gopek. Tipsnya : kalau jalan sepi dan tidak butuh diatur, kagak usah dikasih duit. Trus kalo mobil depan kita udah ngasih duluan, kita ketiban untung klo gak ngasih. Kalau gak ada duit recehan, ya udah gak usah dipaksa. Paling dicemberutin.

Trus, ongkos parkir di pinggir jalan beda-beda. Gak jelas mana tukang parkir resminya, yang penting dia ngaturin mobil dia dikasih duti. Dan kalau tempatnya ramai, parkir wajib bayar duaribu. Kecuali tempat yang sepi cukup seribu perak. Terus kalau yang naik mobil mewah, tukang parkir atau security bakal manggil “Bos..!” Weeshh… cembetol aja pun. Yang tadinya gak ada tempat parkir, langsung ada.

Jakarta juga kota gepeng. Di lampu merah cempaka putih, itu bencongnya banyak banged. Rata-rata jadi pengamen krecekan. Selain bencong, juga ada pengemis anak-anak, dan ibu-ibu. Ada satu ibu-ibu berjilbab yang wajahnya merot, dagu kanannya bengkak sampai ke leher, ketahuan banged itu karena sembarangan suntik silikon. Pertama saya lihat dia di dekat Cawang, tapi kemarin sore dia pindah ke Cempaka Putih (sampe apal book….!!). Saya suruh sopir saya kasih seribu karena kasihan melihat wajahnya yang bengkak disana-sini. “Makasih ya Mas…” Eh, ternyata bukan ibu-ibu, tapi bencong.

Terus macetnya. Mau pulang jam ½ 5 sore, atau jam 7 malam, tetep saja sampai ke rumahnya sejaman lebih. Berangkat dari rumah jam 6.15 atau berangkat jam 7 pas, jangan harap waktu tempuhnya bakal sama. Cape deee…………

Satu lagi. Hati-hati sama polisi Jakarta. Jangan bawa kendaraan melencang-melenceng. Misalnya dari jalur kiri tiba-tiba langsung belok ke kanan (biasanya di jalur cepat), nah… pasti langsung kena kalau ada polisi. Atau dari jalur normal, mau curi-curi ambil bahu jalan. Di ujung sana pasti sudah ada yang menunggu. Hihihihih….

Related Post

No TV, No Cry Tadinya saya sudah mengkhayal akan bersantai penuh di rumah nonton film di tv sambil ngemil dan ngebir. Itu sebabnya pulang kantor saya bela-belain belok ke Kelapa Gading Mall, ke Diamond, untuk beli pembuka botol (ada juga beberapa stuft lain, tapi...
Perempuan dan Emas Setahu saya umumnya perempuan pasti suka dengan perhiasan emas. Terlepas dari mau pakai sedikit atau banyak, tapi emas memang punya efek menggoda yang sangat untuk dimiliki. Kemarin pagi, dalam perjalanan ke kantor, saya mendengar bahasan menarik ...
PR 44444 Udah lama ga dapat pe-er. Dulu pernah dapat tapi saya males ngerjainnya, habis serasa kayak pesan berantai aja. Apalagi klo ternyata pe-ernya udah rame dimana-mana.... kekeekke.... Kali ini dapat pe-er dari non LiezMaya yang bikin saya masih heran...
Spaceman – 4 Non Blondes Pagi-pagi sekali sudah browsing youtube karena penasaran pengen tahu iklannya Megawati - Prabowo yang kena reject stasiun tv. Saya setuju iklan itu direject, terlalu provokasi. Stop bicara iklan itu. Intinya, saya lalu dapat video berikut ini. Mun...
Protected: Privacy is Mandatory Kemarin, ketika saya meminta pendapat seorang teman atas peristiwa yang baru saja saya ceritakan, teman saya bilang : "Ya sesuai karakter lu. Privacy is mandatory." "Memang buat lu privacy itu gak mandatory?" "Buat gw juga, tapi bukan nomer satu. Kal...

by

About Zizy Damanik | Mommy Vay | Digital Marketing Practitioner | A Passionate Traveler and Photographer | Coffee Lovers | Beach Addicted |

2 thoughts on “Jakarta Oh Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.