Pembantaian di Kenari

Hmmm..

17-an tahun ini sepi. Gak banyak lomba yang bisa diikutin. Kalau tahun lalu, di Medan, saya masih ikutan futsal dan aerobic. Futsalnya sih kalah, tapi aerobicnya juara II (kalah sama bapak-bapak! hahaha). Sempat membuat rencana pembalasan dendam untuk tahun 2007, atas kekalahan dari tim regional, tapi karena tahun ini saya sudah di Jakarta ya gak bisa ikutan, he he hee.. Tapi tahun ini kurang banyak acara, mungkin karena scoop-nya lebih besar jadi lomba-lomba semacam itu tidak melibatkan semua bagian.

Jadilah tahun ini, saya cuma ikutan berpartisipasi di billiard. Sebenarnya gak pede sih untuk ikutan, secara mainnya juga masih standard banged. I knew I’m good when I stearing at ball, tapi kalo dah mukul, pasti bolanya gedek! Aargghh!! Tapi karena ada iming-iming peserta bakal dapat souvenir glove, terus juga karena dipaksa daftar sama ketua (halah, maksa!), jadilah tadi sore jam 4 saya sudah ada di Kenari Mas Lt. paling atas, untuk ikut penyisihan.

Kalau biasanya pas latihan, orangnya itu-itu aja, kali ini yang datang banyak banged. Banyak muka baru. Dari yang tampang cupu (tampang doang yang cupu, tapi mainnya jago loh), tampang abege belagu yang sibuk komentarin orang karena merasa dirinya jago, sampai tampang “tukang taruhan” hihihi.. Well, begitu banyak pemain bagus, sempat minder juga awalnya.

Lawan pertama saya, namanya kalau gak salah Hasan (lupa!). Jarang kelihatan kalo hari latihan, tapi tadi suporternya banyak, geng-nya di KPPTI. Sementara teman-teman saya juga lagi pada tanding, jadi tidak bisa saling men-support. Sempat deg-degan juga, karena dapat meja di samping tribun. “Bisalah kalau yang ini,” kata Husnu ngasih semangat. Padahal dia juga gak yakin, secara tuh cowok tampangnya tampang “maen bili untuk cari makan” 😀

Oh ya, karena peserta ceweknya dikit (tahun ini cuma 3 org yang ikut), jadi mau gak mau putri juga harus ketemu putra. Cuma untuk putri di-voor, cukup cari 2, kalau cowok harus cari 3.

Dan entah karena dia agak grogi karena harus berhadapan sama cewek, kelihatannya dia gak begitu konsen. Terbebani harus menang (ngelawan cewek gitu loh..). Bisa dimengerti sih kenapa begitu, karena tidak semua orang punya mental untuk bermain dalam kejuaraan (including saya kali ya). Beberapa orang ada yang mainnya sangat bagus (mantan juara malah), tapi karena terbebani harus lawan cewekk, terus mereka ngejar 3 sementara saya cuma cari 2, akhirnya malah kalah. **pengalaman latihan tanding kalau lagi practise rutin**

Nah si Hasan ini, teman-temannya juga kayak kompor gas itu, jadi beban dia kayaknya beraa…ttt banged. Hihihih… Well, dan itu otomatis membangkitkan kepercayaan diri saya. Bola-bola saya meluncur mulus dan rapi. Dan tepuk tangan sontak terdengar ketika bola 9 meluncur mulus masuk. Terbantailah dia dengan sukses 2-0. Semua suporternya terpana, karena jagoannya kalah telak. **tuh kan, dah mulai belagu deh gw, baru juga menang sekali…**

Ketika semua orang sudah saling silang ketemu lawan lagi sampai 3 kali, saya masih duduk saja. Belum dipasangkan. Mungkin panita sibuk menyeleksi para peserta putra dulu. Saya dianggap anak bawang, atau di-voor? Jadi saya cuma duduk dan asyik ngomentarin orang, yang ini jago, yang itu oke banged, bertepuk tangan bila ada shoot-shoot yang buat geleng-geleng kepala. Bla bla bla… Sampai akhirnya sama panitia saya dipasangkan melawan Fadli (heeelpp… !!) (**panitia senyum-senyum aja waktu saya protes kenapa saya harus tanding ma Fadli — yang notabene levelnya udah jauh di atas saya). Dodi ngasih saran gini,”Fadli itu mainnya lembut, bola-bola pelan. Pukul kuat aja, pasti konsentrasinya terganggu.”

Dan benar saja saudara-saudara, kali ini gantian saya yang dibantai!! Hiks! 🙁 **matahin stick** Sebenarnya ada beberapa kali Fadli melenceng, tapi bego saya kumat, tidak bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik. Like I said before, ngekernya dah bener, tapi bolanya gedek semua. **nah kali ini saya ga berani belagu lagi, udah kalah telak soalnya hahahaha…**

Dan seperti biasa, para master selalu tak tergoyahkan. Kayak Aking. Membantai terus, tapi gak pernah dibantai. **kapan ya King lu dibantai?** Terus juga Dodi, yang kalo menurut saya sih tukang sulap, shoot-nya ajaib-ajaib. Dia ini yang jadi wakilnya isat waktu turnamen bili jurnalis bulan lalu. Ada juga Adi, yang kalau maen pasti cengar-cengir, tapi “kejam”. Lawannya hampir selalu dikasih nol. Gak pernah dikasih nilai sama dia. **berdoa jangan sampai harus ketemu dia** Tapi kadang-kadang, kalau pertandingan begini, selalu ada juara yang tak terduga. Yah, sesekali gantian dong juaranya.

Yeah, sepertinya cukup segitu partisipasi saya. Cuma dikasih menang sekali aja, mudah-mudahan the next season, gw bisa gantian ngebantai 🙂 . Saya pun pulang duluan sebelum tahu hasilnya siapa yang menang, sambil mikir … siapa ya yang akan dijadikan target di next season?

Related Post

Belanja Tanpa Plastik Dua malam yang lalu, saya pergi belanja dengan anak saya. Kita pergi ke supermarket terdekat dari rumah untuk belanja bahan makanan buat Vay. Sebenarnya ingin jugalah sesekali turun ke pasar tradisional, tapi kan tidak bisa sering-sering ya, maklum w...
Momen Mudik 2013 Bagi yang merantau ke Jakarta atau kota besar lainnya, mudik atau pulang kampung adalah hal yang dinanti. Selalu ada momen-momen yang hanya bisa didapatkan kalau kita mudik. That's whyyy kenapa kita rindu untuk mudik. Ada yang tidak suka mudik? Ya ba...
Kegiatan Sepulang Sekolah Pagi tadi saat perjalanan ke kantor, saya melihat seorang anak SMP diantar bapaknya naik motor ke sekolah. Wah, saya jadi bertanya-tanya, bagaimana ya rasanya diantar (dan dijemput) sama bapak saat sudah duduk di bangku SMP? Soalnya selama bersekolah...
Pizza Timeee…….!! Ini pertama kali nya saya merayakan hari ulang tahun tanpa keluarga. Tahun-tahun lalu biasanya tradisi kami sekeluarga adalah makan bersama di rumah, sambil makan ayam panggang buatan Tante Cie yang luar biasa lezatnya. **too bad saya gak bisa masakn...
Chelsea FC Part 1 : Couching Clinic Secangkir teh susu: Setiap orang pasti punya rezeki masing-masing. Saya -- dan mungkin juga Anda -- percaya akan hal itu. Maka, apabila kita sudah terlalu keras mengusahakan sesuatu sementara itu memang belum jadi rezeki, maka itu bukan rezeki namany...

by

About Zizy Damanik | Mommy Vay | Digital Marketing Practitioner | A Passionate Traveler and Photographer | Coffee Lovers | Beach Addicted |

12 thoughts on “Pembantaian di Kenari

  1. Zee

    hai herdie, met kenal jg. makasih da maen ke sini. memang lbh enak di kampung sendiri. dulu anak irian jg ya? sama dong… 🙂

  2. salam kenal dulu neh sebelumnya….
    saya setuju banget…kalau tahun ini 17-an yang saya rasakan sepi2 aja, tapi gak beda juga ama tahun kemaren…sepi juga kok…beda waktu saya di yogyakarta suasananyaterasa banget kalau lagi 17-an, mungkin karena sekarang saya lagi di kmpung orang juga seh…di aceh, jadi ga terlalu ngerasa seperti di kampung sendiri

  3. Zee

    Thx mas Koz. Soal perencanaan keuangan, itu emang sudah saya terapkan sejak 3th lalu 🙂 thx to safir senduk ..

  4. koz

    coba mo jawab coment mba zizy pada blog saya
    masalah keuangan, kalau bisa di usahakan semua pengeluaran ada catatannya, jd ketahuan mana yg rutin kita keluarin mana yg gak rutin ( insidential ) pokoknya harus nahan nafsu..nafsu belanja dll…tahan…!!! lebih enak pada saat awal bulan lngsung di brekdown semua pengeluaran..dari situ ketahuan ada sisa berapa ? nach tinggal pinter2 kita..,kira2 sisanya mo pake buat apa ? saving ato belanja yg gak ada guna…,Ingat pisahkan antara KEBUTUHAN dan KEINGINAN…

  5. Zee

    pro yan : walah ga seru, masa g ada futsal lagi.
    pro am : yeah, tapi percayalah beda pede dan sombong itu tipis, makanya aq kalah di next game. hahaha..

  6. uam

    terbayangkan sama ku kekmana ‘terpana’ nya para lelaki disana nengok kak SI maen…. menang pulak tuh di pertandingan pertama… ck..ck..ck..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.