Siapa Yang Sudah Vaksin? Vay Sudah, Lho!

Hai halo.

Kalian sudah vaksin?

Saya sudah, baru vaksin pertama. Lalu Vay juga sudah vaksin kemarin.

vaksinasi anak di jakarta

Kami izin skip sekolah untuk beberapa lesson agar bisa pergi untuk vaksin yang lokasinya di salah satu gedung sekolah negeri di bilangan Duren Sawit. Sebenarnya saya paling tidak suka kalau anak harus membolos sekolah, tapi kemarin itu saya mendaftarkan Vay untuk jadwal vaksin via aplikasi Jaki, dan ternyata tidak ada pilihan hari Sabtu. Ya sudah, jadi ya begitu.

Oke lanjut. Tiba di lokasi jam setengah sepuluh pagi, eh ternyata saya lupa ngeprint lembar pre-screening yang memang diharuskan dibawa. Kata petugas tetap harus ada meskipun saya sudah menunjukkan bukti captured dari JAKI, dan juga sudah menitipkan KTP anak. Akhirnya langsung jalan lagi ke depan Puskesmas Duren Sawit, mencari toko foto copy.

Kembali ke halaman sekolah, saya lihat banyak sekali pesan dari Vay. Ternyata dia sudah diminta naik ke lantai 2, dan dia gak tahu dong harus ngapain jadi buru-buru nanya mami di mana.

Sampai di atas, form yang dibawa itu kemudian diberikan nomor oleh petugas dan kami menunggu untuk dipanggil. Ada satu kejadian yang bikin saya agak tersulut karena merasa petugas di sana tidak taktis dengan situasi. Jadi awalnya kami kan duduk agak jauh jadi agak susah mendengar panggilan nomor. Lalu saya dengar sudah nomor 160-an. Ya sudah kami berpindah ke deretan yang dekat dengan petugas. Sampai di situ saya lihat beberapa meja sedang memeriksa berkas dengan nomor 178 dan 180, eh berarti nomor Vay kelewatan dong.

Lalu saya tanya, apakah nomor 175 sudah dipanggil? Yang duduk di meja lalu meminta kertas kami. Nah ada ibu petugas lain yang menurut saya cukup nyebelin dan tidak membantu. Dia tanya dengan sedikit berlagak apakah saya mengantar, kalau mengantar menunggu di sebelah sana. Hei gak kau tengok anakku ini masih smp? Ke dokter saja selama ini sama maminya, masa vaksin disuruh ditinggal.

Saya bilang, “Ya ini makanya saya BERTANYA, nomor ini sudah dipanggil atau belum, dan KAMI HARUS KE MANA NIH?” saking jengkelnya sampai suara agak meninggi. Baru suaranya merendah, dan meminta nomor antrian kami. Gak perlu lihat nomor, jelas sudah di kertas ada nomor dan ada nama anaknya. Butuh KTP? Ada.

Itulah yang paling saya tidak suka kalau datang ke tempat pelayanan atau faskes. Suka ketemu orang yang kalau istilah orang Jakarta itu songong. Semua yang datang baik-baik aja tuh, semua tahu aturan, tapi yang bertugas gayanya melebihi pejabat. Kita sama-sama menjalankan kewajiban kok.

Okelah lanjut. Vay masih harus menunggu giliran untuk ukur tensi dan screening, dan dia sempat gak tenang juga karena saya duduknya jauh karena tidak ada kursi kosong di dekat dia, katanya dia tidak tahu harus ngapain kalau disuruh ini itu, tidak tahu alurnya gimana, takut ditinggal sendiri. Saya bilang, “Tenang, Mami lihat dari sini.” “Sini mana?” LOL. Ya wong dia duduknya nyandar aja sih, gak mau melongok ke depan ya gak bakal tahu dia maminya ada di mana.

Tapi begitu dia dapat giliran screening, ternyata dia pas dapat petugas di depan maminya, jadi tenang deh dia. Lalu saya temani lagi sampai masuk ke dalam ruangan untuk suntik vaksin. Beruntunglah Vay tidak takut menghadapi vaksin. Mungkin karena dia lihat maminya baik-baik saja saat melakukan vaksin, tidak merasa ngeri, dan juga tidak merasakan efek apa-apa. Saya bilang ke Vay, ukuran jarum suntiknya terlalu kecil untuk bisa memberikan rasa sakit. Jadi abaikan saja.

Dan ternyata dari yang kemarin vaksin itu, Vay yang paling muda. Rata-rata anak sekolah yang datang sudah SMA semua, badannya gede-gede, bahkan ada juga satu dua orang dewasa yang ikutan vaksin. Saya kira kemarin lokasi itu khusus untuk remaja.

Ini sudah masuk hari kedua Vay selesai vaksin. Ya alhamdulillah tidak ada efek apa-apa, normal.

Bagaimana cerita vaksin kalian?

-zd-

 

Sharing is Caring
  • 2
    Shares

by

About Zizy Damanik Passionate in travel, photography, and digital content. Drop your email to admin@tehsusu.com to collaborate.