Jadi Kita Lebaran dengan Ayam Panggang

Buat seorang perantauan, mudik ke kampung halaman untuk berlebaran adalah momen yang paling saya tunggu. Maklumlah saya termasuk tidak terlalu sering pulang ke Medan, karena waktu libur selain harus disesuaikan juga dengan libur anak, juga disesuaikan dengan isi kantong.

(Heh Heh)

Ceritanya kemarin mau bikin foto untuk ucapan Idul Fitri. Eh dia cemberut... LOL.

Ceritanya kemarin mau bikin foto untuk ucapan Idul Fitri. Eh dia cemberut… LOL.

Apa sih yang paling saya rindukan kalau pulang ke Medan? Yang pertama tentu saja rindu bertemu dan bercerita dengan orang tua, kemudian obrolan ngalor ngidul kami semua para sepupuan di hari H lebaran. Meski tiap tahun ketemu, kok ya tetap saja saya kaget mendapati keponakan-keponakan saya ada yang sudah kuliah semester tiga, lalu sudah kelas 3 SMA, kelas 3 SMP.

(Omaigat dan itu artinya saya semakin matang….)

(Hah hah)

Kemudian juga rindu berkumpul dengan masakan spesial yang hanya ada saat lebaran atau hari khusus saja, seperti ayam panggang, kering kentang ati, dan sayur buncis ati ayam. Ini masakan andalan yang biasanya dimasakan tante saya di rumah. Ya saya sudah berkali-kali minta resepnya, tapi begitu balik ke Jakarta, tidak dilakukan juga, hahah. Jadilah ya tetap saja makannya pas mudik ke Medan.

DSCF4710

DSCF4741

DSCF4737

Lalu kerinduan lainnya adalah rindu dengan kuliner Medan yang dulu jadi makanan favorit saya. Ini juga belum sempat dijajal kalau hari ini, semoga nanti sempat, karena biasanya baru buka satu minggu setelah lebaran, which is saya sudah pulang juga ke Jakarta.

(Hu hu)

Yang selalu saya suka setiap tahun adalah, momen berkeliling yang dilakukan oleh Nona Vay bersama sepupunya. Jadi, beberapa tahun yang lalu, ketika opung dolinya Vay masih sehat betul dan kuat jalan, kita gantian mengunjungi uwak-uwaknya saya. Namun karena sekarang opungnya sudah susah jalan – harus dibantu tongkat kaki empat – jadinya dua tahun terakhir ini kumpul lebaran keluarga Damanik kembali diadakan di rumah Opung Vay. Nah, kalau sudah selesai acara kumpul Damanik, biasanya tulang-nya Vay akan keliling lagi ke saudara-saudara dari aturang-nya Vay, keliling ke keluarga minangnya aturang. Secara tutur, ipar saya harus dipanggil aturang oleh Vay, tapi aslinya sih orang minang. Dan Vay sudah pasti ikut, barengan sepupu-sepupunya. Iyalah, mana mau dia tinggal di rumah sendirian toh.

Jadi kalau sudah pulang keliling, dia akan kembali dengan laporan, berapa pendapatan lebarannya. Hahah. Bukan masalah nominal ya kan, tapi namanya dikasih angpau itu memang menyenangkan. Jadi saya suka sekali kalau lihat wajahnya berbinar saat merapikan hasil angpaunya hari itu.

Sebelum menutup hari, saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1438H buat teman-teman yang merayakan. Taqabalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin.

– ZD –

Related Post

Baby Sitter-nya Vaya – part 3 Saya lagi sebel sama babysitter-nya Vaya. Ini bs-nya Vaya yang kedua, setelah bs yang pertama kali saya berhentikan dengan sukses. Masih ingat postingan yang ini dan ini kan?   BS yang sekarang ini asal Ngawi, usianya 37thn, single...
Berbagi di Rumah Singgah YUMA Berbagi itu indah. Itu saya rasakan sendiri ketika Jumat kemarin saya dapat kesempatan untuk berbagi rasa dengan kaum dhuafa dan anak yatim. Ini berawal ketika mbak Anny ym saya, mengajak saya, mungkin ada waktu untuk berbuka puasa bersama dengan ...
Workshop ERM @Novotel Bogor Dua hari ini saya ada di Bogor untuk workshop ERM (enterprise risk management). Bertempat di Novotel, hari Rabu sore sebagian peserta (termasuk saya) sudah berangkat duluan ke Bogor, naik bus Bluebird. Memang tukang molor, sepanjang jalan saya ter...
Pasar Malam Kalau saya tidak salah ingat, pasar malam di pemukiman kami ini munculnya sekitar setahun yang lalu, menjelang libur anak sekolah di tengah tahun. Jadi ada dua kelompok yang berbeda yang bergiliran mangkal di taman depan. Yak, masih ingat dengan post...
Pasca Kelahiran Vaya Aya or Vaya lahir kecepatan dua minggu lebih dari jadwal yang diperkirakan dokter. Seharusnya tgl 13 April, begitu perkiraan dokter. Jadi saya pun mengajukan cuti pertanggal 1 April. **kt dr.spog saya, ini krn saya terlalu aktif jdnya kecepetan :D. ...

by

About Zizy Damanik | A Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

13 thoughts on “Jadi Kita Lebaran dengan Ayam Panggang

  1. Maaf lahir bathin ya mba… Aku ga bisa mudik ke medan thn ini.. Tp gantinya agustus bsk mw kssana.. Ga kuat kalo pas lebaran.. Tiketnya ga sopan bgt naiknya wkwkwkwk 🙂

    Pokoknya di sana, aku cm mau muas2in kuliner medan juga.. :D. Walopun lontong lebaran dan teman2nya udh ga di masak mama lagi :p

  2. Sama kali, setiap balek Medan nggak pernah namanya nggak mengunjungi saudara-saudara. Melalak aja kerja kami di sana. Naik becak kan dari rumah uwak pertama, sampai nanti tengah malam. Banyak cakap-cakapnya makanya lama.

    Tahun ini nggak pulang (lagi) karena harga tiket yang Ya-Allah-mending-uangnya-buat-DP-gedung-nikahan-aku-aja-deh. Hehehe.. Kami mau pulang ke Medan 8 orang, sedangkan harga tiket pesawat PP untuk satu orang aja 3 juta lebih sekian, condong ke 5 juta. Pengen rasanya mindahin Medan dekat2 sinilah

  3. Taqoballahu minna wa minkum,
    selamat Iedul Fitri Zee dan Vay, maaf lahir batin ya..

    nah itulah, pulkam pas lebaran itu nggak bisa ya wis kul.., yag jualan juga masih pada mudik semua

  4. Taqabbal yaa karim. Maaf lahir batin juga, Kak. Awak tahun ini absen dulu ke Medan. Moga tahun depan bisa Lebaran ke Medan lagi. Kulinernya enggak nahan. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *