Gengsi Gede-gedean

Spread the love

Hai, halo. Kali ini saya akan menayangkan ulang tulisan lama tentang topik di bawah. Pertama kali dipublikasikan pada 6 April 2010. It’s a thought. 🙂


Gengsi gede-gedean

Menurut saya, laki-laki cenderung lebih gengsian daripada perempuan. Saya sering alami kejadian dimana laki-laki memaksa agar terlihat keren di depan perempuan. Contohnya ketika beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang cowok untuk transaksi jual beli. Saya yang pertama kali mengusulkan agar bertemu di Sarinah saja, tepatnya di Tony Jack.

Saya tiba duluan dan kemudian pesan makanan, fried chicken dan kentang goreng. Setengah jam kemudian baru orangnya datang. Dia lelaki tinggi kurus berkulit gelap. Pakai kemeja putih, celana jeans, dan kacamata hitam bertengger di matanya.

Dia cuma pesan segelas minuman kecil saja. Dia duduk di depan saya dengan gaya ‘rapper kulit hitam’, menyalami saya, pasang cengiran lebar di muka hingga seluruh gusinya terlihat, tanpa mencopot kacamatanya. Tangannya bergerak-gerak tanpa henti setiap kali dia berbicara.

Lalu kami mengobrol basa-basi sambil bertransaksi.

Dia lihat paper bag di meja dan bilang, “Wah kenapa makanannya dibungkus?”

“Oh, tidak, ini ayamnya kelebihan, jadi saya take away saja. Tidak pesan makan?” Saya.

“Oh, gua gak biasa makan di sini. Gak ngerti gimana menu-menunya gitu lah. Biasanya sih gua makan di depan sana, di itu loh .. Burger King.”

Oh, okelah, kata saya dalam hati. Kebanyakan gaya nih orang. Saya bukan mau under estimate, tapi kok kayanya nih orang belagu banget ya, pengen terlihat keren dan gaul kayaknya. Gak mungkinlah lo bisa tahu Burger King, kalau lo gak pernah kenal McD (sebelumnya belum bernama Tony Jack). Secara hukum sebab akibat pun, penggemar fast food yang main ke Sarinah pasti pernah makan di McD, kan McD yang pertama kali hadir di situ. Burger King kan baru. Kalau pesan di McD aja gak tahu, gimana dia mau pesan menu di Burger King, yang level menu lebih beragam, atau kata orang-orang level burgernya sudah di atas McD.

Gara-gara dia ngomong begitu, saya (yang pecinta berat fatsfood) jadi menilai-nilai apa yang ada di dia. Jam tangannya, oh oke. Kacamata, beda tipis. Kemeja putih, standard. Dia bilang, dia tadi terjebak macet, tapi tadi sempat main ke kantor kakaknya di dekat situ. Katanya agak bingung sedikit mencari-cari pintu ke arah Tony Jack. Oh okelah, atur aja hahahaha.… Tadi katanya biasanya makan di Burger King di Sky Building, masa iya masuk ke Sarinah aja masih bingung cari pintu.

Lalu dia bilang, dia bekerja dengan teman-temannya sebagai konsultan IT. Saya tetap mendengarkan dengan baik, ya gpp lah kan memang kita harus berbasa-basi, bertuka informasi, karena di sini saya mau jualan notebook jadi tentu dia pun harus menilai saya juga kan?

Finally, ketika dia selesai mengambil uang dari ATM dan menyerahkannya pada saya, saya bilang padanya sebelum notebook diambil, notebook mau saya mau format ulang dulu. Dia terbengong pasang tampang bingung, kayak gak ngerti maksudnya apa.

Saya katakan sekali lagi maksud saya, lalu dia nyengir sambil tangannya tetap bergerak-gerak. “Oooo.. Ya ya ya…! It’s okay. Gue lagi gak konsen nih, kurang tidur.” Hmm. Iyalah, suka hati kaulah, bilang aja gak ngerti. Saya mau ketawa sih, tapi ya sudahlah, gpp. Aslilah, banyak kali cakap kawan ini memang. Kalau dia orang IT, masa dia gak tahu apa yang dimaksud dengan meng-format komputer atau laptop.

Saya sering lho ketemu lelaki yang gila gengsi. Maksudnya, sebenarnya dia gak mampu untuk begitu, tapi demi gengsi dia berusaha mati-matian agar bisa terlihat berkelas. Bualannya luar biasa, khayalannya juga tingkat tinggi sampai-sampai orang lain bahkan mungkin dia sendiri  tidak tahu mana bagian yang benar dari ceritanya.

Untuk apa bersombong-sombong atas sesuatu yang tak pernah dimiliki atau dilakukan? Kalau memang biasa makan di warteg, so what? Gak ada yang salah dengan makan di warteg, kenapa? Kan memang makanan hari-hari menunya ada di warteg semua tho. Kalau memang gak pernah makan di McD, ya sudah bilang saja gak pernah toh. Jadi diri sendiri saa, genuine itu lebih ada valuenya daripada penuh kepalsuan. Malu karena belum pernah makan di McD? Ya gak apa-apa….. selalu ada saat pertama kali buat setiap orang kok. Percaya diri aja tampil dengan gaya diri sendiri.

Seringkali, para lelaki menduga bahwa perempuan akan terkesan dengan gaya sok cool mereka, plis deh, gak tahu aja kali ya kalau di belakang mereka, cewek-cewek pada ngetawain diam-diam. Ini serius lho! Saya dan teman-teman perempuan saya kalau melihat cowok sok asik begini langsung saling membereng (melirik) dengan alis naik, saling paham apa yang ada di kepala kami.

 

-ZD-

by

About Zizy Damanik Passionate in traveling, photography, and digital content. I have a professional experience as a digital marketer and social media strategist at Telco and OTT. Drop your email to zizydamanik22@gmail.com to collaborate.

112 thoughts on “Gengsi Gede-gedean

  1. Hmm.. Padahal kayaknya bungkus makanan fastfood di mana-mana mirip-mirip, ya, Mbak Zy? 😀

    Mungkin dulu lagi banyak klien orangnya, Mbak, sampai-sampai lupa arti kata “format.” 😀

    • Zizy Dmk

      Iyaaa… tapi bisa buka lagi sih, selama menyediakan menu Indonesia. But sebenarnya mCd Indonesia juga sudah ada menu lokal, ada nasi uduk gitu lhooo… LOL.

  2. kursus seo

    wah bagus juga nih artikelnya..
    mkasih mas sharen informasinya..
    lanjut baca lagi deh 🙂
    belum paham wkkwkw 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *