Hidup Dengan Adenomiosis

Spread the love

DISCLAIMER:

Saya bukan seorang dokter atau profesional medis dan informasi-informasi di dalam tulisan ini tidak dapat dianggap sebagai saran secara medis. Yang saya tulis adalah semata-mata dari pengalaman pribadi saya, juga berdasarkan hasil research saya di beberapa situs medis, serta pengalaman dari beberapa penderita adenomyosis.


Postingan ini adalah pelengkap dari postingan lama saya tentang hidup bersama adenomyosis dan bagaimana akhirnya bisa putus dengan adenomyosis.

Saya pikir semua harus tahu bagaimana kondisi saya setelah melakukan operasi reseksi adenomyosis 4 tahun lalu (tepatnya April 2016). Sejak operasi sampai dengan awal 2018, saya masih rutin kontrol. Terakhir kontrol itu awal 2018, di sebuah RS di Pulomas Jakarta, saat itu saya sedang apply asuransi santunan penyakit kritis, maka dengan riwayat pernah melakukan operasi di rahim, harus ada medical check up dulu, di rumah sakit rekanan asuransi. Karena RS yang di Pulomas itu salah satu rekanan dan juga paling dekat dari rumah, maka ke situlah saya. Pagi jam delapan saya sudah di lokasi, dan hanya menunggu sebentar saja untuk bertemu dokter. Seorang dokter kebidanan senior pun menyambut saya dengan ramah dan kemudian mulai memeriksa sesuai dengan surat pengantar dari asuransi, beliau pun melakukan USG (namun bukan transvaginal USG). 

Sebelumnya tentu saya harus menyampaikan dengan lengkap riwayat penyakit hingga operasi yang sudah dilakukan. Apa yang kemudian dikatakan dokter membuat saya kaget. Katanya, “Masa sih, Bu? Ini saya lihat masih ada kok. Ibu operasi di rumah sakit mana?” Hmm..

Saya agak berkernyit karena saya yakin dokter saya di RSIA Bunda pasti mereseksi dengan bersih. Tapi kemudian ibu dokter itu melanjutkan dengan kalimat yang berusaha menenangkan, “Ya tapi gak mungkinlah dokternya operasi gak bersih. Nanti coba kontrol lagi Bu dengan dokter Ibu kemarin.”

Dalam hati, kupikir kadang dokter-dokter senior ini suka rada under-estimate deh sama dokter yang lebih muda, sebab saya bisa dengar dari nadanya bahwa dokter ini kurang percaya dengan dokter saya yang itu. Yeaa gitulah..

Meski saya sendiri tak terlalu percaya pada pernyataan dokter kedua ini (karena menurut pengalaman saya sebagai pasien, kalau mau lebih jelas terlihat semestinya dilakukan lewat trans vaginal), but pada kenyataannya apply saya untuk santunan penyakit kritis mendapat note khusus. Kalau tadinya ada tiga kali santunan yang bisa diberikan bila saya terserang penyakit kritis, yaitu stadium 1, 2 dan 3, maka khusus untuk reproduksi saya hanya akan menerima manfaat bila sudah berada dalam stadium 3.

But then, setelah itu saya tidak pernah kontrol lagi. Seperti balapan dengan waktu ketika itu, karena begitu keluar dari company lama yang telco itu, saya lanjut gawe di sebuah OTT  startup yang ngantor di Gatot Subroto, pulangnya pasti malam, jadi ngatur waktu untuk kontrol ribet. Saat sudah wiken malas.

Dan yang paling penting lagi adalah, saya tetap belum merasakan sakit lagi selama haid (waktu itu). Pernyataan dokter yang mengoperasi saya saat itu adalah, adenomyosis mungkin bisa tumbuh lagi, mungkin paling cepat tiga empat tahun. Dan karena tidak ada sakit, logikanya kan adeno belum tumbuh lagi.

Well, dan kemudian… sekitar bulan September Oktober 2019, ternyata saya mulai kembali merasakan nyeri haid yang lumayan. Yang cukup wow, sampai saya kembali harus minum obat. Meski kali ini saya tidak menggunakan pain killer yang dosis tinggi itu, tapi saya sepertinya mulai tergantung pada ibuprofen, karena saya harus minum sampai tiga butir sekarang, meski memang hanya untuk hari pertama menstruasi. Nyeri haid ini memang belum separah dulu, namun mulai mengganggu kenyamanan. Dan masih selang seling sakitnya, bulan ini sakit bulan berikutnya tidak. Dan saya mulai mengenali reaksi tubuh terhadap adeno ini, kalau rajin bergerak dan olahraga maka ketika haid tidak terlalu sakit, tapi kalau malas bergerak maka bisa sakit sekali. Tapi ini masih random, karena tidak tentu juga. Masih saya pelajari.

So, meskipun belum resmi memeriksakan kondisi ke dokter lagi, saya yakin sekali bahwa adenomyosis sudah tumbuh kembali (seperti kata dokter, tiga sampai empat tahun lagi). So, saya sudah hidup bersama adenomyosis kronis lagi. Kembali bersahabat dengan pendarahan dan nyeri haid yang luar biasa. Alhamdulillah, semoga jadi peluruh dosa.

Hidup dengan adenomiosis

 

Tadinya target ke dokter itu pas mau empat tahun operasi (which is April kemarin) tapi karena sedang pandemi, semua harus di-reschedule ulang. Nanti begitu pandemi sudah selesai, saya akan kontrol ke dokter. Janji.

Satu hal yang menurut saya sangat penting buat para penderita adenomiosis adalah memiliki semangat juang yang tinggi. Memiliki adenomyosis berarti perjuangan seumur hidup, dan buat saya yang sudah jatuh bangun karena penyakit ini, rasa stress dan frustasi masih kerap melanda ketika saya merasa sangat sendirian menghadapi ini. Suka terbayang gitu ya, kalau nanti saya tua lalu penyakit ini masih ada dan saya mendadak collapse saat sendirian di rumah, siapa yang membantu? Dan penderita adeno pasti butuh curhat, dengan sesama penderita yang sama-sama mengerti bagaimana rasanya. Itu sebabnya saya kemudian membuat grup kecil di Facebook, dan syukurlah akhirnya di grup itu bisa ketemu dengan banyak adenomyosis warrior lainnya.

Dan ternyata ada banyak penderita adeno yang jauh lebih berat kasusnya daripada saya, lho yang perjuangannya jauh lebih jatuh bangun, sampai harus operasi beberapa kali, dan juga banyak yang terus berikhtiar untuk program hamil.

So, agar pembaca baru bisa lebih involve dengan apa yang dibicarakan, izinkan saya mengupas sedikit tentang apa itu adenomyosis.

APA ITU ADENOMIOSIS?

Mungkin sudah banyak orang mendengar tentang endometriosis. Nah, adenomiosis ini semacam saudaranya endometriosis yang jarang orang tahu, tapi belakangan ini ternyata semakin banyak perempuan yang didiagnosa memilikinya.

Pada dasarnya endometriosis dan adenomiosis memiliki kesamaan, yaitu tumbuhnya jaringan endometrium yang tidak pada tempatnya. Namun lokasi tumbuhnya jaringan yang berbeda membuat keduanya tidak sama. Pada kasus endometriosis, jaringan endometrium muncul di luar rahim. Jaringan ini bisa tumbuh sampai indung telur, saluran telur, bahkan ke usus. Jaringan endometriosis di luar rahim ini juga dapat menebal, tapi tidak bisa luruh saat haid. Gejala umum pada endometriosis adalah menstruasi tidak teratur dan bisa menyebabkan kemandulan.

Sedangkan dalam kasus adenomiosis, sel endometrium menyebar di luar bagian dalam rahim dan tumbuh ke dalam otot rahim, berlokasi di tengah-tengah, antara endometrium dan miometrium. Kondisi ini membuat rahim menjadi lebih tebal, dan penderita biasa akan merasakan perut lebih besar, lebih kembung, dan lebih keras.

Adenomyosis versus Endometriosis

Image source: Pinterest

Persamaan keduanya adalah, ketika menstruasi akan merasakan nyeri. Ketika perempuan sedang menstruasi, yang mana menstruasi adalah luruhnya lapisan dalam rahim (endometrium) akibat kehamilan tidak terjadi, jaringan endo akan berusaha untuk melepaskan diri. Untuk penderita endometriosis, jaringan yang tumbuh di luar rahim pun ikut menebal tapi tidak bisa luruh saat menstruasi. Di situlah nyerinya. Sementara untuk kasus adenomiosis, nyeri haid yang terjadi sangat luar biasa karena secara kondisi, rahim memang tidak normal karena membengkak. So it’s like muka petinju yang bonyok kena jab-nya Mike Tyson. Menstruasi pada penderita adenomiosis hampir selalu disertai dengan pendarahan. (Itu sebabnya saya bisa habis minimal dua belas pembalut dalam sehari)

Penderita adenomiosis masih bisa hamil (contohnya saya yang ketahuan ada adeno justru ketika usg kehamilan, dan juga beberapa teman di grup Adeno) tapi ada pula yang susah hamil.

Namun pada banyak kasus yang saya lihat dari teman-teman di grup Adeno Warrior adalah, selain menderita adenomiosis, juga ada yang sekaligus menderita endometriois disertai pertumbuhan jaringan fibroid. So, yeah, banyak yang lebih berat kasusnya dari saya, jadi stop mengeluh. Stop complaining.

GEJALA ADENOMIOSIS

Gejala utama dari adenomiosis adalah:

  • Mengalami menstruasi dengan volume yang sangat banyak dan durasi yang lama. Curhat dari teman-teman di grup ada yang sampai dua minggu baru berhenti
  • Kram perut luar biasa sampai panggul pantat paha, dan tidak bisa bangun
  • Mual dan muntah
  • Seringkali muncul bercak-bercak darah di luar periode menstruasi
  • Perut bagian bawah terasa besar dan kembung

LALU, GIMANA NIH CARA NGATASIN ADENOMIOSIS INI? 

Sebagai seseorang yang bertahun-tahun hidup dengan adenomiosis, mulai dari usia masih tiga puluhan sampai sekarang udah di atas kepala empat, setiap ada yang bertanya apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghilangkan rasa sakit, yang bisa saya berikan hanyalah berdasarkan pengalaman saya. Setiap orang punya masalah yang berbeda, yang mungkin saja butuh treatment berbeda, apalagi kalau yang menderita masih usia produktif dan masih program untuk mendapatkan momongan.

Ini adalah beberapa opsi yang bisa dilakukan:

Opsi 1:

Melakukan terapi hormon. Pada dasarnya obat hormon diberikan untuk membantu menurunkan kadar estrogen dalam tubuh wanita, sehingga tentu akan mengurangi nyeri akibat adenomiosis (dan endometriosis). Pada beberapa kasus, ketika terapi dihentikan, nyeri akan kembali datang dan menjadi lebih parah. Which is kalau menurut saya, memang begitulah yang namanya terapi hormon. Once you stop, berhenti pula pengaruhnya, terutama kalau masih usia muda, karena secara alami produksi estrogen masih terus ada. Saya duluuu sekali dikasih ini, tapi karena membuat jadwal haid berantakan (bisa dua tiga kali sebulan), saya stop. Gudbai.

Opsi 2:

Mau opsi cepat? 🙂 Histerektomi, yaitu pengangkatan rahim secara keseluruhan. Langsung dibuang semua dari sumbernya. Tentu saja ini menjadi rekomendasi buat mereka yang memang sudah tidak ingin menambah anak lagi. Pilihan lainnya, buat yang masih ingin mempertahankan rahim tapi juga ingin menghilangkan sakit adalah dengan melakukan tindakan bedah invasif minimal untuk mengurangi jaringan endometrium tersebut. Operasi reseksi adenomiosis seperti yang saya lakukan.

pasca operasi reseksi adenomyosis


Baca di sini untuk detail operasinya: Saya Sudah Putus Dengan Adenomyosis (eh malah sekarang temenan lagi. LOL.)


Dengan operasi ini, jaringan di rahim akan dikikis dan diangkat, sehingga rahim menjadi bersih kembali. Mengenai apakah bisa hamil setelah melakukan operasi, tentunya masih harus dilakukan pemeriksaan lanjutan.

Opsi 3:

Seperti kata dokter saya ketika saya baru selesai operasi, sebaiknya mulai dengan mengatur pola makan yang sehat dan benar, agar memperlambat tumbuhnya jaringan kembali. Memang tidak secara serta merta menghilangkan jaringan abnormal itu, tapi at least bisa membantu kita menjaga tubuh lebih sehat dan kuat saat mimpi buruk itu tiba.

So, saya kemudian mencoba membuat infographic diet sehat adenomiosis dengan melakukan riset dan mengumpulkan banyak rekomendasi seperti dari situs Adenomyosis Advice Association dan Lybrate. Termasuk juga sharing dari para pejuang adeno yang mendapatkan informasi dari dokter-dokter mereka.

Berikut adalah rekomendasi food to avoid and food to consume bagi penderita adenomyosis. Silakan dishare dan diprint ditempel di kulkas. Biar gak lupa! 🙂

diet tepat penderita adenomiosis infographic

(Kalau lihat list di atas, wah kok banyak ya?)

Saya baru mempraktekkan separoh, seperti memang sudah jarang sekali makan daging merah, tidak konsumsi gula, tidak makan nasi putih, tapi saya masih kuat minum kopi dan konsumsi tahu tempe. (Dan yeah kadang masih suka jajan junk food.)

Saya juga mengkonsumsi beberapa vitamin, salah satunya Vitamin D3 (5000iu/125mcg) Infused with Coconut Oil ~ Non-GMO & Gluten Free (360 Mini Liquid Softgels) karena meskipun kita punya banyak matahari, tapi seperti halnya orang Indonesia, suka malas berjemur karena terlalu panas, atau kadang tidak sempat. So, vitamin D perlu ya.

Ramuan Alami untuk Mengurangi Nyeri Saat Haid

Dalam artikel ini juga saya akan membagikan resep ramuan alami dari teman-teman sesama adenomyosis warrior, ini sudah dicoba dan dipraktekkan untuk mengurangi gejala seperti nyeri luar biasa saat haid. Siapa tahu bisa memberikan efek yang sama juga buat pembaca. 🙂

  • Srigati Putri (33 thn), “Penderita adenomyosis dengan ukuran 5 cm, sudah operasi Agustus 2019. Minum madu Zuriat pagi dan malam setiap hari. Haid jadi gak sakit, bisa aktivitas normal.”
  • Dewi Darma (37 thn), “Penderita adenomyosis 4cm dan juga endometriosis sudah mengalami perlengketan, sudah operasi Agustus 2017. Minum rebusan sereh, kunyit, jahe, ditambah jeruk nipis + madu , ke badan enak + bisa nurunin BB sampai 10kg an selama rutin minum, berhubung sibuk ga sempet bikin2 lagi, sekarang beralih ke Habbatsauda, pagi 3 kapsul malam 3 kapsul, dari PMS sampai kelar haid, juga menghindari makanan pedes. Alhamdulillah mengurangi rasa nyeri, dan bisa beraktivitas.”
  • Rini Arisanti (38 thn), “Penderita adenomiosis, endometriosis dan kista. Operasi laparatomi tahun 2020 diangkat saluran ovarium kiri karena adeno sudah mengeras. Pagi minum madu dan juice seledri pas perut kosong dan malam minum ramuan jsr ultimate (irisan jahe, kunyit, sereh yagn diseduh dengan air hangat ditambah jeruk nipis dan madu secukupnya), ramuan untuk mengurangi rasa sakit minum infuse water jahe dan kayu manis.”
  • Putri Shirai, “Saya minum seduhan kunyit putih dicampur madu, kunyit putih berguna untuk membunuh sel-sel abnormal. Alhamdulillah adeno sudah nggak ada.. Haid pun udah nggak sakit cuma pegel di pinggang aja, masa ovulasi juga nggak sakit lagi.
  • Maria Tumanggor, “Bikin ramuan kunyit asam, lumayan mengurangi rasa sakit saat haid.”
  • Christina Ria, “Minum rebusan dengan komposisi berikut: temulawak, kunyit, jahe merah, serai, gula Aren (bukan gula merah), air utk merebus disesuaikan sesuai kebutuhan (kalau saya pakai 5 rantang untuk distok di kulkas). Setelah dicuci bersih, temulawak, kunyit, jahe merah, kupas kulitnya & parut halus. Serai hanya digeprek aja. Rebus semua bahan tersebut menggunakan air. Gula aren sesuai kebutuhan sebagai penghilang rasa pahit setelah bahan direbus nanti rasanya agak pahit ketir gitu. Minum 2 kali sehari pagi setelah sarapan & malam mau tidur.”
  • Notie Ayu, “Saya rajin makan alpukat dan kurma sebelum haid. Alpukat 1 buah dan cemilin kurma, setelah itu rasa sakit jadi berkurang padahal biasanya sampai malam tidak bisa tidur saking sakitnya.”
  • Nur Hanifah, “Saya mau share setelah mencoba konsumsi air kelapa muda yang masih lendir, kurma 3 butir dan kunyit sejempol di blender sampai halus. Alhamdulillah setelah konsumsi selama hampir 2 minggu perut terasa lebih nyaman. Minum setiap pagi sebelum makan/saat perut kosong.”
  • Saya? Resep saya, minuman hangat rebusan kunyit dan jahe saja, dicampur dengan teh. Minum dua kali pagi sore seminggu sebelum haid. Kadang ngaruh, kadang enggak. 🙂

So, segitu dulu sharingnya. Semoga kita semua selalu sehat, tetap semangat berjuang untuk kesembuhan. Bila Anda penderita adenomyosis dan ingin mendapatkan teman saling support dan ingin, mari join Adenomyosis Warrior.

Salam saya,

-ZD-

 

TehSusu may earn a commission when you buy through links on our site.

by

About Zizy Damanik Passionate in traveling, photography, and digital content. I have a professional experience as a digital marketer and social media strategist at Telco and OTT. Drop your email to zizydamanik22@gmail.com to collaborate.

3 thoughts on “Hidup Dengan Adenomiosis

  1. Pingback: Menjaga Tubuh Tetap Sehat selama Pandemi COVID-19 dengan Essential Oil | Life & Travel Journal Blogger Indonesia

  2. Pingback: Bahan-bahan Yang Bisa Jadi Campuran Kopi | Life & Travel Journal Blogger Indonesia

  3. Pingback: Saya Sudah Putus dengan Adenomyosis | | Life & Travel Journal Blogger Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *