Cara Mengatasi Kecemasan dan Membangun Hasil Positif

Sudah awal tahun lagi. Bagaimana kabar pembaca dan perasaannya sejauh ini? Seperti banyak dari pembaca TS, saya juga merasa frustrasi, cemas dan tersesat sepanjang tahun 2021 kemarin. Tidak pernah terpikir bahwa pandemi akan berlangsung sampai sejauh ini.

Sejujurnya, dua tahun terakhir 2020 dan 2021 buat saya itu seperti lewat begitu saja. Seperti  tidak pernah terjadi, dan tak pernah dijalani. Sampai susah diingat apa saja yang terjadi kemarin-kemarin.

Tapi meski demikian saya masih di sini, minimal di bulan Desember kemarin saya dan anak saya juga menghabiskan waktu liburan. Dan di tahun ini, saya berusaha untuk menyeimbangkan dengan benar kehidupan pribadi dan profesional saya (eh memangnya masih ada ya?) untuk bisa membantu mengatasi kecemasan berlebih ini.

mengatasi kecemasan dan membangun hasil positif

Cara Mengatasi Kecemasan dan Membangun Hasil Positif

Sedikit mengingatkan, kecemasan adalah emosi yang ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan perubahan fisik seperti peningkatan tekanan darah. Orang dengan gangguan kecemasan biasanya memiliki pikiran atau kekhawatiran mengganggu yang berulang. Mereka mungkin menghindari situasi tertentu karena khawatir. Mereka mungkin juga memiliki gejala fisik seperti berkeringat, gemetar, pusing atau detak jantung yang cepat.

Baru-baru ini saya membaca literasi tentang tips bermanfaat bagaimana mengelola kesehatan mental keluarga. Saya menemukan bahwa ternyata sangat penting untuk orang tua menghindari penggunaan bahasa yang pesimis terhadap anak, seperti, “Anak saya gak mungkin bisa ngerti,” atau “Sepertinya anak saya tidak akan pernah.”

Saya baca data di Adaa.org bahwa 40 juta orang dewasa di Amerika Serikat menderita gangguan kecemasan, dan hanya 39% dari mereka memutuskan untuk melakukan pengobatan. Kemudian di Indonesia sendiri ada lebih dari 19 juta penduduk berusia di atas 15 tahun yang mengalami gangguan mental emosional.

Itu sebabnya mengapa penting bagi orang tua untuk benar-benar memeriksa bagaimana kita mencontohkan kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas saat menghadapi kecemasan untuk anak-anak kita.

Berikut ini panduan manajemen emosi yang dirangkum dari berbagai sumber.

3 keterampilan manajemen emosi untuk orang tua

1. Kemampuan bertoleransi terhadap ketidakpastian

Kita mungkin tahu apa yang mungkin terjadi, namun kita harus bisa mengelola emosi dan tindakan dengan cara yang sehat ketika hal-hal tidak berjalan seperti yang kita rencanakan. Banyak orang tua yang tidak menyadari hal ini atau terlambat sadar. Saat orang tua selalu memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, itu adalah tanda keluarga yang cemas.

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti itu, mungkin saja nanti akan mengalami kesulitan dengan perubahan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan duduk bersama di meja makan dan membicarakan hal-hal tak terduga yang terjadi hari itu, dan saling berbagi bagaimana setiap anggota keluarga mengelola emosinya.

2. Pemecahan masalah secara mandiri

Anak-anak yang tinggal di lingkungan yang penus kecemasan dapat kekurangan keterampilan pemecahan masalah secara mandiri. Dan ini bisa menjadi sangat bermasalah selama pandemi karena semua orang tinggal lebih dekat satu sama lain. Anak-anak, khususnya remaja akan sangat membutuhkan ruang mereka sendiri untuk memecahkan masalah secara mandiri. Orang tua perlu ada di pinggir arena saja dan membiarkan anak-anak mencari tahu sendiri solusi untuk masalah mereka.


Editor picks:

  1. Peaceful Parenting untuk Remaja
  2. Menjadi Orang Tua yang Supportif Bagi Anak

Dalam keluarga yang cemas dan stress, anak-anak cenderung menganggap dunia sebagai tempat yang lebih berbahaya. Ini sebagian besar disebabkan oleh fakta bahwa orang tua saat ini terlalu reaktif terhadap perubahan yang sebenarnya normal saja (dan saya pun menunjuk diri saya sendiri). Terutama dengan pra remaja dan remaja. Orang tua perlu menormalkan ketidaknyamanan, ketidakpastian, pemecahan masalah. Dalam pengertian yang paling sederhana, otonomi adalah tentang kemampuan seseorang untuk bertindak berdasarkan nilai dan kepentingannya sendiri. Keterampilan ini mencakup kemampuan untuk bernalar, menghargai sudut pandang yang berbeda, dan berdebat dengan orang lain. Otonomi dan pengambilan risiko adalah hal yang wajar karena ini adalah bagian alami dari kehidupan.

Saya paham, sulit rasanya membiarkan anak mencari tahu sendiri harus bagaimana ketika mereka melewati masa-masa sulit. Seperti masalah persahabatan atau ketika patah hati. Saya sendiri tak pernah mau mengorek-ngorek masalah anak saya kecuali dia yang bercerita sendiri. Dengan membiarkan mereka mengalami hal-hal seperti masalah di atas, dan melewatinya akan memberi mereka keterampilan yang tak ternilai yang akan terbayar dalam jangka panjang.

Benar, ada banyak ketakutan dan proyeksi yang terjadi saat ini karena pandemi dan banyaknya berita buruk di media. Namun sangat penting untuk memberi anak-anak kita keterampilan untuk memecahkan masalah dan melewati kesulitan daripada panik.

Otak yang cemas sulit membayangkan hasil yang positif. Jadi, bagaimana sebaiknya kita berbicara tentang harapan selama pandemi ini? Salah satu cara mewujudkan harapan dalam keluarga kita adalah dengan membayangkan bagaimana nanti kehidupan setelah pandemi ini berakhir. Buatlah papan visi dan misi, buat bucket list juga. Mau kemana nanti di 2022 ini? Apa saja harapan dan target di 2022? Dst.

mengatasi kecemasan dan berpikir positif

Saya yakin pembaca juga sudah mulai melakukan itu. Karena dengan melakukan hal di atas, kita bisa menghasilkan keterampilan memproyeksikan secara positif ke masa depan. Ingatkan pada diri sendiri, bicarakan dengan anak-anak kita tentang hasil positifnya.


 

Sharing is Caring

by

About Zizy Damanik Passionate in travel, photography, and digital content. Drop your email to hello@tehsusu.com to collaborate.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *