November Rain di Danau Toba

Katanya, berilah hadiah pada dirimu sendiri. Sekecil apa pun, meski bukan barang, meskipun hanya perhatian atau sebuah treatment kecil, jangan lupa untuk menghargai diri sendiri.

It’s November right? Ini adalah bulan kelahiran saya, dan hari ini usia saya sudah lebih tua 1 tahun 10 hari.

Bicara soal memberi hadiah pada diri sendiri, minggu lalu saya baru kembali dari Pematang Siantar. Papi saya juga berulang tahun di November, dan karena beliau tahun ini berusia 70 tahun, maka ini menjadi momen di mana saya ingin berada dekat dengan beliau di hari spesial ini. Pergi ke Siantar sendiri, tanpa Nona Vay karena kebetulan di tanggal yang sama Nona Vay ada choir competition. Agak merasa bersalah tentu saja, karena tidak mendampingi Vay saat competition, tapi memang susah ya kalau harus memilih. Info kompetisi ini datang belakangan, sementara niat ke Siantar sudah dari jauh-jauh hari. Meski saya tahu Vay kecewa, namun saya yakin dia tulus dan ikhlas ketika saya katakan bahwa maminya juga rindu sama opung dan omanya, kan lama gak ketemu. Kalau ketemu Vay bisa tiap hari, kan?

Jadi selama di Siantar, setelah menghabiskan waktu bersama opung dan omanya Vay, lalu saya ke mana? Melipirlah saya ke Parapat, ingin melihat Danau Toba di kabupaten tercinta kami, Simalungun. Kapan lagi ya kan? Kalau mudik pas lebaran, pergi ke Parapat dari Medan itu namanya cari mati. Mau liburan dan piknik tengah jalan? Lha wong lebaran kemarin saja, sepupu saya mau menyeberang ke Pulau Samosir saja, harus mengantri naik kapal dari jam 2 siang sampai jam 9 malam.

Meski sudah sering mengunjungi Danau Toba, tapi saya gak pernah bosan menghitung waktu dan jarak ketika mobil mulai berbelok keluar dari kawasan hutan, dan terpampang nyata di kejauhan Danau Toba yang luar biasa itu. Kereennn….! Seperti menemukan harta karun tersembunyi. Mungkin jaman dulu kayak begitu ya, kan belum ramai. Kalau sekarang memang masih seperti harta karun yang tersembunyi, tapi jalannya sudah lebih bagus tentu saja. Di beberapa ruas jalan pun sudah ada yang diperlebar. Kemarin itu mendadak hujan deras saat kami dalam perjalanan ke Danau Toba, tapi untungnya begitu masuk ke wilayah Parapat, hujan reda. Meskipun kami terpaksa harus melewati jalan yang baru saja kena longsor akibat hujan tadi.

Danau Toba tidak berubah. Tetap cantik. Tetap mempesona. Tetap cool. Tetap mistis. Meski di tepian airnya keruh dan yeah masih banyak kotoran, tapi ya karena hanya itu yang bisa dijangkau oleh mata manusia. Kalau mau mengelilingi Danau Toba, maka yang kotor hanya sekian persen saja, istilahnya.

Mampir di Inna Hotel (tempat ini masih menjadi tempat favorit saya sampai sekarang). Bukan musim liburan jadi suasana hotel sepi adem ayem. Eh ada yang berubah ternyata di Inna. Sekarang taman bunganya lebih berwarna, dan sedang mengembang semua. Kemudian gazebo-gazebo sedang dicat ulang. Plus sudah ada corner “Gembok Cinta” yang baru berisi lima gembok. Sepertinya gembok pancingan untuk pengunjung, karena saya lihat jenis gemboknya sama, tulisannya pun sama. Inna sedang persiapan menyambut libur akhir tahun, nih.

Yang juga tidak berubah tentu saja adalah monyet-monyet penghuni hutan sepanjang jalan ke Parapat. Sepertinya jumlahnya sekarang tambah banyak, di beberapa belokan ketemu gitu gerombolan monkey yang duduk santai di pembatas jalan, berharap belas kasih makanan dari pengendara. Saat dalam perjalanan kembali ke Siantar, saya menyempatkan diri membeli dua sisir pisang yang sudah bonyok, untuk dikasih ke monyet-monyet.

Eh iya, ada seekor monyet yang memandang curiga ke saya, sambil kepalanya goyang-goyang. Saat saya mengikuti gerakan kepalanya, eh dia kabur, hahah…

Just a short escape, tapi lumayan menghibur. Pulang dari Parapat, di Siantar saya langsung beli roti bakar di Kedai Sedap yang legend itu!

Eniwei, ada yang bisa menemukan dengan tepat lokasi tebing tempat saya berfoto? Kalau ketemu saya traktir makan roti bakar di Kedai Sedap! 🙂

-ZD-

Related Post

Oleh-oleh Mudik 1 : Lebaran di Siantar Akhirnya online juga. Sebenarnya sih waktu mudik kemarin kita bawa laptop, tapi karena ternyata selama disana saya ngurusin Vay terus -- yang ngintil aja kemana maminya pergi -- alhasil tidak sempat mengupdate berita lebaran selama mudik. Hanya sempa...
Diving di Bounty Site Mungkin pada bertanya-tanya, kenapa saya mendadak jadi ikutan diving ya, padahal selama ini gak ada cerita apa-apa. Jadi ceritanya begini. Ini agak panjang, nih ceritanya, dan merupakan experience berharga, bagi yang memang nanti ingin serius bela...
Day 5 : aKhiRnya tiba di MeDan Medan, 25 Feb 2007 16.40wib I missed my bed I missed my music I missed my notebook I missed my Black G (bcoz I saw so many Getz in Perth) I missed my AC I missed my office desk I missed everything in Me...
Gembok Cinta di Namsan Seoul Tower Ada satu tempat di Korea yang disebut sebagai tempat paling spesial bagi pasangan yang sedang jatuh cinta. Karena orang-orang di Korea Selatan dikenal sangat menyukai hal-hal yang serba romantis, maka tempat ini pun menjadi salah satu tempat pali...
Belajar jadi Chef di Young Chef Academy Kalau weekend tiba, orangtua kadang suka bingung mencari kegiatan apa lagi untuk anak, yang bermanfaat dan bisa menambah wawasan anak. Ingin ke luar kota, harus siap berkorban untuk perjalanan yang melelahkan. Rekreasi di dalam kota adalah pilihan, n...

by

About Zizy Damanik | A Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

6 thoughts on “November Rain di Danau Toba

  1. Belum pernah ke Medan mbak akunya, pengen seh. Soalnya sekarang ada penerbagan Pontianak-Batam-Medan. Jadi gak perlu ke Jakarta dulu. Soalnya tiket PNK-CGK itu mahal banget gak ketulungan.

  2. waah .. nggak bisa nebak tebing tempatmu berfoto
    ke Parapat rasanya sudah jaman dahulu kala, kepengenlah balik lagi ke sini

    Vay baik hati banget kasih ijin mami nengok opung, kirim salam buat Vay yang cantik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *