Cerita Baru Tentang Vay: Hobi Nelpon dari Sekolah

Sejak saya tidak bekerja 9 to 5 kantoran, Vay jadi hobi sekali menelepon saya dari sekolah. Meneleponnya bukan dari handphone karena dia memang belum saya izinkan bawa handphone ke sekolah, tapi nelpon dari ruang guru.

Nelponnya ke nomor handphone saya pula, makanya saya suka merasa gak enak gitu. Ini nanti biaya pstn di sekolah Vay jadi mahal deh gara-gara sering dipakai nelpon ke nomor seluler orang tua murid. Hehe…

Biasanya Vay nelpon saya untuk melaporkan hal-hal kecil yang dia tak sabar ingin segera disampaikan ke maminya. Mulai dari pertengkaran kecil dengan teman yang membuatnya uring-uringan hingga butuh curhat segera, sampai soal lainnya.

Seperti:

“Mami, tebak skor math Vaya.”

“Hmm. Delapan puluh.”

“Salah.”

“Delapan lima?”

“Salah.”

“Tujuh puluh?”

“Hmmpph…”

“Jadi berapa?”

“Vaya dapat seratus!”

“Wowwww…. Kok bisa? Hebat! Selamat ya.”

Lalu lain waktu lagi:

“Mami, Vaya remed. ME.” ME itu moral education, istilah untuk pendidikan agama.

“Haa? Dapat berapa?”

“Lima puluh tiga.”

“Hmm.”

Lalu setelah dia ujian ulang dan nilai test ME-nya dapat 82, dengan bangga diceritakannya ke saya langsung pas pulang sekolah.

Lain waktu lagi:

“Mami, Vaya tuh bawa uang gak sih?”

“Periksalah Dek di dompet make up.” Jadi, di tas sekolahnya itu ada pouch kecil berisi sisir, bedak baby compact, minyak kayu putih, dan tisu. Disebut dompet make up dong ya..

“Cuma ada seribu.”

Hahahahaa… saya ngakak. Dia pasti mendadak pengen beli sesuatu dan ternyata gak ada uang di tasnya.

Maklum ya, Vay sejak mulai sekolah sampai sekarang selalu bawa bekal dari rumah, jadi dia gak pernah merasa perlu bawa uang cash di tas. Kalau dia lagi pengen makan di kantin, baru dia minta uang. Tapi seringnya sih gak bawa uang jajan, karena dia takut uangnya keselip. Vay lebih suka hemat uang jajan, karena mau dia pakai beli pernak-pernik pas weekend.

Saya tuh sering nanya, “Dek, kok bisa bebas banget pakai telepon di ruang guru? Memang gpp?”

Dan dia jawab, “Gpplah, kan Vaya bilang mo telepon Mami.”

Ya tapi kan gak tiap saat juga. Perasaan saat saya sekolah dulu, masuk ke ruang guru aja mikir beribu kali. Kalau perlu jangan ada ketemu guru deh selain jam pelajaran.

Terakhir, ada telepon lagi dari sekolah. Vay lagi.

Suaranya datar, tenang. Saya pikir ada apa, apakah dia sakit.

Dia bilang, “Mami, Vaya dapat golden ticket.”

“Golden ticket?” Saya bertanya balik karena belum ngeh apa yang dia maksud. Bayangan saya tiket untuk dance karena memang ada performance dance di sekolahnya.

“Iya, golden ticket dari Highfield.”

Wowwww….! Kaget, senang dan terharu saya. Ternyata golden ticket yang dimaksud adalah tiket untuk dapat langsung masuk Highfield Kinderfield tanpa harus mengikuti tes tertulis lagi. Nantinya siswa hanya akan mengikuti tahap interview saja.

Padahal sejak masuk tahun baru kemarin, saya selalu remind dia untuk konsisten belajar menjaga nilai-nilainya (terutama Math dan English), siapa tahu bisa masuk lis siswa yang tak perlu ujian lagi. Alhamdulillah, rejeki Vay. Selama sekolah lima tahun di sini memang skor Vay tidak selalu best score. Turun naiklah, tergantung niat belajarnya memang.

Tinggal saya dan ayahnya saja ini mikir, apakah akan lanjut di sekolah ini lagi atau coba sekolah lain. Tapi kalau tanya ke Vay sih, dia bilang dia tetap mau di sekolah ini, karena sudah nyaman dengan lingkungannya, dan teman-teman dekatnya juga melanjutkan di sini.

Yeah, let see ya….

-ZD-

by

About Zizy Damanik | A Passionate Traveler and Photographer | Coffee Lovers | Beach Addicted |

4 thoughts on “Cerita Baru Tentang Vay: Hobi Nelpon dari Sekolah

  1. haaii vay…. kangen udah lama ngga mampir ke sini..
    anakku juga kaya vay.. ngga terlalu perlu uang cash buat sekolah karena selalu bawa bekal..

    • Zizy

      Hai Mbak Nike…
      Iya, yg penting buat dia sih ngobrol dan main sama temennya. Jadi jajan itu bukan prioritas buat sekarang ya.

    • Zizy

      Iya makanya kok bisa gitu dia terus2an nelpon dari ruang guru.
      Kayak yang punya ruangan aja. LOL.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.