Nguping Kata Orang Aceh di Warkop Elizabeth Medan

Spread the love

Clue: Ini adalah postingan lama di blog satu lagi yang sudah kututup. Jadi saya posting di sini untuk menyimpan semua memori cerita dan buah pikir :). Postingan asli dulu tahun 2009.


Warkop Elizabeth

Hmm..

Aku tahu, makan mie rebus itu gak sehat. Tapi aku pikir, orang lain aja makan, masa aku gak boleh menikmati? Sesekali boleh kan ya. Ada satu tempat favoritku dan teman-teman, untuk nongkrong malam habis ngantor, ato nongkrong habis dugem jam 2 pagi. Namanya Warkop Elizabeth. Eh iya ini cerita lamaku sewaktu masih di Medan.

Disebut Warkop Elizabeth karena letaknya di depan RS Elizabeth Medan. Sebenarnya sih, di sisi seberangnya ada lebih banyak lagi warkop berjejer, yang lebih dikenal dengan nama Warkop Harapan. Cuma kita lebih nyaman di Warkop Elizabeth, lebih sepi, jadi gak terlalu menarik perhatian kalo pulang clubbing dalam keadaan sedikit tipsy.

Just info. Warkop di Medan biasanya yang jualan itu orang Aceh. Jarang orang batak, apalagi orang Jawa. Gak tahu juga kenapa, tapi aku pikir mungkin karena sudah turun temurun ya. Selain jualan nasi kucing, mie rebus or mie goreng, so pasti jualan aneka minuman hangat. Mau kopi, milo, teh, susu, teh susu, semua ada. Khusus yang segar hanya ada air jeruk, ini andalan utama buat mereka yang jackpot habis teler, minum air jeruk hangat biar perutnya enak.

Yang mau aku ceritakan adalah satu kejadian lucu di warkop Elizabeth ini. Ceritanya waktu itu aku dan sahabatku Utie lagi ngopi dan ngindomie habis pulang kantor, sekitar jam 6 sorelah. Kita nongkrong di warkop langganan, dan kebetulan sekali waktu itu di bangku sebelah, ada dua abang-abang Aceh (tahulah kami itu orang Aceh, percuma anak Medan kalo gak tahu yekan?) yang  sedang ngopi-ngopi juga. Yang satu gendut agak pendek, satu lagi sedang tapi tinggi.

Melihat kami berdua duduk di warkop itu juga, keduanya langsung bergosip dengan bahasa Aceh. Mereka berdua sama sekali gak sadar kalau sebenarnya ada di antara kami berdua ini yang mengerti bahasa Aceh. Utie itu orang Aceh asli lho (namanya udah pake Cut) dan so pasti dong dia ngerti sekali apa yang mereka omongkan (tidak seperti aku, yang gak bisa bahasa daerah asal kedua orangtuaku).

Nah.

Yang satu bilang begini, “Maakk… cantek-cantek kaliiiilah orang ni. Kalo aja ada satu macem ni di rumah, gak keluar-keluar aku dari rumah tu…” Yang dibalas dengan temannya, “Tengoklah bibirnya, baru kali ini aku liat bibir kilat-kilat macam tu…”

Tapi kami berdua santai saja, menahan senyum setiap kali Utie jadi penerjemah, dan terus ngobrol sambil makan mie rebus. Sambil tetap pasang kuping juga.

Sampai ketika tiba saatnya mau pulang, temanku  dengan sengaja memanggil si abang warkop begini (correct me if i’m wrong, soalnya dah gak ingat lagi): “Padum bandum, bang..” yang artinya kira-kira : “Berapa Bang semua?” Can u imagine gimana wajah terperanjat dua abang-abang Aceh tadi? So pasti shock berattt…!! Hahahaha…

Well, at least kita berdua jadi tahu, dong…

Ohh… ternyata cowok-cowok kalo ngomongin cewek tuh begitu yaa… 🙂

-ZD-

by

About Zizy Damanik Passionate in traveling, photography, and digital content. I have a professional experience as a digital marketer and social media strategist at Telco and OTT. Drop your email to zizydamanik22@gmail.com to collaborate.

2 thoughts on “Nguping Kata Orang Aceh di Warkop Elizabeth Medan

  1. Pingback: Menghitung Waktu | Life & Travel Journal Blogger Indonesia

  2. Pingback: Makan Nasgor Pake Emosi | | Life & Travel Journal Blogger Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *