VAY: Drama dan Nilai Setelah 3 Bulan Pembelajaran Jarak Jauh

Spread the love

Halooo Bu Ibu apa kabarnya so far selama PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh)? Banyak drama gak, lancar gak, banyak bantuin gak? Haha… saya sih termasuk ketiganya.

siswa saat pembelajaran jarak jauh

Pastilah ada drama kalau namanya PJJ

Jadi ya, selama pembelajaran jarak jauh dua bulan pertama kemarin, masalah yang paling sering dihadapi oleh Vay adalah soal submit assignment di Google Classroom. Masalahnya, dia bilang dia sudah submit, tapi kemudian dikembalikan oleh gurunya, disuruh kirim ulang. Tapi ketika filenya dicari, tidak ketemu.

Baca juga: Semua yang Perlu Diketahui Orang Tua tentang Google Classroom. Biar Gak Stres Saat Dampingi Anak Belajar

Ini lumayan bikin saya dan Vay jadi bertengkar, karena sepemahaman saya kan kalau tugas sudah dikerjakan, maka pastinya akan di-scan lalu disubmit. Seperti membuat mind map yang harus digambar di kertas. Nah file hardcopy-nya saja tidak ada, lalu apa yang mau disubmit ulang? Sama saja dengan bikin baru kan. Vay juga bingung itu tugas yang mana yang dia belum kerjakan, nah kan? LOL.

Drama lainnya adalah assignment math, kertas sudah difoto dan disubmit tapi extention file beda sehingga di sana tidak bisa dibuka, jadi ketika harus resubmit, dan melewati batas waktu, akan dihitung “missing”.

Saya sempat menyampaikan ini ke wali kelasnya, apakah ada proses penyeragaman untuk para guru, sehingga anak-anak tidak bersalah-salahan saat submit. Seperti, kalau bikin tugas tidak langsung di .DOCS tapi anak-anak download dulu dan nanti submit .PDF. Saya cukup rewel sih urusan ini, soalnya kan kasihan anak kalau sudah mengerjakan tugas tapi kemudian ketika gurunya baru cek dua hari kemudian, filenya tidak ada, lalu anak harus bikin ulang lagi.

Tapi karena memang tiap guru punya cara beda-beda, ya sudah akhirnya solusinya ya harus kita cari sendiri. Sekarang semua assignment apapun itu, Vay harus export ke .PDF dulu, atau kalau pakai foto dan tidak sempat export karena masalah waktu (biasanya ini kalau mereka ada chapter test) maka sebelum dia klik “mark as done” atau “submit” pastikan file-nya bisa dibuka alias kelihatan gambarnya.

Drama lainnya adalah kelakuan Vay yang tidak pernah mau menyalakan kamera dan kalau menjawab seringnya pakai text chat. Jadi sering dikira away. Ini asli bikin saya marah-marah dong, soalnya guru-gurunya laporan ke wali kelas, terus wali kelasnya tanya ke saya. Alasan Vay, dia gak mau orang lihat muka dia.

Lah! Nanti kalau sudah masuk sekolah offline kan tetep harus kelihatan juga mukanya? Bagaimana nanti gurunya bisa kenal yang mana dia kalau tiap sekolah, dia cuma kasih lihat jidat ama rambut aja di kamera.

Namun saat beberapa waktu lalu IPTM dengan guru kelasnya langsung 1 on 1, udah saya sampaikan tuh konsen-nya Vay dan wali kelasnya ketawa-ketawa dong. Dan akhirnya wali kelasnya agak mencair juga, karena ya namanya anak-anak beda-beda ya, dan yang penting kalau concern dari guru-guru adalah, asalkan anaknya paham dengan penjelasan aja, gitu. Ya begitulah suka duka pembelajaran jarak jauh yaaa….

Lalu hasil nilai term 1 bagaimana?

So far so so, hahah…. Oke, jadi sepertinya tidak jauh beda dengan saat masih di SD ya. Yang kurang dari Vay itu Social Studies, kayaknya susah betul dia hapalan. Lalu sekarang sudah SMP, tidak pakai skor nilai lagi, tapi pakai skor grade. A, B, C, D. Social Studies ya pastinya D. LOL. 

Kalau Math, dulu kan saat Primary Vay selalu bilang itu subject favoritnya. Tapi sekarang dia bilang dia sudah bosan, gak suka lagi pelajaran Math, karena katanya ya itu terus dipelajari. LOL. Yaaa, gimana, kan memang SD SMP masih mempelajari dasar dulu. Benci Math tapi masih dapat B, syukurlah. English jadi C, dan Science B.

English Literature, dapat C. Ini memang subject baru, jadi sepertinya anak-anak masih meraba-raba seperti apa Literature ini. Vay cerita dia dan beberapa temannya saling curhat soal susahnya Literature.

Jadi so far begitulah ceritanya.

Sudah masuk term 2 ini, saya agak mengendorkan pengawasan sih, mau mencoba membiarkan Vay mengatur sendiri waktunya untuk kapan-kapannya dia bikin pe-er. Tapi kayaknya masih harus diingetin juga sih, soalnya kalau udah selesai jam sekolah, dia kan biasanya langsung pegang hape, cek DM, atau cek WA dari teman-temannya. Tapi suka keterusan, dan lupa kalau ada pe-er.

remaja lagi chill

Kalau saya ingatkan, Vay sambil tetap berbaring di sofa dan mata tidak lepas dari screen ponsel, menjawab begini, “Iyaa nanti malam Vaya kerjain. Ini Vaya mau chill dulu.” Tapi ya gitu, chill-nya suka bablas. 🙂 Sampaiiii malam dia udah buka laptop, tetep aja masih asyik ngobrol sama temennya, lalu pe-ernya entah kapan dikerjakan.

Tapi ya begitulah ya, namanya juga anak sudah masuk pra-remaja. Mamak harus banyak-banyak sabar. 🙂

-ZD-

by

About Zizy Damanik Passionate in traveling, photography, and digital content. I have a professional experience as a digital marketer and social media strategist at Telco and OTT. Drop your email to zizydamanik22@gmail.com to collaborate.

3 thoughts on “VAY: Drama dan Nilai Setelah 3 Bulan Pembelajaran Jarak Jauh

  1. Mbak zy, untuk SMP Kinderfield berapa mata pelajaran yang diajarkan?

    Wah tapi seru ya mbak nilainya D to A gitu gak pake angka lagi.

    Tapi beneran ya anak SMP pasti ngawasin sekolahnya lebih ribet ya mbak, karena udah ada maunya sendiri. Kalau si K kan tinggal disuruh sama-sama ngerjain PRnya, submitnya juga masih aku yang kirim ke guru dan guru masih komunikasinya ke orang tua bukan anak. Walaupun aku udah ajarin cara upload dan ngerjain tugas sendiri seh, mau tau sampai mana dia pahamnya gitu 😀

  2. Pingback: Cerita tentang Vay Saat Tes Lisan Bahasa Indonesia | Life & Travel Journal Blogger Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *