Tahun Pandemi Membuat Saya Makin Dekat Dengan Si Boru

“Mami, Mami… jadi kan…. Tadi tuh!”

Sebentar lagi sudah mau sekolah tatap muka full ya. Saya rindu dengan panggilan di atas bila anak saya nanti sudah masuk sekolah normal lagi. Kemarin-kemarin saat masih masuk sekolah dua minggu sekali, cerita-cerita dari Vay saat pulang sekolah selalu saya rindukan. Seperti siapa yang saat di kelas paling berisik, atau hal-hal kecil lainnya.

Saya sudah gak sabar mendengarkan hot gossip dari sekolah menengah, dan semua itu hanya bisa didapatkan ketika anak kita sudah masuk sekolah secara normal. Pasti. Saya rasa semua parents percaya bahwa percakapan langsung face to face jelas lebih bermakna ketimbanga percakapan via text saja.

Tahun pandemi membuat kita semua jadi bersama-sama

COVID-19 memang merubah semua tatanan normal masyarakat kita dan jelas itu menghambat perkembangan sosial anak saya. COVID-19 menghentikan kegiatan bersekolah, pergi ke mal, menonton flm atau makan di luar. Meski sekarang perlahan sudah kembali normal dan kami sudah mulai pergi menonton ke bioskop lagi, 

Tapi ada sisi lain dari kejadian ini. Pandemi, meski menyiksa, juga berarti anak-anak mendapat tambahan tahun untuk bersama-sama dengan keluarga. Kita sepakatlah bahwa tahun-tahun kelas tujuh kelas delapan seharusnya adalah tahun dengan kehidupan sosial yang luar biasa jika anak-anak bisa pergi ke sekolah tatap muka sepanjang tahun, bergabung dengan komunitas dan klub di sekolah, dan tumbuh menjadi remaja seperti yang kita dulu lakukan sebelum mereka.

blog parenting

Karena saya harus mengisi kesenjangan sosial itu dengan menghabiskan waktu bersama putri saya, hubungan kami saat ini jadi lebih dekat daripada sebelum-sebelumnya, dan lebih dekat daripada dalam keadaan normal.

Anak saya mendapatkan hampir dua tahun ekstra, tambahan masa kanak-kanak (haha) karena dia jadinya jauh dari tekanan gosip, tekanan pergaulan super keren, dan di sisi lain saya juga mendapat tambahan tahun untuk melayani dia lagi seperti anak kecil.

Meski anak saya selalu teriak, “Vaya bisa!” setiap kali saya terlalu berlebihan, saya tetap pura-pura lupa.

Sebentar lagi sekolah tatap muka dimulai setiap hari

Anak saya tanya, apakah saya senang bila dia akan masuk sekolah full setiap hari. Tentu saja, kata saya. Saya katakan padanya, saya senang bila kondisi mulai normal karena itu berarti dia akan ada waktu untuk mengganti masa bersosialisasi yang hilang di tahun-tahun kemarin, karena dia harus bisa menikmati masa-masa remajanya dengan benar.

Jujur saya bersyukur setiap hari ada di rumah di tahun-tahun belakangan ini bersama anak saya. Meski anak saya sendiri kadang suka bilang bosan di rumah, atau dia mungkin capek mendengarkan saya mengomel bila dia tidak mengerjakan pe-er, tapi saya lihat dua tahun ini membuat dia jadi terikat dengan saya. Kalau saya keluar dari kamar dengan pakaian rapi, dia langsung bertanya, “Mami mau pergi?” Ada rasa takut kehilangan karena dia akan sendirian di rumah. Haha..

Semangat, semoga kondisi kembali normal namun kedekatan dengan anak remaja kita tetap bisa terjaga.

bounding remaja

 

Sharing is Caring

by

About Zizy Damanik Passionate in travel, photography, and digital content. Drop your email to hello@tehsusu.com to collaborate.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *