Membesarkan Remaja Itu Menantang dan Bikin Sakit Kepala

Semua orang tua tentu tahu betapa sulitnya melewati berbagai fase kehidupan anak-anak.

Saat baru punya anak dan terlibat langsung mengasuh anak, terus terang ya buat saya itu sangat menakutkan, saya takut sekali dengan segala hal kecil. Buta sebagai orang tua dan buta sebagai orang dewasa, dan saya harus mencari tahu fase demi fase dengan berkaca pada cara pengasuhan yang dilakukan orang sekitar, khususnya keluarga. Namun, yang paling unik adalah tentang fase remaja. Semuanya berubah dan anak manis kita telah berubah menjadi orang asing yang sangat moody, bisa dikatakan kayak bipolar, dan berada seatap dengan kita. Rasanya jadi aneh, kenapa mendadak ada orang baru di rumah kita. Mana sih anak kecil yang manis itu?

Remaja baru mulai gede (seperti anak saya di usia 14 tahun saat ini) dapat menjadi sebuah tantangan karena mereka baru memulai perjalanan mereka di masa pubertas, dan mungkin nanti kalau sudah sampai usia 17-18 tahun bisa lebih bikin sakit kepala ya karena mereka merasa tiba-tiba sudah dewasa.

Sebagai orang tua, sebagian besar dari kita mungkin berpikir bahwa oh kita dulu juga begini, jadi kita bisa memberikan sedikit kelonggaran karena kita tahu mereka hanya sedang berusaha mencari tahu sendiri. Saking pengen dianggap gede ni remaja, mereka bahkan sangat mungkin mereka mempelajari satu hal baru karena mereka pikir orang tuanya tidak akan paham dengan hal itu.

parenting remaja

Alasan Kenapa Membesarkan Remaja Bisa Sangat Menantang

Jadi, kita perlu cek alasan kenapa parenting remaja itu bisa menjadi tantangan, dan yang paling penting adalah bagaimana kita sebagai orang tua bisa bertahan.

Penting Buat Mereka untuk Mengikuti Tren

Jika bapak ibu memiliki seorang remaja, mungkin pernah mendengar semua tentang bagaimana anak bapak ibu harus melakukan sesuatu, atau memiliki sesuatu untuk menghindari menjadi “yang tak ternotice” karena menjadi remaja adalah tentang penampilan.

Saya pun pernah jadi remaja sehingga saya tahu betapa pentingnya untuk mengikut tren. Seperti dulu fashionnya sedang tren pakai bandana, saya pun ingin mengikuti. Tren rambut pendek ala Demi Moore (padahal saat itu saya masih smp dan tidak begitu peduli dengan siapa Demi Moore) juga diikuti.

Sekarang, remaja kita juga begitu. Siapa yang paling keren di sekolah? Siapa yang selalu berpenampilan unik dengan hoodie, siapa yang memiliki rambut paling keren, dan pastinya siapa yang paling populer. Meski terus terang ketika anak saya mengatakan bahwa ada satu anak di sekolahnya disebut sebagai populer, saya tidak paham karena menurut saya temannya itu biasa saja, soalnya mereka memang sudah sama-sama sejak SD di situ, dan dia sebelumnya kelihatan biasa saja, tidak pernah dapat skor tinggi, tidak pernah terlibat di event besar sekolah. Saya tanya kenapa dia populer? Kata anak saya, karena dia temannya banyak, dan semua orang di grade bawah juga kenal dia. Ok, saya paham dan saya berusaha paham.

Kebanyakan dari orang tua pasti berusaha untuk menyediakan kebutuhan tren ini untuk anak. Tidak apa-apa sih memberikan mereka apa yang mereka inginkan, asalkan sesuai dengan anggaran. Meski demikian, anak pun perlu diberi pemahaman bahwa memiliki barang yang tren pun sebisa mungkin adalah yang bisa dipakai untuk sekian lama, tidak hanya untuk populer sesaat.

Baca juga:

Hormon Pada Remaja Bergejolak Seperti Ombak Ngamuk!

Kita tahulah bagaimana hormon remaja yang bergejolak, yang ditampillkan dalam bentuk pintu terbanting, barang terlempar, sampai air mata. Setiap kali saya melihat anak remaja saya, saya mengelus dada dan berusaha menggali ke puluhan tahun yang lalu saat saya masih remaja, apakah saya dulu separah itu? Dan saya berusaha mengingat lagi, oke ini hormon dan ini adalah momen parenting yang berharga yang saya dapatkan karena ini hanya bagian dari kehidupan. Bersyukurlah karena saya bisa mendapati momen ini.

Dan saat anak kita sedang dalam momen terluka, bad mood, orang tua agak-agak menjauh sedikit ya, kasih waktu buat mereka menenangkan diri dulu.

Baca juga: 7 Masalah Yang Sering Dialami Anak Remaja

Beberapa Anak (Mungkin Pula Anak Kita) adalah Si Tukang Bully

Salah satu hal tersulit yang harus dihadapi orang tua adalah bullying. Dari dulu pun akan selalu ada masalah seperti ini, dan belakangan ini, berkat teknologi pula, kejadian bullying lebih sering terjadi dan cepat pula diketahui beritanya. Ini memang mengkhawatirkan, sehingga menurut saya penting buat tiap orang tua memilih sekolah yang betul-betul tegas dalam menerapkan anti bullying di sekolah.

Setelah anak remaja, orang tua tak bisa selalu ada untuknya di sekolah. Rasa khawatir akan adanya pengganggu di sekolah yang menekan anak pasti ada, tapi kita harus mempersiapkan mental yang kuat untuk anak kita agar dia bisa membela diri mereka sendiri. Bagaimanapun kelak mereka akan menjadi orang dewasa dengan semua permasalahan kehidupan.

Untuk anak saya, syukurlah circle pertemanan di sekolahnya sangat positif. Dengan jumlah murid yang hanya sekian belas anak, wali kelas jadi lebih bisa berinteraksi lebih dekat dengan anak-anak, sehingga anak-anak juga merasa diperhatikan. Ini hal penting juga, karena biasanya beberapa anak mulai menjadi pembully hanya karena iseng, dan karena tidak mendapatkan perhatian (baik dari orang tuanya atau dari guru).

tantangan membesarkan remaja

Kesimpulan

Remaja itu keras. Keras kepala, keras hati. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Namun dengan mengetahui bagaimana menghadapi mereka, dan bagaimana menangani mereka melewati masa-masa sulit sebagai remaja dalam hidup mereka, orang tua bisa memberi mereka kekuatan yang mereka butuhkan untuk nanti menghadapi masa dewasa mereka.

Sharing is Caring
  • 1
    Share

by

About Zizy Damanik Passionate in travel, photography, and digital content. Drop your email to hello@tehsusu.com to collaborate.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *