Cerita Kampung Kanibal Huta Siallagan

Matahari mulai naik saat kami kembali ke resort pagi itu, setelah selesai dari Tele. Baca postingan tentang Indahnya Sunrise Tele di sini.

Sarapan pagi dulu baru bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke Huta Siallagan. Ya sekalianlah ya jadi wisatawan beneran, biar mengenal budaya.

“Boleh duduk di sini, Bu?” Saya menyapa seorang ibu sarapan seorang diri. Di sebelah meja breakfast memang ada meja makan sangat panjang, dan hanya ada ibu itu saja yang duduk di situ.

“Boleh boleh. Duduklah.” Beliau refleks merapikan gelasnya yang ada di depan saya. Saya meletakkan tas kamera di kursi sebelah, lalu pergi mengambil makanan.

“Dari mana kalian, Dek?”

“Dari Jakarta, Bu.”

“Oh di Jakarta tinggal di mana?”

“Di Duren Sawit.”

“Oh, kalau saya di Bekasi.” Lho! Hahah, ternyata sama-sama wisatawan jauh dan ketemu di sini. “Ada anak saudara lagi pesta, jadi kami ke mari. Baru hari Kamis kemarin kami sampai.”

Oh… saya mengangguk-angguk.

“Boru apa, Dek?”

“Damanik.” Saya menjawab sambil menyeruput kopi sedikit. Ups! Kopinya manis. Langsung saya letakkan kembali. Inilah kan, kenapa sih main langsung bikin manis. Hmm. Emosi jiwa pagi-pagi pengen ngopi tapi dapatnya kopi manis.

“Aku boru Tambak.” Timpalnya sambil mengangguk. Tak lama kemudian Ibu boru Tambak itu berlalu. Saya melanjutkan menghabiskan dua potong roti tawar polos dan telur mata sapi di piring, sebelum kemudian Mbak Hes menghampiri. Mengajak kembali ke kamar untuk bersiap.

Eniwei, ternyata dalam perjalanan mengitari Danau Toba kemarin, bukan hanya saya yang sempat merasa tidak enak badan. Bang Nov dan Bask juga. Bang Nov yang paling kasihan, bolak-balik harus ke belakang karena masalah dengan perut. Bisa jadi pemicunya sama dengan saya, makanan yang dilahap di hari Jumat, yang bikin saya mual dan pusing begitu sampai di Samosir.

Kampung Huta Siallagan

Dalam perjalanan terakhir saya mengitari Danau Toba, bersama rombongan kami  menyempatkan mampir ke sebuah situs sejarah yang bernama Kampung Huta Siallagan yang bertempat di desa Ambarita, kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

Yoi, meskipun judulnya landscaper, acara jalan-jalan santai begini tetap mau dong. Maklumlah, trip si Botou Saragih ini termasuk banyak diikuti mamak-mamak landscaper. Jadi udah jelas kan kalau bawa ibu-ibu itu harus ada kuliner, cuci mata dan shopping. 🙂

“Bun, jadi kita lihat Sigale-gale?” Teriak Botou Saragih ke mamak-mamak di belakang. Sengaja pula dipancing seolah-olah gak jadi.

“Jadi dong… jangan gak jadi.” Saya lupa sih ibu yang jawab ini siapa namanya. Wkwk. Maap yaaa..

“Ah cocoklah, aku udah bawa flash.” Saya menyahut.

“Oh iya, Kakak kan moto model juga ya.”

“Ya kan mumpung ke sini. Mo moto Sigale-gale.”

“Eh, Kakak belom pernah rupanya?”

“Udahlah, tapi udah lama kali, masa-masa kecil dulu.”

Iya kan? Kayaknya terakhir saya jalan-jalan untuk lihat Patung Sigale-gale ini pas masih SMA. *Buseeettt…. jaman kapan itu. Hahah..

Adakah yang sudah pernah dengar cerita tentang kampung ini? Yuk, saya cerita sedikit ya.

Huta artinya kampung, dan Siallagan diambil dari nama marga Siallagan. Dinamakan Huta Siallagan karena kampung ini dibuat oleh orang batak bermarga Siallagan yang kemudian dipimpin oleh Raja Siallagan.

Rumah Bolon dan Ornamennya

Deretan rumah adat Batak atau rumah bolon dapat langsung ditemui begitu saya melangkahkan kaki ke dalam. Siang itu cukup terik, dan kami pun berpencar.

Nah, kalau kita lihat lebih detail, di depan rumah bolon di sini ada beberapa ornamen khas, yaitu topeng dengan ekspresi seram, patung kepala singa, patung cicak dan lambang payudara. Ornamen-ornamen ini ternyata bukan sekadar pajangan biasa tapi punya fungsi sendiri yang dipercaya oleh masyarakat kampung itu.

Patung singa-singa fungsinya untuk menangkal roh jahat. Lalu lambang cicak sebagai binatang yang bisa hidup dimanapun berada melambangkan orang Batak yang bisa hidup di mana-mana. Kuat, tahan banting.

Kampung Huta Siallagan

Sementara payudara adalah simbol kekayaan dan orang dermawan.

Lalu kalau diperhatikan lagi, saat akan memasuki rumah, pintunya itu sangat rendah, sehingga mau tak mau memang harus menunduk. Ini bukan sembarang dibuat, tapi memang dimaksudkan sebagai tanda hormat pada pemilik rumah. Dan pintu yang rendah juga dipercaya dapat melunturkan niat jahat seseorang. Pada jaman dahulu, hal-hal magis masih sangat kental, sehingga perlindungan terhadap ilmu hitam sangat lumrah dilakukan.

Tapi sekarang sebagian rumah bolon ini dipakai jadi tempat pembuatan kerajinan. Saya masuk ke dalam dan menemukan workshop seperti foto di bawah.

Kampung Huta Siallagan

Kampung Huta Siallagan terkenal dengan ceritanya sebagai kampung kanibal. Ceritanya, pada masa raja-raja dulu, bila ada orang yang dijatuhi hukuman adat karena terbukti melakukan tindakan kejahatan, maka akan dijatuhi dua macam hukuman: hukuman pancung atau hukuman pasung.

Kesalahan yang akan mendapatkan hukuman pancung adalah mereka yang mengganggu atau mengambil istri orang lain, membunuh, memperkosa dan menjadi mata-mata musuh. Raja langsung akan menjatuhkan hukuman pancung. Sementara kesalahan seperti mencuri hanya akan mendapatkan hukuman denda.

Kursi Batu Persidangan

Setelah melewati deretan rumah bolon, kita akan bertemu dengan pohon besar yang menaungi kursi-kursi batu. Nah, di kursi-kursi ini tempat raja, dukun, dan para tetua kampung menentukan nasib sang pesakitan.

Bila orang itu memang bersalah, dan akan dihukum pancung, maka dia akan dipenjara dulu dengan dipasung di kolong rumah raja. Menunggu tanggal eksekusi.

Tempat Pemasungan Kampung Huta Siallagan

Raja dan para tetua akan menentukan tanggal berdasarkan kalender batak, untuk mencari kapan waktu yang tepat buat si pesakitan. Dan konon tanggal dan hari yang dipilih adalah hari yang memang paling lemah buat si penjahat. Sebab pada masa itu, semua orang yang berani melakukan kejahatan biasanya punya bekal ilmu hitam.

Bersebelahan dengan kursi batu, di situlah tempat eksekusi. Eksekusi akan disaksikan oleh semua masyarakat (serem ya!) pada masa itu, biar semua takut untuk melakukan perbuatan jahat.

Proses hukum pancung juga tidak begitu saja dilakukan. Ada semacam upacara yang dilakukan, pertama-tama si pesakitan diberi ramuan khusus dari dukun biar ilmu hitamnya luntur. Kemudian dia mulai dipukul pakai tongkat tunggal panaluan, tongkat magis.

(Sekarang area itu dikasih pembatas, tentunya untuk menjaga agar aman dari tangan-tangan usil. Nantinya kalau datang rombongan turis, di situ ada semacam pentas untuk menggambarkan kehidupan saat itu.)

Sebelum dieksekusi, semua pakaian dilepas untuk memastikan tidak ada jimat apapun yang melekat. Baru kemudian, bagian-bagian tubuhnya diiris-iris. Bila tubuhnya terluka dan berdarah berarti ilmu hitam yang membuatnya kebal sudah hilang. Setelah itu baru hukum pancung dilakukan. Eksekutor yang hebat adalah yang bisa langsung memisahkan kepala dan badannya dengan sekali ayun. Wuih.

Yang membuat kampung ini dikenal sebagai kampung kanibal, adalah ketika sudah dieksekusi, bagian tubuh seperti hati, jantung, dan darah, diambil untuk dimakan dan diminum oleh raja bersama panglima. Hal ini dipercaya akan menambah kesaktian raja dan menambah kekebalan.

Kalau mendengar ceritanya, pasti bergidik saat dibayangkan. Tapi sebenarnya pelajaran dari kisah tata cara adat turun temurun ini adalah bahwa semua perbuatan jahat sudah selayaknya dijatuhi hukuman berat seperti hukuman mati.

Siang itu wisatawan belum terlalu banyak. Saya melihat seorang inang Batak sedang menggaruk butiran jagung yang dijemur dengan semacam garpu tanah. Ada Bunda Dian yang mengajaknya mengobrol. Sepertinya Bunda menanyakan apakah anak laki-laki yang main di sebelahnya adalah anaknya.

“Oh, ini anak dari adik laki-laki,” si inang menjawab pertanyaan Bunda dengan ramah. “Sebutannya paruman.”

Inang Batak di Kampung Huta Siallagan

“Berapa hari ini jagungnya Bu, harus dijemur?” Tanya saya.

“Ya dua tiga hari pun sudah bisa ini nanti dikasih ke toke.” Jawabnya sambil tersenyum.

Setelah cukup lama mengeksplor rumah-rumah bolon dan foto-foto, kami keluar mengikuti papan petunjuk “Exit”, dan melewati deretan kios souvenir. Inang-inang penjaga kios mulailah kan mengeluarkan bujuk rayu, sampai ada yang menarik tangan saya. Hahaha. Aduh, kek mana? Awak memang gak ada niat belanja pula.

“Sinilah, masuklah dulu, masuk. Tadi ibuk itu ada ambil ulos 3 lembar 1 juta. Yang kayak gini.” Inang itu langsung mengambil beberapa ulos dan dibuka. Tapi kok setelah diintip-intip gak ada yang sreg di hati, ya.

Tapi akhirnya saya beli juga oleh-oleh baju buat Vay. Berhenti juga di kios kesekian.

(Suka gak tega gitu menolak tawaran penjual)

(Apalagi kalau Inangnya udah bilang, “Belilah, satu aja pun jadi, Dek. Biar buka dasar aku.”)

(Kalau begitu, biasanya saya beli, dengan harapan bisa mendatangkan rezeki lebih luas buat penjual di hari itu)

Tak lama kemudian datang rombongan wisatawan berbaju merah. Sepertinya rombongan keluarga yang sedang liburan, ramai benar. Saya lihat Bunda Dian sudah langsung merapat, ingin turut mendengarkan dongeng dari pemandu. Dan kemudian juga ikut manortor!

Hahah… saat papasan di depan Hi-Ace, Bunda bilang seru banget tadi, akhirnya bisa juga doi merasakan bagaimana tarian tor-tor itu.

Ya kan? Kapan lagi bisa melihat dan mengenal budaya Batak langsung di tempatnya? Bukan hanya foto-foto pakai pakaian tradisional Batak, tapi juga ikutan tari tor-tor.

Yang pasti, kalau memang ingin lengkap mengunjugi Pulau Samosir jangan lupa untuk mendatangi situs sejarah dan budaya Huta Siallagan ini ya. Dan tentu saja, beli juga souvenirnya, biarpun hanya beli satu atau dua. Buat saya membeli souvenir lebih dari sekadar membantu perekonomian, tapi juga sebagai apresiasi atas seni.

Kampung Huta Siallagan Samosir

Jangan lupa baca juga postingan ini: Indahnya Danau Toba Terasa Sampai Hati – Bukit Holbung Samosir

-ZD-

by

About Zizy Damanik | A Passionate Traveler and Photographer | Coffee Lovers | Beach Addicted |

2 thoughts on “Cerita Kampung Kanibal Huta Siallagan

  1. Pingback: Sunrise Cantik di Bukit Gajah Bobok, Merek, Kabupaten Karo | Mom Travel & Photography Blog - Zizy Damanik

  2. Dari dulu saya penasaran karena banyak yang menyebut soal permukiman-permukiman kanibal zaman dahulu di sekitar Danau Toba. Dulu saya kira cuma bener-bener makan orang begitu, Kak. Tahunya, habis baca tulisan ini, ada alasannya–dan ternyata yang makan bukan sembarang orang, tapi petinggi-petinggi di komunitas itu.

    Ceritanya ini seru sekali. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.